Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Makan Bersama
Kael sudah berada di sana, duduk tegak di ujung meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni mengilap. Di hadapannya, berbagai hidangan tersaji dalam jumlah yang luar biasa banyak, seolah-olah ruangan itu sedang mempersiapkan sebuah pesta besar untuk puluhan orang, bukan hanya untuk mereka berdua. Aroma daging panggang yang berbumbu, sup kental yang mengepul, hingga deretan pencuci mulut yang cantik memenuhi indra penciuman.
Pintu besar ruang makan terbuka, dan Luvya melangkah masuk.
Atas bantuan para pelayan tadi, Luvya kini mengenakan gaun ala bangsawan kelas atas yang sangat pas di tubuh dewasanya. Potongan gaun itu menonjolkan lekuk tubuhnya yang elegan, memberikan kesan agung sekaligus memukau. Rambut pirang pucatnya yang panjang dibiarkan tergerai, berkilau lembut di bawah cahaya lampu gantung, membingkai wajahnya yang kini terlihat jauh lebih dewasa dan cantik.
Kael tidak bergerak sedikit pun. Matanya yang biru terpaku sepenuhnya pada sosok Luvya. Ia tidak bisa atau mungkin tidak mau mengalihkan pandangannya. Ada binar pemujaan yang tertahan di sana, sebuah tatapan yang jauh lebih tajam daripada saat ia menemukannya di salju tadi.
Luvya berjalan mendekat dan duduk di kursi yang telah ditarik oleh pelayan dengan gerakan yang sangat anggun. Meski batinnya masih penuh dengan umpatan untuk Kael, ia tidak bisa menampik bahwa kemewahan di sekelilingnya sangat mengesankan. Ruang makan ini memiliki langit-langit tinggi dengan lukisan dinding yang rumit dan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya keemasan ke setiap sudut ruangan.
Apakah Kael kembali menyandang nama Vounwad? batin Luvya sambil melirik ke arah piring peraknya yang berkilau. Atau dia sudah menjadi seseorang yang jauh lebih berkuasa? Mustahil dia hanya orang biasa jika memiliki tempat semewah ini.
Makan siang pun dimulai. Gemerincing alat makan perak yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan itu. Mereka makan dengan teratur, mengikuti tata krama bangsawan yang sangat ketat seolah-olah hal itu sudah mendarah daging.
Tidak ada obrolan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Kael maupun Luvya.
Suasana di ruangan itu terasa sangat sunyi, namun anehnya, kesunyian itu terasa berat dan penuh sesak oleh hal-hal yang tidak terucapkan. Kecanggungan menyelimuti udara di antara mereka. Seperti dua orang asing yang memiliki terlalu banyak sejarah untuk dibicarakan, namun terlalu banyak luka untuk memulai sebuah kalimat.
Luvya bisa merasakan tatapan Kael yang terus tertuju padanya, seolah pria itu sedang memastikan bahwa sosok berambut pirang pucat di hadapannya ini benar-benar nyata dan tidak akan menghilang lagi seperti empat tahun lalu.
Baru saja Luvya hendak membuka suara untuk memecah keheningan yang menyesakkan itu, namun suara ketukan pintu yang tegas tiba-tiba terdengar, membatalkan niatnya.
"Permisi Tuan, ada informasi dari istana," ucap seseorang dari balik pintu dengan nada suara yang rendah namun mendesak.
Luvya tersentak. Tangannya yang sedang memegang garpu perak tertahan di udara.
"Istana?" gumam Luvya pelan. Matanya segera beralih menatap Kael, mencari jawaban atas keterkejutannya. Mengapa informasi dari pusat kekuasaan kekaisaran bisa sampai ke meja makan ini secara langsung?
Kael tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun. Wajahnya tetap datar, seolah gangguan ini adalah hal rutin yang sudah ia perkirakan. Tanpa mengalihkan pandangan dari Luvya, ia menjawab dengan suara berat yang penuh otoritas.
"Masuk."
Seorang pria dengan pakaian sipil yang sangat rapi dan formal masuk ke dalam ruangan. Ia tidak mengenakan baju besi atau seragam tempur, melainkan setelan gelap yang elegan. Pakaian khas seorang ajudan atau asisten pribadi yang menangani urusan-urusan paling penting di balik layar. Langkah kakinya sangat tenang, hampir tak bersuara di atas lantai marmer.
Ajudan itu membungkuk dalam, memberikan hormat yang tulus kepada Kael, lalu melirik sekilas ke arah Luvya dengan tatapan sopan namun penuh rasa ingin tahu yang tertahan.
"Istana mengirimkan undangan resmi, Tuan. Ini mengenai perayaan kemenangan besar atas penaklukan Wilayah Ouman. Tanah di tenggara itu kini sepenuhnya menjadi milik kekaisaran, dan Kaisar secara khusus meminta kehadiran Anda sebagai pahlawan yang memimpin ekspedisi tersebut."
Luvya terperangah hingga ia hampir menjatuhkan gelasnya. Kaisar? tanya Luvya dalam hati, batinnya berteriak bingung. Apa sebenarnya hubungan Kael dengan Kaisar? Bagaimana mungkin anak pungut yang dulu dikirim ke medan perang sebagai pedang keluarga Vounwad, kini menjadi pahlawan yang diundang langsung oleh penguasa tertinggi kekaisaran?
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih luas dan menakutkan bagi Luvya. Kael yang ada di depannya benar-benar bukan lagi kakak angkat yang ia kenal dulu.
Namun, laporan si ajudan belum selesai. Pria itu melirik sekilas ke arah Luvya sebelum kembali menatap Kael. "Ah, dan ada satu hal lagi, Tuan. Kabar bahwa Anda membawa pulang seorang wanita yang ditemukan di pegunungan salju telah sampai ke telinga istana. Hal ini menarik perhatian besar dari Kaisar. Beliau secara khusus ingin melihat langsung wanita tersebut."
Mendengar itu, jantung Luvya seolah berhenti berdetak. Seluruh saraf di tubuhnya menegang hebat.
"I-itu aku?" tanya Luvya dengan suara lantang, tidak lagi mampu menahan rasa terkejutnya.
Luvya terdiam seribu bahasa, lidahnya seolah kelu sementara isi kepalanya berteriak histeris. Ia hanya bisa menatap Kael dengan mata terbelalak, berusaha tetap terlihat tenang di luar meski batinnya sedang mengalami kekacauan hebat.
Bagaimana mungkin? teriak Luvya dalam hati. Apa Kaisar sudah gila?
Ia meremas jemarinya yang kini terasa sangat dingin di bawah meja. Pikirannya berlari ke mana-mana, membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi jika ia benar-benar menginjakkan kaki di istana.
Aku adalah buronan! batinnya menjerit. Dunia mengenalku sebagai pembunuh Bapak Kuil Penitensi. Nama Luvya Vounwad adalah nama seorang kriminal besar, seorang pendosa yang harusnya berakhir di tiang gantungan. Bagaimana bisa aku tampil di depan publik, apalagi di hadapan Kaisar?
Luvya melirik Kael yang masih duduk dengan tenang di depannya. Pria ini terlihat sangat percaya diri, seolah-olah membawa seorang buronan kelas kakap ke jantung kekuasaan bukanlah masalah besar baginya.
Apa dia tidak sadar risikonya? Jika ada satu saja orang yang mengenaliku, meskipun tubuhku sudah berubah menjadi dewasa, habislah kami berdua. Kael akan dianggap menyembunyikan pengkhianat, dan aku akan langsung diseret ke ruang eksekusi sebelum sempat mencicipi hidangan penutup istana.
Rasa mual mulai merayap di perutnya. Status antagonis yang ia sandang terasa seperti rantai yang sangat berat, menariknya kembali ke dasar jurang tepat saat ia baru saja terbangun.
Kael melirik Luvya dengan santai, seolah pengumuman dari istana tadi hanyalah angin lalu yang tidak berarti. Sikapnya yang terlampau tenang justru membuat bulu kuduk Luvya meremang.
"Katakan kepada Yang Mulia, kami akan datang," ucap Kael tegas kepada ajudannya.
Ajudan itu membungkuk hormat, memahami bahwa perintah sang tuan tidak bisa diganggu gugat. Ia segera membalikkan badan dan pergi meninggalkan ruangan, menutup pintu besar itu dengan bunyi klik yang bergema di telinga Luvya.
Begitu mereka hanya tinggal berdua, Luvya tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Ia meletakkan alat makannya dengan bunyi denting yang cukup keras, menatap Kael dengan tatapan tidak percaya.
"Kael, apa maksudmu?" tanya Luvya, suaranya bergetar antara marah dan takut. "Kau... kau benar-benar tidak tahu berita tentangku?"
Kael hanya menaikkan satu alisnya, gerakannya sangat minimalis namun penuh wibawa. "Berita?" tanya Kael balik, nadanya datar seolah ia benar-benar buta akan kabar dunia.
Luvya menarik napas panjang, mencoba menjabarkan kegilaan situasi ini. "Aku adalah anak haram Duke Vounwad, Kael. Dan bukan cuma itu, aku dicap sebagai pembunuh Bapak Kuil Penitensi! Aku adalah buronan yang kabur! Namaku ada di daftar orang paling dicari di seluruh kekaisaran!"
Luvya menatap Kael lekat-lekat, mencari tanda-tanda keraguan atau keterkejutan di wajah pria itu. Namun, Kael hanya diam, matanya yang biru sedalam samudera itu menatap Luvya tanpa berkedip, seolah semua gelar buruk yang disebutkan Luvya tadi sama sekali tidak ada harganya di mata Kael.
Ruang makan itu kembali sunyi, menyisakan Luvya yang terengah-engah karena emosi, sementara Kael masih duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi.
Tiba-tiba Kael tersenyum pelan, sebuah lengkungan tipis di bibirnya yang justru terlihat sangat menenangkan sekaligus misterius. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Luvya yang sedang dilanda kepanikan dengan tatapan yang sangat dalam.
"Tenang saja Luvya," ucap Kael dengan suara beratnya yang lembut. "Aku sudah membereskan semuanya."