NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 11 Pagi Pertama yang Salah Paham

Rania Azarina terbangun saat merasa ada sesuatu yang berat menindih tubuhnya.

Hangat.

Dan sangat nyata.

Dalam keadaan setengah sadar, ia mengernyit pelan.

Bantal?

Bukan.

Selimut?

Juga bukan.

Perlahan, matanya terbuka.

Butuh tiga detik bagi otaknya untuk memproses situasi.

Tiga detik yang cukup untuk membuat jantungnya nyaris berhenti.

Lengan Gavin masih melingkar erat di pinggangnya.

Wajah pria itu bersandar di dekat tengkuknya.

Napasnya hangat, teratur, dan terlalu dekat untuk ukuran hubungan yang secara teknis masih berada dalam kategori kerja sama strategis.

Tubuh Rania langsung menegang.

Oh, tidak.

Tidak.

Tidak mungkin.

Ia menoleh pelan.

Jarak wajah mereka sekarang begitu dekat sampai ia bisa melihat bulu mata Gavin yang panjang dan ekspresi tidurnya yang jauh lebih tenang dibandingkan versi sadar yang biasanya menyebalkan.

Dan sialnya, pria itu terlihat... tampan.

Terlalu tampan.

Ini jelas pelanggaran kontrak.

Pelanggaran serius.

Dengan gerakan super hati-hati, Rania mencoba melepaskan diri.

Gagal.

Pelukan Gavin justru mengencang.

Ia mendesah pelan dalam tidur, lalu tanpa sadar menarik tubuh Rania lebih dekat.

Sekarang nyaris tidak ada jarak di antara mereka.

Panik.

Rania menahan napas.

“Gavin,” bisiknya.

Tidak ada respons.

“Gavin.”

Tetap diam.

Oke.

Langkah ekstrem.

Rania mengangkat tangan lalu mencubit lengan pria itu keras.

“Aw!”

Gavin langsung terbangun.

Matanya terbuka lebar.

Butuh sepersekian detik sebelum ia menyadari posisi mereka.

Lalu refleks melepaskan pelukannya seperti tersengat listrik.

Mereka sama-sama mundur ke sisi ranjang masing-masing.

Benteng bantal semalam sudah tergeletak tragis di lantai.

Hancur.

Seperti profesionalitas mereka.

Terdiam.

Rania berdeham.

“Kamu melanggar batas wilayah.”

Gavin mengusap wajahnya.

“Saya tidur tidak sadar.”

“Itu alasan klasik.”

“Kamu mencubit saya.”

“Itu bentuk pertahanan diri.”

Gavin menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Lalu entah kenapa, keduanya justru tertawa kecil.

Canggung.

Tapi nyata.

Anehnya, bagian paling mengganggu bukan fakta bahwa Gavin memeluknya semalaman.

Tapi fakta bahwa Rania tidak langsung ingin menjauh.

Dan itu berbahaya.

“Ini salah,” gumam Rania dalam hati.

“Saya tidak boleh nyaman.”

“Enam bulan. Ingat kontrak.”

Rania harus selalu mengingat jika pernikahan ini hanya untuk merger bisnis.

Karena nyaman selalu jadi awal dari sesuatu yang pernah menghancurkannya dulu.

Dan sebelum salah satu dari mereka sempat mengatakan sesuatu—

TOK TOK TOK.

Ketukan keras terdengar di pintu.

“Anak-anak?”

Suara Ratna Mawarni.

Wajah Rania langsung pucat.

“Buka pintunya, Mama bawain sarapan!”

Rania dan Gavin saling menatap panik.

“Cepat!” bisik Rania.

“Ngapain?”

“Kelihatan natural!”

“Natural seperti apa?”

“Seperti pasangan yang baru bangun tidur!”

“Kita memang baru bangun tidur.”

“Bukan itu maksud saya!”

Ketukan terdengar lagi.

“Kok lama? Jangan-jangan masih tidur pelukan.”

Rania nyaris tersedak udara.

Tanpa pikir panjang, ia meraih lengan Gavin dan menariknya mendekat.

“Ap—”

“Diam.”

Ia buru-buru mengacak rambut Gavin.

Pria itu melotot.

Lalu balas mengacak rambut Rania.

“HEY—”

“Biar realistis.”

Pintu terbuka.

Ratna masuk lebih dulu, diikuti Ambar yang membawa nampan teh.

Dan keduanya langsung berhenti.

Pemandangan di depan mereka sangat mencurigakan.

Rania duduk terlalu dekat dengan Gavin di ranjang.

Rambut keduanya berantakan.

Selimut kusut.

Bantal berserakan di lantai.

Ratna menutup mulutnya dramatis.

“Oh. Astaga.”

Rania membeku.

Bukan begitu—

Ambar tersenyum tipis.

“Sepertinya kami datang di waktu yang salah.”

“Tidak!” jawab Rania terlalu cepat.

Ratna menyeringai penuh arti.

“Tenang saja. Mama paham.”

“Mama tidak paham apa pun.”

“Justru Mama sangat paham.”

Rania ingin menghilang.

Sekarang juga.

Gavin, pria menyebalkan itu, justru terlihat menahan tawa.

Ratna meletakkan nampan di meja.

“Cepat siap-siap, ya," pintanya.

“Karena setelah ini kalian harus pindahan barang,” kata Ambar.

Rania mengernyit.

“Pindahan?”

Ambar mengangguk anggun.

“Barang-barangmu dari apartemen lama.”

Jantung Rania drop.

Ia benar-benar lupa soal itu.

Dua jam kemudian, ia berdiri di depan apartemennya sendiri sambil menatap tiga koper besar, enam kardus, dua tanaman hias, satu rak buku portable, dan sebuah mesin treadmill lipat.

Gavin berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar.

“Kamu tinggal sendiri atau buka cabang toko furnitur?”

Rania menyilangkan tangan.

“Saya suka persiapan.”

“Itu treadmill buat apa?”

“Untuk olahraga, agar hidup sehat.”

“Kamu pernah pakai?”

“Dua kali.”

“Spektakuler.”

Proses pindahan berubah jadi medan perang kecil.

Masalah pertama muncul saat Gavin melihat koleksi mug Rania.

Dua belas buah.

Dengan tulisan motivasi berbeda.

“Apa ini?”

“Koleksi.”

“Kenapa butuh dua belas?”

“Kenapa kamu butuh mesin kopi seharga motor?”

“Saya hanya menunjukkan inkonsistensi data.”

Masalah kedua: rak skincare.

Ambar dan Ratna yang ikut mengawasi terlihat sangat antusias membantu.

Terlalu antusias.

“Ini taruh di kamar Gavin saja,” kata Ratna.

“Biar gampang dipakai bersama,” tambah Ambar.

“Tidak!” jawab Rania dan Gavin bersamaan.

Kedua ibu itu saling melirik.

Lalu tersenyum penuh kecurigaan.

Sore harinya, apartemen Gavin resmi berubah.

Tak lagi steril dan dingin.

Kini ada tanaman kecil di sudut ruang tamu.

Bantal sofa warna krem.

Beberapa buku novel di rak.

Dan aroma vanilla dari pengharum ruangan milik Rania.

Gavin berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling.

“Tempat ini terasa beda.”

Rania yang sedang merapikan buku menoleh.

“Lebih berantakan?”

Gavin diam sebentar.

“Lebih hidup.”

Gavin sendiri terkejut mengatakan itu.

Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak tinggal di apartemen itu, Gavin merasa tempat itu tidak lagi terasa seperti sekadar ruang singgah.

Jawaban Gavin membuat gerakan tangan Rania terhenti sesaat.

Ada sesuatu dalam nada suara Gavin.

Terlalu tulus.

Dan itu membuat suasana mendadak canggung.

Untuk mengalihkan perhatian, Rania meraih kardus paling atas.

Terlalu tinggi.

Kardus itu oleng.

“Eh—”

Sebelum jatuh, Gavin refleks menangkap pinggangnya dari belakang.

Tubuh Rania otomatis tersandar ke dada pria itu.

Hangat.

Kokoh.

Terlalu dekat.

Kardus berhasil diamankan.

Tapi tak satu pun dari mereka langsung bergerak.

Ruangan mendadak sunyi.

Jantung Rania berdetak terlalu cepat.

Ia bisa merasakan tangan Gavin masih berada di pinggangnya.

Bahkan napas pria itu terasa di dekat telinganya.

Pelan.

Hangat.

Dan untuk sesaat, tidak ada kontrak.

Tidak ada aturan.

Hanya mereka.

Tatapan mereka bertemu.

Perlahan.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dan tanpa mereka sadari, batas-batas yang mereka buat sejak awal mulai retak sedikit demi sedikit.

Masalahnya, tidak ada satu pun pasal dalam kontrak mereka yang menjelaskan apa yang harus dilakukan saat batas itu mulai menghilang.

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!