NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:849
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Permintaan Maaf dari Hati Sesama Wanita

​Dari balik dinding kaca Cafe Nuansa yang memisahkan sejuknya pendingin ruangan dengan teriknya udara siang Kota Bandung, Bunga berdiri mematung. Matanya yang indah dengan bulu mata lentik itu tak lepas menatap ke luar, menembus area parkir kafe. Di sana, ia melihat sosok Rahmi yang berjalan gontai, bahunya turun, kepalanya menunduk, dengan langkah yang seolah tak lagi menapak bumi.

​Bunga memperhatikan bagaimana Rahmi membuka pintu sebuah mobil dan masuk ke dalam kemudi, lalu pintunya tertutup rapat, menyembunyikan kerapuhan gadis itu dari dunia luar.

​Bunga menghela napas panjang. Udara di sekitarnya mendadak terasa lebih berat. Senyum kemenangan yang tadi sempat terukir di bibirnya kini perlahan memudar, digantikan oleh raut wajah yang serius dan penuh perenungan. Sebagai seorang wanita, Bunga memiliki radar emosional yang tak bisa dibohongi oleh kata-kata kasar atau sikap defensif.

​'Mungkin aku tahu alasan kamu pergi dengan cara seperti itu, Mi,' batin Bunga berucap lirih, seolah angin bisa menyampaikan suaranya pada Rahmi yang sudah berada di dalam mobil.

​Bunga menatap pantulan dirinya sendiri di kaca jendela, lalu kembali menatap ke arah mobil Rahmi yang mesinnya mulai menyala.

​'Mungkin kamu telah menyimpan rasa yang teramat dalam terhadap Alan. Kamu membungkus perasaan itu rapat-rapat dengan topeng persahabatan, dengan candaan kasar, dengan sikap tomboimu, berharap Alan akan nyaman dan pada akhirnya melihatmu sebagai wanita,' lanjut Bunga dalam hatinya, menganalisis semuanya dengan akurasi yang mematikan. 'Tapi hati dan mata antar sesama wanita itu tidak bisa dibohongi, Mi. Cara kamu menatap Alan, caramu panik saat matamu memerah menahan tangis, caramu hancur saat mendengar dia akan pergi denganku... semuanya terlalu jelas bagi wanita lain yang juga mencintai pria yang sama.'

​Mobil milik Rahmi mulai bergerak mundur, keluar dari area parkir, lalu melaju membelah jalanan Dago yang mulai padat. Bunga terus menatapnya hingga mobil itu menghilang di belokan.

​Rasa bersalah sempat mengetuk pintu hati Bunga. Ia tahu persis bagaimana rasanya mencintai Alan. Pemuda itu memiliki pesona misterius yang membuat wanita penasaran, namun dinding pertahanannya sangat tinggi. Jika Rahmi berhasil berada di samping Alan selama ini, pasti pengorbanan yang dilakukan gadis tomboi itu tidaklah sedikit.

​'Maaf atas kelancanganku menghancurkan perjuanganmu, Mi,' ucap Bunga dalam hati, memejamkan matanya sejenak. Namun, saat ia membuka matanya kembali, ada sorot ketegasan yang tak terbantahkan di sana.

​'Tapi maaf, seribu kali maaf... aku tidak bisa mundur. Aku sudah pernah melepaskannya dulu karena egoku sendiri. Sekarang takdir mempertemukan kami lagi, dan aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena dalam urusan hati, Mi... hukum alamnya sangat kejam. Harus ada seseorang yang bahagia, dan sayangnya, di saat yang sama harus ada seseorang yang terluka. Dan kali ini, aku akan memastikan bahwa aku adalah pihak yang bahagia.'

​Bunga membalikkan badannya dengan anggun. Ia menepis segala rasa simpati yang sempat muncul untuk Rahmi. Medan perang asmara tidak mengenal belas kasihan. Bunga melangkah kembali menuju meja kasir, tempat nampan berisi pesanan minuman Ardi dan Randi berada.

​Ia mengangkat nampan itu dengan hati-hati. Di saat yang sama, seorang pelayan pria bernama Dika—salah satu teman kerja Alan di kafe tersebut—berjalan dari arah dapur membawa nampan kayu besar berisi pesanan makanan. Di atas nampan Dika terdapat dua piring besar berisi chicken katsu curry porsi jumbo yang asapnya masih mengepul, menebarkan aroma rempah yang menggugah selera.

​Bunga tersenyum manis ke arah Dika, lalu berjalan beriringan menuju meja pojok tempat Alan, Ardi, dan Randi berada.

​"Nah, ini dia!" seru Bunga dengan nada ceria saat ia sampai di meja, sengaja memecah kecanggungan yang sempat ditinggalkan oleh kepergian Rahmi. Ia meletakkan gelas-gelas minuman itu di depan Ardi dan Randi. "Udah datang nih pesanan bar-barnya kalian berdua!"

​Bunga tertawa kecil yang terdengar sangat merdu, matanya melengkung membentuk bulan sabit yang sempurna.

​Dika, yang sedari tadi mengekor di belakang Bunga, meletakkan piring-piring makanan raksasa itu di depan Ardi dan Randi yang matanya sudah berbinar liar seperti serigala kelaparan. Selesai menyajikan makanan, Dika tidak langsung pergi. Ia berdiri sejenak, matanya menatap Bunga dengan tatapan kagum yang terang-terangan, lalu pandangannya beralih pada Alan yang duduk dengan wajah sedikit memerah karena gugup.

​Dika menyenggol bahu Alan pelan, lalu berbisik dengan suara yang sengaja dibesarkan agar bisa didengar oleh semua orang di meja itu.

​"Gila lu, Lan!" celetuk Dika dengan senyum menggoda, alisnya dinaik-turunkan. "Lu dapet bidadari dari surga sebelah mana nih? Kenalin napa ke gue, masa lu doang yang ditemenin bidadari di kafe. Pantesan aja lu dari tadi senyam-senyum sendiri pas briefing sebelum buka!"

​Mendengar godaan frontal dari teman kerjanya itu, wajah Alan yang sudah memerah kini bertambah semburatnya hingga ke telinga. Ia salah tingkah luar biasa. Alan buru-buru mengambil serbet dari atas meja dan nyaris saja melemparnya ke wajah Dika.

​"Diem lu ah, Dik! Mulut lu lemes banget!" desis Alan dengan nada mengancam yang dibuat-buat, berusaha menyembunyikan rasa malunya yang meledak-ledak. "Udah sana lu balik kerja! Bang Hendri nyariin tuh di belakang, katanya stock es batu abis!"

​Dika tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Alan yang sangat jarang terjadi. Alan yang biasanya sedingin es batu di Kutub Utara, kini bisa salah tingkah hanya karena kehadiran seorang gadis.

​"Iya, iya, Tuan Muda Alan. Gue balik ke habitat," goda Dika lagi sambil melangkah mundur. Ia sempat menundukkan kepalanya sedikit ke arah Bunga. "Mari, Mbak Bidadari, selamat menikmati kafe kami."

​Dika pun kembali ke posnya dengan tawa jahil yang masih terdengar, meninggalkan Alan yang mengurut keningnya dengan frustrasi, namun tak bisa menyembunyikan senyum kecil di sudut bibirnya.

​Bunga tertawa melihat interaksi kedua teman kerja itu. Ia lalu menarik kursinya dan duduk kembali di samping Alan. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja, lalu menatap Alan dengan pandangan lurus dan dalam.

​Di depan mereka, Ardi dan Randi seolah sudah pindah dimensi. Mereka sama sekali tidak mempedulikan godaan Dika, rasa malu Alan, atau tatapan Bunga. Bagi mereka, dunia saat ini hanya berisi piring katsu curry raksasa di depan mereka. Dengan kecepatan kilat, mereka mengambil sendok dan garpu, memotong daging ayam yang tebal itu, dan menyuapkannya ke dalam mulut dengan rakus.

​Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi backsound yang cukup berisik, ditambah suara kunyahan Ardi yang tidak santai.

​Namun bagi Bunga, suara-suara berisik itu menguap begitu saja. Seluruh fokusnya hanya tertuju pada pemuda di sebelahnya. Alan yang menyadari dirinya sedang ditatap sedemikian rupa oleh Bunga, menjadi sangat gugup. Ia kebingungan harus melakukan apa. Untuk menutupi kegugupannya, Alan meraih piring kecil berisi french fries yang tadi dipesankan Bunga untuknya, dan mulai memakannya perlahan.

​Alan makan dengan kepala sedikit menunduk. Ia bisa merasakan tatapan mata Bunga seolah membakar sisi wajahnya. Setiap kali ia mengunyah, ia merasa Bunga memperhatikannya. Setiap kali ia menelan, ia merasa Bunga menghitung gerakannya. Kegugupan itu membuat Alan bahkan tidak bisa merasakan rasa kentang goreng di mulutnya.

​"Enak kentangnya, Lan?" tanya Bunga lembut, suaranya mengalun pelan, memecah kesunyian di antara mereka berdua di tengah kebisingan Ardi dan Randi.

​Alan mengangguk kaku, masih tak berani menatap mata Bunga secara langsung. "E-enak, Nga. Makasih ya... traktiran recehnya."

​"Makan yang banyak ya," ucap Bunga lagi, masih dengan senyum manisnya. "Biar kamu semangat kerjanya."

​Alan merasa separuh jiwanya melayang mendengar perhatian itu. Ia mengangguk lagi, berusaha memfokuskan dirinya pada makanan yang terasa hambar karena jantungnya berdegup terlalu kencang. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa di saat ia tengah merasakan benih-benih kebahagiaan yang baru mekar, di belahan bumi yang sama, ada seseorang yang hatinya sedang hancur lebur menjadi abu karena dirinya.

​Di tengah kemacetan jalanan Kota Bandung menuju kawasan perumahan elite di daerah utara, mobil itu melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan ber-AC dingin itu, hanya terdengar suara isak tangis yang sangat memilukan.

​Rahmi mencengkeram setir mobilnya dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Air mata terus mengalir deras membasahi kedua pipinya, jatuh menetes ke kerah kemeja flanelnya. Ia menangis tanpa suara, hanya isakan-isakan tertahan yang membuat dadanya terasa mau meledak. Pandangannya buram oleh air mata, membuat lampu-lampu kendaraan di depannya terlihat seperti pendaran cahaya yang menyakitkan mata.

​Ia baru saja melarikan diri dari medan pertempuran yang bahkan belum sempat ia mulai.

​'Apa ini emang udah takdir gue?' ratap Rahmi dalam batinnya yang hancur. Ia mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya, namun air mata itu terus saja keluar tanpa bisa dikendalikan.

​'Apa Alan emang tidak pernah menyadari keberadaan gue selama ini? Selama lebih dari setahun gue selalu ada buat dia. Gue yang selalu memastikan dia gak telat makan kalau lagi sibuk ngerjain laporan. Gue yang selalu siap sedia jadi ojek gratisnya buat dia kemana-mana. Gue yang rela begadang dengerin dia ngeluh soal bos kafenya. Apa semua itu gak ada artinya sedikit pun di mata lu, Lan?'

​Rahmi menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk menahan jeritan frustrasinya. Rasa sakit di dadanya menyebar ke seluruh aliran darahnya, membuat tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.

​'Buat apa...' batinnya melanjutkan dengan nada yang penuh penyesalan dan kepahitan. 'Buat apa gue nolak banyak pria di kampus? Senior-senior yang ganteng, anak-anak BEM yang punya masa depan cerah, cowok-cowok mapan yang bawain gue bunga dan cokelat, semuanya gue tolak mentah-mentah! Gue pasang tameng cewek galak dan tomboi supaya gak ada cowok lain yang berani deketin gue!'

​Ingatan tentang beberapa mahasiswa tampan dan mapan yang mencoba mendekatinya berkelebat di benaknya. Rahmi selalu menolak mereka semua, dengan alasan ia ingin fokus kuliah. Tapi kenyataannya bukan itu.

​'Gue ngelakuin itu semua cuma buat ngebuktiin ke lu, Lan! Gue mau ngebuktiin bahwa hati gue ini bukan barang murahan yang bisa didapat sama sembarang cowok! Gue mau lu ngelihat bahwa gue adalah cewek yang setia, cewek yang punya prinsip, cewek yang pantas buat bersanding sama lu yang punya ambisi besar! Gue simpan hati gue utuh cuma buat lu seorang!'

​Tangis Rahmi pecah. Ia memukul setir mobil dengan tangan kanannya, melampiaskan amarah yang tidak menemukan muara. Suara klakson panjang tanpa sengaja berbunyi, membelah kebisingan jalanan, membuat pengendara di depannya kaget. Namun Rahmi tidak peduli. Ia sudah mati rasa terhadap sekitarnya.

​'Tapi kenapa?!' jerit batinnya histeris, mempertanyakan keadilan Tuhan. 'Kenapa harus seperti ini?! Kenapa di saat gue ngerasa udah bisa masuk sedikit aja ke kehidupan lu, kenapa harus ada Bunga?! Kenapa masa lalu yang udah lu kubur dalam-dalam harus balik lagi dan ngeruntuhin semua perjuangan gue dalam sekejap mata?!'

​Rahmi menatap kosong ke jalanan aspal di depannya. Realita menamparnya dengan sangat keras. Ia baru menyadari betapa ironisnya kehidupan yang ia jalani.

​Rahmi adalah putri tunggal dari seorang konglomerat properti ternama. Ayahnya memiliki puluhan proyek perumahan elite dan apartemen di berbagai kota besar. Kekayaan keluarganya tidak perlu diragukan lagi. Ia bisa membeli tas branded jenis apa pun yang Bunga pakai dengan hanya menggesek kartu hitamnya. Ia bisa makan di restoran bintang lima setiap hari jika ia mau. Ia tidak kekurangan harta, ia sama sekali tidak kekurangan uang.

​Namun hari ini, di dalam mobil mewahnya yang bernilai miliaran rupiah ini, Rahmi merasa menjadi manusia paling miskin di dunia.

​Ia miskin akan urusan hati. Uangnya, kekayaannya, status sosialnya, semuanya menjadi debu yang tak berharga saat dihadapkan pada cinta seorang Alan. Ia merasa sangat tidak berarti, sangat kecil, dan sangat tidak berguna. Semua fasilitas mewahnya tidak mampu membeli satu detik pun tatapan cinta dari pemuda pelayan kafe itu.

​Cinta memang buta, dan hari ini, cinta membuktikan bahwa ia juga tidak peduli pada saldo rekening bank seseorang. Hati Rahmi hancur lebur, dan tak ada satu pun kekayaan ayahnya yang bisa menyatukan kepingan-kepingan hatinya yang berserakan.

​Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyinari area kampus yang sudah dipenuhi oleh aktivitas mahasiswa. Daun-daun dari pohon rindang di pinggir jalanan kampus berguguran ditiup angin sejuk khas pagi hari. Namun, kecerahan pagi itu tidak mampu mengusir ganjalan di hati Alan.

​Di ruang kelas yang besar itu, Alan duduk di barisan tengah. Di sebelah kirinya ada Ardi yang sedang asyik bermain catur online di ponselnya, dan di sebelah kanannya ada Randi yang sedang menyalin catatan tugas milik teman kelas lain dengan kecepatan kilat sebelum dosen masuk.

​Namun, bangku tepat di depan Alan kosong melompong.

​Sejak awal semester, bangku itu adalah singgasana milik Rahmi. Gadis itu selalu datang paling awal, booking tempat untuk mereka berempat, dan memastikan Alan selalu duduk tepat di belakangnya agar ia bisa menyontek jika dosen memberikan kuis dadakan. Tapi hari ini, tas ransel hitam milik gadis itu tidak ada di sana. Tidak ada suara cerewetnya, tidak ada makian paginya, tidak ada Rahmi.

​Alan menggeser posisinya gelisah. Matanya terus menatap pintu masuk kelas, berharap melihat sosok gadis tomboi itu masuk dengan tergesa-gesa sambil mengomel tentang kemacetan atau satpam depan yang cerewet. Namun hingga jam di dinding menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh menit—waktu di mana dosen yang killer biasanya sudah akan mengunci pintu—Rahmi tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

​Alan menendang pelan kaki kursi Ardi, membuat Ardi nyaris salah memindahkan bidak caturnya.

​"Woy, selow dong!" protes Ardi, menoleh ke arah Alan dengan wajah kesal. "Hampir aja blunder nih gue!"

​"Rahmi mana?" tanya Alan tanpa mempedulikan protes Ardi. Wajahnya terlihat tegang, menyiratkan kekhawatiran yang nyata. "Udah jam segini kok belum masuk? Dia gak ngabarin lu pada?"

​Ardi mengangkat bahu tak acuh, matanya kembali ke layar ponsel. "Kagak ada nge-chat gue. Lu tau sendiri dia mah kadang kalau lagi males ngampus suka ngilang gitu aja kayak ninja."

​"Mungkin gara-gara PMS kali, Lan," sahut Randi dari sebelah kanan, masih fokus menyalin tulisan temannya. "Kemarin kan dia udah bilang perutnya sakit banget. Biasa lah cewek kalau lagi datang bulan mah kan kayak orang kesurupan harimau campur beruang. Senggol bacok."

​"Iya, Lan," timpal Ardi mendukung argumen Randi. "Kakak perempuan gue juga di rumah gitu. Kalau lagi PMS parah, jangankan ngampus, keluar kamar aja kagak mau. Sampai sakit dia nahan nyeri perutnya. Udah biarin aja, paling si Rahmi lagi tiduran sambil meluk guling."

​Mendengar penjelasan kedua sahabatnya yang terdengar logis itu, Alan tetap saja merasa ada yang tidak beres. Firasatnya sebagai seseorang yang sangat mengenal Rahmi mengatakan bahwa ini bukan sekadar masalah PMS biasa.

​"Tapi gak biasanya dia gak masuk tanpa ngabarin kita dulu, Ndi, Di," argumen Alan, nada suaranya berubah serius. Dahinya berkerut dalam. "Minimal dia nge-chat di grup, ngatain kita suruh absenin dia atau nitip absen. Ini dari semalam di grup sepi banget. Terakhir dia pamit pulang dari kafe aja gak ada laporan udah sampai rumah apa belum."

​Ardi dan Randi akhirnya menghentikan aktivitas mereka dan menatap Alan. Mereka menyadari nada panik yang jarang sekali ditunjukkan oleh Alan.

​"Ya elah, bapak overthinking kumat," ejek Ardi pelan. "Udah, santai aja. Paling dia ketiduran gara-gara minum obat pereda nyeri. Ntar juga siangan dikit chat di grup."

​"Bener tuh kata si Ardi," tambah Randi. "Lagian dosennya udah jalan ke mari tuh. Lu absenin aja dah ntar pura-pura tanda tanganin namanya. Aman itu mah."

​Dosen paruh baya dengan kacamata tebal mulai melangkah masuk ke dalam kelas. Mahasiswa yang tadinya ribut langsung berlarian kembali ke tempat duduk masing-masing. Suasana kelas seketika menjadi sunyi.

​Alan terpaksa memfokuskan dirinya ke depan, namun pikirannya melayang ke mana-mana. Ia mengeluarkan ponsel pintarnya yang layarnya sudah retak di beberapa bagian dari dalam saku celananya. Ia membuka aplikasi WhatsApp, mencari kontak bernama "Rahmi Preman", lalu ibu jarinya mulai mengetik sebuah pesan.

​[Mi, kenapa lu gak masuk?]

​Alan menatap pesannya yang baru saja terkirim. Centang dua abu-abu. Pesannya terkirim, namun belum dibaca. Alan menghela napas berat, meletakkan ponselnya di atas meja, dan mencoba memaksakan dirinya untuk mendengarkan penjelasan dosen, meskipun seluruh nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan sahabatnya itu.

​Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah kamar tidur yang luar biasa luas dan mewah dengan nuansa monokromatik, waktu seolah berhenti berdetak. Kamar itu memiliki jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang rumah yang indah, namun gorden tebalnya tertutup rapat, menghalangi cahaya matahari pagi masuk. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu tidur kuning di nakas.

​Di atas ranjang berukuran king size dengan seprai sutra yang berantakan, Rahmi meringkuk memeluk kedua lututnya. Mata gadis itu bengkak parah, sembap seperti habis disengat lebah. Hidungnya memerah, dan bibirnya kering pecah-pecah. Ia masih mengenakan piyama semalam.

​Ia tidak pergi ke kampus. Jangankan ke kampus, beranjak dari kasur untuk mandi saja ia tidak memiliki tenaga. Tubuhnya terasa remuk, bukan karena penyakit fisik, melainkan karena hatinya yang hancur sehancur-hancurnya.

​Di tangan kanannya, Rahmi menggenggam erat sebuah bingkai foto berukuran sedang berbahan kayu ek. Foto itu adalah salah satu harta paling berharga yang ia miliki di dunia ini.

​Itu adalah foto kebersamaannya bersama Alan saat acara penutupan masa Ospek mahasiswa baru setahun yang lalu. Di dalam foto itu, Alan yang memakai kemeja putih polos terlihat memasang wajah datar, kaku, dan sedikit canggung ke arah kamera. Sementara di sebelahnya, Rahmi yang rambutnya masih dipotong sangat pendek seperti anak laki-laki, tersenyum lebar hingga matanya menyipit, merangkul pundak Alan dengan akrab layaknya dua sahabat karib.

​Saat itu, Rahmi berpikir bahwa menjadi sahabat Alan adalah sebuah keberuntungan. Ia merasa bangga bisa menembus benteng pertahanan pemuda dingin itu. Namun kini, menatap foto yang sama, dada Rahmi terasa bagai ditikam ribuan jarum. Ia mengusap wajah Alan di balik kaca bingkai foto itu dengan ibu jarinya yang bergetar.

​Air mata yang ia kira sudah mengering semalaman, ternyata kembali menggenang di pelupuk matanya.

​'Gue cinta sama lu, Lan...' bisik hati Rahmi pilu, suaranya di dalam kepalanya terdengar sangat putus asa dan kelelahan. Isakan kecil mulai terdengar dari bibirnya. 'Gue sayang banget sama lu. Kenapa lu gak peka banget sih, Lan? Kenapa lu gak bisa ngeliat gue sebagai seorang perempuan? Apa gue kurang cantik? Apa gue terlalu kasar buat lu? Tapi gue bersikap kayak gini supaya lu nyaman, supaya kita gak ada jarak. Tapi kenapa kedekatan ini justru yang ngebunuh gue pelan-pelan?'

​Tiba-tiba, di tengah tangisannya yang menyayat hati, layar ponsel pintar Rahmi yang tergeletak tak jauh dari bantalnya menyala terang dalam kegelapan kamar. Detik berikutnya, ponsel itu bergetar dan berbunyi pelan.

​Ting.

​Sebuah notifikasi pesan masuk dari WhatsApp.

​Rahmi terdiam sejenak. Ia menyeka air matanya dengan ujung lengan piyamanya, meletakkan bingkai foto itu di pangkuannya, lalu meraih ponselnya. Ia membuka kunci layar dengan malas.

​Jantung Rahmi seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh saat melihat nama pengirim pesan yang tertera di layar bilah notifikasi.

​Alan si Kaku:

Mi, kenapa lu gak masuk?

​Sebuah pesan singkat. Hanya satu kalimat sederhana. Tidak ada emoticon, tidak ada basa-basi. Namun pesan itu seakan memiliki kekuatan magis yang menghantam langsung ke ulu hati Rahmi. Ia membaca pesan itu berulang kali. Ada rasa hangat yang sempat membakar dadanya karena menyadari bahwa Alan mengkhawatirkannya, mencari keberadaannya, menyadari ketidakhadirannya.

​Namun di detik berikutnya, kenyataan pahit kembali menyiram kepalanya dengan air es.

​'Dia nyariin gue bukan karena kangen sama gue sebagai perempuan,' batin Rahmi mengingatkan dirinya sendiri, mematikan harapannya secara paksa. 'Dia nyariin gue karena "bro"-nya gak ada di kelas. Jangan berharap lebih, Mi. Lu cuma bikin diri lu makin hancur.'

​Rahmi terdiam menatap layar ponsel yang menyala. Air mata kembali menetes dari sudut matanya, jatuh mengenai layar ponsel hingga layar itu sedikit basah. Tangannya bergetar saat ia memosisikan ibu jarinya di atas keyboard virtual. Ia harus membalasnya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Ia harus memakai topengnya kembali.

​Dengan susah payah, Rahmi mengetikkan balasan. Setiap huruf yang ia ketik terasa seperti menggores luka lama yang belum kering.

​Rahmi Preman:

Lagi kena efek PMS, Lan. Sakit banget perut gue. Ntar Minggu gue ke kafe lah, Lan, buat ngumpul bareng kalian kayak biasa.

​Rahmi menekan tombol kirim. Ia membuang napas panjang yang terasa sangat berat, berharap jawaban itu sudah cukup untuk memuaskan keingintahuan Alan dan membuatnya berhenti bertanya. Ia sengaja menambahkan rencananya di hari Minggu untuk pergi ke kafe, meyakinkan Alan bahwa ia baik-baik saja dan siap untuk kembali berkumpul dengan geng mereka.

​Di kelas, Alan langsung membuka pesan yang masuk begitu merasakan ponselnya bergetar. Membaca balasan Rahmi, Alan menghela napas lega.

​'Syukurlah, beneran cuma PMS ternyata. Gue kira dia kenapa-napa,' batin Alan, beban berat di dadanya seakan terangkat.

​Namun, ketika Alan membaca kalimat kedua di pesan Rahmi tentang rencananya berkumpul di hari Minggu nanti, Alan tiba-tiba teringat akan janjinya dengan Bunga. Rasa panik kecil langsung melanda Alan. Hari Minggu ini ia sudah berjanji akan menemani Bunga ke kafe baru di Dago Atas. Jika Rahmi, Ardi, dan Randi datang ke Cafe Nuansa sementara dirinya tidak ada atau sedang pergi berduaan dengan Bunga, Alan merasa tidak enak hati. Ia tidak ingin dikira meninggalkan teman-temannya hanya demi seorang gadis, walau sebenarnya memang begitu.

​Otak rasional Alan yang payah dalam urusan perasaan mulai bekerja. Ia merasa bahwa ia harus bersikap jujur kepada teman-temannya. Ia tidak berpikir panjang tentang apa efek dari kejujurannya itu terhadap perasaan Rahmi. Ia hanya berpikir praktis: 'Kalau gue pergi sama Bunga, mending anak-anak gue ajak sekalian, biar gak dikira sombong. Tapi si Ardi sama Randi kan ada jadwal turnamen Mobile Legends hari Minggu besok. Ya udah, gue ajak Rahmi aja, daripada dia sendirian di kafe.'

​Alan, dengan segala kepolosannya dan ketidakpekaannya yang absolut sebagai seorang laki-laki yang sedang dimabuk cinta masa lalu, mulai mengetikkan balasan yang akan menjadi bom atom bagi hati sahabatnya.

​Alan si Kaku:

Duh, Mi... gue hari Minggu ada acara sama Bunga. Tahu tuh anak tiba-tiba banget ngajak gue ke tempat yang adem, kafe baru di Dago Atas.

​Alan berhenti sejenak, lalu melanjutkan ketikannya tanpa menyadari bahwa setiap kata yang ia tulis adalah racun mematikan.

​Lu mau ikut nggak nemenin gue? Si Ardi sama si Randi gue tanya tadi pagi bilangnya gak bisa ikut, soalnya ada jadwal mabar game katanya, biasa turnamen antar rt. Lu ikut aja ya, Mi? Temenin gue.

​Pesan terkirim.

​Di kamarnya yang temaram, Rahmi memegang ponselnya saat pesan balasan dari Alan masuk. Mata bengkaknya membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di layar menyala itu.

​Waktu benar-benar berhenti.

​Udara di dalam kamarnya seakan tersedot habis keluar. Rahmi tidak bisa bernapas. Ia membaca pesan itu sekali lagi, lalu sekali lagi, dan sekali lagi, mencoba mencari tahu apakah ia salah baca karena matanya buram oleh air mata.

​Tidak. Ia tidak salah baca.

​Alan membatalkan perkumpulan mereka. Alan memiliki acara dengan Bunga. Berduaan. Ke tempat yang adem dan romantis.

​Dan yang paling menghancurkan dari semua itu adalah... Alan memintanya, memohon padanya, untuk ikut menemaninya berduaan dengan Bunga. Alan memintanya untuk menjadi obat nyamuk, menjadi saksi bisu dari kebahagiaan pria yang ia cintai bersama wanita lain. Alan memintanya untuk duduk di sana, melihat bagaimana mata Alan menatap Bunga dengan kelembutan yang tidak pernah ia dapatkan.

​Rasa sakit yang dirasakan Rahmi saat ini tidak bisa lagi dideskripsikan dengan kata-kata. Ini melampaui patah hati. Ini adalah sebuah penghancuran jiwa yang dilakukan secara tidak sengaja, yang justru membuatnya terasa berkali-kali lipat lebih kejam.

​Air mata membanjiri wajah Rahmi dengan sangat deras. Ia tidak terisak. Ia hanya diam mematung, menatap layar ponsel itu dengan tatapan kosong, sementara air matanya menganak sungai tiada henti. Ia merasa bodoh, merasa tidak berharga, dan merasa sangat menyedihkan.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Rahmi memaksa jarinya untuk kembali mengetik. Pertahanan terakhirnya adalah harga dirinya, harga dirinya sebagai seorang tomboi yang tidak butuh dikasihani. Ia memasang senyum sarkas di wajahnya yang berlinang air mata.

​Rahmi Preman:

Males banget gue nemenin orang yang lagi pedekate! Berasa kayak nyamuk aja ntar gue di sana ngontrak. Udah, berangkat aja lu berdua! Gak usah mikirin gue, gue bisa main sendiri!

​Rahmi mengirim pesan itu, lalu segera melempar ponselnya ke ujung kasur seolah benda itu adalah besi panas yang membakar tangannya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

​Di kelas, Alan membaca balasan Rahmi dan hanya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menangkap sarkasme dan luka berdarah-darah di balik pesan teks tersebut. Ia hanya menganggap itu sebagai "Rahmi si mulut pedas" yang biasa. Alan yang merasa lega karena sudah memberitahu Rahmi, lantas membalas pesan itu untuk terakhir kalinya dengan nada bercanda.

​Alan si Kaku:

Yaelah, ketus amat lu jadi cewek! Ya udah kalau gak mau mah, gue gak maksa. Takut kena cakar macan betina lagi PMS, ntar gue masuk rumah sakit berabe urusannya, ha ha ha... Yaudah, istirahat lu sana biar cepet waras.

​Alan meletakkan ponselnya kembali ke dalam saku, merasa urusannya telah selesai dengan baik, lalu kembali mencatat penjelasan dosen di papan tulis, membayangkan betapa menyenangkannya hari Minggu esok bersama Bunga.

​Sementara itu, di dalam kamarnya yang sepi, sunyi, dan mewah, ponsel di ujung kasur Rahmi bergetar. Gadis itu merangkak dengan sisa tenaganya, meraih ponsel itu, dan membaca balasan terakhir dari Alan.

​Takut kena cakar... masuk rumah sakit... ha ha ha...

​Kata-kata candaan itu menjadi bilah pedang terakhir yang memutuskan urat nadinya.

​Rahmi menjatuhkan ponselnya ke lantai berlapis karpet tebal itu. Ia kembali memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan lengannya. Dan di sana, di tengah tumpukan harta ayahnya yang tak ada artinya, Rahmi menangis. Ia menangis semakin deras. Kali ini tanpa suara isakan sama sekali, tanpa suara rintihan, hanya lelehan air mata kesedihan yang mengalir dari hati yang telah benar-benar mati dan remuk menjadi serpihan debu tak kasat mata.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!