Dikala aku sudah memulai hidup baruku tanpamu, kenapa kau kembali lagi. Beredar terus di sekitar, membuatku kesal.
Pergilah kau, pergi dari hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Sial
Sial
Sial
Bagaimana bisa pria itu terbangun ketika Luna sedang berganti pakaian tepat di depan cermin?
Dan kenapa tiba-tiba Arya terbangun padahal dia tidak membuat bunyi keras?
Semalam, Arya memeluknya erat sekali. Ketika Luna berpikir mantan suaminya itu hanya ingin memeluknya terdengar dengkuran tipis. Dia berbalik perlahan dan menemukan mantan suaminya tertidur dalam posisi duduk.
Padahal Luna berencana akan mengusir Arya pergi setelah memberi krim luka di pelipis mata kiri. Jadilah dia batal mengusir mantan suaminya dan membawa pria yang ternyata berat sekali itu ke sofanya. Tapi, kaki Arya terlalu panjang untuk dibiarkan tidur di sofa. Sekali lagi Luna mengangkat pria itu pindah ke ranjang.
"Beraattt" ucapnya setelah berhasil memindahkan Arya ke ranjang.
Tiga tahun mereka berpisah, dan setelah kembali bertemu sepertinya tidak ada perubahan di wajah mantan suaminya. Hanya badannya saja yang berubah lebih ... Menggoda.
Dada yang keras dan perut kotak-kotak itu, ingin sekali Luna menjelajahinya. Tangannya sudah bergerak ke arah dada Arya. Hampir saja menyentuh dada mantan suaminya ketika Arya tiba-tiba menangkis tangannya. Dengan gerakan yang cepat.
Tak berhenti di situ, Arya mendadak berubah seperti seorang ahli bela diri. Seperti dia sedang menghadapi musuh dalam mimpinya. Tak lupa keluar suara "Hiaaat, hiaatt. Yakk, yakkk" dari mulut mantan suaminya itu. Sungguh pria yang aneh.
Untuk menjaga keamanannya, Luna memilih menjauh dan tidur di sofa. Tidak mau menjadi sasaran hantaman tangan juga tendangan kaki Arya yang menyebar ke segala arah.
Pagi datang dan Luna terbangun dengan sakit pinggang. Ini pasti gara-gara dia tidur di sofa. Dan pria yang semalam terus mengeluarkan suara-suara aneh itu masih tertidur. Padahal Luna harus segera bersiap untuk membuka toko. Tapi ... Karena mantan suaminya itu masih tidur, sebaiknya dia segera mandi.
Seusai mandi, seperti biasa Luna selalu bercermin. Dia memeriksa tubuhnya dalam keadaan tanpa pakaian sama sekali. Hal ini dilakukannya setiap hari setelah berhasil menurunkan berat badan menjadi normal kembali. Seperti sebuah penghargaan pada dirinya sendiri karena telah berhasil tetap waras melewati perceraian yang menyiksa jiwa raganya.
Tak disangka kalau pria yang tidur di ranjangnya diam-diam memperhatikannya. Sekarang, dia mengunci diri di dalam kamar mandi dan lupa membawa baju ganti. Bagaimana ini?
"Sayang, bisakah aku melihatnya lagi?" kata Arya dari luar.
"Diam!!! Pergi dari sini!!" teriaknya berharap Arya memiliki sedikit rasa malu dan keluar dari apartemennya.
"Baiklah. Aku akan pergi"
Luna menajamkan pendengarannya tapi tidak mendengar suara pintu terbuka juga tertutup. Arya pasti membohonginya. Mantan suaminya itu pasti sedang menunggu di depan kamar mandi. Membisu agar dia mengira situasi aman.
"Aku tahu kau masih ada di depan kamar mandi, cepat pergi!!" teriak Luna lagi memastikan. Dan tidak terdengar suara sama sekali dari luar. Perlahan Luna membuka pintu, melihat dari celah yang kecil dan tidak menemukan siapapun disana. Kalau saja tidak harus membuka toko, dia akan bertahan lebih lama di kamar mandi. Karena itu, dia tak punya pilihan selain keluar dan memastikan sendiri.
Dengan balutan handuk, Luna keluar dari kamar mandi dan tidak melihat siapapun di dalam apartemennya. Arya sepertinya benar-benar sudah pergi. Mulailah Luna merasa percaya diri untuk melangkah lebih jauh. Ke dalam kamarnya untuk mengambil baju ganti. Tak disangka ada bayangan melewati cermin yang bergerak ke arahnya. Berdiri diam di belakangnya tanpa suara. Sampai Luna berbalik dan menemukan bahwa mantan suaminya masih ada disana.
"Sayang" kata Arya.
Luna mencoba mengendalikan keterkejutannya dan bicara pelan pada mantan suaminya.
"Pergi!"
"Tapi aku belum mandi"
"Kau memiliki rumah di lantai 16"
"Kau tidak ada disana"
"Pergi! Kau harus pergi"
Pria itu mulai mengangkat ujung bibirnya ke atas. Membentuk sudut senyum yang licik.
"Kalau aku boleh melihatmu berganti pakaian, aku berjanji akan diam dan pergi"
Memangnya Arya pikir Luna orang bodoh? Sesuai pengalaman, mantan suaminya itu tidak pernah menepati janji bila menyangkut tentang hubungan badan dan sentuhan. Tapi, waktu tiga tahun telah merubahnya, mungkinkah juga akan memberi efek sama pada mantan suaminya?
"Janji?" tanya Luna tidak memiliki cara lain lagi. Daripada dia harus bertengkar dan menghabiskan waktu banyak. Maka hal ini perlu dicoba.
Mata Arya berubah, begitu fokus padanya. Entah kenapa, Luna merasa ketakutan sekarang. Padahal dia tidak pernah merasa takut pada mantan suaminya.
"Iya"
Tidak apa-apa. Toh Arya sudah pernah melihat tubuhnya. Semua bagian tubuhnya. Juga meraba, memegang, mencium dan meremasnya. Bahkan sampai menyentuh bagian dalam tubuhnya. Jadi, ini hal kecil.
Perlahan, Luna melepas handuknya. Dengan gerakan cepat dia memakai pakaian dalam. Tapi karena terlalu gugup, Luna salah menggunakan pakaian dalam bagian tas. Terbelit dan susah sekali dibenarkan. Lalu sebuah tangan menyentuh kulitnya. Melepas pakaian dalam bagian atasnya dan memperbaiki. Namun tangan itu tak meninggalkan tubuhnya.
Tangan itu bergerak menelusuri seluruh bagian tubuh Luna. Dan tidak tahu kenapa sentuhan itu terasa sangat nyaman baginya. Ketika tangan itu mulai menuju sebuah titik, Luna menghentikannya.
"Jangan!"
"Baiklah"
Arya menjauhkan tangannya. Tapi tetap berada sangat dekat dengannya. Bahkan Luna bisa merasakan hembusan napas Arya di lehernya. Dan pantulan mereka di cermin nampak begitu intim.
"Menjauhkan sedikit, aku tidak bisa memakai baju!"
"Aku bantu"
Arya mengambil sebuah terusan, membawanya ke atas kepala Luna. Memaksanya mengangkat tangan agar terusan itu bisa dipakai. Sentuhan kain yang turun bersama gesekan kuku Arya di kulit Luna memberinya sensasi menggelitik. Dia ... Terangsang.
"Hentikan" pintanya mulai tidak bisa berpikir jernih. Dan Arya mengetahuinya. Pria itu seakan bisa membaca pikirannya.
Berpindah ke depan Luna dan mulai memberi tanda di dadanya.
"Dua lagi" kata Arya membuatnya mengerang.
"Aarghhh"
"Sekali lagi"
Arya terus saja mengecup leher dan dadanya, kini beralih ke punggung dan pinggang. Luna menjadi tak tahan lagi. Hampir saja dia menyerahkan diri pada gairah dan alarm jam berbunyi. Luna terbangun dan melihat wajah suaminya yang berada dekat sekali.
"Sudah" kata Luna memohon Arya agar berhenti menggodanya.
"Hemm??"
Wajah mereka berhadapan, Arya semakin mendekat dan hampir menciumnya ketika Luna mendorong mantan suaminya.
"Hentikan, aku harus membuka toko"
"Tapi kau belum makan, aku akan memasak sarapan sekarang"
Akhirnya Arya meninggalkan Luna sendiri untuk berdamai dengan gairahnya yang memuncak. Dia memakai baju dengan benar lalu keluar kamar.
"Lebih baik aku sarapan di toko, sudah terlambat"
"Baiklah. Aku juga harus mandi air dingin"
Mandi air dingin? Rupanya Arya juga merasakan hal yang sama dengannya. Mereka berdua memiliki gairah yang sama tapi berusaha menekannya.
"Aku berangkat" kata Luna saat mereka berpisah di lift.
tahi