NovelToon NovelToon
Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Cinta Orang Kantoran : Part Satu

Status: tamat
Genre:CEO / Janda / Duda / Romantis / Kehidupan di Kantor / Office Romance / Tamat
Popularitas:598.4k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septira Wihartanti

Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Putar-Putar Tak Jelas

“Kita ke lantai bawah saja lah Pak, saya kan ke sini mau makan. Itu ada AYCE di bawah. Restoran korea,” desisku.

“Saya jarang banget loh traktir orang barang mewah. Sama mantan istri saja tidak pernah karena dia sudah punya semua. Paling hanya nasabah kalau saya ada maunya aja. Yakin kamu nggak mau?”

“Saya ke saya, bapak ada maunya dong?” aku jadi suka memancingnya dengan kata-kata provokatif. Sejak kapan?

“Saya belum pernah punya teman akrab, semuanya saingan bisnis. Itu saja sih mau saya ke kamu, jangan kabur dari saya,”

“Saya bukannya nggak ngerti sih kenapa Bapak bisa nggak punya teman,”

“Saya memang agak menyebalkan, tapi saya apa adanya,”

“Dua-duanya nggak bagus sih, tapi masih lebih baik daripada lidah bercabang,” gumamku sambil masuk ke jajaran sekuriti untuk menjalani scanning.

Dalam posisi begitu aku masih bisa mendengar sekuriti menyapa Pak Felix dengan nama beliau, “Pak Felix Selamat Pagi, tumben pakai casual,”

“Iya lagi nemenin jalan bocah galau,” kata Pak Felix.

Kami memang berbeda 10 tahun, tapi dilihat dari sudut mana pun aku bukan bocah.

**

Aku menatap sosokku di kaca ruang ganti. Saat ini aku mengenakan celana pendek, sepatu kets, dan kemeja casual putih yang modelnya besar. Aku memang menyukai casual. Ala gadis-gadis di drama korea yang simple dan tampak bersih. Yang aku lupakan adalah kulitku yang agak gelap dan dadaku yang besar.

"Maksa…" gumamku. Tubuhku memang agak tinggi, 170cm saat ini. Dan berat badanku agak kurus. Hanya 49kg. 3 kg sendiri berkumpul di area dada.

Lalu kulirik pakaian yang tergantung di dinding. Dress simple warna salem.

Aku akan mencobanya untuk kukenakan ke kantor besok.

Lalu akhirnya kutanggalkan pakaianku dan memakai dress itu.

"Nggak cocok," gumam Pak Felix sambil menatapku sinis dari atas ke bawah.

"Nggak cocok gimana? Feminin banget ini Pak,"

"Ya kamu memang tampak cantik sih, tapi itu nggak cocok dipakai ke kantor. Dada kamu kemana-mana. Mengundang orang menyelipkan pulpen di sana,"

"Pulpen?"

"Pulpennya,"

"Eh, sialan!" desisku sebal sambil balik badan. Aku langsung mengerti maksud kata-katanya. Belakangan Pak Felix semakin terbuka untuk masalah seksual.

"Pakai gamis aja gimana, hehe," usulnya sambil cengengesan.

"Saya sudah badmood," desisku sambil masuk ruang ganti.

Lalu kucoba dress yang agak tertutup di area dada, tapi memang agak ketat di pinggang.

Kuperlihatkan padanya sambil berpose.

"Wah, cocok nih!" desisnya sambil mengangguk.

"Kaaan?" aku berputar dengan riang.

"Kalau dipakai meeting nasabah, biar kamu duduk di pangkuan mereka. Kan bahenolnya keliatan, kesepakatan cepat tercapai,"

"Paaaaak," keluhku putus asa.

"Pakai baju ke kantor tuh yang biasa aja kenapa sih? Nggak usah gaya-gaya'an. Kita tuh pegawai Bank, bukan karaoke,"

"Memangnya Pak Felix nggak suka kalau pegawainya cantik-cantik?"

"Kalau yang kamu sebut cantik itu harus seksi, bukan selera saya sih,"

"Cantik itu bagaimana?"

"Hm, gaya kamu yang biasa aja. Ala pramugari. Ramah tapi dingin,"

"Saya ramah tapi dingin?"

"Iya, Bu Guru Bu Cin," desis Pak Felix

"Saya belum tahu mau Bu Cin kemana lagi, Pak,"

"Sementara ke saya saja dulu,"

“Memangnya bapak mau dibucin-nin sama bocah galau?” aku menyindirnya.

“Sensi banget deh, lagi PMS ya?”

Aku hanya memonyongkan bibirku sambil kuambil beberapa gantungan dress tanpa melihat lagi, dan kuserahkan tumpukan baju ke karyawan toko. Dia hanya menatapku sambil mencibir.

“Ini mbak, saya beli semua. Yang bayar si bapak ini,”

Bodo amat, semua baju di sana bagus dan berkelas dengan harga selangit. Obat sakit hatiku dikata-katai terus.

**

“Wih, si Bu Cin makan di restoran berasa makan di warteg,” dengusnya sambil mengaduk sup Tahu Pedas ala Korea (di Korea sana namanya Jjigae).

Gayaku memang angkat kaki ke kursi ala anak kos, dan dalam posisi sedang memasukkan daging BBQ dibalut selada ke dalam mulutku.

“Makan, makan! Makan sepuasnya! Saya yang traktir,” desisku dengan gaya bapak-bapak menawarkan makanan prasmanan ke tamu kondangan.

“DI atas ada-“

“Nggaaak, nggak ada di atas – di atas, nggak ada fine dining-fine diningan! Makan nih Makan, daging kelas bawah nih, empuk kok!” Aku mengambil banyak daging matang di panggangan dan kuletakkan di piringnya.

Ia hanya menatapku sambil mencibir.

“Saya nggak selalu makan fine dining kok, kita kan harus menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh, demi kesehatan dan-“

“Kalau udah umurnya ya the end aja Pak, yang penting dijaga aja porsinya,”

“Kamu lagi dalam posisi melahap semuanya, jaga porsi apa’an?”

“Saya kemarin bilang saya mau makan banyak,”

“Kalau nggak bisa jalan karena kekenyangan, saya panggil ambulance ya,”

“Saya akan berhenti sebelum kenyang. Habisin Pak, banyak saudara-saudara kita yang kekurangan, jadi berkah semacam ini jangan di sia-siakan,”

Pak Felix tampak mengernyit waktu aku memasukkan banyak daging ke mulutku. Aku benar-benar tidak malu-malu.

“Pakai Nasi,” desisnya.

“Nggaaaaak, daging aja pokoknya,”

“Kolesterol, darah tinggi,”

“Makasih udah ngingetin, Hari Senin minggu depan sampai Jum’at saya puasa,”

“Ngeyel nih,” gerutunya.

“Bawel nih, makan, makan,” aku meletakkan semakin banyak daging ke piringnya. Pokoknya kalau dia bersuara sekata, kuletakkan daging dua potong. Begitu seterusnya.

Tanpa diduga, dia tersenyum.

Lalu dia meletakkan sumpitnya, ambil mangkuk berisi nasi, mengambil daging di piringnya, dan dia makan daging pakai nasi dengan tangannya.

Aku jelas langsung bengong.

“Ini restoran Korea, Pak, bukan restoran padang!”

“Saya orang Indonesia walaupun tampang kayak bule depok. Mau saya suapin?”

“Buset,” kekehku geli.

“Lo malu-maluin gue, gue juga bisa malu-maluin lo,” gumamnya sambil cuek duduk bersila di atas kursi dengan makan nasi pakai tangan.

“Pesen soju aja apa kita?”

“Jangan dooong, saya naik motor loh ini, emang situ bonceng doang di belakang,”

“Harusnya tadi bawa mobil ya,”

Ia meletakkan mangkuk nasinya di atas meja sampai berbunyi ‘Dug!’ dan menatapku kesal.

Aku hanya terkekeh geli, “Makan...” desisku sambil mengangkat daging berhias seladaku.

**

“Kekenyangan gilaaaa,” desisku.

“Duh males jalan, saya duduk aja. Faktor U,”

“Bapak belom 40 kali, Pak!”

“Ambilin kursi roda deh, titipin KTP kamu,”

“Kursi roda buat siapa?”

“Ya buat saya, berat banget nih kaki,”

“Yang dorong siapa?”

“Ya kamu lah! Ini kan gara-gara kamu terus bilang ‘makan-makan-makan’. Saya berasa melayang nih sekarang kebanyakan daging!”

“Yaaa tapi saya mau ke situ cari noveeel,”

“Ya kamu aja kesana sendiri, saya tunggu di sini,”

“Kejauhan Pak,”

“Malas, ah,” gerutunya sambil duduk di bangku, dan rebahan.

“Paaak, semangat doooong,” Aku menarik-narik lengannya.

“Nggak! Kapok saya sama daging! Besok fine dining seminggu! Asparagus aja terus tiap hari!” omelnya.

“Si Agus diganggu-ganggu,” Aku merengut, lalu menatap toko buku diujung sana, “Saya ke sana loh ya, Bapak tunggu di sini kan ya?!”

Dia melambaikan tangan padaku menyuruhku pergi.

Baru sampai tiga langkah jaalan ke arah toko buku, aku merasa kepalaku melayang.

Lalu aku mundur lagi, duduk di sebelah Pak Felix yang masih tiduran di bangku. Ia mengangkat kepalanya sambil mengernyit menatapku.

Dengan malu-malu aku mengakui, “Hehe, keliyengan Pak,”

Aku merasakan sebuah cubitan lembut di pipiku.

Lalu dia kembali merebahkan kepalanya dan memejamkan mata.

Sayup-sayup terdengar suara Adzan. “Gawat, saya ngantuk, Harus Jumatan...” desisnya sambil memijat kepalanya.

“Bertahan Pak, saya tunggu di sini,”

“Enak aja! Ikut sini ke Mushola!” serunya sambil bangkit dan menggeretku yang malas-malasan.

Sekitar 10 menit kemudian, dengan susah payah kami menyeret tubuh kami Mushola.  Dia Jumatan, aku pun ketiduran di pojok Mushola wanita berbalut mukena.

1
Heni Umami
👍👍👍👍
Bakul Lingerie
kangen Geng Putus/Kiss/
Bakul Lingerie
Ga papa,, ribut aja di kantor.. dlu CEO kamu juga sering bikin heboh kantor . penggemarnya banyak yg dtg bikin rusuh🤣🤣🤣🤣
Bakul Lingerie
aku kesini lagi..
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
Dede Maesaroh
ikut nangis😭
Maya Ratnasari
ayat 250
sukensri hardiati
ngulang baca ah....
Risma Wati
bagus ceritanya..to the point,ga banyak drama.,sukaaaa
Reni Novitasary
so sweet
Nining Chili
😁😁😁
Ena Ariani
kerenn
Febi Chan😍
aq baca lagi di bulan Mei 2025
sesuka itu aq pada karyamu thor
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wkwk bu cin mikir apaan sih 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
buset dah mokondo pedofil pula
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
njirr beda ye perlakuan cowok mateng ama abg tanpa babinu langsung hap
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
sekali" merakyat pak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
dunia kerja keras say, diatas difitnah dibawah di injek, yang tau kerja keras kita cuma diri sendiri
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
goblok tom, si Rani juga gendeng banget dikibulin mau aja gusti 🤦🏼‍♀️
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lah malah main ancem"an belom tau kebenarannya kek gitu
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wow gini cara mainnya kek, pak artha ye di lepas semua dulu kalau kelilit tinggal di ambil lagi 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!