Duan Melahirkan di usia 16 tahun, selama 7 tahun ini ia selalu percaya jika putra yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa malah meninggal di hari kelahirannya, namun siapa yang menyangka saat dirinya kembali ke ibu kota muncul seorang bocah laki laki yang sangat menyebalkan namun Yan Fei merasa dirinya tak bisa membiarkan bocah itu jauh darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Malam Festival
“Nona, camilan ini sangat lezat. Cobalah sedikit untuk menghangatkan tubuh,” ujar Li Xia sambil menyodorkan piring berisi kue dan manisan yang baru saja disajikan. Ia terus mengamati sang nonanya sejak tadi, menyadari bahwa begitu memasuki ruangan ini, Yanfei selalu terlihat termenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, seolah ada sesuatu yang membebani hatinya.
Yanfei hanya mengangguk pelan, menjawab dengan suara datar, “Hm.” Ia baru akan meraih makanan itu ketika tiba-tiba terdengar suara keras dari arah pintu.
“Brak!”
Dobrakan yang cukup kencang itu membuat perhatian Yanfei seketika teralihkan. Ia menoleh untuk melihat siapa yang berani masuk tanpa izin dan mengganggu ketenangannya.
Begitu pintu terbuka lebar, terlihat seorang anak kecil berusia sekitar lima atau enam tahun yang sudah terhuyung-huyung masuk, lalu terduduk di lantai sambil terengah-engah menahan napas. Pakaian yang dikenakannya terbuat dari kain halus berwarna cerah dan dihias dengan benang emas, membuat siapa pun yang melihatnya langsung tahu bahwa bocah ini adalah keturunan dari keluarga bangsawan yang kaya dan terhormat.
“Nona, biarkan Li Xia yang mengurusnya,” kata Li Xia segera. Ia melangkah cepat mendekati pintu, lalu membantu mengangkat tubuh bocah kecil yang baru saja terjatuh itu.
Dengan nada sopan namun tegas, Li Xia bertanya, “Tuan Muda, apakah kau tersesat? Ruangan ini adalah tempat pribadi. Jangan khawatir, saya akan mengantarkan mu kembali kepada orang tua atau pengawalmu.”
Namun, siapa sangka reaksi yang didapatkan justru sebaliknya. Begitu kakinya menginjak lantai dengan kuat, bocah kecil itu langsung mendorong tangan Li Xia dengan sekuat tenaga, lalu berlari sekencang mungkin menuju arah tempat duduk Yanfei.
“Nona!” seru Li Xia dengan panik. Ia segera mengejar dan berhasil menangkap tubuh kecil itu sebelum sempat mendekati meja. Ia tidak tahu dari mana asal anak ini, dan tidak ingin hal sekecil apa pun bisa mengganggu ketenangan atau keamanan sang nonanya.
“Lepas! Lepaskan aku! Pelayan kecil, segera lepaskan aku!” teriak bocah itu dengan suara lantang sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Li Xia. Wajahnya memerah menahan emosi, namun matanya tetap melirik ke arah pintu seolah takut ada yang mengejarnya.
Li Xia mengerutkan kening, lalu menegur dengan nada lebih keras, “Tuan Muda kecil, jika kau benar-benar tersesat, saya akan mengantarkan mu pulang dengan baik. Tapi jika kau sengaja berbuat nakal dan mengganggu orang lain, saya juga tidak segan-segan untuk menghukum mu agar diberi pelajaran.”
“Li Xia, jangan terlalu keras kepadanya. Dia hanyalah anak kecil,” potong Yanfei dengan nada santai dan tenang. Ia menatap bocah itu dengan pandangan yang tidak marah, melainkan penuh rasa ingin tahu. “Lihatlah, dia berlarian sembarangan sendirian. Mana mungkin orang tuanya membiarkannya begitu saja tanpa ada yang mencarinya?”
“Tapi Nona, ini…” Li Xia belum sempat menyelesaikan kalimatnya, namun melihat anggukan lembut dari Yanfei, ia akhirnya menghela napas panjang dan mengurangi kekuatannya.
Dengan berat hati, Li Xia melepaskan genggamannya. Begitu terbebas, dalam sekejap mata bocah itu langsung berlari kecil dan bersembunyi tepat di bawah meja besar yang tertutup kain alas panjang hingga menyentuh lantai.
“Nona, bagaimana jika dia ini seorang pencuri yang menyamar?” bisik Li Xia pelan sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Yanfei, matanya tetap waspada mengawasi gerakan di bawah meja.
Belum sempat Yanfei menjawab, tiba-tiba terdengar suara kecil dan cempreng dari balik kain penutup itu, “Tuan Muda sekaya ini, mana mungkin menjadi pencuri? Dasar pelayan yang tidak pandai melihat keadaan!”
Mendengar jawaban berani itu, Yanfei tidak bisa menahan senyum tipis dan menggelengkan kepalanya perlahan. Anak kecil ini memang polos namun sangat lantang bicara.
“Diamlah di sana! Aku sedang bersembunyi, mengerti? Jika mereka menangkap ku, maka nasibku akan berakhir. Nyawa kecilku ini tidak akan ada harganya lagi,” keluh suara itu lagi dari bawah meja, kali ini terdengar lebih pelan dan sedikit gemetar seolah sedang takut.
Yanfei bersandar santai di sandaran kursinya, lalu menatap ke arah tempat persembunyian anak itu dengan pandangan yang lebih lembut. Ia melambaikan tangan memberi isyarat agar Li Xia tidak bertindak kasar atau mengusirnya.
“Li Xia, tarik kembali tanganmu. Biarkan dia bersembunyi sebentar saja,” ujar Yanfei pelan.
“Tapi Nona, siapa yang tahu apa maksudnya sebenarnya? Kita tidak mengenalnya, dan dia masuk begitu saja tanpa izin,” jawab Li Xia yang masih merasa khawatir.
“Dia hanya anak yang sedang ketakutan. Kalau dia punya niat buruk, dia tidak akan bersembunyi dan berbicara sejujur itu,” kata Yanfei sambil tersenyum. Ia lalu mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan, seolah tidak ada orang asing yang ada di ruangan itu.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati pintu ruangan. Suara seorang pria paruh baya terdengar memanggil dengan nada panik, “Tuan Muda Muda! Di mana Anda? Kembalilah sekarang juga, ini berbahaya!”
Mendengar suara itu, tubuh kecil di bawah meja langsung menegang dan menutup mulutnya rapat-rapat, bahkan menahan napasnya agar tidak terdengar.
Yanfei menoleh ke arah Li Xia dan mengedipkan matanya, memberi isyarat agar tidak membuka suara. Ia hanya ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.