Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Perjalanan Dinas
Keesokan paginya, suasana kantor Pradana Group sudah ramai sejak pukul delapan. Para karyawan sibuk mempersiapkan kunjungan klien ke luar kota yang akan berlangsung selama dua hari. Di tengah kesibukan itu, Kirana tetap bekerja seperti biasa, memeriksa jadwal, memastikan dokumen lengkap, dan mengatur agenda CEO tanpa sedikit pun terlihat panik.
Tok Tok Tok
"Masuk."
"Jadwal perjalanan dinas sudah saya siapkan, Tuan." Kirana membuka pintu ruang CEO sambil membawa sebuah map.
Aiden menerima map itu lalu membukanya, tatapannya menyapu isi dokumen beberapa saat sebelum akhirnya berhenti pada satu nama.
"Kamu ikut?"
"Iya."
"Kebetulan sekali."
"Itu bukan kebetulan." Kirana menatapnya datar. "Saya yang menyusun jadwal."
Gavin yang sedang duduk di sofa langsung menunduk agar tidak tertawa.
"Benar juga." Aiden mengangguk pelan.
"Pesawat berangkat pukul sepuluh. Mobil menuju bandara sudah siap pukul delapan tiga puluh." Kirana meletakkan beberapa dokumen tambahan di meja.
"Kamu sarapan?" tanya Aiden.
"Saya sudah sarapan," jawab Kirana cepat.
"Kamu selalu berhasil menebak pertanyaanku." Aiden menghela napas.
"Sulit menebaknya kalau pertanyaannya selalu sama."
Gavin langsung menutup wajah dengan map.
"Kenapa?" Aiden menatap sahabatnya.
"Saya sedang berusaha tidak tertawa." ujar Gavin dengan menahan tawa.
Perjalanan menuju bandara berlangsung tenang. Aiden duduk di kursi belakang bersama Gavin, sementara Kirana duduk di depan di samping sopir. Sepanjang perjalanan wanita itu lebih banyak memeriksa jadwal dan membalas email daripada mengobrol.
"Dia selalu begitu?" tanya Aiden pelan.
"Begitu bagaimana?" Gavin melirik Kirana.
"Seperti robot."
"Robot tidak secantik itu."
"Jadi kamu juga sadar."
"Saya menyesal membuka percakapan ini." Gavin menggeleng dan Aiden tersenyum puas.
Di kursi depan, Kirana sama sekali tidak tertarik mendengarkan pembicaraan mereka.
.
Satu jam kemudian, mereka tiba di bandara. Setelah proses check-in selesai masih ada waktu sebelum keberangkatan.
"Aku beli kopi dulu," kata Aiden.
"Saya tidak minum kopi," jawab Kirana tanpa ditanya.
"Aku belum menawarkan." Aiden berhenti melangkah.
"Saya tahu."
"Lalu kenapa menjawab?" ucap Aiden yang sebenarnya sedikit kesal.
"Karena saya tahu Tuan akan menawarkan."
"Hahaha...." Gavin langsung tertawa lebar.
"Terkadang aku merasa dia bisa membaca pikiranku." Aiden memandang langit-langit bandara sambil memejamkan mata.
"Bukan membaca pikiran." Gavin menepuk bahunya. "Bos terlalu mudah ditebak."
Beberapa saat kemudian, mereka duduk di ruang tunggu keberangkatan. Aiden memperhatikan Kirana yang sedang membaca laporan di tablet.
"Kirana," sapa Aiden.
"Iya?" jawabnya tanpa menoleh.
"Kamu tidak bosan?" tanya Aiden.
"Bekerja?"
"Iya," jelas Aiden.
"Tidak." Singkat padat dan Jelas.
"Kalau aku bosan."
"Itu sebabnya saya bekerja untuk Tuan," balas Kirana datar.
Aiden memejamkan matanya kesal, dan Gavin langsung menyemburkan air mineral yang baru diminumnya.
"Maaf." Gavin terbatuk-batuk. "Saya tidak siap mendengar itu. Hahaha..."
"Ada yang salah?" Kirana mengernyit bingung.
"Tidak." Gavin menggeleng cepat. "Lanjutkan hidup kalian."
Aiden tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa menang walaupun mungkin hanya setengah poin.
.
Menjelang siang, pesawat akhirnya mendarat. Mereka langsung menuju hotel tempat acara berlangsung karena klien sudah menunggu.
Pertemuan berjalan lancar, presentasi sukses, kesepakatan kerja sama hampir selesai bahkan Tegar yang ikut dalam rombongan tampak puas dengan hasil yang dicapai.
"Kerja bagus." Tegar menepuk bahu Aiden.
"Terima kasih," jawab Aiden sopan.
"Kirana juga sangat membantu," lanjut Tegar.
Aiden melirik wanita itu.
"Memang tugas saya." Kirana hanya mengangguk singkat.
Jawaban itu membuat Tegar tertawa.
"Hahaha... Dia selalu seperti itu?"
"Sayangnya iya," jawab Aiden frustasi.
"Saya ada di sini, Tuan," selah Kirana.
"Itulah masalahnya," jawab Aiden pelan.
Gavin kembali memalingkan wajah karena ingin tertawa.
.
Malam harinya, acara makan malam bersama klien berlangsung di restoran hotel. Setelah semua urusan bisnis selesai, suasana menjadi lebih santai.
Seorang klien asing yang duduk di seberang meja tiba-tiba tersenyum ke arah Kirana.
"Your wife is beautiful, Mr. Aiden. (Istri Anda cantik, Tuan Aiden.)," puji klien itu.
Sendok di tangan Gavin jatuh. Aiden membeku. Kirana perlahan mengangkat kepala. Beberapa detik suasana menjadi hening.
"Oh, no. (Oh, tidak.)." Klien itu tertawa kecil. "I thought she was your wife. (Saya kira dia istri Anda)"
Aiden membuka mulut, namun belum sempat mengatakan apa pun Kirana sudah lebih dulu menjawab.
"I'm not. (Saya bukan)." jawab Kirana pada klien itu.
Jawabannya singkat, tegas danntanpa ekspresi. Aiden hanya bisa menatap gelas di depannya, sementara Gavin menggigit bibir kuat-kuat agar tidak tertawa di depan klien.
Setelah makan malam selesai, semua orang kembali ke hotel. Kirana berjalan menuju lift sambil memeriksa ponselnya, satu pesan masuk dari Rendra. Matanya langsung berhenti pada layar, pesan itu hanya terdiri dari beberapa kata.
Aku tidak pulang malam ini. Ada pekerjaan mendadak.
Kirana membaca pesan itu dua kali lalu tiga kali dan Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman. Sudah terlalu sering alasan yang sama muncul dan semakin lama, alasannya terdengar semakin tidak masuk akal.
Pintu lift terbuka, Kirana masuk tanpa menyadari bahwa di ujung koridor Aiden memperhatikannya. Pria itu sempat melihat perubahan kecil pada wajah wanita tersebut. Sangat kecil namun cukup untuk membuatnya sadar, ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.
.
.
.
Sementara itu, ratusan kilometer dari hotel tempat mereka menginap, Rendra justru sedang duduk di sebuah restoran bersama seorang wanita lain. Wanita itu tersenyum manis sambil menyandarkan kepala di bahunya.
"Kalau istrimu tahu bagaimana?" tanya Wanita itu.
"Kirana tidak akan tahu." Rendra ikut tersenyum.
Namun pada saat yang sama, sebuah pesan baru tiba di ponselnya dan saat membaca nama pengirimnya, senyum di wajah Rendra perlahan menghilang.