NovelToon NovelToon
Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Aku Menyelamatkan Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.

Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.

Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.

Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.

Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?

Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 2 Harapan di Atas Ranjang Putih

"Pak? Bisa dengar suara saya?" panggil Hana.

Suaranya terdengar pelan dan parau oleh lelah. Dokter muda itu berdiri di samping ranjang, mencoba memancing respons motorik sang pasien. Ia mengangkat tangan pria itu lalu melepaskannya perlahan, namun tangan kekar tersebut kembali jatuh lemas ke atas seprai.

Hana memberikan rangsangan nyeri dengan menekan bagian bahu dan lengan pasien, berharap ada reaksi yang menunjukkan kesadaran. Nihil. Tidak ada respons sama sekali.

Tak mau menyerah begitu saja, Hana bergegas menuju lemari obat dan mengambil sebuah penlight kecil. Setelah kembali ke samping ranjang, ia mengangkat kelopak mata pasien dengan hati-hati, lalu menyorotkan seberkas cahaya ke arah pupilnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Alis Hana langsung bertaut rapat. Pupil mata pria itu melebar fixed, tidak menunjukkan respons normal yang ia harapkan. Demi memastikan, ia mengulangi pemeriksaan itu sekali lagi, tetapi hasilnya tetap sama.

"Ternyata kondisinya belum stabil," gumam Hana pelan.

Ia menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya yang kuyu dengan kasar. Gerakan kecil tadi rupanya hanyalah refleks sesaat. Pria itu kembali diam, tenggelam dalam koma yang dalam seolah enggan ditarik kembali ke alam sadar.

"Kesadarannya masih belum kembali."

Hana mendesah pasrah, lalu kembali duduk di kursi plastik di samping ranjang. Tatapannya tertuju pada naik turun dada pasien. Setidaknya, embusan napas pria itu kini jauh lebih teratur dan dalam dibandingkan semalam saat pertama kali dievakuasi dari pantai.

Waktu merayap lambat di dalam ruangan Poskesdes yang sunyi. Pukul sembilan pagi... Pukul sepuluh... Pukul sebelas... Hingga akhirnya jarum jam dinding berdetak tepat di angka dua belas siang.

Selama berjam-jam, Hana menolak meninggalkan ruangan. Ia setia mengawasi tetesan infus dan sesekali mengecek denyut nadi pasien.

"Aku sangat lapar," keluh Hana pada ruangan yang sepi.

Perutnya bahkan sudah beberapa kali berdemo riuh sejak pagi. Namun, tanggung jawab menahannya di sana.

"Tapi aku tidak bisa meninggalkan tempat ini."

Tok... Tok... Tok...

Ketukan di pintu kayu memutus lamunan Hana. Dokter muda itu langsung tegak dari duduknya.

"Masuk saja!" seru Hana.

Daun pintu berderit terbuka, memunculkan sosok Pak Kades bersama sekretaris desanya, Pak Asep. Atensi Hana langsung tertuju pada kotak bekal bertingkat yang menjuntai di tangan Pak Asep, membuat matanya seketika berbinar terang.

"Sepertinya kami datang di waktu yang tepat," goda Pak Kades, tersenyum lebar melihat reaksi spontan dokter muda itu.

"Silakan masuk, Pak," sahut Hana, tertawa kecil menutupi rasa malunya.

Kedua pria paruh baya itu melangkah masuk ke dalam Poskesdes, lalu mengalihkan pandangan ke arah pria yang masih terbaring kaku di ranjang.

"Bagaimana kondisinya sekarang?" tanya Pak Kades, menatap prihatin.

"Masih belum sadar, Pak," jawab Hana sambil menghela napas pelan. "Tadi pagi sempat ada sedikit gerakan tubuh, tetapi setelah saya periksa ulang, ternyata belum ada respons kesadaran yang stabil."

"Apakah dia perlu dibawa ke rumah sakit besar?" tanya Pak Asep, berbisik seolah takut mengganggu.

"Sebenarnya iya, Pak," tutur Hana dengan senyum getir. "Tapi perjalanan darat menuju rumah sakit kota membutuhkan waktu hampir sepuluh jam dengan medan yang rusak. Dengan kondisinya yang sekarang, perjalanan sejauh itu justru sangat berisiko fatal."

"Kita memang masih kekurangan fasilitas kesehatan," keluh Pak Kades, mengangguk mafhum dengan gundah.

"Semoga suatu hari nanti fasilitas kesehatan di desa ini bisa lebih lengkap," balas Hana, tersenyum tipis penuh harap.

Teringat tujuan kedatangan mereka, Pak Kades mengambil alih kotak bekal yang dibawa sekretarisnya, lalu mengangsurkannya ke depan Hana.

"Oh iya, ini dari istri saya," ujar Pak Kades.

"Pak, tidak perlu repot-repot sampai seperti ini," tanggap Hana, terkesiap kecil sekaligus sungkan.

"Ambil saja, Dok," desak Pak Kades ramah. "Kata istri saya, Dokter Hana pasti belum sempat makan karena berjaga semalaman."

"Terima kasih banyak, Pak," kata Hana akhirnya.

Wajah Hana sedikit memerah karena malu. Ia sebenarnya ingin menolak, tetapi keramahan Pak Kades dan perutnya yang sudah lapar sejak pagi membuatnya menerima bekal itu dengan senyum canggung. Setelah berbincang beberapa menit, Pak Kades dan Pak Asep akhirnya berpamitan meninggalkan Poskesdes.

Begitu pintu tertutup rapat, Hana tidak membuang waktu. Ia membuka tutup kotak bekal dengan cepat. Seketika itu juga, uap hangat membawa aroma ikan bakar bumbu meresap dan sayur hangat yang menggugah selera langsung memenuhi ruangan. Perutnya kembali berbunyi nyaring. Tanpa berpikir panjang lagi, Hana mulai menyantap makanan itu dengan lahap.

Namun, belum sampai setengah porsi makanan itu habis, sebuah kegaduhan pecah dari arah luar.

"Dokter Hana!"

"Dokter Hana, tolong!"

Hana tersedak kecil akibat teriakan itu. Ia terpaksa meletakkan sendoknya dengan berat hati, lalu bergegas berlari ke pintu depan. Di halaman Poskesdes, tampak beberapa warga sedang memapah seorang pria paruh baya yang berjalan tertatih-tatih dengan celana berlumuran darah di bagian kaki.

"Pak Syukur terkena karang saat menarik jaring ikan!" jelas salah seorang warga dengan napas terengah-engah.

"Dudukkan beliau dulu di kursi teras," instruksi Hana cepat sambil mengangguk.

Ia langsung berlari ke dalam untuk mengambil kotak P3K. Pak Syukur duduk sambil meringis menahan nyeri. Saat memeriksa telapak kakinya, Hana menemukan luka sobek yang cukup panjang, namun beruntung tidak terlalu dalam hingga mengenai pembuluh darah utama.

"Lukanya harus segera dibersihkan supaya tidak infeksi, Pak," ujar Hana mencoba menenangkan.

"Perih sekali, Dokter!" keluh Pak Syukur, wajahnya berkerut masai saat cairan antiseptik mulai menyentuh luka terbukanya.

"Kalau tidak dibersihkan sekarang, lukanya bisa infeksi dan malah semakin parah," ujar Hana sambil telaten membersihkan luka di kaki Pak Syukur.

Pak Syukur hanya bisa pasrah dan memejamkan mata erat-erat. Beberapa warga yang berdiri menonton justru ikut tertawa kecil melihat ekspresi kesakitan sang nelayan tua yang biasanya terkenal tangguh di laut. Setelah membersihkan sisa pasir dan darah, Hana membalut kaki Pak Syukur dengan rapi.

"Jangan dulu terkena air laut selama beberapa hari ya, Pak," tegas Hana memperingatkan.

"Tiga hari tidak melaut? Bisa dimarahi istri saya di rumah, Dok," tanggap Pak Syukur, langsung cemberut.

Para warga spontan tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya.

"Kalau sampai infeksi, bisa lebih lama lagi tidak melautnya. Mau?" ancam Hana dengan nada bercanda yang telak.

"Baiklah, saya menyerah," ujar Pak Syukur sambil mengangkat kedua tangan, pasrah pada perintah dokter.

Setelah memberikan beberapa butir antibiotik dan peredam nyeri, Hana menyuruh Pak Syukur pulang untuk beristirahat. Tak lama kemudian, rombongan warga itu pergi dan suasana kembali tenang.

Hana melangkah masuk kembali ke dalam Poskesdes. Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara kipas angin tua yang berputar lambat dan bunyi ketukan monoton dari tetesan infus. Hana duduk di kursinya sambil memandangi pria misterius itu.

Sore perlahan mulai datang. Cahaya matahari yang menerobos masuk dari celah jendela berubah warna menjadi jingga keemasan yang hangat. Namun, pria di atas ranjang itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kehidupan belum membuka mata, belum mengucapkan sepatah kata pun.

Hana berdiri lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pasien sekali lagi. Semuanya masih terpantau stabil, membuatnya sedikit lega. Namun, tepat saat ia hendak membalikkan badan untuk kembali duduk.

krek....

Suara gesekan kecil terdengar dari arah ranjang pasien.

Hana langsung membeku. Matanya mengamati seluruh tubuh pria itu dengan saksama. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam, namun tidak ada pergerakan lanjutan.

"Mungkin aku terlalu lelah hingga berhalusinasi," gumam Hana, menggelengkan kepalanya.

Namun, tepat ketika Hana baru saja berputar arah jari telunjuk pria itu bergerak. Sangat pelan, hampir tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan jeli.

Hana tersentak di tempatnya. Kali ini ia yakin bahwa ia tidak salah lihat. Jari itu benar-benar bergerak sekali lagi, sebelum akhirnya diam kembali. Jantung Hana mendadak berdetak dua kali lebih cepat. Ia bergegas menghampiri sisi ranjang dengan napas tertahan.

"Pak? Bisa dengar suara saya?" tanya Hana, suaranya naik satu oktav karena tegang.

Tidak ada jawaban verbal. Namun beberapa saat kemudian, alis tebal pria itu berkerut tipis, seolah-olah ia sedang berjuang sekuat tenaga melawan beban berat yang mengunci alam bawah sadarnya.

Hana menatap wajah itu tanpa berkedip. Entah kenapa, sebuah firasat aneh tiba-tiba merayap di dalam hatinya. Sesuatu memberi tahu Hana bahwa pria misterius ini akan segera bangun. Dan saat hari itu tiba... bukan hanya identitasnya yang akan terungkap, tetapi juga rahasia besar yang membawanya hingga terdampar di pesisir pantai Desa Sekar.

Bersambung...

1
falea sezi
Rani g punya ortu kah
Keysa_Bom: ada kak 😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!