NovelToon NovelToon
Kabur Dari Tuan Muda

Kabur Dari Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Rania terlahir kembali ke lima tahun sebelum tragedi dalam hidupnya terjadi. Di masa depan setelah ia menikah dengan Arya, Rania dijebak oleh Salsa dan dibunuh tepat di malam pertamanya. Di kesempatan kedua ini, ia akan menghindar dari pernikahan itu agar tidak mengalami nasib yang sama.

Berhasilkah ia kabur dari genggaman sang Tuan Muda dan menghindari takdir kematiannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Terlahir Kembali

Arwah Rania masih melayang tidak jelas bahkan setelah kerumunan bubar. Ia pun kebingungan dengan kondisinya saat ini. Yang lebih aneh lagi adalah, arwahnya seperti terikat dengan Arya. Kemanapun pria itu pergi, maka dirinya akan mengikutinya. Mungkin ini disebabkan oleh cintanya yang begitu besar kepada pria brengsek itu.

Rania terus mengikuti Arya hingga mereka berada di dalam kamar pengantin. Kamar yang seharusnya menjadi malam pertama penuh kemesraan. Kini lampu remang-remang membuat suasana terasa sangat dingin. Garis polisi di balkon juga sudah terpasang rapih. Pintu ke arah balkon masih terbuka lebar membuat angin berhembus ke dalam memberikan rasa dingin yang menusuk tulang.

Arya melihat setiap sudut ruangan lalu matanya berhenti di arah balkon tersebut.

"aku tau dia pasti sangat sedih," monolog Rania.

Ia menatap iba suaminya dan ingin memeluknya. Tapi pria itu bahkan tidak bisa melihatnya apalagi menyentuhnya.

"seharusnya kamu tadi membantuku, setidaknya kamu tidak akan menjadi duda di malam pertama kan," ucapnya lagi dengan nada sombong.

Sebuah dering telefon memecah keheningan kamar tersebut. Arya mengangkatnya dan suara di seberang mulai terdengar. Sang asisten menghubunginya untuk memberitahukan temuan terbaru terkait masalah yang baru saja terjadi.

"pak Arya, kami sudah mengecek CCTV-nya."

"tidak perlu lanjutkan pemeriksaan. Orangnya sudah mati, sudah tidak berguna lagi."

Rania mematung di samping Arya dengan air mata yang mulai mengalir. Tangannya mengepal kuat dan ia merasa kasihan dengan dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia mendapat perlakuan seperti ini oleh orang yang katanya paling mencintainya.

"apa selama ini aku hanya alat untuk bisnis kamu?" tanyanya dengan marah namun sia-sia saja karena suaranya tidak akan terdengar sedikitpun.

Rania memukulnya namun pada akhirnya seperti memukul udara kosong. Hal itu membuatnya semakin merasa kesal dan marah. Tapi sebuah pintu dimensi tiba-tiba terbuka di belakangnya dan langsung menariknya masuk. Tubuhnya seperti terhisap masuk ke dalam.

"HAH!" Rania membuka matanya dan mengerjapkan mata berusaha menenangkan diri dari sensasi mengerikan yang baru saja ia rasakan.

Rasa mual tiba-tiba memenuhi perutnya dan ia pun reflek langsung berlari ke luar ruangan.

"Rania! Ran, kamu kenapa?"

"nggak apa-apa. HUEKKK!" Hanya angin yang keluar tapi suaranya terdengar seperti seluruh isi pencernaannya keluar semua. Membuat orang yang mendengarnya ikut merasa menderita.

"kok bisa begini sih?"

"nggak apa-apa kok, aman," jawabnya lagi.

Lalu ia terdiam sebentar dengan posisi masih membungkuk. Matanya melebar dan mulutnya terbuka. Jantungnya berdebar keras membuat tangannya terangkat untuk merasakan debarannya.

Ia bisa merasakan debaran jantungnya, dan ada orang yang mengajaknya berbicara barusan. Rania langsung berdiri tegak lalu menoleh ke orang di sampingnya. Menatapnya dengan penuh bingung lalu mencubit pipinya.

"akh akh sakit Ran!"

"sakit?" tanyanya memastikan.

"sakit lah!"

Rania meraba pakaiannya dan menemukan ponsel di kantong celana. Ia mengambil ponsel tersebut lalu menyalakannya. Di tampilan layar kunci, tertera pukul dua belas siang tanggal dua puluh lima Juni tahun dua ribu dua puluh. Tepat lima tahun sebelum hari pernikahannya.

"aku terlahir kembali?" gumamnya pelan dengan penuh ketidakpercayaan.

Ia kembali melihat ke orang di depannya lalu memeluknya dengan erat.

"Ran Ran eh Rania."

"Dewi, aku kembaliiii."

Gadis bernama Dewi itu terus menepuk punggung Rania karena merasa sesak dipeluk begitu kuatnya.

"oh maaf maaf."

"kamu aneh."

Rania tersenyum lebar dengan tangan masih mengusap punggung temannya. Teman yang akan ia nobatkan jadi sahabat.

Dulu, Dewi selalu bersikap baik kepada siapapun termasuk dirinya. Beberapa kali saat ia berada dalam kondisi kurang sehat, Dewi lah yang membantunya. Bahkan saat itu Dewi pernah mengingatkannya bahwa Dona orangnya cukup bermasalah. Tapi dirinya malah mengira kalau Dewi hanya ingin mengadu domba hubungan mereka.

Sejak itu, ia sering menyusahkan hingga merundung Dewi secara terang terangan. Hingga akhirnya Dewi harus di depak dari kampus karena fitnah darinya lalu gadis itu hidup susah sepanjang hidupnya.

Rania merangkul bahu Dewi lalu menatapnya dengan mata yang berbinar. "mulai sekarang, kita saudara beda orang tua," teriak Rania membuat Dewi dan beberapa siswa di sekitarnya menoleh ke arahnya. Menatapnya bingung lalu membicarakannya di belakang. Kurang dari sehari, kabar bahwa si pembully mengangkat korban yang di bully sebagai saudara pun tersebar di seluruh penjuru kampus.

"ayo masuk kelas, hari ini ada kuis dari pak Ardi."

"KUIS?"

Dewi terkejut mendengar teriakan Rania. Sejak kapan gadis di depannya itu jadi seheboh ini. Seingatnya, dia selalu memasang wajah datar dan selalu dingin ke semua orang. Hanya kepada Arya dan Dona saja ia mau menunjukkan sifat ramah dan manjanya.

Rania memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Kehidupan lalu, ia terlalu santai karena selalu berfikir setelah selesai kuliah dirinya akan menikah dengan Arya lalu hidup santai seumur hidup. Karena itu, tidak ada satupun materi yang tersimpan di otaknya.

Meskipun semua orang sudah tau kebodohannya, tapi di kehidupan kali ini jika ia ingin merubah takdir maka ia harus mulai fokus dengan nilainya di kampus. Langkah pertama saja sudah seberat ini, bagaimana ia harus melanjutkannya.

Rania meletakkan kepalanya di meja dengan raut putus asa memenuhi wajahnya. Untuk hari ini ia hanya bisa pasrah, dengan kapasitas otaknya tidak mungkin ia bisa belajar mendadak. "ya untuk hari ini saja!" ucapnya dengan penuh semangat.

"benar kuisnya hanya untuk hari ini di minggu ini, jadi tolong hari ini saja kamu bisa memberikan hasil yang memuaskan untuk saya," ucap Ardi dari pintu masuk kelas. Ia menyaut ucapan penuh semangat dari Rania.

Rania langsung duduk tegak dan tersenyum canggung sekaligus malu. "hehehe, pak Ardi."

"karena kamu sedang semangat hari ini, pertanyaan pertama khusus buat kamu saja."

"paaakkkk."

Rania merengek pelan dengan wajah yang sudah sangat lesu. Ia merasa dirinya sendiri begitu ceroboh dan pandai sekali membuat sesuatu menjadi bumerang untuknya. Sepanjang jam pelajaran, Rania benar-benar menjadi bulan bulanan sang dosen. Hingga wajahnya berubah menjadi pucat dan keringat membasahi punggungnya.

Tepat setelah jam pelajaran berbunyi, Rania menghela nafas dengan cukup keras membuat Ardi menoleh ke arahnya. "capek sama pelajaran hari ini?"

"hehe, enggak pak. Seru kok hari ini."

"ya sudah kalau begitu minggu depan lagi."

"lagi pak?"

"iya kan katanya seru."

Seisi kelas langsung mengeluh bersamaan dan menatap Rania dengan tatapan sebal. Jangankan mereka, Rania pun merasa sebal dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus mengeluarkan kata-kata seperti itu. Sayangnya ucapan yang sudah keluar tidak bisa dipungut lagi.

"selamat telah menyiksa diri sendiri, huaaa."

Dewi mendekati Rania dan mengusap bahunya. "sudah sudah, nanti kita belajar lagi biar lebih paham."

Rania reflek beralih untuk memeluk Dewi setelah menerima bentuk perhatian dari gadis itu. "aaahhh sayangku memang paling perhatian."

"Rania ayo makan."

Rania dan Dewi secara bersamaan menoleh ke arah pintu. Sosok lelaki dengan tinggi sampai seratus delapan puluh lima sudah berdiri di sana. Rambut cepak dan kemeja dengan bagian lengan di gulung membuatnya terlihat semakin tampan.

"pantas saja aku dulu tergila-gila dengannya," gumamnya pelan.

"Rania, ayo makan."

Kali ini muncul sosok anomali yang paling ingin Rania hindari, yaitu Dona. Dona terlihat dari balik punggung Arya dan dengan ringannya ia memegang lengan Arya. Kalau tidak ada orang, mungkin dia sudah memeluknya dengan begitu erat.

Arya melihat perubahan raut wajah Rania. Ia mengikuti arah mata Rania yang menatap lengannya yang sedang digenggam oleh Dona.

"lepas!" ucap Arya dengan tegas sambil melepas paksa rengkuhan Dona di lengannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!