Leonardo De Luca adalah penguasa Madrid yang memiliki segalanya, kecuali masa depan. Di balik kemegahan tahtanya, ia menyimpan rahasia kelam tentang infertilitas yang membuatnya merasa seperti tanah gersang tanpa harapan akan pewaris. Baginya, garis keturunan De Luca telah menemui jalan buntu.
Hingga ia bertemu Olivia, seorang gadis penjual bunga yang hidup di antara harum kelopak dan ketabahan akar. Di mata Olivia, Leonardo bukanlah singa yang menakutkan, melainkan jiwa yang haus akan kehidupan. Pertemuan ini adalah awal dari sebuah keajaiban; tentang bagaimana cinta seorang penjual bunga mampu menumbuhkan benih kehidupan di celah batu karang yang paling keras sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang mawar di dalam sangkar
Olivia menatap tumpukan uang di atas meja kayu tokonya dengan perasaan campur aduk antara terhina dan terdesak. Ia baru tiga bulan di Madrid, mencoba membangun peruntungan dengan toko bunga kecil ini untuk membiayai pengobatan ayahnya di London. Ayahnya menderita komplikasi jantung dan harus tinggal dalam perawatan intensif ibunya di Inggris. Biaya medis di Inggris tidak murah, dan pengiriman uang bulanan dari Olivia adalah napas bagi mereka.
Pria di depannya ini—yang perawakannya seperti model papan atas namun memiliki aura sedingin algojo—tahu persis bagaimana cara menekan titik lemah seseorang.
"Baiklah, Tuan. Saya akan mengantarkannya. Tapi saya butuh waktu untuk mengepak semuanya ke dalam van saya," ucap Olivia tegas, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya.
"Tidak perlu van bututmu. Anak buahku akan mengurus bunganya. Kau ikut di mobilku," potong Leonardo tanpa kompromi. Ia memberikan isyarat tangan, dan tiba-tiba dua pria berbadan tegap dengan pakaian safari hitam muncul entah dari mana, mulai mengangkut ember-ember mawar merah ke dalam truk pendingin yang mendadak terparkir di depan toko.
Olivia terperangah. Kecepatan dan koordinasi ini bukan cara kerja pelanggan biasa. Namun, sebelum ia sempat memprotes, tangan besar Leonardo sudah berada di punggung bawahnya, menuntunnya keluar toko dengan tekanan yang posesif.
Selama perjalanan di dalam mobil Range Rover yang kedap suara, Olivia merasa sesak. Bukan karena ruangannya sempit, tapi karena energi yang terpancar dari pria di sampingnya. Leonardo mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga urat-urat di lengannya menonjol. Mata pria itu sesekali melirik ke arah leher Olivia, seolah-olah ia sedang menahan diri untuk tidak menerkamnya saat itu juga.
Leonardo sendiri sedang bertarung dengan kewarasannya. Denyutan di bawah perutnya tidak kunjung reda. Sepuluh tahun ia merasa seperti kasim yang tidak berguna, dan sekarang, hanya dengan mencium aroma sabun mandi dan mawar dari tubuh wanita ini, ia merasa seperti remaja yang baru mengenal gairah. Ia ingin menghentikan mobil ini di pinggir jalan dan membuktikan bahwa "reaksinya" bukan sekadar halusinasi.
Mobil itu melaju keluar dari hiruk-pikuk kota, mendaki perbukitan eksklusif di pinggiran Madrid yang dijaga ketat oleh gerbang-gerbang besi raksasa.
"Ini... ini daerah apa?" tanya Olivia cemas saat melihat menara pengawas dan pria-pria bersenjata di gerbang utama.
"Rumahku," jawab Leonardo pendek.
Mobil berhenti di depan sebuah mansion megah bergaya kolonial Spanyol dengan pilar-pilar batu raksasa. Olivia turun dengan kaki gemetar. Ia belum pernah melihat rumah semegah ini kecuali di film. Namun, ketakutannya sedikit mereda ketika seorang wanita paruh baya dengan gaun anggun dan senyum hangat melangkah keluar dari pintu jati raksasa itu.
"Oh, kau sudah datang! Dan kau membawa gadis manis ini!" seru Donna Isabella. Ia menghampiri Olivia dan langsung menggenggam tangannya, sebuah keramahan yang sangat kontras dengan putranya yang kaku.
"Ibu, ini Olivia. Pemilik toko bunga yang Ibu maksud," ucap Leonardo, suaranya sedikit melunak namun matanya tetap mengunci sosok Olivia.
"Panggil aku Isabella, Nak. Terima kasih sudah mau repot-repot mengantar mawar ini secara pribadi," ucap Isabella tulus. Ia menuntun Olivia masuk ke dalam aula besar yang dipenuhi lukisan minyak kuno dan lampu gantung kristal. "Ayo, duduklah sebentar. Pelayan akan menyiapkan teh. Leonardo, jangan berdiri di sana seperti patung, bantu anak buahmu menyusun bunga itu di kapel!"
Leonardo mendengus, namun ia menuruti ibunya. Ia ingin menjauh sejenak untuk menenangkan gairah di tubuhnya yang mulai menyakitkan.
Di ruang tamu yang mewah, Isabella mengajak Olivia mengobrol dengan hangat. "Katakan padaku, Olivia, apa yang membuat gadis Inggris sepertimu pindah ke Madrid dan membuka toko bunga sendirian?"
Olivia menyesap tehnya dengan canggung. "Saya ingin mencari suasana baru, Isabella. Dan jujur saja, saya butuh penghasilan lebih untuk keluarga saya di Inggris."
"Keluargamu? Apa kau punya saudara di sana?"
"Tidak, saya anak tunggal. Ayah saya sedang sakit di London, ada masalah dengan jantungnya. Ibu saya yang merawatnya di sana sepanjang waktu. Itulah sebabnya saya harus bekerja keras di sini," jelas Olivia dengan nada sedih yang tulus.
Isabella mengangguk simpati, matanya berkilat saat melihat putranya, Leonardo, berdiri di ambang pintu aula, diam-diam mendengarkan percakapan itu sambil menatap punggung Olivia dengan tatapan yang sangat intens—tatapan yang belum pernah Isabella lihat pada putranya selama sepuluh tahun terakhir.
"Keluarga adalah segalanya, Nak," ucap Isabella lembut. "Jangan khawatir. Selama kau berada di sini, kau adalah tamu keluarga De Luca. Dan Leonardo... dia mungkin terlihat kasar, tapi dia akan memastikan semua kebutuhanmu terpenuhi."
Olivia menoleh dan mendapati Leonardo sedang memperhatikannya. Pria itu tidak tersenyum. Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang kursi Olivia hingga bayangannya menutupi gadis itu.
"Bunganya sudah siap di kapel, Bunda," ucap Leonardo. Matanya lalu turun ke arah Olivia. "Dan kau, Olivia... kau tidak akan kembali ke toko itu malam ini. Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan soal 'kontrak' pengadaan bunga jangka panjang untuk keluarga ini."
"Tapi saya harus menutup toko—"
"Toko itu sudah dijaga oleh orang-orangku. Kau akan makan malam di sini," perintah Leonardo. Ia membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari telinga Olivia. "Jangan membantah jika kau ingin ayahmu di London mendapatkan perawatan terbaik yang bisa dibeli dengan uangku."
Olivia membeku. Pria ini baru saja mengancamnya dengan keselamatan ayahnya, namun dengan cara yang sangat halus dan menggoda. Ia menyadari bahwa masuk ke mansion De Luca adalah sebuah kesalahan besar, karena sekali mawar masuk ke dalam sangkar singa, ia tidak akan pernah dibiarkan keluar lagi.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...