Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21# Mantan tunangan kamu tuh!
Tiga tahun kemudian
Ting tong... Ting tong
Suara bel terus berbunyi hingga beberapa kali, membuat seorang anak kecil merasa kesal karena acara bermainnya menjadi terganggu.
“Ciapa cih belicik kali. Ndak copan cekali ganggu Pian belmain,” kesal anak laki-laki usia tiga tahun.
Ting tong... Ting tong
Bel pintu rumah kembali berbunyi, Alvian kembali di buat kesal karenanya. Bocah itu bangkit dari karpet lantai tempatnya sedang bermain, dia keluar kamar dan mencari keberadaan mbak yang biasa membantu mamanya membersihkan rumah.
Alvian lari ke dapur, benar saja asisten rumah tangganya ada di sana.
“Mbak Cultiyem,” panggil Alvian, namun yang di panggil tidak kunjung menyahut di karenakan sedang asik berdendang sambil mencuci piring. “Benal Cultiyem ini,” Alvian lantas menarik kursi mendekat kearah sang asisten rumah tangga, dengan susah payah bocah tiga tahun tersebut naik keatas kursi.
Alvian langsung mengambil headset yang menempel di telinga sang asisten rumah tangga. “Mbak Cultiyem goyang domblet,” pekiknya.
“Copot...eh copot,” kaget asisten rumah tangga yang bernama Nanik tersebut.
“Den Alvian bikin mbak kaget, nanti kalau jantungan gimana hayo? Mbak Nanik kan jadi gak bisa ngapel abang satpam komplek,” ucapnya.
“Dacal mbak Cultiyem. Itu ada yang belicik tekan-tekan bel,”
“Nanik den bukan Culti, Surti atau Iyem. Ada aja ini den ganteng,” Nanik kemudian mencuci tangannya sebelum melihat siapa yang datang bertamu.
Nanik berjalan keluar dapur, dia meninggalkan Alvian yang masih ada diatas kursi.
“Ndak benel ini Cultiyem. Mbak Cultiyem... Pian tulunin dali kulci dulu ini!” pekiknya.
Nanik yang sudah keluar dari dapur langsung menepuk keningnya. “Walah! Den ganteng ketinggalan, lebih bahaya dia dari pada nenek rempong ini.” Nanik lari balik ke dapur untuk membantu Alvian turun. “Hehe maaf, den. Mbak lupa,” ucapnya.
“Kecelingan goyang domblet cih. Makanya mbak Culti lupa,” ocehnya.
Nanik hanya terkekeh mendengar ocehan anak majikannya tersebut, dia menggandeng bocah tiga tahun tersebut untuk ke depan. Mereka berdua melihat siapa yang bertamu tapi tidak sabaran menunggu si pemilik rumah membukakan pintu.
Baru saja Nanik membuka pintu, dia sudah kena semprot si tamu karena lama membuka pintu.
“Lama sekali membuka pintunya? Kamu tidak tahu siapa aku?”
“Memangnya citu ciapa? Ondel-ondel atau boneka mampang yang gelak-gelak ke kanan dan ke kili?” bukan Nanik, melainkan Alvian yang bertanya.
“Kamu!” tunjuk wanita seumuran Karin tersebut, Nanik sampai menahan tawanya. Terlebih mendengar Alvian menyebut tamu tersebut ondel-ondel dan boneka mampang. “Aku Nala, tamu nenekmu. Sekaligus tunangan papamu,” lanjutnya.
Nanik mengerutkan dahinya saat perempuan yang bernama Nala tersebut mengatakan kalau dia adalah tunangan papanya Alvian. Ini perempuan sa rav atau bagaimana sih? Pak Aiden kan sudah menikah, tidak mungkin dia selingkuh dari bu Karin kan? Amit-amit deh.
Alvian memiringkan wajahnya, bocah tiga tahun itu sedang berusaha mencerna ucapan Nala. “Ooo...Cumala tunangan papa Aiden? Tunangan itu cejenis cimol atau telul gulung?” pertanyaan Alvian membuat Nanik hampir saja mengeluarkan tawa, asisten rumah tangga Karin tersebut langsung menutup mulutnya menahan tawa.
“Bukan Cumala tapi Nala! Aunty ini calon istri sekaligus calon mama baru kamu,” ucap Nala dengan percaya diri.
Alvian terkejut. “Ekhee. Pian cudah ada mama Kalin, ndak pelu mama balu. Cumala calah lumah kali,” Alvian tiba-tiba berkacak pinggang. “Kemalin nenek lombeng, cekalang datang Cumala. Papa ini ndak pintal cekali cali mama cama cali teman, ndak cepelti Pian yang punya mama Kalin cama onty Lhea. Macih ada kakak Aletha...ihihi,"
Wajah Nala sudah merah padam, namun dia berusaha menahannya. Dia sudah mendapatkan hati mamanya Aiden yang bernama Ayu yang juga tinggal di sana akhir-akhir ini. Tujuan Nala selanjutnya adalah Alvian untuk dia bisa menggantikan posisi Karin.
Nala adalah mantan tunangan Aiden, dulu dia pergi meninggalkan Aiden tanpa pamit. Entah punya tujuan apa setelah bertahun-tahun justru perempuan itu kembali di saat Aiden sudah berumah tangga.
Nala begitu yakin kalau Aiden masih mencintainya setelah mendengarkan cerita dari Ayu mamanya Aiden, dia menceritakan tentang awal mula Aiden bisa menikah dengan Karin. Dari sana lah Nala meyakini kalau Aiden terpaksa menikahi Karin karena tanggung jawab, dan parahnya Ayu mendukung Nala untuk kembali pada Aiden karena papanya Nala adalah pemegang saham terbesar perusahaan milik suami Ayu yang baru.
“Siapa yang datang, mbak Nanik?” perempuan cantik dengan hijab bergo berwarna peach terlihat menghampiri mereka yang masih berdiam di depan itu.
Nanik dan Alvian menoleh ke belakang. “Katanya teman nenek Ayu, bu Karin. Nala,” jawab Nanik.
“Mama...” Alvian langsung berbalik dan lari kearah sang mama, Karin langsung merentangkan ke dua tangannya menyambut putranya tersebut. “Di cana ada Cumala, mama. Pian takut, mata na melotot becal-becal. Cepelti ondel-ondel yang kita lihat waktu libulan itu,” oceh Alvian.
“Sumala?” Karin mengerutkan dahinya, Alvian mengangguk. Dia lantas berbisik pada sang mama. “Cumala bilang mau jadi mama na Pian. Ndak mau Pian puna mama lain, mama Pian kan mama Kalin. Pacti Cumala teman nenek lombeng,”
Karin hanya bisa menggeleng setiap kali putranya memanggil neneknya seperti itu, padahal dia sudah memberitahu Alvian. Tapi tetap saja dia masih memanggil Ayu dengan sebutan nenek rombeng yang cerewet dan suka marah-marah.
Karin lantas menghampiri Nanik yang masih belum mengijinkan Nala masuk, terlihat kedua perempuan itu tengah berdebat.
“Kalau aku sudah jadi nyonya disini, kamu orang pertama yang aku pecat. Lihat saja nanti!” ancam Nala pada Nanik.
Nanik hanya merotasi bola matanya malas. “Silahkan halu. Mana mungkin pak Aiden mau sama Sumala,” ucapnya tepat di depan Nala.
“Kamu!”
“Tamunya suruh masuk dulu, mbak!” pinta Karin saat melihat Nala.
Nala masuk ke dalam rumah, dia duduk di ruang tamu. Begitupun dengan Karin yang duduk sambil memangku Alvian, putranya tersebut sepertinya sudah mulai mengantuk dan Karin harus segera membawa Alvian ke kamar untuk tidur siang.
“Ada perlu apa mbak datang ke mari?” tanya Karin dengan nada biasa.
“Mama Ayu memintaku ke mari, di mana dia?”
Karin menoleh pada Nanik. “Tolong panggilkan mama Ayu ya, mbak!” pinta Karin diangguki Nanik. Perempuan muda seusia Alya tersebut mengangguk, dia kemudian memanggilkan Ayu.
Tidak lama kemudian Ayu keluar. “Nala, sayang. Akhirnya kamu datang,” Ayu dengan heboh memeluk Nala, Karin tersenyum tipis melihat itu. Diam-diam dia mengeluarkan ponsel dan memotretnya.
Take a picture 📷
“Mantan tunangan kamu tuh!”
Karin mengirim pesan pada Aiden.
Baik Nala maupun Karin belum pernah bertemu, tapi Karin sudah pernah mendengar cerita tentang Nala dari mama mertuanya. Hampir setiap hari Ayu selalu memanas-manasi Karin dengan terus membahas nama Nala, tapi Karin tidak terlalu perduli dengan ocehan ibu mertunya tersebut.
Hingga hari itu Nala datang, hari di mana kerikil-kerikil kecil mulai mewarnai kehidupan keluarga kecil Aiden dan Karin.