Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.
Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.
Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.
"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.
Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
Mendengar pujian yang meluncur begitu saja dari mulut kakaknya, Xin Wei—adik perempuan Tuan Xin—hanya mendengus pelan namun terdengar jelas. Matanya menyapu wajah Xin Yi dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan.
Cantik? batinnya mencibir. Bahkan tidak ada sepuluh persen kecantikan putriku. Kakak benar-benar melebih-lebihkan hanya demi menutupi rasa bersalahnya.
Baru saat itu pula Xin Yi tersadar bahwa ia bukan hanya berdua dengan pria di ranjang itu—ada orang lain di ruangan ini.
Gadis itu perlahan menoleh ke arah sofa di sudut ruangan. Duduk di sana seorang wanita yang tampak berusia sekitar tiga puluhan, wajahnya cantik dengan riasan sempurna dan mengenakan setelan bisnis yang sangat elegan serta mahal.
Wanita itu duduk dengan dagu terangkat tinggi, seolah sedang menilai sebuah barang murah yang tak sengaja masuk ke dalam istana. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh rasa meremehkan.
"Xin Yi," suara berat Xin Fuyang memanggil namanya, menarik kembali perhatian gadis itu. Pria itu menggenggam tangan Xin Yi lebih erat, lalu menunjuk ke arah wanita itu. "Itu adalah Bibi Xin Wei, adik Ayah."
Xin Yi menatap wanita itu sebentar. "Halo, Bibi," sapanya singkat dan datar—tanpa senyum berlebih maupun sikap merendah yang berlebihan, hanya sopan santun dasar yang diajarkan Nenek.
Setelah itu, ia kembali menatap wajah Xin Fuyang. Kedua alisnya yang tipis sedikit berkerut. Keberanian yang jarang dimiliki orang lain muncul begitu saja dari gadis desa itu.
"Bukankah Ayah sedang sakit?" tanyanya langsung, suaranya tenang namun menusuk.
Matanya melirik turun ke tangan mereka yang saling menggenggam—tangan pria itu terasa hangat, kuat, dan stabil. Ia lalu menatap kembali wajah ayahnya yang meski pucat, namun matanya begitu bercahaya, jauh dari kesan orang yang sekarat atau bahkan sakit parah.
"Xin Yi ditarik dari pulau karena kabar Ayah sakit keras..." ucapnya pelan, namun nada pertanyaannya begitu jelas. Tapi kenapa sekarang terlihat baik-baik saja?
Pertanyaan itu meluncur begitu tenang namun menancap tajam, membuat Xin Fuyang terpaku sejenak. Pria itu sedikit terkejut; jemarinya yang menggenggam tangan gadis itu terasa kaku.
Ia tidak mengira putrinya akan bersikap seperti ini. Dalam bayangannya, anak perempuan yang selama ini terpisah jauh dari orang tua seharusnya akan berlari memeluknya, menangis tersedu mengadu betapa berat hidupnya, atau setidaknya mengatakan bahwa ia sangat merindukan sosok seorang ayah selama bertahun-tahun.
Namun, Xin Yi berbeda.
Gadis itu tidak pernah menuntut penjelasan kenapa ia ditinggalkan. Tidak ada air mata, tidak ada keluhan, tidak ada adegan haru yang diharapkan. Yang keluar dari bibirnya justru pertanyaan yang menelanjangi kebenaran: Apakah Ayah berbohong? Apakah Ayah berpura-pura sakit hanya agar aku datang sendiri?
Xin Fuyang tersadar betapa egoisnya dirinya. Ia terlalu malas atau gengsi untuk datang menjemput langsung ke pulau kecil itu, lalu memilih cara yang menurutnya paling mudah—memanfaatkan situasi agar putrinya datang menghampirinya dengan rasa cemas.
Tangan pria itu sedikit bergetar, entah karena emosi atau rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap. Ia berusaha menyembunyikannya dengan memaksakan senyum hangat, mencoba menenangkan suasana.
"Ayah memang sakit, Nak..." suaranya terdengar sedikit serak. "Hanya saja... kondisinya sudah jauh lebih membaik sejak mengetahui kamu akan datang."
Itu jelas sebuah kebohongan yang dibalut kata-kata manis.
Xin Yi menundukkan pandangan, menatap lantai keramik yang mengkilap. Ia bukan anak kecil yang bisa dengan mudah dibohongi. Ia bisa melihat sendiri, merasakan sendiri bahwa pria ini sangat kuat dan sehat. Tapi untuk apa terus bertanya?
Memperdebatkan hal itu hanya akan membuat rasa kecewa di dadanya semakin membesar, dan ia tidak punya energi untuk itu.
Akhirnya, gadis itu hanya mengangguk pelan, suaranya datar tanpa emosi.
"Semoga kondisi Ayah segera membaik sepenuhnya," ucapnya singkat.
Kalimat itu sopan—sangat sopan. Namun justru kesopanannya itulah yang membuat jarak di antara mereka terasa semakin jauh, dingin, dan tak tersentuh.
Melihat interaksi kaku itu, alis Xin Wei semakin terkerut. Ia bisa menilai situasi dengan sangat jelas: gadis ini... sama sekali tidak terlihat antusias atau berusaha mendekat pada kakaknya. Tidak ada rasa ingin memiliki, tidak ada rasa ingin dimiliki. Seolah-olah kehadiran Xin Fuyang hanyalah sebuah formalitas yang membosankan.
"Karena anak ini sudah ada di sini, apa rencanamu selanjutnya, Kak?" tanya Xin Wei memecah keheningan, suaranya masih terdengar dingin.
Ia ingin tahu, apakah benar kakaknya berniat mengacaukan struktur keluarga yang sudah rapi ini.
Xin Fuyang menoleh, menatap putrinya dengan tatapan yang mencoba terlihat lembut namun tetap berwibawa.
"Karena kamu sudah di sini, Xin Yi... maka sudah pasti kamu akan kembali ke keluarga Xin. Kamu adalah bagian dari keluarga ini. Mulai sekarang, hidupmu akan berubah," ucapnya tegas.
Ia lalu menambahkan, "Dan kamu tidak sendirian. Kamu memiliki seorang Kakak laki-laki. Dia tiga tahun lebih tua darimu. Nanti Ayah akan memperkenalkan kalian."
Suasana di ruangan itu hening sejenak. Xin Yi menatap lurus ke wajah pria yang mengaku ayahnya itu. Matanya tajam, membaca setiap detail ucapan pria itu.
Keluarga Xin? Kakak laki-laki?
Pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya, tajam dan menusuk. Jika dia punya kakak laki-laki, jika ayahnya sudah punya keluarga lain... lalu apa posisi ibunya? Dan apa posisinya?
Tanpa sadar, kata-kata itu lolos dari bibirnya yang tipis, terdengar tenang namun membuat suhu ruangan seketika turun drastis.
"Oh... jadi, aku ini anak haram?"
Bang!—Seakan ada benda tak kasat mata yang menghantam seluruh ruangan.
Wajah Xin Fuyang memerah padam, terkejut dan terpukul mendengar kalimat itu keluar begitu santai dari mulut putrinya sendiri. Xin Wei di sofa bahkan menahan napas, matanya membelalak tak percaya. Gadis desa ini... benar-benar berani mengucapkan kata tabu itu secara langsung?
Suasana kembali membeku total. Hening yang mencekam.
Pertanyaan itu membuat Xin Fuyang terdiam hening. Mulutnya terbuka sedikit, namun tak ada kata yang mampu keluar. Ia benar-benar buntu, tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana, karena kenyataannya memang sesederhana dan sekejam itu.
Fakta yang tersembunyi selama bertahun-tahun kini tergambar jelas di benaknya.
Dulu, saat ia pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia sudah memiliki tunangan yang sedang mengandung anak pertamanya di Kota A. Ia pergi ke desa itu hanya untuk melarikan diri sejenak dari penatnya pekerjaan dan tekanan keluarga.
Namun, siapa sangka, di desa yang tenang dengan penduduk yang ramah itu, di tengah keramaian festival musim gugur di alun-alun desa, matanya bertemu dengan sepasang mata teduh milik ibu Xin Yi.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria berkuasa itu merasakan apa yang disebut jatuh cinta pada pandangan pertama. Hatinya yang selama ini dingin luluh seketika.
Meskipun statusnya sudah terikat, Xin Fuyang mengejar wanita itu dengan begitu gila-gilaan. Ia menyembunyikan segalanya—menyembunyikan identitas aslinya, menyembunyikan tunangannya, menyembunyikan seluruh kehidupannya di kota besar. Ia ingin dunia hanya milik mereka berdua saat itu.
Hubungan mereka berjalan diam-diam selama bertahun-tahun. Ia bolak-balik terbang dari Kota A ke pulau itu, mencuri waktu demi bisa bertemu. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah di sana, membangun keluarga kecil yang bahagia.
Namun, di sisi lain yang gelap...
Di saat yang sama, di kota besar, ia juga telah resmi menikah dengan tunangannya. Wanita itu melahirkan seorang putra mahkota, Xin Yuning—ahli waris tunggal yang selama ini dikenal dunia.
Jadi, kenyataan pahitnya adalah: Ibu Xin Yi bukanlah satu-satunya, dan Xin Yi lahir di tengah situasi di mana ayahnya sudah memiliki keluarga yang lengkap.
Xin Fuyang menunduk, wajahnya memerah karena rasa malu dan bersalah yang luar biasa. Ia tak berani menatap mata tajam putrinya itu. Kata "anak haram" yang diucapkan Xin Yi barusan... adalah kebenaran yang paling menyakitkan yang tak bisa ia pungkiri.
Mendengar pengakuan itu secara utuh, Xin Wei terdiam kaku. Selama ini dia hanya tahu kakaknya punya hubungan gelap, tapi tidak pernah menyangka ceritanya serumit dan sekejam ini.
Bajingan. Kakakku benar-benar pria bajingan., batinnya mencela.
Walaupun pernikahan antara Keluarga Xin dan Keluarga Huo—istri sah kakaknya—hanya didasari kepentingan bisnis dan formalitas semata, tetap saja fakta bahwa Xin Fuyang sudah beristri dan memiliki anak tidak bisa diubah. Dia sudah memiliki tanggung jawab, namun tetap saja pergi mencari cinta di tempat lain dengan cara yang penuh penipuan.
Pandangannya lalu beralih ke Xin Yi. Xin Wei sempat berpikir, ibu gadis ini pasti wanita yang terlalu polos, bahkan bisa dibilang bodoh. Bagaimana bisa dia tidak mempertanyakan status pria di depannya? Bagaimana bisa dia percaya begitu saja?
Namun, perlahan rasa kesal itu berganti dengan pemahaman. Jika dipikir-pikir, dengan cara kakaknya mengejar wanita itu begitu gila-gilaan, memberikan perhatian penuh... siapa yang tidak akan luluh? Apalagi ibu Xin Yi hidup hanya bersama ibunya, tanpa sosok ayah atau pelindung.
Kehadiran pria kaya dan tampan seperti Xin Fuyang pasti membuat hidupnya terasa lengkap dan sempurna untuk sementara waktu.
Tapi... kesalahan ada pada orang dewasa, dan anak kecil ini yang harus menanggung akibatnya.
Mata Xin Wei menatap wajah datar gadis di hadapannya. Sebuah rasa kasihan yang jarang muncul perlahan merayap di dadanya. Xin Yi tidak bersalah. Dia hanyalah anak yang tidak tahu apa-apa, yang lahir dari kisah cinta terlarang itu.
Xin Fuyang meninggalkan ibunya saat wanita itu baru mengandung dua bulan. Keluarga Xin mengetahui perselingkuhan itu, dan ayah mereka mengeluarkan ultimatum keras: Pilih wanita desa itu, atau hilangkan namanya dari daftar ahli waris dan keluarganya selamanya.
Karena ambisi dan takdir, Xin Fuyang memilih mundur. Ia menghilang begitu saja, membiarkan kekasihnya membesarkan anak sendirian.
"Alasan Ayah memintamu datang..." Xin Fuyang akhirnya bersuara pelan, memecah keheningan yang berat. "Bukan semata karena Ayah ingin. Tapi Nenekmu... Nenek Besar dari pihak Ayah, dia sudah tua. Dia ingin melihat semua keturunannya. Dia ingin kamu pulang, hidup layak sebagai anggota Keluarga Xin."
Pria itu menunduk, suaranya semakin pelan. "Terutama setelah Ayah tahu... bahwa ibumu sudah tiada, dan kamu hidup sendirian menjaga Nenek Lin sampai akhir hayatnya. Ayah tidak bisa membiarkanmu terus hidup seperti itu."
Jadi, gadis desa ini dibawa ke sarang serigala ini bukan karena kasih sayang yang tiba-tiba, melainkan karena perintah nenek tua yang ingin mengumpulkan semua anak cucunya, dan mungkin sedikit rasa bersalah yang terlambat dari pria di hadapannya.