BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 2 : hari yang terasa sama
Hari-hari Arga berjalan seperti lingkaran yang tak pernah putus. Pagi datang, ia bangun dengan rasa lelah yang sama. Siang diisi dengan langkah tanpa kepastian. Dan malam… selalu berakhir dengan pikiran yang semakin penuh.
Sudah berminggu-minggu ia menjalani rutinitas yang sama—mencari pekerjaan ke sana kemari, hanya untuk pulang dengan tangan kosong. Setiap penolakan terasa seperti menambah beban di dadanya.
Pagi itu, Arga kembali duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai yang dingin. Ponselnya tergeletak di samping, penuh notifikasi yang tak ingin ia buka. Ia sudah tahu isinya—tagihan, promosi, dan sesekali pesan dari teman lama yang sekadar basa-basi.
Ia menghela napas panjang, lalu berdiri. Tidak ada pilihan lain selain mencoba lagi.
Dengan langkah pelan, Arga keluar rumah. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang tampak punya tujuan. Ada yang berangkat kerja, ada yang membuka toko, ada juga yang sekadar berbincang santai di pinggir jalan.
Arga memperhatikan semuanya sekilas.
“Semua orang kayaknya tahu harus ke mana…” gumamnya.
Ia menaiki angkutan umum dengan sisa uang yang ia hitung berkali-kali. Setiap rupiah terasa berarti sekarang. Di dalam kendaraan, ia hanya diam, menatap keluar jendela. Bangunan demi bangunan lewat begitu saja, seperti waktu yang tak pernah berhenti.
Tempat pertama yang ia datangi adalah sebuah toko elektronik. Ia sempat melihat lowongan kerja yang ditempel beberapa hari lalu. Dengan sedikit harapan, ia masuk dan bertanya.
Namun jawaban yang ia dapatkan singkat.
“Maaf, posisi sudah terisi.”
Arga hanya mengangguk, mencoba tersenyum walau terasa dipaksakan. Ia keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Langkahnya berlanjut ke tempat lain. Sebuah kafe kecil, lalu bengkel, lalu minimarket. Jawabannya hampir selalu sama. Bahkan ada yang menolaknya tanpa benar-benar mendengarkan.
Menjelang siang, panas mulai terasa menyengat. Keringat membasahi kemejanya yang mulai kusut. Perutnya juga mulai terasa kosong, tapi ia memilih menahan lapar.
Uang yang ia punya tidak banyak.
Ia akhirnya berhenti di pinggir jalan, berteduh di bawah pohon. Duduk di atas pembatas trotoar, menunduk, dan memijat pelipisnya pelan.
Pikirannya mulai kacau lagi.
“Gue kurang apa sih…” bisiknya lirih. “Udah nyoba ke mana-mana, tapi hasilnya gini terus.”
Ia menatap orang-orang yang lewat. Beberapa terlihat tertawa, beberapa sibuk dengan ponsel, beberapa berjalan cepat seolah waktu sangat berharga bagi mereka.
Arga merasa asing di tengah semua itu.
Seolah dunia terus berjalan, sementara ia tertinggal di tempat yang sama.
Beberapa saat kemudian, ia kembali berdiri. Masih ada satu dua tempat yang ingin ia coba. Walau dalam hati, harapannya sudah semakin tipis.
Di perjalanan, ia sempat berhenti di depan sebuah toko kecil. Ia menatap papan lowongan yang ditempel di kaca. Syaratnya tidak terlalu sulit, tapi tetap saja membutuhkan pengalaman yang tidak ia miliki.
Arga tersenyum pahit.
“Pengalaman lagi…” gumamnya.
Ia tidak masuk. Hanya berdiri beberapa detik, lalu melangkah pergi.
Langkahnya kini semakin lambat. Bukan karena lelah fisik semata, tapi karena pikirannya yang mulai kehilangan arah.
Sampai akhirnya, ia tiba di depan sebuah minimarket. Tempat yang sering ia lewati, tapi jarang ia perhatikan.
Hari itu, entah kenapa, ia memilih berhenti.
Ia duduk di kursi panjang di depan minimarket, menunduk, membiarkan semua rasa bercampur jadi satu—lelah, kecewa, marah, dan putus asa.
Ia mengeluarkan ponsel, menatap layar kosong tanpa tujuan.
Lalu, tanpa sadar, ia berbisik pelan—
“Kalau gue berhenti sekarang… ada yang peduli gak ya?”
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Dan untuk beberapa saat, dunia terasa benar-benar sunyi.
Arga tidak tahu, bahwa di titik itulah… hidupnya akan mulai berubah.
Langit perlahan berubah mendung. Angin sore mulai bertiup pelan membawa debu jalanan. Orang-orang keluar masuk minimarket tanpa memperhatikan Arga yang duduk sendirian dengan wajah kosong.
Ia menunduk lebih dalam. Kepalanya terasa berat.
Sudah lama ia memendam semuanya sendiri. Tentang rasa takut, rasa gagal, dan tekanan yang terus menghimpit pikirannya setiap hari. Ia bahkan mulai lupa kapan terakhir kali ia benar-benar merasa tenang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Arga melirik malas ke layar. Sebuah pesan masuk dari ibunya.
“Udah makan belum, Ga?”
Pesan singkat itu membuat dadanya terasa sesak.
Ibunya selalu bertanya hal yang sama setiap hari. Padahal Arga tahu keadaan di rumah juga tidak mudah. Ibunya tetap mencoba terdengar kuat walau sering menyembunyikan lelahnya.
Arga mengetik balasan singkat.
“Udah, Bu.”
Padahal belum.
Ia menatap pesan itu beberapa detik sebelum akhirnya memasukkan kembali ponselnya ke saku. Bohong kecil seperti itu sudah terlalu sering ia lakukan.
Bukan karena ingin berbohong, tapi karena ia tidak ingin membuat ibunya semakin khawatir.
Tak lama kemudian, suara petir terdengar dari kejauhan. Beberapa orang mulai bergegas mencari tempat berteduh.
Arga masih diam di tempatnya.
Hujan perlahan turun, awalnya rintik kecil, lalu semakin deras. Sebagian cipratan air mengenai ujung sepatunya yang mulai usang.
Namun ia tidak berpindah.
Entah kenapa, hujan terasa lebih nyaman daripada isi kepalanya sendiri.
Ia menatap jalanan yang mulai basah. Lampu kendaraan memantul di genangan air, menciptakan bayangan-bayangan samar yang terus bergerak.
“Kenapa hidup rasanya berat banget ya…” ucapnya pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, matanya mulai terasa panas.
Bukan karena hujan.
Tapi karena ia lelah terus berpura-pura kuat.
Arga menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya sedikit bergetar. Ia berusaha menahan semuanya agar tidak benar-benar jatuh.
Di tengah derasnya hujan, tidak ada yang memperhatikan seorang laki-laki yang sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari pikirannya.
Lalu tiba-tiba—
Seseorang berdiri di depannya.
Arga mengangkat kepala pelan.
Seorang perempuan memegang payung berwarna krem, berdiri beberapa langkah dari tempatnya duduk. Rambutnya sedikit basah terkena angin hujan. Wajahnya terlihat tenang, tapi sorot matanya penuh rasa khawatir.
Perempuan itu menatap Arga beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Kalau hujannya makin deras, kamu bisa sakit.”
Suaranya lembut. Sangat lembut sampai Arga sempat mengira ia salah dengar.
Arga segera mengusap wajahnya cepat, mencoba terlihat biasa saja.
“Gapapa,” jawabnya singkat.
Perempuan itu tidak langsung pergi.
Ia justru duduk di ujung kursi yang sama, masih memegang payung agar air hujan tidak terlalu mengenai mereka.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Aneh rasanya bagi Arga. Biasanya orang-orang hanya lewat tanpa peduli. Tapi perempuan ini malah berhenti.
“Kadang,” perempuan itu berkata pelan sambil menatap jalanan di depan mereka, “orang yang bilang gapapa justru paling capek.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Dadanya terasa seperti disentuh sesuatu yang selama ini terkunci rapat.
Ia menoleh pelan ke arah perempuan itu.
“Kenapa… ngomong gitu ke orang asing?” tanya Arga lirih.
Perempuan itu tersenyum kecil.
“Karena dulu aku juga pernah ada di posisi itu.”
Hujan masih turun di sekitar mereka.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama… Arga merasa dunia tidak sesunyi biasanya.