Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan pria tampan mungkin kah?
Di saat hening itu, pikiran Mireya sudah berkelana ke berbagai macam planet.
Kenapa ini?
Kenapa pria ini tiba-tiba mengaku jadi tunanganku?
Penipu?
Tidak mungkin.
Dengan wajah setampan ini?
…Waaaahhhh.
Tatapannya jatuh lagi ke wajah pria di depannya.
Rahang tegas, sorot mata dingin, hidung mancung, dan aura mahal yang bahkan sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Mana mungkin aku lupa kalau pernah kenal pria setampan ini?
Kalau benar kami berteman sejak kecil…
Kalau benar dia pernah berjanji akan menikahi ku…
Maka—apakah ini waktunya aku bersinar?
Hehehe…
Sudut bibir Mireya hampir terangkat sendiri.
Slurp.
Ganteng banget…
“Cih.”
Semua lamunannya buyar seketika.
Suara decihan jijik pria itu memotong imajinasinya tanpa ampun.
Tatapan tajamnya turun lurus ke arah Mireya.
“Kendalikan pikiranmu. Semuanya terlihat jelas.”
Jantung Mireya langsung tersentak.
HAH?!
Jangan-jangan ekspresiku kebaca?!
“Itu menjijikkan.”
…APA?!
Mireya langsung memasang wajah datar, walau dalam hati sudah hampir jungkir balik.
Lalu pria itu berbicara lagi, kali ini singkat namun penuh perintah.
“Rob.”
Hanya satu kata.
Namun seorang pria berkacamata yang berdiri tak jauh dari sana segera melangkah mendekat.
Tinggi, rapi, dan tidak kalah tampan, dengan aura profesional yang membuatnya terlihat seperti asisten pribadi kelas atas.
Di tangannya terdapat sebuah dokumen tebal.
Dengan sedikit gerakan dagu dari pria dingin itu, Rob langsung paham.
Ia akan menyerahkan dokumen tersebut ke tangan Mireya. Tapi mungkin tempat itu tidak pas jadi dia masih memengangi dokumen itu dengan erat.
Sebelum Mireya sempat bertanya, Rob berbicara lebih dulu.
“Perkenalkan, nona. Ini adalah Tuan Zevran Ardevar.”
Suara Mireya tercekat.
Zevran… Ardevar?
Rob melanjutkan dengan tenang.
“Pemilik keluarga Ardevar dan salah satu konglomerat terbesar di kerajaan.”
Mata Mireya membelalak.
Astaga… keluarga Ardevar yang itu?!
Beberapa suara pekik kecil mulai terdengar dari sekitar.
Tanpa ia sadari, orang-orang di sekitar sudah mulai berhenti dan menoleh.
Bisik-bisik pelan terdengar.
“Ardevar?” “Yang nomor satu itu?”
“Bangsawan yang bisa menggunakan jalan bawah…”
Rob tersenyum tipis.
“Iya, nona. Jadi selama ini… andalah tunangan yang selama ini dicari tuan kami.”
Mireya masih mematung.
Tunangan?
Dirinya?
Dengan pria yang bahkan wajahnya saja seperti hasil pahatan dewa?
Rob kembali membuka suara dengan sopan.
“Bagaimana jika kita mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara?”
Ia sedikit membungkuk.
“Saya akan menjelaskan semuanya dengan jelas.”
...****************...
Mireya masih memegang tas miliknya erat di dadanya. saat Rob membuka pintu limosin dengan gerakan yang sangat terlatih.
Interiornya membuat napasnya tertahan.
Bukan… ini bukan mobil.
Ini lebih mirip sebuah ruang tamu mewah yang berjalan.
Kursi kulit lembut berwarna hitam pekat, lampu kristal kecil di sisi langit-langit, serta panel kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan kota di luar.
Mireya melangkah masuk dengan hati-hati, berusaha menyembunyikan rasa kagumnya.
Astaga… bahkan kursinya lebih nyaman daripada kasur asramaku.
Pintu tertutup perlahan.
Tanpa suara mesin yang kasar, limosin itu mulai meluncur.
Mireya spontan menoleh ke luar jendela.
Jalan di bawah begitu luas.
Sepi.
Lengang.
Hanya beberapa kendaraan mewah lain yang terlihat melintas di kejauhan, masing-masing dengan bentuk yang begitu elegan dan modern.
Di atas sana, jalur udara dipenuhi kapsul-kapsul transportasi publik yang bergerak seperti aliran cahaya tanpa henti.
Sedangkan di bawah…
kosong.
Seolah seluruh jalan raya ini hanya disediakan untuk segelintir orang.
Tatapan Mireya terpaku.
“Kenapa… sepi sekali? Apa memang seperti ini jalur darat?”
Rob yang duduk di depan menoleh sedikit, tersenyum tipis.
“Ini jalur bawah, nona.”
“Jalur darat eksklusif yang hanya digunakan oleh keluarga aristokrat, konglomerat tingkat atas, dan pemegang hak akses khusus.”
Mireya berkedip.
Jadi benar…
jalan ini memang terasa seperti milik pribadi.
Rob melanjutkan dengan nada profesional.
“Mayoritas masyarakat menggunakan terminal udara di jalur atas. Cepat, efisien, dan gratis untuk warga.”
“Karena itu, jalur bawah kini lebih dikenal sebagai prestige lane.”
Prestige lane.
Mireya menelan ludah.
Ia kembali melihat ke luar.
Boulevard panjang yang bersih, lampu-lampu kota memantul di permukaan jalan yang mengilap, dan deretan bangunan tinggi di kedua sisi membuat jalur ini terasa seperti panggung pribadi.
Dari atas, siluet orang-orang di terminal udara terlihat menoleh ke bawah.
Melihat mobil yang mereka tumpangi.
Ya ampun…
semua orang bisa melihat kita.
Tiba-tiba limosin itu berbelok pelan.
Di depan mereka, sebuah bangunan megah berdiri dengan fasad kaca dan pilar berlapis emas pucat.
Logo restoran itu berkilau di bagian depan.
Mireya tercekat.
Ia mengenal tempat itu.
Restoran paling eksklusif di distrik pusat.
Tempat yang bahkan biaya minum air nya saja mungkin cukup untuk biaya hidupnya satu bulan.
“Ki-kita… ke sini?”
Zevran yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Kita perlu berbicara.”
Tatapannya lurus ke depan.
“Dan aku tidak membicarakan hal sepenting ini di tempat sembarangan.”
...****************...
Limosin hitam itu meluncur pelan sebelum akhirnya berhenti mulus di area parkir terbuka.
Mireya sempat terpana.
Tidak ada basement.
Tidak ada lorong parkir tertutup seperti yang biasa ia lihat di pusat kota.
Sebaliknya, area ini terbuka, luas, dan hanya diterangi cahaya lampu kristal tinggi yang berdiri berjajar rapi.
Jumlah kendaraan yang terparkir pun bisa dihitung dengan jari.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tidak lebih dari sepuluh.
Semua kendaraan di sana tampak mewah, dengan desain eksklusif yang jelas bukan untuk masyarakat biasa.
Mireya spontan melirik ke sisi bangunan.
Di bagian bawah restoran, justru terlihat jalur masuk menuju basement.
Rob menangkap arah pandangnya lalu tersenyum kecil.
“Basement digunakan untuk kendaraan udara pribadi, mobil terbang komersial, atau kendaraan kelas umum yang parkir otomatis, nona.”
Ia menyesuaikan kacamatanya.
“Sedangkan area ini khusus bagi tamu VIP yang datang melalui jalur darat.”
Mireya berkedip pelan.
Jadi… di dunia orang kaya seperti ini?
Yang terlihat di luar justru yang paling mahal. Dia bahkan tidak pernah menginjakkan kaki seumur hidupnya ke restoran seperti ini, hanya ini mungkin pertama kali nya dan yang terakhir kalinya.
Pintu mobil terbuka.
Bukan secara otomatis.
Melainkan oleh seorang pria paruh baya dengan jas rapi dan sarung tangan putih.
Ia berdiri tegap, membuka pintu dengan gerakan penuh hormat.
“Selamat datang, Tuan muda.”
Pak Laurent.
Supir senior keluarga Ardevar.
Tatapan Mireya langsung tertuju padanya.
Ah, jadi ini orang yang tadi mengemudi.
Pak Laurent membungkuk hormat, lalu membuka pintu di sisi Mireya.
“Sore, Nona Mireya.”
Suaranya hangat dan ramah, jauh berbeda dari hawa dingin yang dibawa Zevran.
Dengan satu tangan di dada dan sedikit membungkuk, ia mempersilakan Mireya turun.
“Silakan.”
Mireya turun dengan sedikit kikuk.
Dalam hati ia hanya bisa berpikir:
ya ampun… bahkan turun dari mobil aja ada yang bukain pintu. Dan dia dengar bahwa keluarga yang memiliki sopir adalah keluarga yang benar-benar bergelimang harta karena sopir berkelas bukan robot atau AI canggih yang mengemudi.
Sementara itu, Zevran sudah keluar lebih dulu.
Tanpa menoleh sedikit pun.
Langsung berjalan menuju pintu restoran seolah seluruh dunia memang menyesuaikan langkahnya.
Mireya menatap punggung pria itu dengan sedikit kesal.
Cih, sombong banget.
Rob mendekat dengan senyum sopan.
“Maaf, nona. Tuan memang seperti itu.”
Ia mengulurkan tangan, mempersilakan.
“Silakan ke sini, saya akan mengantar Anda.”
Mireya mendecih pelan dalam hati.
Untung asistennya masih manusiawi.
Di belakang mereka, Pak Laurent menatap kepergian keduanya lalu tersenyum tipis, seperti seseorang yang sudah bisa menebak arah cerita.
...****************...
Begitu pintu restoran terbuka, seorang pelayan manusia langsung membungkuk dalam-dalam di ikuti beberapa pelayan manusia lain yang sudah standby di depan pintu khusus dan melihat tamu tamu mahal ini. Mereka serempak berkata.
“Selamat datang, Tuan Zevran Ardevar.”
Mireya sempat melirik ke samping.
Di area utama restoran, beberapa robot pelayan tampak melayani tamu-tamu lain dengan gerakan halus dan senyum digital yang nyaris sempurna.
Rob menangkap tatapannya.
“Pelayan robot digunakan untuk layanan reguler, nona.”
Suaranya tetap ramah.
“Untuk tamu prioritas, pelayanan dilakukan langsung oleh staf manusia.”
…hah?
Mireya langsung menoleh ke Zevran.
jadi dia levelnya beda banget, ya.
Belum sempat ia mencerna, langkah kaki cepat terdengar dari arah dalam.
Seorang pria berjas mahal—kemungkinan kepala manajer restoran—nyaris berlari kecil menghampiri mereka.
Begitu melihat lambang keluarga Ardevar di limosin tadi, wajahnya langsung berubah pucat.
Ia membungkuk begitu dalam sampai Mireya takut pinggangnya patah.
“T-Tuan Zevran!”
“Kami merasa terhormat atas kedatangan Anda.”
“Ruang privat terbaik sudah kami siapkan.”
Tanpa menunggu instruksi lebih lanjut, mereka langsung diarahkan menuju lift khusus.
Pintu terbuka menuju sebuah ruang makan privat yang sangat luas.
Langit-langitnya tinggi dengan lampu kristal lembut, meja panjang dari marmer putih, dan jendela kaca besar yang memperlihatkan panorama kota malam.
Di sudut ruangan berdiri dua pelayan manusia.
Diam.
Tegak.
Nyaris tak bergerak.
Mireya sampai berpikir mereka patung pajangan.
Baru saat Rob memberi isyarat halus, keduanya membungkuk lalu mundur keluar ruangan dan menunggu di sisi pintu.
Astaga… ini restoran apa istana?
Di atas meja sudah tersaji beberapa kue kecil, tart buah mini, dan pastry hangat yang aromanya langsung membuat perut Mireya berbunyi pelan.
Pipi Mireya memanas.
Rob tersenyum sopan, lalu menggeser sebuah terminal transparan ke arahnya.
“Silakan, nona. Anda bisa memesan lebih dulu.”
Terminal itu langsung menyala.
Satu per satu visual hidangan muncul dalam bentuk hologram.
Bukan hanya gambar.
Aroma makanannya bahkan ikut keluar melalui fitur aroma simulasi.
Mata Mireya membulat.
ya ampun…
ini dagingnya kelihatan lembut banget…
astaga kuenya…
slurp.
Namun begitu pandangannya turun ke harga—
matanya hampir copot.
Segelas air mineral biasa saja setara dengan gajinya selama satu bulan.
Tangannya langsung gemetar.
Ia buru-buru menaruh terminal itu.
“A-aku… air putih biasa aja.”
Ruangan mendadak hening.
Rob membeku.
Pelayan di luar pintu nyaris berkedip.
Lalu—
“Pfft.”
Suara tawa rendah terdengar dari seberang meja.
Mireya menoleh cepat.
Zevran.
Pria itu menahan tawa, namun sudut bibirnya jelas terangkat.
Tawanya rendah, berat, seperti geledek yang ditahan.
“Tidak perlu sungkan.”
Tatapannya turun ke arah Mireya.
“Daripada aku harus mendengar suara perut yang tidak sopan selama pembicaraan.”
Pipi Mireya langsung memerah.
CIH.
siapa juga yang perutnya bunyi tadi?!
Ia mengepalkan tangan di bawah meja.
nyebelin banget, tapi… ya memang lapar sih.
Zevran lalu menoleh singkat ke Rob.
“Pesankan menu terbaik untuknya.”
Rob membungkuk.
“Baik, Tuan.”
...****************...
Hidangan utama akhirnya datang.
Aroma daging panggang dengan saus mentega dan rempah hangat langsung memenuhi ruangan.
Mata Mireya berbinar.
ya ampun… ini wanginya dosa banget.
Sementara itu, Zevran dengan tenang mengambil pisau dan garpunya.
Gerakannya rapi.
Tenang.
Elegan.
Bahkan cara ia memotong makanan terlihat seperti sesuatu yang biasa dilakukan orang bangsawan sejak lahir.
Mireya yang seharusnya fokus pada makanannya sendiri malah tanpa sadar mencuri pandang.
Sedikit.
Sedikit lagi.
astaga… kok orang makan aja bisa seganteng ini sih?
Tangannya yang memegang garpu sampai berhenti di udara.
Sebuah potongan daging yang baru saja ia ambil jatuh kembali ke piring.
plup.
Mireya masih terpaku.
Tatapannya turun dari jemari panjang Zevran, ke rahangnya yang tegas, lalu ke gerakan bibirnya saat mengunyah dengan sopan.
slurp.
Garpu di tangannya nyaris tergigit.
Tatapan dingin Zevran terangkat.
“Aku tahu kamu suka sesuatu yang tampan.”
Suaranya rendah dan datar.
“Tapi kendalikan wajahmu.”
Mireya membeku.
Lalu Zevran melanjutkan dengan nada yang lebih tajam.
“Ini yang kedua kalinya.”
Pipi Mireya langsung merah padam.
ASTAGA.
Tadi ekspresiku keliatan lagi?!
Ia buru-buru menunduk dan mulai fokus makan.
Benar-benar fokus.
Tidak melihat ke kanan.
Tidak melihat ke kiri.
Tidak melihat pria super tampan di depannya.
Sama sekali.…sedikit aja.
Setelah makanan hampir selesai, Rob yang sejak tadi ikut makan di antara tuan nya dan Mireya akhirnya maju selangkah memulai percakapan.
“Nona Mireya.”
Ia membungkuk sedikit.
“Ada hal penting yang perlu kami jelaskan.”
Mireya mengangkat kepala.
Rob menatapnya dengan serius.
“Pertunangan Anda dengan Tuan muda… berasal dari sebuah wasiat.”
Mireya berkedip.
“Wasiat?”
Rob mengangguk.
“Wasiat terakhir mendiang nyonya muda.”
Tatapan Mireya langsung berubah.
Rob mulai menjelaskan dengan suara tenang.
“Almarhum ibu Tuan Zevran mengenal keluarga Anda sejak lama.”
“Bahkan sejak sebelum Anda lahir.”
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Rob melanjutkan.
“Pada masa muda mereka, saat keduanya tengah mengandung…”
Mireya terdiam.
“…mereka pernah menjadi korban penculikan perdagangan manusia.”
Sendok di tangan Mireya berhenti.
Rob menatapnya, memastikan ia masih mendengarkan.
“Saat itu kondisi nyonya muda cukup berbahaya karena sedang mengandung besar adik Tuan Zevran.”
“Tetapi ibu Anda, yang saat itu masih jauh lebih bebas bergerak, membantu beliau melarikan diri.”
Mata Mireya membelalak.
Sebuah kisah lama samar-samar terlintas di kepalanya.
Ia pernah mendengar cerita itu.
Dulu.
Dari ibunya.
“…jadi itu benar?”
Rob mengangguk.
“Benar, nona.”
“Berkat bantuan ibu Anda, keluarga Ardevar berhasil menemukan mereka.”
“Sebagai bentuk rasa terima kasih, ayah Anda diberi kesempatan bekerja di keluarga kami.”
Mireya terdiam.
Ia memang pernah mendengar tentang pekerjaan ayahnya di keluarga bangsawan besar.
Namun dirinya masih terlalu kecil saat itu.
Bahkan wajah ayahnya pun sudah mulai samar dalam ingatannya.
Rob menurunkan suaranya.
“Namun sayangnya, ayah Anda mengalami kecelakaan saat bekerja.”
Tatapan Mireya turun.
Jemarinya sedikit menegang.
“Aku… tidak terlalu mengingatnya.”
Suaranya jauh lebih pelan.
Rob mengangguk penuh pengertian.
“Setelah itu, ibu Anda memilih kembali ke kota asal pihak ayah dan tinggal bersama kakek nenek Anda.”
“Padahal nyonya muda telah berkali-kali memintanya untuk tetap tinggal di dekat keluarga Ardevar.”
Sudut bibir Rob sedikit terangkat.
“Meskipun, terus terang saja…”
ia melirik Zevran sekilas.
“ibu Anda memang tidak terlalu berbakat dalam mengurus rumah tangga.”
Mireya langsung menoleh.
“Hah?”
Rob tersenyum tipis.
“Beliau pernah dijuluki penghancur barang.”
Mireya menahan napas.
Lalu—
“…itu benar.”
Ia memijat pelipis.
“Ibu memang suka menjatuhkan apa pun yang dipegangnya.”
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Zevran sedikit bergerak.
Nyaris seperti senyum.
“Namun.”
Rob melanjutkan.
“Beliau sangat berbakat dalam seni tari.”
“Dan akhirnya memilih membangun karier di kota asalnya.”
Mata Mireya sedikit melembut.
Ya.
Ibunya memang selalu berkata— bahwa darah seni itu mengalir kuat dalam keluarga mereka.
Dan mungkin…
itulah alasan dirinya memilih dunia panggung.