“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”
Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.
Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.
Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Kehancuran Zahra
Setelah badai malam sebelumnya, setelah kehujanan, teror di rumah kaca, dan pengungkapan pengkhianatan di aula matahari seharusnya tidak berhak bersinar begitu cerah. Tapi ia bersinar, seolah tidak ada yang terjadi, seolah dunia tidak hampir hancur semalam.
Naura terbangun pelan, matahari menyelinap masuk melalui celah tirai. Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya pegal, dan pergelangan tangannya masih terasa nyeri saat ia bergerak. Ia menatap memar keunguan di kulitnya, mengingat cengkeraman Arkan, dan sekilas rasa takut itu kembali menyelubunginya.
Lalu ia merasakan kehangatan di sisi kirinya.
Azzam tertidur di sampingnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak malam pertama pernikahan mereka. Pria itu masih mengenakan jubah hitamnya, tanpa selimut, bersandar di headboard tempat tidur dengan satu tangan melindungi Naura. Wajahnya terlihat lelah, ada bayangan di bawah matanya, tapi ekspresinya damai.
Naura menatap wajah suaminya, hatinya dipenuhi oleh rasa syukur yang luar biasa. Pria ini... pria yang baru saja menghancurkan karier mantan ustaznya demi melindunginya, tertidur di sampingnya dengan tangan yang melindunginya bahkan dalam keadaan tidak sadar.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh wajah Azzam dengan ujung jarinya, mengusap garis rahangnya yang tegas. "Terima kasih," bisik hatinya. "Terima kasih sudah memilihku."
Azzam bergerak pelan, matanya setengah terbuka, lalu menatap Naura dengan tatapan yang masih kabur oleh tidur.
"Pagi..," suaranya serak.
"Pagi," Naura tersenyum tipis. "Kamu tidur di sini?"
"Saya tidak mau meninggalkanmu sendirian," Azzam mengusap wajahnya, berusaha mengusir rasa kantuk. "Kamu baik-baik saja?"
Naura mengangguk, lalu menatap pergelangan tangannya yang memar. "Aku oke. Ini cuma memar."
Azzam mengikuti pandangan Naura, dan sekali lagi, kemarahan menyala di matanya. Ia meraih tangan Naura, mengangkatnya ke bibirnya, dan mencium memar itu dengan sangat lembut, seolah ciumannya bisa menghilangkan rasa sakit.
"Saya tidak akan pernah membiarkan ini terjadi lagi," bisik Azzam di kulit Naura.
"Aku tahu," Naura meraih tangan Azzam, mencengkeramnya. "Aku tahu."
.
.
.
Sementara itu, di asrama putri, suasana jauh dari tenang. Kabar tentang pengungkapan malam itu telah menyebar seperti api. Setiap santriwati yang bangun pagi itu mendengar cerita yang sama: Ustaz Farrel berkhianat, istri Gus Azzam hampir menjadi korban, dan Gus Azzam sendiri yang menghancurkan komplotan itu dalam satu malam.
Tapi ada satu nama yang menjadi bualan utama pagi itu. Zahra Humaira.
Zahra duduk di kamarnya, bersandar di dinding, dengan mata yang kosong dan tangan yang dingin. Ia tidak tidur semalaman. Ia tidak bisa. Setiap kali memejamkan mata, ia melihat wajah Azzam di aula, wajah yang penuh kebencian, wajah yang tidak lagi mengenalnya, wajah yang mengucapkan namanya dengan nada penghukuman.
*"Zahra Humaira tidak lagi berhak menyandang gelar santriwati teladan." *Kata-kata itu berdenging di kepalanya tanpa henti.
Terdengar ketukan di pintu. Zahra tidak menjawab. Pintu itu terbuka, dan tiga orang masuk: Ibu Pengurus Asrama, dan dua santriwati senior.
"Zahra," sapa Ibu Pengurus, suaranya berat. "Kamu harus menghadap Dewan Pengurus sekarang."
Zahra menatapnya, lalu mengangguk pelan. Ia berdiri, mengambil kerudungnya, dan mengikutinya tanpa perlawanan.
.
.
.
Ruang pertemuan Dewan Pengurus Asrama Putri dipenuhi oleh wajah-wajah yang tegang. Zahra duduk di kursi di tengah ruangan, dikelilingi oleh anggota dewan yang menatapnya dengan berbagai ekspresi... kekecewaan, kemarahan, dan kesedihan. Di sudut ruangan, beberapa santriwati senior berdiri sebagai saksi.
"Zahra Humaira," Ibu Pengurus mulai, suaranya tegas namun sedikit bergetar. "Kamu duduk di sini hari ini karena kamu telah terbukti terlibat dalam komplotan untuk menyakiti istri Gus Azzam. Apa yang kamu katakan untuk membela dirimu?"
Zahra menatap lantai, bibirnya bergetar. Ia tahu tidak ada jalan keluar. Rekaman CCTV menunjukkan Farrel dan Arkan, tapi ada saksi lain, salah satu santriwati yang melihat Zahra membujuk Naura ke rumah kaca sore itu.
"Aku... aku tidak bermaksud menyakiti Naura," suara Zahra bergetar, air mata mulai menggenang. "Aku hanya... aku hanya ingin..."
"Menghancurkan pernikahan Gus Azzam?" potong salah satu anggota dewan, seorang ibu paruh baya dengan kerudang cokelat. "Kau ingin Naura pergi dari pesantren ini agar kau bisa mengambil tempatnya? Itu yang kau inginkan, bukan?"
Zahra menelan ludah, tidak bisa membantah.
"Kau tahu apa yang paling menyedihkan dari semua ini, Zahra?" Ibu Pengurus mencondongkan tubuhnya, suaranya penuh kepedihan. "Bukan bahwa kau menyakiti Naura. Tapi kau menggunakan agama untuk membenarkan kebencianmu. Kau menggunakan cadarmu, kitabmu, dan ilmumu... semua yang seharusnya menjadi cahaya untuk menjadi alat kegelapan. Itu bukan Islam, Zahra. Itu adalah kejahatan."
Air mata Zahra jatuh, kali ini tulus. Bukan karena tertangkap, tapi karena ia menyadari bahwa semua yang dikatakan dewan itu benar. Ia telah membelokkan agama untuk membenarkan obsesinya.
"Aku menyesal," bisik Zahra, suaranya serak. "Aku benar-benar menyesal."
"Menyesal tidak cukup," anggota dewan yang lain berbicara. "Keputusan dewan adalah: kau dicabut gelar santriwati teladan, dikeluarkan dari program tahfidz, dan akan menjalani masa percobaan selama enam bulan. Selama masa itu, kau tidak boleh mengikuti kegiatan pesantren manapun kecuali shalat berjamaah. Kau akan fokus bertaubat dan memperbaiki akhlakmu."
Zahra menatap mereka, matanya membesar. Dikeluarkan dari program tahfidz? Itu adalah hukuman terberat yang bisa diterima seorang santriwati. Itu berarti tahun-tahun pengorbanannya, menghafal Al-Qur'an, belajar kitab, membangun reputasi... semuanya hancur dalam satu malam.
"Dan satu hal lagi," Ibu Pengurus berdiri, menatap Zahra dengan tatapan yang sangat tegas. "Kau harus meminta maaf pada Ning Naura. Secara langsung. Di depan saksi."
Zahra menunduk, mengangguk pelan. Ia tidak punya pilihan lain. Ia telah jatuh, dan satu-satunya jalan untuk bangkit adalah mengakui kesalahannya.
.
.
.
Siang harinya, Naura menerima pesan dari Ibu Pengurus Asrama Putri.
bu Pengurus: Ning Naura, Zahra Humaira ingin meminta maaf secara langsung. Apakah Bersedia menemuinya di ruang tamu asrama putri?
Naura menatap pesan itu lama-lama. Setelah apa yang Zahra lakukan, mengkhianatinya, menggodanya ke rumah kaca, hampir menghancurkan pernikahannya, haruskah ia memaafkan?
Ia menoleh ke arah Azzam, yang sedang duduk di ruang kerjanya. Ia ingin bertanya pada suaminya, meminta nasihat. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu, ini bukan keputusan Azzam. Ini keputusannya.
Ia mengetik balasan.
Naura: Baik. Saya akan datang.
Ruang tamu asrama putri adalah ruangan kecil yang sederhana, dengan karpet dan beberapa bantal. Naura duduk di satu sisi, ditemani oleh Umi Salma yang berdiri di belakangnya sebagai saksi. Di sisi lain, Zahra duduk dengan Ibu Pengurus di sampingnya.
Zahra tampak berbeda hari ini. Ia tidak memakai cadar, untuk pertama kalinya, Naura bisa melihat wajahnya secara utuh. Wajahnya cantik, dengan mata yang besar dan hidung yang mancung. Tapi matanya kuyu, bibirnya pucat, dan ada kelesuan yang membuatnya terlihat jauh lebih tua dari usianya.
Beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Udara di ruangan itu terasa berat.
Lalu, Zahra berdiri. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Naura, sebuah posisi yang sangat merendahkan, terutama bagi perempuan yang selama ini merasa lebih tinggi dari siapa pun.
"Naur-a... Ning...," suara Zahra bergetar, air mata mengalir di pipinya yang telanjang. "Aku minta maaf. Aku tahu permintaan maaf ini tidak akan mengubah apa yang sudah kulakukan. Tapi aku ingin Ning tahu bahwa aku menyesal. Sungguh menyesal."
Naura menatap Zahra, dadanya sesak. Ia melihat perempuan yang dulu merendahkannya di perpustakaan, yang menyebarkan fitnah tentangnya, yang mengkhianatinya di rumah kaca. Tapi ia juga melihat perempuan yang hancur, yang telah kehilangan segalanya, yang menyadari bahwa obsesinya telah membawanya ke jurang.
"Aku tidak minta maaf karena tertangkap," lanjut Zahra, suaranya lebih jelas sekarang, lebih jujur. "Aku minta maaf karena aku mengkhianati agamaku sendiri, menggunakan ilmuku bukan untuk kebaikan, tapi untuk kebencian. Dan itu... itu adalah dosa terbesar dalam hidupku."
Ia menunduk, menyentuh lantai dengan dahinya, bersujud di depan Naura, bukan sujud ibadah, tapi sujud permohonan maaf yang paling dalam.
Naura menatap punggung Zahra yang bergetar, lalu menarik napas panjang. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Zahra, lalu berkata dengan suara yang tenang namun penuh otoritas moral.
"Bangun, Zahra."
Zahra mengangkat kepalanya, menatap Naura dengan mata yang memelas.
"Aku memaafkanmu," ucap Naura, dan kata-kata itu terasa berat di lidahnya, tapi juga melegakan. "Bukan karena kau pantas dimaafkan. Tapi karena aku tidak ingin kebencian menguasai hatiku. Kebencian sudah hampir menghancurkanku, dan aku tidak ingin menjadi seperti kamu."
Air mata Zahra mengalir lebih deras. Ia mengangguk, berdiri perlahan, lalu mundur beberapa langkah.
"Tapi maafkan jika aku tidak bisa mempercayaimu lagi," tambah Naura, suaranya lebih tegas sekarang. "Kepercayaan itu dibangun bertahun-tahun dan dihancurkan dalam sekejap. Jika kamu benar-benar bertobat, tunjukkan dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata."
Zahra mengangguk lagi, menunduk, lalu berjalan kembali ke sisi Ibu Pengurus. Ia tidak berbalik, tidak menatap Naura lagi. Ia hanya berjalan dengan bahu yang lunglai, seperti orang yang telah kehilangan segalanya.
Naura menatap punggung Zahra yang menjauh, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah. Ia hanya merasa... sedih. Sedih karena obsesi bisa menghancurkan seseorang yang sebenarnya berpotensi menjadi baik.
Umi Salma mendekat, meletakkan tangannya di bahu Naura. "Kamu kuat, Sayang. Sangat kuat."
"Bukan kuat, Umi..," Naura menggeleng, mengusap matanya. "Hanya... lelah. Lihat orang hancur itu juga membuatku sedih."
Umi Salma memeluk menantunya, mengusap punggungnya dengan kelembutan seorang ibu. "Itu berarti hatimu masih baik, Naura. Dan itu adalah hal yang paling berharga."
.
.
.
Malam harinya, setelah semua kejadian itu, Naura duduk di taman belakang rumah bersama Azzam.
Mereka duduk di bangku kayu yang sama, banggu di mana Azzam pernah membuat terrarium dan membelai rambutnya. Bulan sabit menggantung di langit, bintang-bintang berkelip, dan aroma bunga mawar putih memenuhi udara.
Naura bersandar di bahu Azzam, membiarkan kehangatan suaminya mengalir ke tubuhnya. Azzam melingkarkan lengannya di bahu Naura, menariknya lebih dekat.
"Azzam," panggil Naura pelan.
"Hmm? Kenapa?"
"Terima kasih. Soal semuanya. Soal semalam. Soal melindungiku."
Azzam menoleh, menatap puncak kepala Naura, lalu menciumnya. "Saya sudah bilang. Itu keistimewaanku."
Naura tersenyum, memainkan kain jubah Azzam dengan jari-jarinya. "Aku mau nanya sesuatu."
"Nanya apa."
"Farrel dan Arkan... mereka sudah dipegang polisi. Tapi... apa ini benar-benar selesai? Aku merasa ada yang lebih besar di balik ini. Farrel itu cuma ustaz, Arkan cuma mantanku. Kenapa mereka begitu kuat? Kenapa mereka punya sumber daya untuk membuat semua ini?"
Azzam menegang sedikit, menatap langit, lalu menarik napas panjang. Ia sudah memikirkan hal yang sama. Ia sudah merasakan ada yang tidak beres, ada tangan yang lebih besar yang menggerakkan wayang-wayang ini.
"Saya juga berpikir seperti itu," akui Azzam. "Dan saya sudah meminta pak hukum untuk menyelidiki lebih dalam. Ada kemungkinan... ada kemungkinan ini ada hubungannya dengan bisnis ayahmu."
Naura menoleh, menatap Azzam dengan mata yang melebar. "Bisnis Ayah? Maksudmu..."
"Rangga Prasetyo," ucap Azzam, nama itu keluar dengan berat. "Rival bisnis ayahmu. Aku mendapat laporan bahwa Arkan memiliki hubungan bisnis dengan keluarga Prasetyo. Dan Farrel... Farrel mungkin hanya alat. Orang yang benar-benar menggerakkan ini mungkin ada di luar sana, mengawasi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang lagi."
Dingin menjalar di tulang belakang Naura. Rangga Prasetyo. Nama yang selalu membuat ayahnya stres, nama yang selalu muncul dalam pembicaraan tegang di ruang kerja ayahnya.
"Jadi... ini bukan cuma soal fitnah?" tanya Naura, suaranya bergetar. "Ini... ada hubungannya dengan bisnis?"
"Saya tidak bisa memastikan sekarang," Azzam memegang tangan Naura, menggenggamnya hangat. "Tapi saya akan mencari tahu. Dan berjanji, tidak akan membiarkan siapa pun... baik dari dalam maupun luar menyakiti keluarga kita lagi."
Naura menatap mata Azzam, dan di sana ia melihat kemarahan yang tertahan, tapi juga kepastian yang tak tergoyahkan.
"Kita hadapi bersama," bisik Naura, mencengkeram tangan Azzam lebih erat. "Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama."
Azzam menatapnya, lalu tersenyum, senyum yang lembut namun penuh tekad. Ia menunduk, mencium kening Naura sekali lagi, dan berbisik, "Bersama."
Di atas mereka, bulan sabit bersinar terang, menerangi taman yang penuh bunga, menerangi dua orang yang saling berpelukan, dan menerangi perjalanan yang masih panjang di depan mereka.
Karena badai belum berakhir. Ini hanya jeda sebelum badai yang lebih besar datang dan ketika badai itu tiba, mereka harus siap.
.
.
.