Gimana bisa siswi SMA bunuh diri di atap, tapi bkn mati krn jatuh?
Yah, kenapa pula ga bisa?
Ini kan ... Act Zero.
- - -
ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT I—{Chapter 1}: Tirai Panggung Dibuka
...PROLOG...
[Senin, 24 November]—Tiga tahun lalu.
“Selamat pagi semuanya. Saya berdiri di sini untuk menyampaikan satu hal yang sejujurnya tidak pernah kami kehendaki untuk terjadi di lingkungan sekolah. Kami meminta seluruh siswi tetap tenang dan menyimak dengan saksama.
“Delapan hari lalu, tersiar kabar duka tentang kematian salah seorang teman dari kita. Beritanya begitu mengejutkan, sampai-sampai banyak spekulasi tak berdasar bermunculan. Saat ini kasus tersebut sedang dalam penanganan pihak berwenang, dan demi menghormati proses investigasi, kami belum dapat menyampaikan identitas siswi yang terlibat ataupun detail kejadiannya. Jadi untuk menjaga ketertiban selama proses investigasi, kami memohon kepada seluruh pihak untuk tidak menyebarkan rumor dalam segala bentuk apa pun. Bila ada yang memiliki informasi relevan, harap melapor ke pihak sekolah secara langsung, bukan disebarluaskan melalui media sosial atau grup obrolan.
“Kami memahami bahwa situasi ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di antara kalian, maka itu kami ingin meyakinkan bahwa pihak sekolah bekerja sama sepenuhnya dengan kepolisian untuk mengungkap kebenaran di balik kejadian tragis ini. Jadi sampai saat itu tiba, mohon bantuannya.”
“Seorang gadis ditemukan tewas di atap gedung sekolah.”
“Kudengar di tubuhnya terdapat luka.”
"Iya, luka gores."
“Benarkah?”
“Siapa gadis itu?”
“Siapa dia?”
“Adakah yang mengenalnya?”
“Tidak.”
“Kurasa tidak.”
“Bagaimana denganmu? Apa kau mengenalnya?”
“Tidak.”
“Aku juga tidak.”
“Tidak banyak yang tahu tentangnya.”
“Iya, benar.”
“Kudengar, dia gadis yang pendiam dan cukup tertutup.”
“Mungkin bisa dibilang ... dia tidak punya teman.”
“Anak seperti itu selalu jadi sasaran empuk untuk dirundung.”
“Gadis yang malang.”
...• • • • •...
...ACT I: Tirai Panggung Dibuka...
[Rabu, 16 September]—Tiga tahun kemudian.
"Melansir dari laporan ramalan cuaca terkini, para ahli memperkirakan bahwa suhu udara akan mengalami penurunan drastis hingga akhir tahun akibat musim penghujan yang sedang berlangsung. Fenomena ini mencirikan perubahan cuaca yang ekstrem, di mana siang hari kita masih bisa merasakan panas terik namun saat malam sampai menjelang pagi, cuaca bisa terasa sangat dingin dan menusuk. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk tetap siap menghadapi perubahan suhu saat ini dan mengantisipasinya dengan bijak. Untuk menjaga kenyamanan dan kesehatan kita, disarankan agar kita selalu mempersiapkan pakaian yang tepat, baik untuk siang maupun malam hari.
“Dalam hal ini, kita juga harus mempertimbangkan dampak cuaca dingin terhadap kondisi jalan. Jalanan bisa menjadi licin dan kabut malam bisa mengurangi visibilitas. Pastikan kondisi kendaraan dalam kondisi prima dan selalu berhati-hati saat berkendara.”
Cahaya televisi menerpa lurus wajah seorang pria. Telinganya bergoyang pelan saat menerima gelombang suara pewara berita. Tetapi ia tak begitu mempedulikannya, hanya fokus memakan mi instan dengan terburu-buru. Di sofa tempatnya duduk, tersampir jas hitam, dasi, serta ikat pinggang. Itu adalah setelan pakaian yang akan dikenakannya hari ini, disiapkan oleh asistennya yang datang pagi-pagi sekali untuk memeriksa keadaannya. Semalam, dia menegak alkohol terlalu banyak, lalu tidur dengan melupakan fakta bahwa ia masih punya jadwal bertemu kliennya besok.
Sementara televisi yang dibiarkan menyala perlahan beralih ke siaran berita lain. Layar menampilkan seorang reporter yang berdiri di sebuah jembatan kecil di kawasan perumahan Jalan Anggrek Putih—lokasi yang tiga tahun lalu sempat menjadi sorotan setelah ditemukannya sepasang lansia tak bernyawa di sisi jalan.
Kasus tersebut sempat mengundang banyak tanda tanya. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan kedua korban berjalan kaki dengan tenang setelah turun dari bus, tanpa menunjukkan tanda-tanda adanya ancaman atau penyerangan. Tidak ditemukan luka akibat kekerasan, jadi pihak berwenang saat itu menyimpulkan kematian disebabkan oleh serangan jantung yang terjadi hampir bersamaan. Kasus pun ditutup tanpa penyelidikan lebih lanjut.
Namun, perkembangan baru kembali mengusik ketenangan kasus lama itu.
Baru-baru ini, seorang warga melaporkan adanya bekas jejak ban di tikungan menuju jembatan—jejak yang meskipun telah memudar dimakan waktu, masih dapat dikenali jika diperhatikan dengan saksama. Polanya menunjukkan manuver tajam, seolah sebuah kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi dalam kondisi yang tidak sepenuhnya terkendali.
Temuan tersebut memunculkan dugaan baru, bahwa pada malam kejadian, mungkin ada kendaraan yang melintas secara tiba-tiba di jalur sempit itu—cukup dekat, cukup cepat untuk mengejutkan siapa pun yang berada di sana.
Tidak ada yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi malam itu. Tidak ada rekaman yang menangkap bagian jalan tersebut. Namun sejak kejadian itu, akses kendaraan melalui jembatan ditutup oleh warga sekitar, menyisakan jejak ban yang akhirnya ditemukan oleh seorang warga.
—Spoiler aja dah biar ga bingung ya. Yg lg nonton tv di scene ini Kean, ayahnya Karinn.
...• • • • •...
Koridor membentang panjang, lengang oleh bau khas cat dinding dan kesunyiannya. Ratusan larik matahari jatuh lembut ke permukaan lantai, menciptakan semburat halus yang tampak bergerak samar saat beberapa kaki melintas di atasnya.
“Setiap untai DNA terdiri dari rangkaian nukleotida, terhubung oleh ikatan fosfodiester antara gugus fosfat dan gula deoksiribosa. Di tengah heliks ganda, basa nitrogen dari kedua untai saling berpasangan melalui ikatan hidrogen.” Pak Bams berbalik badan menghadap papan tulis, mulai menggambar struktur DNA beserta contoh susunan basa nitrogen. Hasil dari coretannya menggunakan kapur menghasilkan serbuk berwarna putih yang kemudian terbang terbawa angin.
“Basa nitrogen terbagi menjadi dua, purin dan pirimidin. Purin terdiri dari adenin (A) dan guanin (G), sedangkan pirimidin terdiri dari sitosin (C) dan tiamin (T). Keempat basa nitrogen ini saling terikat oleh ikatan hidrogen membentuk pasangan, yakni adenin yang selalu berpasangan dengan tiamin (AT), dan guanin yang selalu berpasangan dengan sitosin (GC).”
Gadis yang duduk di bangku kedua dari belakang menopang dagunya, menyeka air di sudut matanya yang terus keluar setiap kali ia menguap. “Itulah mengapa setiap orang harus belajar seni setidaknya sekali seumur hidup.”
“Kalau kutunjukkan pada ibuku, dia pasti mengira itu adalah tangga spiral di taman anak-anak.” Gadis di kursi sebelahnya menimpali, berkomentar tentang bagaimana payahnya sang guru Biologi dalam menggambar.
—Diambil dr kisah nyata: kebanyakan guru Biologi gambarnya jelek, makanya mrk lebih sering ngajar pk ppt.
Pak Bams membalikkan badannya menghadap para siswi, berniat melanjutkan penjelasan sebelum kemudian niat tersebut urung dengan cepat. “Wah, lihatlah wajah kalian.” Ia meletakkan kapur ke tempatnya, melipat kedua tangannya ke dada sembari menelusuri para gadis yang duduk di kursi masing-masing. Mereka menguap, tertidur, makan diam-diam di balik buku, duduk dengan kaki diangkat ke kursi, bergosip, melamun, bercanda, juga ada yang sedang menghitung uang demi menantikan waktu istirahat. “Baiklah, dengar semuanya!” Pak Bams mengetuk papan tulis sebanyak tiga kali, meminta perhatian. “Bapak akan beri satu pertanyaan, jika satu dari kalian berhasil menjawab, maka kelas akan segera dinyatakan selesai.”
Ajaibnya, para gadis langsung memusatkan perhatian kepada Pak Bams. Mata mereka yang tadinya tampak lesu dan pandangan terasa buram, mendadak berubah segar tanpa ada lagi kepala menyentuh permukaan meja. Semuanya duduk tegak dengan kedua tangan dilipat rapi, merekahkan senyum yang semakin lama terus semakin lebar.
“Kesempatan kalian hanya satu kali, jadi kalau gagal ... yah, itu nasib kalian. Bagaimana? Siap?”
“Ya!” Seisi kelas berseru semangat.
Pak Bams tersenyum tipis sambil memperbaiki letak kacamata di pangkal hidungnya. Kepercayaan dirinya meningkat begitu ia melihat antusias para gadis demi menantikan waktu istirahat. Jadi ia pun menyiapkan sebuah pertanyaan di luar materi yang belum disampaikan di papan tulis berupa, “Apa alasan basa nitrogen yang menyusun struktur DNA harus saling berpasangan (purin-pirimidin)?”
Hanya dibutuhkan satu detik untuk keheningan merayap dan menyelimuti ruang kelas. Bahkan desiran angin di luar jendela dapat terdengar jelas bersamaan dengan bunyi detak jam dinding, menambah adrenalin. Satu menit pun berlalu, tak terasa lima menit juga berlalu dengan cepat bagai sekali kedip. Alih-alih berpikir atau mencoba mencari jawabannya di buku, para gadis justru saling sikut dan saling tendang kursi guna memberi kode pada yang lain untuk maju mewakili.
Dari barisan meja belakang, seorang gadis mengacungkan tangan. Kursi yang didudukinya berderit cukup keras saat ia bangkit, membuat teman-temannya yang sedang bersitegang menoleh serempak.
“Ya, Karinn. Apa jawabanmu?” Pak Bams mempersilakan.
Sambil memegangi perutnya, sang gadis berkata, “Aku mau ke toilet.” Belum sampai sedetik setelah ia menurunkan kembali tangannya ke samping tubuhnya, ia langsung memacu kakinya pergi keluar kelas. Embusan angin tertinggal di belakangnya, jejak bahwa ia sama sekali tak memberikan kesempatan kepada teman-temannya untuk bereaksi selain mematung penuh ketidakpercayaan.
“Oi, si kunyuk itu! Dia pasti berbohong dan pergi ke kafetaria!” Seseorang menyalak, menyadari bahwa arah perginya Karinn berlawanan dengan keberadaan toilet. Lantas, komentar demi komentar pun bermunculan di udara.
“Wah, dia memang gila.”
“Dia menyelamatkan dirinya sendiri lagi.”
“Kali ini idenya yang keberapa?”
“Otaknya memang cuma berguna untuk hal yang tidak-tidak.”
“Wahh...” Seisi kelas langsung riuh melebihi ketika Pak Bams mengumumkan kesepakatan. Sebagian berkomentar, sebagian yang lain menggerutu dalam hati.
“Oi, ayo jawab pertanyaannya! Setelah itu kita bisa pergi dan menangkap bocah itu.” Salah satu gadis angkat suara, memprovokasi teman-temannya untuk kembali fokus pada pertanyaan.
Gadis yang duduk di kursi terdepan memutar balik tubuhnya, menghadap seseorang yang biasa jadi tumbal dalam hal semacam ini. “Ketua kelas, apa kau tidak mau menjawab?”
“Benar! Kita punya Adele!” Seorang yang lain asal menyeletuk, membuat seisi kelas tanpa pikir panjang langsung menyetujui dan ramai-ramai bersorak untuknya.
“Adele, bantulah kami kali ini..”
“Bantu kami, Adele..”
“Kau yang terbaik..”
“Kita harus menangkap kunyuk itu secepatnya. Adele, tolonglah...”
“Adele..! Adele..! Adele…!”
Si pemilik nama menepuk meja, lalu bangkit dari tempat duduknya dengan sambutan berupa tepukan tangan yang meriah. Kembali pada pertanyaan Pak Bams, dia berdehem dahulu sebelum kemudian memantapkan suara untuk memberi jawaban. “Basa nitrogen yang saling berpasangan itu membawa kode genetik. Jika terjadi kesalahan dalam pasangan, maka bisa menyebabkan mutasi gen yang dapat mempengaruhi sifat-sifat organisme.”
Sukses! Sepuluh menit lebih awal untuk mengenyangkan perut akhirnya tiba! Bahkan Pak Bams belum dipersilakan keluar pun gadis-gadis kelas 11-5 sudah meluncur lebih dulu, melesat cepat dengan berbondong-bondong, menimbulkan suara derap kaki yang terdengar bak pasukan berkuda.
Kafetaria yang menggabungkan kelas 10 sampai dengan kelas 12 ini terletak di lantai satu, tepatnya berada di bagian pojok sisi gedung sekolah. Ruangannya sangat besar, dapat diperkirakan menampung lima kelas yang masing-masingnya berukuran lebar tujuh meter. Puluhan meja tertata rapi, lengkap dengan deretan kursi yang tidak pernah mengalami kekurangan menjadi tempat duduk para gadis. Jam yang menempel di salah satu pilar menunjukkan pukul 12 siang kurang sedikit. Gadis-gadis kelas 11-5 menjadi yang pertama datang, jadi mereka tidak perlu repot-repot mengantre dan bisa langsung mengambil kotak stainless, memilih menu, lalu pergi ke meja favorit dengan perasaan berbunga-bunga.
“Dasar kunyuk kecil ini. Kau mau kujadikan bantal samsak, hu?” Dia mengalungkan lengan kanannya di leher korban, mencegah mulutnya yang masih mengunyah walau sedang diomeli beramai-ramai.
“Aakkk..!!” Karinn menjerit, bukan karena tersedak akibat ulah si pelaku, tetapi karena ia tidak sengaja menggigit lengkuas yang dikiranya adalah sepotong daging. “Ah, sial.”
“Wah, beraninya kau mengabaikan kami.” Yang lainnya duduk di kursi sebelahnya, menonton tampang tak bersalah si korban yang tetap lanjut mengunyah makan siangnya.
“Kau benar-benar pemakan segalanya.” Gadis yang tadi mengalungkan lengannya di leher Karinn mengubah gerakan tangannya menjadi membelai rambut si korban sembari berkata, “Mau makan tinjuku juga?”
Karinn melotot sinis. Masih dalam keadaan mulutnya mengunyah, dia mengeluarkan selembar uang dari sakunya, meletakkannya di atas meja. “Pergi. Biarkan aku makan dengan tenang.”
“Baiklah, kuterima,” katanya sembari menyambar uang tersebut. “Kuanggap hutangmu lunas.”
Karinn mengernyitkan dahi. “Hu? Hutang? Aku tidak pernah pinjam uang darimu.”
Dia berkacak pinggang, menelisik wajah bingung Karinn yang tampak sungguhan bereaksi tak tahu. “Aih, dasar pikun. Kau meminjamnya dariku saat kita karyawisata setahun lalu. Aku tidak tahu kau gunakan untuk apa uang itu, tapi yang jelas kau bilang membutuhkannya segera. Jadi aku—”
“Dasar kunyuk tak tahu diri! Kemari kau, pembohong!” Tanpa mempersiapkan ancang-ancang, Karinn langsung lari mengejar begitu bangkit dari kursi.
Si pelaku pembawa kabur uangnya pun tak kalah melesat lebih cepat, sehingga tepat saat bel istirahat berdentang, mereka benar-benar berkejaran di antara meja-meja kafetaria.
“Sial, dia benar-benar gila!” Dia tidak menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat bagaimana wajah si gadis yang telah ditipunya itu, namun mendengarnya berteriak begitu sudah cukup menjelaskan bahwa sekarang ia benar-benar dalam bahaya. Ia harus melarikan diri! Setidaknya sampai uang di tangannya berhasil diamankan! Dengan gerakan seperti ninja, ia dengan cepat membaurkan diri di keramaian para gadis yang sedang mengantre. Pikirnya dengan begitu si korban akan kesulitan menangkapnya dan akhirnya menyerah dengan mudah tanpa mengharapkan uangnya kembali. Membayangkan kemenangan di depan mata memang menyenangkan, sampai-sampai ia luput akan satu hal; si korban, alias Karinn entah bagaimana sudah berada tepat satu meter di belakangnya.
“Sial!”
“Dianna! Kau akan mati saat kutangkap!”
Dalam satu detik, aksi kejar-kejaran pun tak terelakkan menjadi tontonan para siswi. Sebagian bersorak menambah keriuhan, sebagian yang lain merekam untuk diunggah ke forum anonim sekolah, sementara yang lainnya hanya membisu tanpa berkomentar.
Dalam peristiwa semacam ini, guru yang kadang-kadang berada di lokasi kejadian atau secara tidak sengaja menyaksikannya, memilih untuk berpura-pura tidak melihat alih-alih melerai. Mereka menilai bahwa candaan di antara para gadis seperti ini merupakan tanda bahwa lingkungan sekolah telah sepenuhnya sehat. Korban yang dijahili melakukan perlawanan, itu dianggap sebagai bentuk pembelaan diri demi upaya menjaga keseimbangan agar tak ada pihak yang menekan pihak lain.
Jauh beberapa tahun ke belakang, sekolah ini, SMA Putri Endley, pernah gagal menjadi tempat teraman bagi para siswi. Maka itu, kini mereka berusaha bangkit—menumbuhkan kembali harapan akan citra saling berteman tanpa pandang bulu yang sempat terkikis oleh perundungan.