Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Permulaan Dan Peringatan
Setelah mengantarkan Rindiani aku melajukan mobilku ke tempat janjianku bersama dengan Rohana. Tadi saat masih didepan sekolah Rindiani aku menyempatkan sebentar untuk melihat ponselku dan ternyata mas Raditya memang berangkat kekantor.
"Ini Rohana mana sih?" gumamku sambil celingak celinguk mencari sahabatku itu.
Aku segera duduk di kursi yang ada di Cafe dan menghubungi Rohana, belum sempat aku menghubunginya terlihat dia sudah memasuki Cafe dan berjalan mendekat kearahku.
"Udah lama?" Tanyanya
"Baru sih, kamu udah sarapan belum. Kalau belum sekalian pesan makanan aja nanti aku yang traktir" Ucapku.
"Hmm boleh deh, tadi cuma sarapan roti doang" Jawab Rohana dan segera memanggil pelayan serta memesan makanan berat.
Tak berapa lama pesanan dia sudah sampai, dengan cekatan Rohana makan dengan santai dan sesekali bercengkrama ringan denganku yang hanya makan kentang goreng. Kami memang belum membahas masalah inti agar Rohana selesai makan dulu baru menyusun strategi.
"Udah kenyang?" Tanyaku dan diangguki oleh Rohana.
"Aku harus gimana selanjutnya Hana?"
"Gini sekarang kita pantau perkembangan Raditya dulu, kalau nanti dia ke toko berlian sesuai dengan omongan tadi malam. Kita langsung kesana juga pura-pura aja lagi mau beli sesuatu eh ketemu suamimu. Jangan sampai pelakor mendapatkan berlian itu...!" Ucapan Rohana yang langsung ku setujui karena dia cukup cerdik dalam hal seperti ini.
"Bentar aku cek dulu dimana mas Raditya sekarang" Ucapku dan mengambil ponsel yang ada di atas meja.
Kulihat posisi mobil mas Raditya kini sedang ada dijalanan, yang belum jauh dari kantor.
"Dia keluar dari kantor, kita ikutin sekarang" Ucapku.
Kami segera berjalan keluar dari Cafe dan masuk ke dalam mobilku, aku harus segera mengikuti kemana arah mas Raditya ini.
Setelah cukup lama berkendara mobil yang dikendarai mas Raditya masuk ke salah satu pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota.
Aku segera parkir di dekat mobilnya, sengaja agar tak kehilangan jejak lagi pula kali ini aku memakai mobil Rohana untuk menguntit jadinya aman.
"Wah itu mereka...!!" Ucapku dengan sedikit emosi melihat mas Raditya berjalan dengan seorang wanita berpakaian seksi disebelahnya, tidak kelihatan wajahnya memang tapi aku yakin betul itu mas Raditya.
"Ayok kita ikuti tapi jangan sampai kentara" Sahut Rohana.
Kini kami beriringan mengikuti mas Raditya dan wanita disebelahnya yang bergelayut dengan manja, aku dan Rohana memakai masker dan kacamata hitam untuk menyempurnakan penampilan kami siang ini.
"Kayaknya mereka akan ke toko berlian deh Hana...! Kita jaga jarak aja setelah si jalang itu puas memilih kita baru masuk" Saranku yang diacungi jempol oleh Rohana.
Benar apa fikiranku kini mereka masuk ke toko berlian ternama di pusat perbelanjaan ini, harganya tak main-main karena disana model modelnya terbatas dan bisa dikatakan limited edition.
"Kita awasi dulu dari sini" Ucapku.
Setelah sepuluh menitan aku melihat wanita itu mondar mandir memilih berlian, aku langsung mengajak Rohana untuk masuk ke toko itu tak lupa masker dan kacamata kami lepas dan masukkan dalam tas.
"Loh mas Raditya disini?" tanyaku pura-pura kaget saat melihat suamiku sedang duduk disofa tunggu. Aku memang sengaja lewat sebelah sana agar mas Raditya semakin yakin kalau aku hanya tak sengaja mampir kesana juga.
"Sa- sayang kok disini?" Tanyanya dengan gugup.
"Aku mau antar Rohana ini cari hadiah buat adik iparnya, memang kamu ngapain mas belum jam istirahat kok udah keluyuran kesini?" tanyaku dengan nada sengit.
"Hm anu sayang, mas tadi mau cari hadiah buat kamu. Rencananya akan ngasih kejutan gitu loh, eh kamunya udah di sini jadi gak kejutan lagi deh" Jawabnya dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Beneran? Kalau gitu aku pilih sendiri aja ya mas?" Ucapku.
Dari sudut toko terlihat wanita seksi itu menghampiri suamiku, bermaksud memanggilnya mungkin disuruh membayar kali. Kan dia dari tadi fokus dengan berlian didepannya jadi tak tahu kami dari tadi ngobrol.
"Beb, ini loh buruan bayar...! Kok malah diem aja disitu...!! Ucapnya dengan merajuk.
"Beb...??!!!" Tanyaku dengan menoleh ke arah wanita tadi dia langsung gugup dan salah tingkah, begitupun dengan mas Raditya wajahnya langsung pucat.
"Engg maksud saya bos bu, maaf mungkin ibu salah dengar" Elaknya dengan sedikit gugup.
"Kamu siapa?" Tanyaku pada wanita itu.
"Saya Ratih bu, sekretaris baru pak Raditya baru beberapa bulan sih" Ucapnya memperkenalkan diri.
"Sekretaris baru?? Kenapa kamu gak konfirmasi dulu sama aku mas?" Tanyaku dengan mata memicing.
Udah sayang, nanti aja dibahas katanya kamu mau pilih-pilih berlian. Udah ayok tuh si Rohana aja sudah sibuk disana milih" Ucap mas Raditya dan menunjuk Rohana yang sedang akting akan memberikan hadiah untuk adik iparnya itu.
"Ratih, kamu tunggu di situ saja. Biar istri saya sendiri yang memilih" Ucap mas Raditya pada wanita tadi dan langsung diangguki dengan lesu.
"Tak ku sia-siakan kesempatan ini, aku akan membuat tabunganmu terkuras mas! Aku gak rela kamu membelikan berlian buat jalang itu...!!" Gumamku dengan senyuman devil.
"Mbak berikan saya satu set berlian koleksi terbaru toko ini" Ucapku pada pegawai yang berjaga.
"Baik bu, tunggu sebentar" Ucapnya dan langsung ke etalase di belakangnya yang hanya memajang koleksi terbaru.
"Ini bu koleksi terbaru kami, modelnya cantik kan? Cocok sekali buat ibu" Ucapnya sembari mempromosikan dagangannya.
"Gimana mas kalau aku ambil ini?" Tanyaku pada mas Raditya.
"Asal kamu suka ambil aja sayang" Jawabnya.
"Wahh suaminya sweet sekali bu, bagaimana jadi ngambil yang ini?" Tanyanya.
"Iya Mbak ini saja, berapa memang?" Tanyaku.
"Ini totalnya seratus delapan puluh tujuh juta enam ratus ribu rupiah bu" Jawabnya dengan senyuman.
Seketika wajah mas Raditya pias mendengar total berlian yang akan aku beli, tabungan dia kan banyak kali ini aku akan terus menguras habis isinya.
"Jadi ya mas?" Tanyaku dengan menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman termanisku.
"Boleh dong sayangku, ini mbak kartunya" Ucapnya dengan memberikan kartu sakti miliknya.
Di sofa tunggu wajah Ratih terlihat meradang menahan marah, bagaimana bisa dia yang dijanjikan untuk dibelikan berlian malah aku yang dibelikan satu set pula. Ya gimana lagi aku istri sahnya bukan?
Rasakan ini pelakor, ini baru permulaan tunggu saja setelahnya...!!
"Aahh makasih ya mas kamu emang paling mengerti" Ucapku dan bergelayut manja dilengannya. Sengaja memanas manasi Ratih yang ganjen itu.
"Sebelum membongkar perselingkuhan kalian aku harus mengamankan seluruh aset juga menguras rekening pribadi kamu mas...!!" Ucapku dalam hati.
Aku tak rela jika harta yang kamu miliki jatuh ke tangan jalang itu, ini semua milik Rindiani apalagi kamu bekerja dengan enak dan nyaman juga karena diriku yang melepaskan jabatan tertinggi diperusahaan papaku buat kamu mas.
"Mas kamu kalau mau balik ke kantor silakan aja, aku masih mau keliling sama Rohana setelah itu jemput Rindiani ke sekolah" Ucapku saat sudah keluar dari toko berlian.
"Hmm beneran kamu gak apa gak diantar pulang?" Tanyanya.
"Iya mas, kan aku kesini sama Rohana gak enak kalau aku tinggalin" Jawabku.
"Baiklah aku langsung ke kantor saja. Ratih ayok kita ke kantor sekarang, kamu langsung ke parkiran saja" Ajak suamiku dengan suara tegas, mungkin untuk mengusir rasa grogi karena istri dan selingkuhannya berada disebelahnya.
"Baik bos, bu Renata saya duluan ke kantor. Permisi" Ucapnya dan berlalu meninggalkan kami.
"Kamu hati-hati ya sayang, mau belanja juga?" Tawarnya.
"Pengen sih mas tapi kan kamu tahu aku sedang mengumpulkan uang untuk membuka butik" Ucapku dengan nada memelas.
"Ini pakai kartu punya mas aja, kan gak enak kalau cuma nemenin Rohana belanja. Malu dong masa istri direktur cuma jadi kacung" Ucapnya dengan sombong, inilah yang aku kurang suka dari mas Raditya dia menjunjung tinggi harga diri dan juga jabatannya. Tapi ada baiknya sih karena dia mementingkan harga dirinya black cardnya jadi jatuh ke tanganku sekarang.
"Beneran ini mas?" Tanyaku seolah kaget.
"Iya sayang, kamu kan istri mas sudah sepantasnya memakai uang hasil kerja mas selama ini" Ucapnya dengan jumawa.
"Wah gak nyangka mas Raditya perhatian banget sama Renata ya" Ucap Rohana yang pintar sekali berakting.
"Jelas dong Mbak Rohana kan kerja juga buat istri sama anak, aku balik ke kantor dulu ya sayang. Sampai ketemu dirumah" Ucapnya dan mengusap pucuk kepalaku.
Selepas mas Raditya pergi aku bertos dengan Rohana, terserah dia setelah ini mau kemana. Toh kartu saktinya sudah berada ditanganku.
Hari ini aku akan memanfaatkan kartu milik mas Raditya untuk berbelanja, tapi sebelum itu aku akan ke atm dulu untuk melihat saldonya.
"Langsung belanja?" Tanya Rohana.
"Kita ke atm disebelah sana dulu" Tunjukku pada Rohana.
Aku segera memasukkan kartu milik mas Raditya dan melihat saldonya disana betapa terkejutnya aku dengan saldo miliknya. Jumlah yang sangat fantastis untuk seorang direktur yang baru menjabat sekitar dua tahunan, jumlah saldo yang dimilikinya sebesar dua puluh tiga miliar rupiah.
Tanpa basa basi aku segera mentransfer ke rekening milikku sebesar dua puluh miliar. Sesuai dengan gaji direktur selama dua tahun kalau aku akumulasikan hanya sekitar empat miliar saja ini kenapa lebihnya banyak sekali, aku berjaga jaga saja siapa tahu dia menilap uang perusahaan.
Aku juga memiliki black card tanpa diketahui oleh mas Raditya, tadi aku memang mentransfernya ke rekeningku yang itu. Selain lebih aman juga mas Raditya tidak tahu passwordnya, semua atm yang ku gunakan dia sudah tahu passwordnya dan sekarang aku juga sudah mengamankan saldo rekeningku yang lain untuk dipindahkan dan hanya menyisakan sedikit saja untuk keperluan sehari hari.
Meskipun aku tidak bekerja tapi laba keuntungan perusahaan juga tanam saham ditransfer secara pribadi kerekeningku. Bukannya aku tidak percaya dengan suamiku tapi sebagai pemenang saham dan juga pewaris perusahaan yang sah memang sesuai aturan uang fee perusahaan akan masuk ke rekeningku.