Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(REVISI) BAB 2
Kim Ae Ra masih berdiri mematung di belakang meja kasir, telapak tangannya menekan permukaan meja yang dingin akibat pendingin ruangan. Ponsel di tangannya perlahan turun hingga menyentuh lengan bajunya, tapi pikirannya terjebak dalam lingkaran kata-kata yang tak bisa ia biarkan lari dari benaknya.
Suara di dalam toko kembali terdengar jelas, pendingin minuman berdengung pelan, pintu otomatis sesekali terbuka dengan bunyi klik lembut, dan langkah kaki pelanggan berlalu seperti ombak yang menghantam pasir. Namun satu kalimat terus bergema di kepalanya:
Sekretaris pribadi CEO Hyun Jae Hyuk.
“…Ini pasti salah sambung,” gumamnya pelan, jempol menggosok bagian belakang ponsel yang sudah mengkilap akibat sering digenggam.
“Apa yang salah sambung?” Jang Bo Ram tiba-tiba muncul dari belakang rak makanan ringan sambil membawa dua kaleng minuman bersoda. Ae Ra tersentak hingga bahunya melompat sedikit.
“YA! Jangan muncul tiba-tiba! Mau bikin aku serangan jantung!”
Bo Ram menyipitkan mata. “Yang kayak hantu baru keluar kuburan dengan wajah pucat kayak kertas putih justru kamu lho. Udah sejak tadi berdiri seperti orang hilang akal.”
Ae Ra membuka mulut lalu menutupnya lagi. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. “Aku… barusan ditelepon oleh Aegis Corp.”
Bo Ram langsung membeku. “…Dan? Kau tidak lolos ya? Itu tidak masalah, kita masih punya banyak kesempatan lain.”
“Mereka bilang aku diterima kerja.”
Bo Ram melonjak kecil, kalengnya hampir terjatuh. “APA?!” Suaranya terlalu keras hingga beberapa pelanggan menoleh.
“Pelan-pelan!” Ae Ra buru-buru menutup mulut sahabatnya, lalu membawanya ke bagian belakang toko yang sunyi.
Bo Ram menatapnya tajam. “Bagian apa yang kamu lamar kemarin?”
Ae Ra menarik napas panjang. “Pegawai biasa tapi…tadi kabarnya sebagai.. Sekretaris pribadi CEO.”
Hening. Lima detik berlalu sebelum Bo Ram tertawa keras. “Baiklah! Kau hampir berhasil menipuku!”
“Aku serius!” Ae Ra menjawab dengan nada tegas, wajahnya penuh panik yang membuat tawa Bo Ram perlahan berhenti.
“Kau… beneran tidak bohong?”
Ae Ra mengangguk pelan. “Aku bahkan tidak interview sama sekali. Cuma menyerahkan berkas kemarin pagi, lalu tadi sore mereka langsung menelepon bilang aku diterima dan mulai kerja besok.”
“Ini… sangat mencurigakan sekali, ” bisik Bo Ram, menyilang lengannya. “Seperti dalam drama Korea aja deh. Gimana mungkin bisa diterima tanpa seleksi sama sekali?”
“Itu juga yang kupikirkan!” Ae Ra menjawab cepat. “Mana mungkin orang seperti aku, pengalaman cuma di toserba, kuliah dari universitas swasta tapi langsung jadi sekretaris CEO perusahaan ternama? Itu tidak masuk akal!”
Bo Ram berpikir sejenak. “Atau… mungkin ada hubungannya dengan pria tampan yang kamu temui kemarin pagi? Orang yang bilang kamu bodoh itu?” Nama itu langsung muncul di kepala Ae Ra.
Hyun Jae Hyuk.
Wajahnya tiba-tiba terasa panas. “Orang menyebalkan seperti dia mana mungkin jadi CEO? Pasti cuma karyawan biasa yang suka sok penting saja!” Namun jauh di dalam hatinya, sebuah kemungkinan mulai masuk akal, siapa lagi yang bisa membuat resepsionis berubah sikap begitu cepat hanya dengan menyebut namanya?
Malam itu, Ae Ra hampir tidak tidur sama sekali.
Ia berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang sudah menguning akibat usia, sementara amplop lamaran berada di meja kecil di samping tempat tidur seperti sebuah benda yang memiliki makna besar. Cahaya dari lampu jalan membuat bayangan aneh di dinding, membuatnya semakin sulit menutup mata.
Besok bisa jadi awal hidup baru yang stabil dengan gaji cukup untuk membantu ibunya dan membeli rumah yang lebih baik. Atau bisa jadi kesalahpahaman besar yang akan membuatnya merasa sangat memalukan dan menghancurkan peluang kerja di masa depan. Ia membalik badan, menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
“Kalau ini hanya mimpi… tolong jangan bangunkan aku terlalu cepat,” gumamnya pelan, suara sedikit bergetar akibat rasa takut dan harapan yang saling bertentangan.
Di sisi lain kota, lampu kantor Aegis Corp masih menyala terang di lantai tertinggi meskipun sudah pukul sebelas malam. Hyun Jae Hyuk duduk sendirian di kursi besar, jasnya dilepas dan diletakkan di sandaran kursi, dasinya longgar. Di depannya terbuka berkas Kim Ae Ra yang sudah ia baca tiga kali.
Pekerjaan paruh waktu sejak lulus kuliah untuk membantu biaya keluarga setelah ayahnya meninggal. Nilai akademik tinggi dengan banyak penghargaan meskipun bekerja sambil belajar. Tidak ada koneksi keluarga penting. Tidak ada pengalaman kerja kantor.
Keputusannya jelas tidak masuk akal secara profesional. Ia mengusap wajahnya pelan. “Kenapa aku melakukan ini…”
Namun jawabannya selalu kembali pada wajahnya, ada sesuatu yang membuatnya yakin pernah mengenal gadis itu jauh sebelum hari ini. Sekilas bayangan muncul, seorang gadis dengan rambut hitam kusut berdiri di tengah hujan deras, memegang payung rusak yang hampir tidak bisa melindunginya. Wajah gadis kecil itu penuh air mata tapi tetap berdiri kuat.
Jae Hyuk membuka mata dengan cepat, napasnya sedikit terengah-engah. Ingatan itu menghilang dalam sekejap. Ia mendesah pelan dan menutup berkas, kemudian mematikan lampu meja, hanya menyisakan cahaya dari jendela yang menghadap kota Seoul yang masih terang benderang.
“Apa pun alasannya… sudah terlambat untuk menarik kembali keputusan.” Untuk pertama kalinya sebagai CEO, ia merasa gugup menunggu hari esok.
Di kediaman pribadi Hyun Jin Suk, ayah kandung Jae Hyuk dan komisaris utama Aegis Corp. Suasana jauh lebih tenang dengan hanya cahaya lampu lantai yang menyala lembut. Pria berusia lima puluh lima tahun itu duduk dengan secangkir teh hangat di tangan, membaca dokumen dari Do Hyun, kepala divisi keamanan.
Ia membaca bagian laporan tersebut sekali lagi, CEO baru merekrut seorang wanita tanpa pengalaman sebagai sekretaris pribadi, tanpa melalui proses seleksi yang ditetapkan.
Hyun Jin Suk tersenyum tipis. “Anak itu… bahkan tidak menunggu satu hari setelah aku beri izin dia mengambil keputusan sendiri.” Ia tidak terlihat mara, malahan tampak tertarik. “Siapa gadis ini?”
“Kim Ae Ra. Latar belakang sederhana. Ayahnya meninggal, ibunya bekerja di restoran kecil. Tidak ada hubungan bisnis dengan keluarga Hyun atau perusahaan,” jawab Do Hyun dari dekat pintu.
“Hmm…” Jin Suk mengetuk meja perlahan. “Kalau begitu… ini bukan keputusan bisnis. Awasi saja dari jauh. Jangan ikut campur.”
“Baik, Tuan.”
Setelah Do Hyun pergi, Jin Suk memandang keluar jendela. “Jae Hyuk… mari kita lihat apakah kau memilih karena kemampuan… atau karena perasaan yang kamu sembunyikan.” Senyumnya penuh arti.
Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan. Ae Ra sudah bangun jauh sebelum ayam berkokok, ia berdiri lama di depan cermin kecil di atas meja belajarnya. Ia mengenakan satu-satunya pakaian formal yang ada, kemeja biru kemarin, rok hitam yang sedikit terlalu pendek, dan sepatu kets putih yang sudah sedikit usang dengan beberapa noda sulit dihilangkan.
Ia ragu sejenak. “Ini terlalu biasa… pasti tidak sesuai standar perusahaan besar seperti itu. Semua orang pasti akan melihatku sebagai orang yang salah tempat.”
Mi Ran memperhatikannya dari pintu kamar yang sedikit terbuka, tangan masih memegang ember cucian. “Kau terlihat cantik dan rapi sekali, Ae Ra. Tidak perlu khawatir dengan apa yang kamu kenakan.”
Ae Ra tersenyum kecil sambil menunduk. “Aku takut terlihat sangat berbeda dan salah tempat di antara orang-orang yang mengenakan jas mahal dan sepatu hak tinggi mewah.”
Ibunya mendekat dan merapikan kerah bajunya yang sedikit melengkung. Jempolnya yang kasar akibat kerja keras menyentuh pipi Ae Ra dengan penuh kasih. “Kalau kau masuk ke tempat baru, bukan berarti kau lebih kecil dari orang lain. Ingat, kamu berhasil sampai sejauh ini dengan kerja kerasmu sendiri. Itu adalah sesuatu yang harus kamu banggakan.”
Kalimat itu membuat Ae Ra terdiam, matanya sedikit berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan, merasakan kehangatan dari sentuhan ibunya yang selalu jadi kekuatannya.
Gedung Aegis Corp kembali berdiri megah di hadapannya. Kali ini langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Pintu kaca otomatis terbuka dengan sendirinya, dan beberapa pasang mata mulai memperhatikannya saat ia masuk ke lantai yang luas dengan lantai marmer putih bersih.
Bisik-bisik kecil terdengar dari berbagai arah:
“Itu dia bukan? Gadis yang baru diterima…”
“Sekretaris baru CEO? Katanya tidak melalui tes sama sekali…”
“Mungkin ada hubungan khusus…”
Ae Ra menelan ludah dengan susah payah, rasa tidak nyaman mulai muncul seperti duri di kulitnya. Ia ingin berlari keluar, namun rasa tanggung jawab membuatnya tetap berdiri. Seorang wanita berpenampilan rapi dengan jas warna abu-abu muda mendekatinya dengan langkah teratur.
“Nona Kim Ae Ra?” Wanita itu bertanya dengan nada sopan namun tatapannya dingin.
“Iya… benar,” Ae Ra menjawab dengan suara yang sedikit bergetar.
“Saya Yoo Min Ji, asisten administrasi CEO. Silakan ikut saya, Tuan CEO sudah menunggu di kantornya.”
Lift bergerak naik dengan lancar. Setiap angka yang bertambah membuat jantung Ae Ra berdetak lebih cepat seperti drum yang dipukul keras. Saat pintu terbuka di lantai tiga puluh lima, lantai tertinggi gedung itu, ia merasa seperti melangkah ke dunia lain yang sama sekali asing. Lorong yang luas dengan beberapa pintu kantor besar, dan di ujung lorong terdapat pintu kantor yang jauh lebih besar dengan nama Hyun Jae Hyuk yang tertera dengan huruf emas.
Min Ji berhenti tepat di depan pintu itu. “Tuan CEO sudah menunggu di dalam, Nona Kim. Silakan masuk saja.”
Ae Ra membeku di tempatnya, tangannya mengepal hingga jari-jarinya menjadi pucat. Ia menarik napas panjang sebanyak tiga kali sebelum mengangkat tangan untuk mengetuk pintu dengan suara lembut namun jelas.
“Masuk.”
Suara itu sangat familiar. Pintu terbuka perlahan, dan di balik meja kerja besar yang terbuat dari kayu mahoni, pria yang kemarin menyebutnya gadis bodoh sedang duduk dengan tenang, mengenakan jas hitam rapi dan melihat langsung ke arahnya.
Hyun Jae Hyuk.
Senyum tipis muncul di wajahnya yang tampan namun tetap arogan.
“Kau datang juga. Aku kira kamu akan kabur setelah tahu siapa aku.”
Ae Ra berdiri kaku beberapa detik, matanya melebar lebar dan mulutnya terbuka tanpa bisa mengeluarkan suara. Setelah beberapa saat, sebuah jeritan kecil keluar dari tenggorokannya.
“…KAU?!”
Hari pertamanya sebagai sekretaris pribadi bahkan belum dimulai. Dan ia sudah merasakan keinginan yang kuat untuk langsung pulang dan menyembunyikan diri di kamar selama beberapa hari ke depan.