NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berjarak sopan

   Hanum duduk di ruang tamu, menunggu Zaid selesai membaca Quran. Ia merasa tenang, saat mendengar suara lembut yang melantunkan ayat-ayat suci itu memenuhi seluruh ruangan.

    "SHADAQALLAHUL 'ADZIM"

  Mengetahui salah satu sahabatnya datang, Zaid segera menghampiri. "Ada apa, Hanum?" Tanya Zaid sambil duduk menghadap Hanum.

   Mereka duduk berjarak sopan, berbincang santai, namun tetap menjaga batasan.

  Hanum mengukir senyum lembut, "adem banget rumahmu ya, ustadz?" katanya.

  "Hmm, aku masih merasa aneh kalau kamu panggil aku ustadz." Balas Zaid, "sudah panggil aku seperti biasa saja, biar nggak aneh dan terkesan santai." Katanya.

  "Nggak bisa gitu, sekarang kan kamu sudah jadi ustadz, iya kan?" kata Hanum yang membuat keduanya jadi tertawa. "Nggak lucu dong, kalau aku cuma panggil Z."

  "Aku masih orang yang sama, Hanum." Jawab Zaid.

  "Tapi, aku jadi merasa gimana...gitu, kalau panggilnya cuma Z doang."

  "Ya sudah, senyamannya kamu saja." Kata Zaid, "sekarang katakan, kenapa kamu datang pagi-pagi begini?"

  "Aku mau curhat." Ucap Hanum yang membuat alis Zaid meninggi, "iya, curhat." Sambungnya lagi.

  "Curhat apa?" Tanya Zaid penasaran.

  Sejak SD, Hanum dan Zaid adalah teman dekat, namun keduanya mengambil jalan yang berbeda saat kuliah. Zaid mengambil jurusan Studi Islam di Kairo, sementara Hanum memilih Seni Musik di universitas lokal.

  Tanpa Ragu, Hanum bercerita pada sahabatnya itu. "Ustadz, aku sudah berjanji pada ayah dan ibu."

  "Janji apa?" tanya Zaid dengan santainya.

  "Makanya dengerin dulu, aku mau cerita jangan langsung dipotong."

  "Iya, iya, maaf." Ucap Zaid sambil memantapkan duduknya, "silahkan cerita, seberapa berat beban hidupmu." Gurau Zaid.

  "Jadi, semalam aku sudah terlanjur janji sama ayah sama ibu. Aku bilang, kalau ada laki-laki yang melamar aku selanjutnya, aku bakal terima apapun keadaannya. Masalahnya, aku masih belum yakin bahwa ini akan menjadi pilihan yang tepat buat aku."

 "Kalau begitu, kenapa kamu berjanji?" Balas Zaid dengan gurauan.

  "Ya mau gimana lagi? Ayah sudah sangat murka dengan penolakan aku pada lamaran-lamaran itu."

  "Num, lagi pula kenapa kamu nggak terima saja, sih? Umur mu sudah tidak muda lagi, lho. Sekarang aku tanya, sebenarnya pangeran dari negri mana sih, yang kamu tunggu?"

 "Aku tidak tahu ustadz."

  "Harusnya tahu. Aku yakin kamu tahu," ucap Zaid dengan penuh keyakinan. "Siapa yang kamu tunggu?" tanya Zaid yang dijawab gelengan kepala oleh Hanum.

   "Janji itu berat lho, Num." Sambungnya lagi, "tapi niat baikmu patut diapresiasi. Aku cuma bisa kasih saran, pastikan kamu juga mendengarkan hati nuranimu dan mempertimbangkan pilihanmu dengan matang. Berdoa lah dan minta petunjuk dari Allah, Insyaallah akan ada jalan yang tepat." Saran Zaid, yang dijawab anggukan oleh Hanum.

  "Terimakasih sarannya, tadz. Kalau begitu aku permisi dulu," pamit Hanum yang dijawab anggukan oleh Zaid.

 "Iya, semoga pria beruntung itu sesuai harapan kamu ya, Num."

  "Aamiin...." Ucap Hanum, lalu pergi dari rumah Zaid.

* *

  "Mas, kamu harus mulai persiapan sejak sekarang." Ucap Nadia, saat menemui Reza di sebuah restoran dekat dengan kantornya.

  "Tenang, sayang. Ini aku lagi berusaha, kamu maunya gimana?" tanya Reza balik.

  "Aku pengen acara pernikahan kita seperti pernikahannya Erlan dan Una." Pinta Nadia yang membuat napas Reza menjadi tidak beraturan, Nadia menyadari reaksi Reza, "kenapa? Kamu nggak sanggup?" Ketus Nadia.

  "Sanggup, sanggup sayang." Ucap Reza, "duh, dari mana aku dapat biayanya? Itukan memakan biaya yang cukup banyak." Bisiknya, penuh kebingungan.

  Senyumnya seketika mengembang, saat mendengar Reza akan menyanggupi permintaannya. "Makasih ya, mas. Kamu tenang aja, palingan cuma makan biaya dua ratus jutaan aja, kok." Kata Nadia dengan entengnya.

  Reza meneguk ludahnya dengan susah payah. "Du—dua ratus juta?"

  Nadia mengangguk cepat, "iya, cuma dua ratus juta. Aku yakin kamu punya tabungan segitu kan, mas?"

  "Nad, iya aku punya—"

  "Tuh kan, aku bilang apa." Pangkas Nadia cepat, "bertahun-tahun kamu nabung, aku yakin pasti sudah lebih dari itu tabungan mu."

  "Tapi, Nad. Kita juga harus memikirkan bagaimana kedepannya. Setelah menikah nanti, kita akan punya banyak pengeluaran, bahkan lebih dari yang kita bayangkan." Kata Reza.

   "Aku tahu, mas. Tapi pernikahan itu sekali seumur hidup, masak kita nggak bikin acaranya berkesan, sih?" Kekeh Nadia yang dibalas diam oleh Reza. "Mas, kita pikirkan sama-sama setelah kita menikah nanti. Aku rela kok hidup apa adanya, asal sama kamu," sambungnya, meyakinkan kekasih kakaknya.

  "Ck!"

  "Ya sudah kalau nggak mau, aku cari cowok lain aja yang lebih tajir dari kamu, mas." Ancam Nadia sambil membuang muka dan menyilangkan tangannya ke dada.

  "Eh jangan, jangan gitu ya, sayang. Kita cari kesempatan untuk hidup bersama, susah banget lho. Masak kamu dengan gampangnya mau cari cowok lain?" bujuk Reza.

  "Makanya turuti maunya aku," kata Nadia tanpa menoleh.

  "I—iya, sayang. Aku usahain, ya?"

  "Beneran?"

  "Iya." Ucap Reza meyakinkan, padahal dirinya tak pernah benar-benar siap jika harus mengeluarkan biaya pernikahan sebanyak itu.

  "Makasih ya, mas?" Ucap Nadia dengan wajah bahagia, lalu mengenggam tangan Reza yang langsung dikejutkan oleh suara dari belakang.

  "Reza, Nadia!"

  Keduanya menoleh cepat, lalu melepas genggaman tangan mereka. Manik mata mereka membulat sempurna, kala mengetahui Hanum yang sedang berdiri tepat di belakang mereka.

  "Mbak Hanum?" ucap Nadia, tegang.

  "Hanum, kamu ke sini nggak bilang-bilang, sayang?" Kata Reza, salah tingkah.

  Hanum mengedarkan tatapan curiga ke arah Reza dan Nadia secara bergantian, namun tetap tenang. "Kalian ngapain, berduaan di sini?"

  "Ehm, gini sayang—" ucap Reza yang langsung dipotong oleh Nadia.

  "Duduk, mbak." Kata Nadia sambil menuntun Hanum agar duduk di sebelah Reza, "aku minta maaf ya, mbk. Aku diam-diam menemui mas Reza, karena kasihan sama mbak Hanum." Nadia mencoba menjelaskan, "aku bilang sama mas Reza supaya cepat-cepat melamar mbak Hanum, aku juga ceritakan semua desakan ayah dan ibu agar mbak Hanum segera menikah."

  "Huft! Untung saja Nadia punya alasan tepat." Bathin Reza.

  Hanum menatap sinis ke arah Reza, namun Reza membalas dengan senyum sambil mengangguk—membenarkan ucapan Nadia.

  "Jadi, kamu mau segera melamar aku, atau kamu akan melihat aku menikah sama laki-laki lain?" tegas Hanum yang tidak langsung dijawab oleh Reza. "Kenapa diam?"

  Reza merasa tersentak oleh ucapan Hanum, "sayang, kamu tahu kan kalau aku lagi berjuang untuk masa depan kita. Aku baru saja punya rumah sendiri, sekarang aku lagi nabung buat pernikahan kita, harusnya kamu ngerti lah."

  "Ngerti? Kamu bilang ngerti? Aku kurang ngerti yang bagaimana lagi, menurutmu? Aku nolak enam laki-laki cuma buat nunggu kamu lho."

  "Jadi sebenarnya kamu mau, dijodohkan sama laki-laki lain?" ucap Reza membela diri, yang langsung membuat Hanum berdiri dari duduknya.

  "Kenapa kamu seolah-olah nyalahin aku? Ya kalau memang kamu serius, seharusnya kamu datang lah. Katakan sama ayah dan ibu, kalau kamu mau nikahi aku."

  "Aku masih belum siap." Kata Reza, yang membuat Hanum merasa ada beban berat yang menimpa dadanya.

  Dunianya terasa runtuh, Hanum mencoba untuk tidak menunjukkan kesedihannya, namun ia dapat merasakan cairan bening yang telah membasahi pipinya.

  "Aku masih memiliki banyak hal yang ingin aku capai, dan aku tidak ingin menikah sekarang!" Tegas Reza.

  Setiap tetes butiran kristal yang meleleh ke pipi, membawa serta bagian dari hatinya yang hancur— karena dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah keputusan Reza.

 Ia seka air matanya, lalu bicara dengan nada tenang. "Terimakasih atas kejujuran mu," ucap Hanum sebelum pergi begitu saja meninggalkan kekasih, dan adiknya di sana.

...****************...

1
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!