NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Terjebak di Garis Depan

Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti halaman luas Glanzwald. Daisy berdiri di balik jendela kamarnya, memperhatikan Matthew yang sedang memeriksa senjata laras panjangnya di depan mobil militer. Gerakannya tangkas, wajahnya kaku tanpa ekspresi—tipikal Jenderal Agung yang siap berangkat ke medan latihan.

"Latihan lapangan di wilayah Barat hari ini, Daisy. Mungkin aku akan pulang terlambat lagi karena ada simulasi tempur malam," ucap Matthew saat mereka berpapasan di aula. Ia mengenakan seragam loreng gelap yang membuatnya tampak sangat maskulin dan mengintimidasi.

Daisy hanya mengangguk anggun. "Baiklah, berhati-hatilah, dijalan Jenderal."

Namun, begitu deru mesin mobil Matthew menghilang di balik gerbang, Daisy segera bergerak. Gengsinya memang setinggi langit, tapi rasa penasarannya jauh lebih tinggi. Ia tidak memanggil sopir pribadi. Ia mengenakan mantel cokelat tua yang paling sederhana, kacamata hitam besar, dan mengendarai mobil sedan kecil milik salah satu pelayannya yang jarang digunakan.

Daisy menjaga jarak sekitar dua ratus meter di belakang iring-iringan mobil militer Matthew. Jalurnya memang mengarah ke Barat, menuju area perbukitan tandus yang sering dijadikan zona latihan infanteri.

Benarkah dia latihan? Atau ini hanya kamuflase untuk menemui anak kecil itu lagi? batin Daisy.

Setelah berkendara selama satu jam, mobil Matthew masuk ke dalam barikade militer yang dijaga ketat. Daisy terpaksa memarkir mobilnya di balik semak belukar dan mengendap-endap naik ke atas bukit kecil yang menghadap langsung ke arah lembah latihan.

Dari balik teropong kecil yang ia bawa, Daisy melihat pemandangan yang membuatnya tertegun.

Di bawah sana, Matthew benar-benar sedang memimpin latihan. Ia tidak sedang menggendong anak kecil atau minum cokelat panas. Ia sedang berteriak memberikan instruksi, berlari di tengah ledakan simulasi, dan memanjat tebing dengan kecepatan yang mengerikan. Keringat membasahi wajahnya, dan debu tanah merah menempel di seragamnya.

Matthew tampak begitu berwibawa, begitu dominan. Di tengah ribuan prajurit, dia adalah pusat gravitasi.

Tiba-tiba, insting militer Matthew yang tajam menangkap sesuatu. Ia berhenti di tengah lapangan, menoleh tepat ke arah bukit tempat Daisy bersembunyi. Matanya yang tajam seolah menembus lensa teropong Daisy.

"Ada penyusup di sektor utara bukit! Periksa sekarang!" Teriak Matthew.

Daisy membelalak. Panik, ia segera berbalik untuk lari, namun kakinya tersangkut akar pohon.

Brukk!

Belum sempat ia berdiri, tiga orang prajurit bersenjata lengkap sudah mengepungnya. "Jangan bergerak! Identitas Anda!"

Daisy mengangkat tangannya, wajahnya memerah hebat karena malu. "Ini saya... Duchess Eisenberg."

Para prajurit itu tertegun, lalu segera menurunkan senjata dan memberi hormat dengan gugup. Tak lama kemudian, langkah kaki berat mendekat. Matthew muncul dari balik kepulan debu latihan. Ia melepaskan helm tempurnya, menatap istrinya yang kini terduduk di tanah dengan mantel yang kotor.

Matthew menghela napas panjang. Ia mengulurkan tangannya yang kasar dan penuh debu untuk membantu Daisy berdiri. "Daisy? Apa yang kau lakukan di area latihan militer? Ini zona berbahaya."

Daisy bangkit, menepis debu di mantelnya dengan gerakan yang sangat kaku. Gengsinya berusaha ia kumpulkan kembali, meski ia tahu posisinya sekarang sangat memalukan. "Saya... saya hanya ingin memastikan bahwa pajak negara yang digunakan untuk latihan ini benar-benar efektif, Jenderal."

Matthew menatap Daisy lama sekali. Ia bukan pria bodoh. Ia tahu Daisy sedang mengikutinya karena curiga. Ada rasa bersalah yang mencubit hatinya, dia telah membohongi Daisy berkali-kali tentang klinik Maira, hingga membuat istrinya yang cerdas ini harus bersusah payah membuntutinya ke medan perang.

"Pulanglah, Daisy. Ini bukan tempat untukmu," ucap Matthew pelan. Ia memberikan isyarat pada tiga prajurit untuk kembali masuk dan dia mengantar Daisy kembali ke mobilnya. "Kita bicara di rumah nanti malam."

Perjalanan pulang terasa seperti neraka bagi Daisy. Ia merasa sangat bodoh. Ia tertangkap basah membuntuti suaminya sendiri seperti mata-mata amatir. Sesampainya di paviliun, ia langsung mengunci diri di kamar.

Namun, ketenangan tidak kunjung datang. Pikiran kolotnya mulai bekerja liar.

"Kenapa dia sangat pelit dengan informasinya?" Gumam Daisy sambil berjalan mondar-mandir di depan cermin besar. "Kenapa dia harus berbohong tiga kali sebelumnya kalau hari ini dia benar-benar latihan?"

Lalu, bayangan Adelie kembali muncul. Bocah perempuan berusia empat tahun itu... mata cokelatnya, senyumnya.

Apakah itu anaknya?

Jantung Daisy berdegup kencang. Pikiran itu meracuninya. Ia menghitung dalam hati. Pernikahan mereka sudah berjalan hampir empat tahun. Matthew pergi berperang selama dua tahun di perbatasan Utara. Selama dua tahun itu, surat-surat Matthew memang datang secara teratur, tapi surat tidak bisa membuktikan kesetiaan fisik seorang pria di medan perang.

"Bahkan sampai sekarang..." Daisy menyentuh bibirnya sendiri.

Penyataan pahit itu menghantamnya. Matthew belum pernah menyentuhnya sebagai seorang suami. Sejak malam pertama pernikahan yang dingin karena mereka asing satu sama lain, hingga kepulangannya dari perang berbulan-bulan yang lalu, Matthew selalu menjaga jarak yang sangat sopan namun mematikan.

Mereka tidur di ranjang yang sama, namun ada dinding tak kasat mata yang sangat tebal di antara mereka. Matthew bisa menggendongnya saat jatuh dari pohon, bisa merangkul pinggangnya secara posesif di depan orang banyak, tapi dia tidak pernah menunjukkan gairah yang sesungguhnya di balik pintu kamar yang tertutup.

"Apa dia memberikan sentuhan itu pada wanita lain? Pada ibu dari anak itu?" Daisy merasa matanya memanas. Cemburu adalah perasaan yang sangat asing bagi seorang Daisy von Eisenberg, dan ia membencinya.

Pukul sembilan malam, Matthew pulang. Tubuhnya sangat lelah, tapi pikirannya lebih lelah memikirkan bagaimana cara menghadapi Daisy. Ia masuk ke kamar dan melihat Daisy sedang duduk di tepi ranjang, masih mengenakan jubah sutranya, menatap lurus ke arah jendela yang gelap.

Matthew melepaskan jaket militernya dan mendekat. "Daisy, soal tadi di lapangan..."

"Apakah anak itu anak Anda, Jenderal?"

Pertanyaan Daisy memotong kalimat Matthew seperti tebasan pedang. Sangat langsung, tanpa basa-basi.

Matthew membeku. Ia menatap Daisy yang kini berdiri menghadapnya. "Apa maksudmu?"

"Anak kecil yang Anda bawa ke pusat kota kemarin," suara Daisy sedikit bergetar, namun ia tetap berusaha menjaga nada bicaranya agar tetap formal. "Apakah dia hasil dari dua tahun Anda berada di perbatasan? Apakah itu alasan kenapa selama empat tahun pernikahan ini, Anda bahkan tidak pernah sudi menyentuh saya?"

Matthew tertegun. Ia melihat luka yang sangat dalam di mata Daisy—luka yang disembunyikan di balik kemarahan dan gengsi. Ia menyadari betapa jahatnya kebohongannya telah merusak kepercayaan Daisy.

"Bukan, Daisy. Dia bukan anakku," jawab Matthew tegas. Ia melangkah maju, mencoba meraih bahu Daisy, namun Daisy mundur selangkah.

"Lalu kenapa Anda bersikap seolah-olah dia adalah duniamu? Kenapa Anda berbohong berkali-kali untuk menemuinya?"

Matthew terdiam. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Adelie adalah anak Maira, karena itu akan membuka luka lama yang lebih parah. Ia juga tidak bisa menyentuh Daisy sekarang, karena ia merasa sangat kotor dengan rahasia yang ia simpan.

"Aku hanya... sedang mencoba memperbaiki kesalahan masa lalu, Daisy. Tapi bukan seperti yang kau pikirkan," ucap Matthew parau.

"Kesalahan masa lalu?" Daisy tertawa pahit. "Masa lalu yang mana?"

Daisy berbalik dan naik ke tempat tidur, menarik selimutnya tinggi-tinggi. Ia memunggungi Matthew sepenuhnya. "Tidurlah, Jenderal. Saya tidak ingin mendengar alasan lagi malam ini. Gengsi saya sudah cukup hancur karena membuntuti Anda ke lumpur tadi pagi. Jangan biarkan sisa harga diri saya hancur karena mendengar kebohongan Anda yang lain."

Matthew berdiri di samping ranjang, menatap punggung Daisy dengan rasa penyesalan yang luar biasa. Ia ingin memeluk Daisy, ingin membuktikan bahwa dia menginginkan istrinya lebih dari apa pun, tapi bayangan Adelie dan Maira tetap berdiri di antara mereka seperti tembok raksasa yang tidak bisa ia runtuhkan begitu saja.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!