NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah satu jam perjalanan, Aru akhirnya tiba di rumahnya—rumah kedua orang tuanya. Sebuah hunian mewah berdesain modern bernuansa putih berdiri megah dengan gerbang tinggi menjulang, menjadi tempat Aru tinggal bersama keluarganya.

Gerbang rumah dibuka oleh satpam. Mobil Mercedes-Benz G-Class hitam kesayangan Aru melaju masuk ke pekarangan. Tak lama kemudian, mesin mobil dimatikan. Aru turun dari mobil sambil menenteng dua kantong kresek berisi gorengan hangat.

“Pak Mail,” panggil Aru ramah.

“Iya, Mbak. Ada yang bisa Pak Mail bantu?” tanya satpam itu.

“Ini gorengan buat Pak Mail. Ada pisang goreng juga, Pak. Cocok buat teman ngopi bareng pekerja yang lain,” ucap Aru sambil menyerahkan satu kantong kresek.

“Wah, makasih banyak ya, Mbak. Kebetulan kami habis bikin kopi,” jawab Pak Mail sambil menerima gorengan itu dengan wajah sumringah.

Di rumah ini, Aru memang dikenal sangat akrab dengan para pekerja. Mereka pun menganggap Aru bukan sekadar majikan, melainkan anak dan teman. Tak jarang, di sore hari Aru duduk santai di pos satpam, ngopi dan makan gorengan bersama mereka.

“Sama-sama, Pak. Kalau begitu Aru masuk dulu ya.”

“Iya, Mbak,” jawab Pak Mail sopan.

Aru melangkah masuk ke dalam rumah. Setibanya di pintu utama, ia langsung mengucapkan salam,sebuah kebiasaan yang menjadi aturan tak tertulis dalam keluarga mereka.

“Assalamu’alaikum,” ucap Aru sambil melangkah masuk.

“Wa’alaikumsalam, Dek,” sahut kedua kakak laki-lakinya yang berada di ruang makan.

Aru menghampiri mereka dan menyalami satu per satu. Uluran tangannya langsung dibalas dengan pelukan hangat.

“Baru nyampe, Dek?” ucap seorang pria yang baru saja datang.

“Iya, Phi,” jawab Aru.

Ia segera menyalami tangan pria itu lalu memeluknya singkat. Pria tersebut adalah Bisma,abang sepupunya Aru. Aru memanggilnya Phi karena Bisma merupakan keturunan Indonesia–Thailand. Ibunya adalah orang Thailand asli, sehingga panggilan itu terasa lebih akrab.

Bisma Dirgantara, pria tampan berusia tiga puluh tahun dengan tinggi 183 cm, dikenal memiliki pembawaan dewasa dan tenang. Ia adalah sepupu mereka dari pihak ibu dan telah tinggal bersama keluarga Wiratama sejak kecil setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah insiden kecelakaan di Thailand. Meski bermarga berbeda, Bisma sudah dianggap sebagai anak tertua dalam keluarga. Kini, ia menjabat sebagai CEO Dirgantara Company,perusahaan warisan orang tuanya.

“Bawa apa tuh, Dek?” tanya Alvian sambil menarik kantong makanan bdari tangan Aru, padahal sang adik masih berada dalam pelukan abangnya.

“Hei, jangan main tarik-tarik dong! Kalau tangan adek gue kenapa-kenapa gimana?” tegur Alvaro tegas.

Sungguh berlebihan—mana mungkin tangan bisa lepas hanya karena kantong gorengan. Alvaro langsung mengambil alih Aru dari pelukan Bisma.

“Jangan gitu, Vian. Nanti tangan adeknya sakit,” ujar Bisma dengan nada rendah.

Melihat reaksi kedua kakaknya yang terlalu protektif, Alvian hanya memutar bola mata malas.

“Phi kayak nggak tahu Aru aja. Dia itu tahan banting. Kemarin aja Aru menang Judo lawan Bang Agam sama Bang Azam,” ucap Alvian santai.

Bisma hanya menggeleng pelan. Hobi adiknya memang jauh dari kata normal untuk ukuran seorang perempuan.

Aru memiliki kegemaran yang terbilang ekstrem,Judo, Muay Thai dan menembak. Untuk latihan, ia sering beradu tinju dengan teman-teman abangnya yang berprofesi sebagai bodyguard dan aparat negara. Semua orang tahu, Aru adalah atlet Judo nasional.

“Berisik banget sih, Kak,” gerutu Aru dari dalam pelukan Alvaro. Beberapa saat kemudian, ia melepaskan diri.

“Loh, kok dilepas? Abang masih capek, Dek. Sini peluk lagi,” rengek Alvaro sambil kembali memeluknya.

“Manja banget sih, Bang. Udah kayak bocah,” celetuk Alvian malas.

“Lepasin dulu adeknya, Varo. Aru juga udah lapar, kan?” ujar Bisma menengahi dengan nada tenang.

“Udah dulu, Bang. Nanti habis makan Aru peluk lagi. Kita isi perut dulu. Aru juga beli tahu goreng buat abang,” ucap Aru sambil menepuk lengan kekar Alvaro.

Mendengar itu, Alvaro akhirnya melepas pelukan meski jelas enggan. Walaupun sudah dewasa, sifat manjanya pada Aru tak pernah hilang.

“Manja amat jadi orang,” gumam Alvian.

“Brisik, tuyul. Iri ya sama gue?” balas Alvaro dengan wajah tengil.

“Kalau gue tuyul, lo juga tuyul bodoh. Kita satu rahim. Dan gue nggak iri!” jawab Alvian.

Padahal, dalam hati ia juga ingin dipeluk,hanya saja gengsinya setinggi Monas.

Alvian Naraya Wiratama, pria tampan bertinggi 182 cm, adalah adik kembar Alvaro dengan selisih lima menit saja. Meski terlihat cuek, Alvian justru yang paling manja. Ia sering menyelinap ke kamar Aru tengah malam hanya untuk meminta dipeluk dan dielus kepalanya, terutama saat sang bunda tidak di rumah.

“Udah ya, jangan berantem. Adek lapar nih,” ucap Aru menghentikan drama kecil itu.

Ia berdiri dan mulai mengambilkan nasi serta lauk untuk ketiga abangnya. Sebelum pulang Aru juga sempat membeli beberapa makanan. Karena kalau siang hari seperti ini para ART di rumah itu tidak memasak, kecuali memang ada permintaan untuk memasak.

“Makasih, Dek,” ucap Bisma. Dialah yang pertama dilayani. Selain karena paling tua, mereka memang sudah menganggap Bisma sebagai saudara kandung,tanpa perbedaan apa pun.

“Iya, Phi. Mau ayam goreng atau rendang?” tanya Aru.

“Biar Phi aja yang ambil. Kamu ambilin mereka dulu,” jawab Bisma, membuat Aru mengangguk.

“Abang ayam goreng sama tahu aja ya, Dek,” pinta Alvaro.

“Nggak mau sayur, Bang?” tawar Aru.

“Nggak. Ini aja cukup. Makasih, adik sayang.”

“Iya, abangku sayang.”

“Kalau Kak Alvian mau apa? Nasinya segini cukup?” tanya Aru.

“Cukup. Rendang sama tempe goreng ya, Dek.”

“Mau sayur ubi atau tumis kangkung?”

“Tumis kangkung aja.”

Menu makan siang itu adalah masakan Padang: ayam goreng, rendang, daun ubi, tempe goreng, tahu goreng, tumis kangkung, dan sambal.

“Makasih ya, Dek.”

“Sama-sama. Yuk, makan.”

Siang itu, para pewaris keluarga Wiratama dan Dirgantara menikmati makan bersama. Tawa kecil sesekali pecah, menghangatkan suasana.

Makan bersama keluarga bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud kasih sayang paling sederhana—penguat ikatan, dan pengingat bahwa kebersamaan adalah fondasi utama sebuah keluarga.

***********

Jika di rumah Aru dipenuhi gelak tawa dan kebahagiaan, maka suasana di Baskara Grup justru diselimuti keheningan yang menekan.

Setelah jam makan siang berakhir, seluruh karyawan kembali ke aktivitas masing-masing.

Tidak ada suara bercanda, hanya langkah kaki yang teratur dan ketukan papan ketik yang terdengar samar di setiap sudut kantor.

Di ruangan sang CEO, Kenan Aryasatya Baskara Mahendra duduk di balik meja kerjanya. Tatapannya fokus menelusuri laporan-laporan perusahaan yang terbuka di layar laptop. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, satu-satunya suara yang terdengar di ruangan itu.

Saat Kenan tengah tenggelam dalam pekerjaannya, ponsel di samping laptopnya tiba-tiba bergetar.

Nama yang tertera di layar membuat rahangnya mengeras.

Pak Tua Baskara

Drt… drt… drt…

Kenan menghela napas pelan sebelum akhirnya meraih ponsel tersebut dan mengangkat panggilan. Ia langsung menekan tombol loudspeaker, tanpa menghentikan aktivitasnya.

“Assalamu’alaikum, Ken,” sapa suara berat di seberang sana.

“Wa’alaikumsalam, Pi,” jawab Kenan datar. “Ada apa Papi nelpon? Ken lagi banyak kerjaan.”

“Ck,” decak Papi Baskara. “Bisa nggak kalau orang tua lagi bicara, kamu nggak sibuk sama yang lain? Papi mau bicara penting, Ken.”

Kenan berhenti mengetik, bersandar ke kursinya. “Papi mau bicara apa? Kalau nggak penting, mending tutup aja. Ken masih banyak kerjaan pi.”

“Hari ini kamu pulang lebih awal,” ucap Papi Baskara dengan nada serius. “Soalnya sahabat Papi mau makan malam di rumah.”

Kenan mengerutkan kening. “Terus hubungannya sama Ken apa, Pi? Cuma makan malam aja. Kenapa Ken harus pulang cepat?”

“Ini bukan makan malam biasa, Ken,” suara Papi Baskara terdengar lebih tegas. “Pokoknya Papi nggak mau tahu. Kamu harus pulang lebih awal. Jangan sampai terlambat.”

Nada ancaman jelas terdengar di balik kalimat itu.

“Tapi Ken beneran nggak bisa, Pi—”

“Pokoknya nggak ada tapi-tapian,” potong Papi Baskara tajam. “Kamu harus pulang lebih awal. Apa kamu paham apa yang Papi katakan, Kenan?”

Nada suara itu dingin dan tegas membuat Kenan menghentikan seluruh gerakan jarinya. Ia tahu betul, jika Papi Baskara sudah berbicara seperti itu, tidak ada ruang untuk membantah.

“Tapi Ken masih ada rapat dengan divisi keuangan, Pi,” ujar Kenan mencoba menjelaskan. “Dan rapat ini nggak bisa diwakilkan ke Joe.”

“Jika kamu, Kenan Aryasatya Baskara Mahendra, tidak pulang sebelum magrib, maka—”

“Oke,” potong Kenan cepat, sebelum ancaman itu selesai diucapkan. “Ken akan pulang. Sekarang Papi puas?”

Ia tahu persis. Jika Papi Baskara sudah menyebut nama lengkapnya, maka perintah itu wajib dipatuhi, tanpa pengecualian.

“Bagus,” jawab Papi Baskara puas. “Papi tunggu kamu di rumah. Dan satu lagi,suruh Joe juga langsung pulang. Kita makan malam bersama.”

“Iya, Pi.”

“Kalau begitu Papi tutup dulu. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Kenan singkat.

Panggilan pun terputus.

Kenan menjatuhkan ponselnya ke atas meja dengan kasar. Wajahnya mengeras, rahangnya menegang. Mood buruk sejak pagi kini semakin memburuk.

“Arrrgh!”

Suara amukan Kenan menggema di dalam ruangannya, cukup keras hingga terdengar oleh beberapa karyawan di luar. Mereka saling berpandangan, lalu kembali menunduk—tak satu pun berani berkomentar.

Di balik pintu ruang CEO itu, semua orang tahu satu hal,saat Kenan sedang marah, sebaiknya tidak ada yang mendekat.

Bersambung..............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!