"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tragedi di Malam Pesta
Alana keluar dari ruangan dr. Raden dengan perasaan campur aduk antara takut dan malu.
Kakinya terasa lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja dihisap habis oleh kehadiran pria dominan itu.
Jantungnya berdetak tak karuan, menciptakan dentuman keras yang bergema hingga ke telinganya sendiri.
Mulutnya terus komat-kamit seperti sedang membaca mantra penolak bala.
Sepanjang perjalanan menyusuri lorong, ia terus saja berbicara sendiri, merutuki nasibnya yang mendadak sial.
Untungnya, sepanjang koridor Departemen Bedah sedang sepi karena jam operasional yang sudah lewat.
Jadi ia tidak perlu khawatir dianggap gila karena bergumam sendirian di lorong yang sunyi.
Setelah merasa cukup jauh, Alana memutar langkah menuju toilet dan mengunci pintunya rapat-rapat.
Ia bersandar di balik pintu, mencoba mengatur napasnya yang masih terasa memburu dan sesak.
Di depan kaca, ia melihat pantulan dirinya sendiri. Rambutnya berantakan dan wajahnya merah padam.
Itu adalah campuran antara rasa malu dan salah tingkah yang sangat nyata.
Bibirnya terasa berdenyut dan memerah seperti tomat.
Bekas ciuman menuntut dr. Raden tadi masih meninggalkan sensasi panas yang membekas di saraf-sarafnya.
"Huh! Tenang Alana... kamu harus tetap tenang, jangan panik... oke..." bisiknya pada cermin.
Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali. Berharap suhu air bisa mendinginkan kepalanya.
"Tapi Dokter Raden tadi benar-benar sudah gila! Kayak orang dirasuki setan, tahu gak?"
"Dia kehilangan kendali dan terlihat seperti orang yang berbeda," ucap Alana pelan.
Ia menjaga agar suaranya tidak terdengar keluar, takut jika ada orang lain di bilik sebelah.
Namun ternyata, dinginnya air tak mampu memadamkan gejolak di hatinya yang kian membara.
Ingatannya justru terlempar kembali ke pesta megah rumah sakit satu minggu yang lalu.
Flashback On
Malam itu, perayaan ulang tahun ke-30 Rumah Sakit Medika berlangsung sangat meriah di hotel berbintang.
Alana, yang biasanya hanya berseragam perawat putih, kini mengenakan gaun merah panjang yang indah.
Gaun itu membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan namun berani.
Suasana sangat mewah. Alunan musik merdu dan lembut menenangkan telinga setiap tamu yang hadir.
Para pelayan mondar-mandir membawa gelas-gelas cantik berisi berbagai minuman berwarna-warni.
Setelah menyapa beberapa senior, Alana mendadak haus. Kerongkongannya terasa kering karena gugup.
Ia mengambil sebuah gelas berisi cairan bening dengan irisan lemon di pinggirnya.
Ia pikir itu hanya lemonade biasa. Minuman segar untuk menghilangkan rasa haus yang mencekik.
Ia tidak tahu bahwa gelas itu adalah awal dari tragedi yang akan mengubah hidupnya.
Tenggorokannya terasa sangat kering karena gugup berada di antara orang-orang penting.
Tanpa pikir panjang, Alana langsung meneguknya dengan cepat.
"Segarnya..." gumamnya pelan sambil mengusap bibir.
Karena rasanya manis dan segar, Alana justru mengambil lagi hingga habis tiga gelas tanpa ragu.
Ternyata, efeknya datang begitu cepat. Tiba-tiba kepalanya mendadak pusing dan sekujur tubuhnya terasa panas.
Alana baru sadar bahwa yang ia minum tadi adalah wine dengan kadar alkohol tinggi.
Dunia di sekitarnya mulai berputar. Lampu-lampu pesta tampak berdansa mengikuti irama kepalanya yang oleng.
Dengan langkah terseok-seok, ia mencari tempat sepi dan berakhir di balkon lantai dua yang gelap gulita.
Tempat yang ia kira aman untuk menenangkan diri, ternyata salah besar.
Di sana, ia melihat siluet pria yang berdiri membelakanginya, menatap kegelapan malam.
"Itu... Dokter Raden, hhhh?"
Racun alkohol telah melenyapkan akal sehat Alana, digantikan keberanian yang melonjak berkali-kali lipat.
Pria itu berbalik. Benar, itu Dokter Raden yang sedang menghindar dari keramaian pesta.
Ia terlihat sangat tampan dalam balutan tuksedo hitam yang pas di badannya yang atletis.
Raden menatap Alana dengan dahi berkerut. "Perawat Alana? Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia mabuk?"
Karena penasaran, Raden mendekat untuk memastikan kondisi perawatnya itu.
"Apa yang terjadi denganmu, Perawat Alana?" tanya Raden dengan nada heran.
Alana tidak menjawab. Ia justru melangkah maju, mengendus tubuh Raden yang beraroma maskulin.
Tangannya yang gemetar naik menyentuh dada bidang sang dokter, merabanya dengan penuh keberanian.
Tindakan itu membuat Raden sempat salah tingkah dan terdiam mematung menahan napas.
"Dokter... oh... Dokter tampan... Kenapa Dokter selalu galak padaku?" Alana terkikik geli.
Ia menarik kerah kemeja Raden agar wajah mereka lebih dekat, memaksa pria itu menunduk.
"Padahal wajah hingga badan Dokter itu paket komplit loh... tipe aku banget..."
Tanpa diduga, Alana menghapus jarak dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang kacau.
Raden tertegun sejenak karena serangan mendadak itu.
Namun detik berikutnya, pria itu seolah terhanyut dalam keberanian Alana yang tak terduga....
Flashback Off
Alana memejamkan mata rapat-rapat di dalam toilet, merutuki kebodohannya yang luar biasa.
"Jadi itu alasannya dia bilang aku merenggut kewarasannya? Ya ampun Alana..."
"Bisa-bisanya kau melupakan kejadian malam itu... ini sama saja cari mati!" rintihnya penuh sesal.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di saku celananya bergetar hebat. Sebuah pesan singkat muncul di layar.
Pesan itu membuat Alana ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga.
Dr. Raden Ganendra: "Datang ke ruanganku sekarang. Buatkan kopi hitam dengan sedikit gula." "Ingat, jangan terlambat sedetik pun atau aku akan menagih utang malam pesta itu sekarang juga!" "Kau tahu aku tidak suka menunggu."
Alana lemas seketika. Tubuhnya seolah kehilangan tulang penyangga hingga ia terduduk di lantai.
"Oh Tuhan, apa ini? Hutang lagi? Baru saja bibirku sembuh!"
*******
Catatan Penulis:
BOM! Akhirnya terungkap juga apa yang terjadi di malam pesta itu! 😱
Ternyata Alana beneran nekat ya kalau lagi mabuk. Siapa yang sangka perawat kalem kayak dia berani nyosor Dokter Raden duluan? Pantesan aja si Dokter nagih utang terus!
Kira-kira setelah tahu kenyataan ini, Alana bakal makin pasrah atau malah makin menghindar ya?
Bantu dukung Alana menghadapi si Dokter Posesif yuk:
LIKE kalau kalian kaget sama kelakuan Alana di balkon!
KOMEN dong, menurut kalian Dokter Raden sebenernya udah naksir dari malam itu gak sih?
FAVORITKAN biar kalian nggak ketinggalan pas mereka ketemu lagi di ruangan nanti!