Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
...BRAKK!!...
Pintu eksterior yang terbuat dari kayu jati solid itu terbuka menyentak dinding, menimbulkan dentuman keras yang menggema di seluruh penjuru ruang tengah penthouse mewah yang terletak di kawasan elite Chicago tersebut.
Angin malam yang dingin berdesis masuk dari ambang pintu, namun hawa di dalam ruangan itu seketika berubah menjadi jauh lebih membekukan.
Seorang pria dengan rahang kokoh yang mengatup rapat melangkah masuk.
Napasnya memburu, matanya memancarkan kilat amarah yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Pria bernama Willem Daendels itu menatap lurus ke arah wanita yang berdiri dengan tenang di dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota.
"Beraninya kamu menemui wanita yang kucintai?!"
Willem berteriak, suaranya bergetar hebat saat dia berusaha keras menahan emosi yang nyaris meledak dari dadanya.
Langkah kakinya berat, seolah setiap pijakan membawa beban kemarahan yang luar biasa.
Suzanne Klatten, wanita berusia 24 tahun yang menjadi sasaran kemarahan itu, tidak bergeming.
Dia perlahan membalikkan tubuhnya, menatap suaminya dengan tatapan mata yang dingin dan menusuk.
Alih-alih gemetar atau menangis ketakutan seperti wanita pada umumnya saat dihardik, Suzanne justru melipat kedua tangannya di dada.
Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya.
"Jadi... dia mengadu padamu?" jawab Suzanne, nadanya begitu tenang, bahkan cenderung meremehkan.
Suaranya yang jernih memotong keheningan malam dengan ketajaman yang setara dengan pisau bedah.
Willem berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga tersisa beberapa langkah saja.
Wajahnya memerah, dipenuhi rasa frustrasi yang mendalam.
Dia tidak lagi peduli pada norma, tidak peduli pada status pernikahan mereka, dan secara terang-terangan mengatakan jika dia mencintai wanita yang dulu adalah kekasih pria itu—wanita yang baru saja ditemui Suzanne beberapa jam yang lalu.
"Kau puas, hah?!" tanya Willem dengan nada menuduh, matanya menyalang.
"Kau puas mempermalukannya? Kau puas mengancamnya seolah kau memiliki hak penuh atas hidupku?!"
Suzanne menarik napas dalam-dalam.
Kata-kata Willem barusan bagaikan duri yang menusuk ulu hatinya, namun dia menolak untuk terlihat lemah.
Dia adalah seorang Klatten; meskipun keluarganya telah hancur, harga dirinya tidak akan pernah bisa diinjak-injak oleh pria ini.
"Menurutmu?" tantang Suzanne, melangkah satu tapak maju untuk menghadapi Willem tanpa rasa takut sedikit pun.
"Aku sudah lama bersabar, Willem. Kurang sabar apa aku selama enam bulan ini? Mengetahui suamiku pulang larut malam, mencium aroma parfum wanita lain di bajumu, dan melihat nama wanita itu terus muncul di layar ponselmu. Tapi kamu masih saja berhubungan dengannya! Bukankah dia mantan kekasihmu?"
Suzanne menjeda kalimatnya, suaranya sedikit meninggi namun tetap terkontrol dengan baik.
"Aku berinisiatif menemuinya agar dia tidak lagi mengganggu pernikahan kita! Lalu di mana salahku? Aku cuma ingin mempertahankan rumah tangga kita!" ucap Suzanne lagi, menyuarakan kebenaran yang selama ini dia simpan rapat-rapat dalam sanubarinya.
Dia hanya membela apa yang secara hukum dan agama adalah miliknya.
Namun, pembelaan Suzanne justru memicu tawa pahit dari bibir Willem.
Pria itu menggelengkan kepalanya dengan tatapan penuh kebencian dan penolakan yang begitu nyata.
"Lydia Gonne bukan mantan kekasihku," desis Willem, menekankan setiap kata dengan artikulasi yang kejam. "Dia masih kekasihku, yang sampai kapan pun tetap aku cintai."
Kalimat itu telak menghantam Suzanne. Udara di sekitarnya seolah mendadak lenyap. Namun, Willem belum selesai menorehkan luka.
"Kamu yang sudah merusak kebahagiaan kami!" tunjuk Willem tepat di depan wajah Suzanne.
"Kehadiranmu... kehadiranmu yang membuatku terpaksa meninggalkannya demi keinginan orang tuaku untuk menikahimu! Kau tahu itu, Suzanne. Aku tidak pernah bahagia bersamamu. Setiap detik yang kuhabiskan di rumah ini bersamamu adalah siksaan bagiku!"
Suzanne adalah wanita yang kuat.
Dia telah melewati badai kehidupan yang jauh lebih kejam daripada sekadar makian seorang pria egois.
Mendengar kalimat-kalimat beracun itu, dia tidak membiarkan air matanya jatuh.
Alih-alih menangis, dia mengeraskan kepalan tangannya di sisi tubuh, kuku-kukunya memutih karena tekanan yang kuat.
Rasa sakit di hatinya langsung mengkristal menjadi kemarahan yang murni.
"Kalau saja ku tahu kau memiliki kekasih sejak awal, kau pikir aku akan menikahimu?" sahut Suzanne, suaranya kini sekeras batu karang.
"Sejak awal keluarga besarmu tidak mengatakan ini padaku, brengsek!" ucapnya lagi, menatap tajam pria yang sudah enam bulan ini menjadi suaminya.
Rasa mual bergejolak di perut Suzanne mengingat bagaimana dia berjalan di altar dengan gaun putih bersih, mengira dia sedang memulai babak baru kehidupan bersama seorang pria yang berkomitmen, tanpa tahu bahwa dia sebenarnya sedang berjalan masuk ke dalam jebakan yang dirancang oleh orang tua mereka.
Suzanne menarik napas, menegakkan punggungnya dengan keanggunan yang mengintimidasi.
"Maka jangan pernah mengatakan aku yang merusak kebahagiaanmu bersama wanita itu. Dan ingat satu hal, Willem Daendels... kamu sekarang suamiku. Secara hukum, secara status sosial di Chicago ini, kamu adalah milikku. Tidak sepantasnya kamu masih menjalani hubungan menjijikkan itu di belakangku. Kamu mengkhianati pernikahan kita!" ucap Suzanne, menekankan kata 'suamiku' dan 'mengkhianati' dengan penuh penekanan.
Namun, bukannya merasa bersalah atau merenungkan kata-kata istrinya, moralitas Willem tampaknya sudah benar-benar buta oleh cintanya yang obsesif pada Lydia.
Alih-alih mundur, Willem malah maju selangkah lagi dengan agresif. Dengan gerakan cepat, dia mengulurkan tangan dan mencengkeram pundak Suzanne dengan sangat kuat.
"Shhhh!!" desis Suzanne
Willem mencengkeramnya begitu erat hingga Suzanne bisa merasakan ujung jari pria itu menekan tulang belikatnya.
"Dia kekasihku," ucap Willem dengan suara rendah yang mengancam. "Kau hanya istri di atas kertas, Suzanne. Ingat posisimu! Dan jangan pernah bertemu Lydia lagi, atau aku—"
"Atau apa?" tantang Suzanne, memotong kalimat itu dengan berani.
Dia menatap langsung ke dalam mata Willem yang gelap, menolak untuk gentar oleh intimidasi fisik maupun verbal.
"Atau apa, Willem? Kau ingin memukulku? Lakukan! Biar seluruh dunia tahu siapa pria terhormat dari keluarga Daendels yang sebenarnya!"
Willem menyipitkan matanya, kilat licik dan kejam melintas di sana.
Senyum kemenangan yang meremehkan muncul di wajahnya saat dia bersiap melepaskan kartu as yang dia tahu pasti akan menghancurkan seluruh pertahanan Suzanne.
"Atau aku akan menceraikanmu," bisik Willem, melepaskan cengkeramannya dari pundak Suzanne dengan sentakan kasar yang membuat wanita itu sedikit terhuyung.
"Dan ingat... ayahmu berharap banyak pada keluargaku. Dan ayahmu bisa saja jantungan kalau aku menceraikanmu yang tidak berguna itu."
Deg.
Kata-kata itu seperti hantaman godam yang seketika meruntuhkan seluruh keberanian Suzanne.
Dia terdiam membeku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu, dan semua argumen yang sudah tersusun di kepalanya menguap begitu saja ke udara.
Willem benar. Pria brengsek di hadapannya ini memegang kendali penuh atas hidup dan mati ayahnya saat ini.
Suzanne mengepalkan tangannya tersembunyi di balik lipatan gaunnya, merasakan gelombang keputusasaan yang luar biasa.
Ayahnya—satu-satunya alasan dia masih bertahan hidup hingga detik ini—memiliki riwayat penyakit jantung yang sangat parah.
Dokter bahkan sudah memperingatkan bahwa kejutan emosional sekecil apa pun bisa berakibat fatal bagi pria tua yang malang itu.
Dan kenyataan pahitnya adalah, orang tua Willem adalah satu-satunya kerabat sekaligus mantan rekan bisnis yang ayahnya miliki di kota Chicago yang dingin dan kejam ini.
Pikiran Suzanne berputar mundur, mengingat memori kelam beberapa tahun terakhir yang ingin sekali dia kubur dalam-dalam.
Mereka pernah berada di puncak kejayaan, menjadi salah satu pilar sosial di kota ini.
Namun, roda berputar dengan sangat kejam. Setelah kebangkrutan melanda perusahaan ayahnya, badai yang sesungguhnya justru datang dari dalam rumah mereka sendiri.
Ibu kandung Suzanne—wanita yang seharusnya menjadi pelindung—menunjukkan wajah aslinya saat menyadari suaminya telah jatuh miskin dan mulai sakit-sakitan.
Dengan tega, wanita itu menjual habis mansion mewah keluarga mereka, menguras sisa-sisa tabungan tersembunyi, dan melarikan diri entah ke mana, meninggalkan Suzanne dan ayahnya yang sedang sekarat dalam kondisi luntang-lantung.
Selama bertahun-tahun, Suzanne harus berjuang sendirian di jalanan, hidup berpindah-pindah dari satu apartemen murah yang kumuh ke apartemen lainnya, bekerja parah waktu apa saja demi membelikan obat-obatan ayahnya. Mereka hidup luntang-lantung, diabaikan oleh semua orang yang dulu mengaku sebagai sahabat saat mereka kaya.
Hingga akhirnya, beberapa bulan yang lalu, orang tua Willem datang bak malaikat penolong. Mereka mencari keberadaan ayah Suzanne dan mengulurkan bantuan finansial yang sangat besar.
Tak hanya itu, mereka juga menuntut agar aliansi perjodohan yang pernah dibicarakan belasan tahun lalu—saat Suzanne dan Willem masih anak-anak—tetap dilangsungkan.
Orang tua Willem tampaknya memiliki utang budi masa lalu atau mungkin sekadar memegang teguh kehormatan janji lama, meskipun ayah Suzanne sudah bangkrut total dan ditinggal mati oleh reputasinya.
Bagi ayah Suzanne, pernikahan ini adalah berkah terbesar.
Pria tua itu menangis bahagia di tempat tidur rumah sakit, mengira putri tercintanya akhirnya akan aman dan hidup bahagia di bawah perlindungan keluarga Daendels yang terhormat.
Ayahnya tidak pernah tahu, dan tidak boleh tahu, bahwa pernikahan ini adalah neraka dunia bagi Suzanne.
Suzanne menatap suaminya yang kini berdiri dengan senyum pongah, merasa telah memenangkan perdebatan malam ini. Rasa benci yang mendalam membakar dada Suzanne.
'Kalau saja... kalau saja aku tidak memikirkan kebaikan dan kesehatan orang tuaku,' batin Suzanne dengan kepedihan yang mendalam, 'aku lebih baik pergi dari sini. Aku lebih baik kembali hidup miskin di jalanan daripada harus menghirup udara yang sama dengan pria brengsek seperti Willem.'
Namun kenyataan tidak mengizinkannya untuk egois. Dia harus bertahan.
Demi detak jantung ayahnya yang rapuh, Suzanne terpaksa menelan kembali seluruh harga dirinya, membiarkan Willem menginjak-injaknya malam ini, sambil bersumpah dalam hati bahwa suatu hari nanti, dia yang akan memastikan Willem membayar setiap tetes air mata tersembunyi yang dia jatuhkan malam ini.
...****...
Mohon dukungannya untuk meninggalkan komentar nya kak 🫶🏻🥰
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍