Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
BAB 5: Rahasia di Balik Senyuman dan Hilangnya Sang Mentari
Suasana pagi di SMA Pelita berjalan lambat seperti biasanya. Elva Ileana berjalan menyusuri koridor utama dengan langkah yang sengaja diperlambat. Kepalanya terasa sangat berat. Sejak obrolan makan malam yang penuh tekanan dari kedua orang tuanya kemarin, Elva tidak bisa tidur nyenyak. Di dalam tas sekolahnya, tersimpan sebuah kartu undangan berlapis emas yang ditandatangani langsung oleh ayahnya, Narendra. Sebuah undangan makan malam formal di kediaman mereka yang ditujukan khusus untuk Zayn Dominic.
"Elva."
Suara berat dan dalam itu terdengar tepat saat Elva hendak membelok ke arah kelasnya. Jantung Elva berdegup kencang. Dia mendongak dan menemukan Zayn sudah berdiri bersandar di dekat loker besi. Penampilannya masih sama: jaket kulit hitam yang tersampir santai, kancing atas kemeja yang terbuka, dan aura dingin yang menguar kuat. Namun, begitu sepasang mata tajam milik Zayn mengunci figur Elva, tatapan dingin itu sedikit melunak.
"Pagi, Zayn," sapa Elva, mencoba sekuat tenaga memasang senyuman paling natural yang dia miliki.
Zayn menegakkan tubuhnya, melangkah mendekat hingga jarak di antara mereka terkikis. Dia menatap wajah Elva dengan saksama. Instingnya yang tajam langsung menangkap lingkaran hitam tipis di bawah mata bulat gadis itu.
"Muka lo pucat. Nggak tidur lagi?" tanya Zayn langsung tanpa basa-basi.
"Nggak kok. Aku cuma... agak gugup karena hari ini ada kuis di jam pertama," bohong Elva. Jemarinya meremas tali tas sekolahnya dengan erat, menyembunyikan rasa bersalah karena telah berbohong. Di dalam tas itu, kartu undangan milik ayahnya seolah berteriak minta dikeluarkan. Elva tahu, jika dia memberikan undangan itu, keluarganya akan senang. Tapi dia tidak ingin memanfaatkan ketulusan Zayn. Dia tidak ingin menjadikan cowok yang sudah melindunginya ini sebagai alat pemuas ambisi bisnis ayahnya. Elva memilih diam dan menyimpan rahasia itu rapat-rapat.
Zayn diam sejenak, memperhatikan gerak-gerik Elva yang tampak gelisah. Namun, dia tidak ingin mendesak gadis itu terlalu jauh. Zayn mengangkat tangannya, lalu menepuk pucuk kepala Elva dengan lembut.
"Jangan terlalu stres cuma karena kuis. Kalau lo butuh bantuan, bilang ke gue," ucapnya rendah.
"Iya, Zayn. Terima kasih," jawab Elva dengan kehangatan yang perlahan merayap di hatinya. Momen di koridor itu berakhir saat bel masuk berbunyi, memaksa keduanya untuk berpisah ke kelas masing-masing.
...----------------...
Jam istirahat kedua tiba, membawa keriuhan tersendiri di kantin utama SMA Pelita yang mewah. Elva awalnya berniat bersembunyi di kelas, namun Zayn sudah lebih dulu menghadangnya di depan pintu kelas IPS. Tanpa banyak bicara, cowok itu menarik pergelangan tangan Elva lembut, menuntunnya menembus kerumunan murid menuju meja VIP di pojok kantin.
"Duduk," perintah Zayn singkat setelah menarik sebuah kursi untuk Elva.
Di meja itu, Leo sudah duduk santai sambil memutar-mutar bola basket di jarinya. "Wah, Tuan Muda bawa gandengan lagi. Pagi, Elva! Muka lo kok lemes amat? Belum makan?" sapa Leo ramah.
"Pagi, Leo. Ah... iya, aku belum sempat ke kantin tadi," jawab Elva canggung.
Zayn duduk di sebelah Elva, lalu melambaikan tangan ke arah pelayan kantin. "Pesan soto ayam sama jus jeruk dua. Nggak pakai lama," ucap Zayn mutlak. Begitu makanan datang, Zayn menggeser mangkuk itu tepat di depan Elva.
"Makan. Habisin. Gue nggak suka liat orang di sebelah gue lemes kayak kurang gizi." Elva tersenyum tipis mendengarnya. Di balik kalimatnya yang ketus, perhatian Zayn terasa begitu nyata.
"Terima kasih, Zayn," bisik Elva pelan, mulai menyuap makanannya.
Selama di kantin, Zayn tidak banyak bicara. Dia hanya memperhatikan Elva yang makan dengan lahap, sesekali melempar tatapan mematikan pada murid-murid dari meja lain yang mencoba berbisik-bisik atau menatap Elva dengan sinis. Perlindungan Zayn di kantin siang itu mempertegas posisinya: tidak ada yang boleh mengusik ketenangan Elva selama berada di dekatnya.
Saat bel pulang sekolah berbunyi, rintik hujan mulai membasahi bumi. Elva merapikan bukunya dengan lambat, berharap waktu bisa berjalan mundur. Dia benar-benar enggan untuk pulang ke rumah. Ketika dia melangkah keluar dari gedung kelas, dia mendapati Zayn sudah menunggunya di selasar dekat tangga, bersandar sambil memainkan kunci motornya.
"Gue anter balik," ucap Zayn begitu Elva berdiri di depannya.
Jantung Elva mencelos. Di satu sisi, dia sangat ingin pulang bersama Zayn. Namun di sisi lain, dia ketakutan setengah mati jika ayahnya melihat Zayn mengantarnya. Ayahnya pasti akan langsung mencegat Zayn dan memaksanya masuk ke dalam rumah untuk membicarakan bisnis. Elva tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"N-nggak usah, Zayn. Hari ini aku dijemput sama supir pribadi Papa. Mobilnya sudah menunggu di depan gerbang," tolak Elva sehalus mungkin, meskipun suaranya sedikit bergetar.
Zayn mengernyitkan dahi, menatap Elva dengan tajam. Ada kilat ketidakpercayaan di matanya. "Supir? Sejak kapan lo dijemput?"
"P-Papa lagi senggang hari ini, jadi dia minta supir buat jemput aku. Benaran, Zayn. Kamu pulang duluan saja, ya? Hujannya makin deras, nanti kamu sakit," bujuk Elva, menatap Zayn dengan mata bulatnya yang penuh permohonan.
Zayn menatap Elva cukup lama, mencoba mencari celah kebohongan di wajah gadis itu. Namun, kelembutan di mata Elva akhirnya membuat pertahanan Zayn runtuh. Dia menghela napas panjang, lalu mengacak rambut hitam Elva pelan.
"Ya sudah. Kalau udah sampai rumah, kabari gue. Awas kalau lupa."
"Iya, Zayn. Pasti," jawab Elva dengan senyum lega yang getir. Dia melambaikan tangan saat Zayn akhirnya berjalan menuju area parkir motor gedenya. Elva memandangi punggung tegap yang dibalut jaket kulit hitam itu menjauh, menyadari bahwa setelah ini dia harus menghadapi badai sendirian.
...****************...
Ketegangan yang sesungguhnya baru dimulai saat Elva melangkah masuk ke dalam rumah mewahnya sore itu. Begitu pintu utama terbuka, Elva dikejutkan oleh pemandangan beberapa koper besar bermerek yang tergelatak di ruang tengah. Suasana rumah yang biasanya sunyi kini terdengar ramai oleh suara tawa dari arah ruang keluarga.
Elva berjalan pelan mendekati ruangan tersebut. Di sana, Larasati dan Narendra sedang duduk santai menemani seorang remaja laki-laki yang sedang asyik bercerita tentang pengalamannya di London. Dia adalah Dion Ileana, adik kandung Elva yang selama ini disekolahkan di luar negeri karena menjadi anak emas kesayangan Papa dan Mama.
"Dion?" panggil Elva lirih.
Remaja laki-laki itu menoleh. Begitu melihat Elva, senyum ramah di wajah Dion langsung lenyap, digantikan oleh tatapan dingin dan meremehkan yang sangat mirip dengan Larasati.
"Oh, si anak aneh udah pulang ternyata," sahut Dion ketus, bahkan tidak repot-repot berdiri untuk menyapa kakaknya yang baru pulang.
Narendra langsung berdiri, mengabaikan kehadiran Dion, dan berjalan mendekati Elva dengan mata yang berbinar penuh tuntutan bisnis. "Bagaimana, Elva? Kamu sudah memberikan kartu undangan itu kepada Zayn Dominic? Kapan dia bersedia datang ke rumah kita?" tanya Narendra tanpa membuang waktu.
Elva mematung di tempatnya berdiri. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Dia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hatinya yang gemetar.
"P-Pa... maaf. Aku tidak memberikan undangan itu kepada Zayn."
Suasana ruang keluarga seketika hening senyap. Senyuman di wajah Narendra lenyap dalam sekejap, digantikan oleh guratan amarah yang luar biasa pekat.
"Apa kamu bilang?!" bentak Narendra, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat Elva tersentak mundur. "Kamu berani menolak perintah Papa?!"
"Aku nggak mau memanfaatkan kebaikan Zayn demi bisnis Papa!" teriak Elva, air matanya akhirnya pecah karena sudah tidak sanggup menahan tekanan ini lagi.
"Zayn tulus melindungi aku di sekolah! Aku nggak mau jadi anak yang tidak tahu diri dengan memanfaatkan dia!"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Elva dari tangan Larasati yang tiba-tiba sudah maju ke depannya. Tamparan itu begitu kuat hingga membuat Elva terhuyung dan jatuh terduduk di lantai marmer yang dingin. Pipi kirinya terasa panas dan langsung memerah.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" maki Larasati dengan napas memburu.
"Dion disekolahkan jauh-jauh ke luar negeri demi masa depan keluarga, dan kamu diminta melakukan hal sekecil ini saja membangkang! Kamu memang anak pembawa sial!"
Dion yang melihat kakak perempuannya ditampar di depan matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa kasihan. Dia justru mendengus meremehkan sambil kembali memainkan ponselnya.
"Manja banget. Baru digituin aja udah nangis. Bikin malu nama keluarga aja di sekolah," cibir Dion kejam.
Narendra menatap Elva yang bersimbah air mata di lantai dengan pandangan yang sangat dingin tanpa belas kasihan. "Karena kamu sudah berani membangkang dan mempermalukan Papa, kamu harus menerima hukumannya. Pengawal! Bawa Elva ke gudang bawah tanah sekarang juga!"
"Nggak, Pa! Tolong... di sana gelap! Elva takut, Pa!" jerit Elva histeris saat dua pengawal berbadan besar menarik paksa lengan kecilnya. Elva berlutut, mencoba menggapai kaki ayahnya, namun Narendra justru membuang muka dengan muak. Sejak kecil, gudang bawah tanah yang gelap dan dingin adalah trauma terbesarnya karena dia sering dikurung di sana setiap kali Nadine membuat kesalahan dan melimpahkannya pada Elva.
Elva diseret paksa menyusuri koridor belakang, menuruni anak tangga yang dingin, hingga akhirnya tubuh kecilnya didorong masuk ke dalam gudang bawah tanah yang gelap gulita. Pintunya dikunci rapat dari luar, menyisakan Elva yang menangis ketakutan di dalam kegelapan total sendirian.
...****************...
Keesokan paginya, suasana di SMA Pelita berjalan seperti biasa, namun tidak bagi Zayn Dominic. Cowok itu sudah berdiri di dekat loker kelas IPS sejak tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket kulit hitamnya, sementara matanya terus mengawasi setiap murid yang berjalan melewati koridor.
Hingga bel tanda masuk berbunyi nyaring, siluet gadis berambut hitam panjang yang selalu berjalan menunduk itu sama sekali tidak kelihatan. Kelas IPS tempat Elva belajar sudah memulai pelajaran pertama mereka, dan kursi di pojok belakang kelas itu tampak kosong melompong.
"Zayn, lo ngapain masih berdiri di sini? Udah bel, woi," tegur Leo yang baru saja lewat sambil membawa buku tugasnya.
Zayn tidak menyahut. Rahangnya mengeras, dan tatapan matanya menjadi jauh lebih dingin dan tajam dari biasanya. Perasaan gelisah yang aneh mendadak berdesir hebat di dalam dadanya. Elva bukan tipe siswi yang suka membolos tanpa alasan jelas. Mengingat wajah pucat dan kebohongan kecil gadis itu kemarin siang saat menolak diantar pulang, insting Zayn langsung berteriak bahwa ada sesuatu yang sangat salah sedang terjadi.
"Leo," panggil Zayn, suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya hingga membuat Leo merinding.
"K-kenapa, Zayn?"
"Cari tahu kenapa Elva nggak masuk hari ini. Sekarang juga."
Zayn membalikkan badannya, melangkah pergi meninggalkan koridor dengan aura jika ada orang yang berani menyentuh miliknya, bersiap untuk mencari tahu ke mana perginya gadis yang kini berada di bawah perlindungan mutlaknya.