Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Pertemuan Kedua
Ben Arganza adalah definisi dari efisiensi yang berjalan. Sebagai tangan kanan Tuan Frederick, hidupnya adalah deretan jadwal ketat, data presisi, dan nol toleransi terhadap kesalahan. Ia adalah mesin—dingin, tak tersentuh, dan terorganisir dengan sempurna.
Lala, di sisi lain, adalah definisi dari malapetaka yang berjalan. Desainer interior ceroboh yang hidupnya penuh dengan noda kopi, tenggat waktu yang terlewati, dan tagihan kontrakan yang mencekik leher.
Pertemuan mereka seharusnya hanyalah kecelakaan kerja yang berakhir dengan pengusiran. Namun, satu proyek mustahil dengan deadline 48 jam memaksa mereka terikat dalam ruang yang sama. Ben yang perfeksionis harus berhadapan dengan Lala yang hidupnya berantakan, sementara Lala harus berusaha menaklukkan hati pria yang disebut sebagai "robot tanpa perasaan."
Di balik pintu ruang kerja yang tertutup dan apartemen mewah yang kedap suara, tembok pertahanan Ben mulai retak. Ia segera menyadari bahwa tidak semua hal dalam hidup bisa diatur oleh spreadsheet dan logika.
Ternyata, taklukkan seorang asisten yang dingin jauh lebih sulit—dan jauh lebih panas—daripada sekadar menyelesaikan sebuah desain.
Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Ben Arganza
***
"Anda tahu saya sedang tak ingin diganggu," ucap Ben seraya mengalihkan tatapannya ke arah tablet ditangannya dari penampakan gadis asing di hadapannya.
"Maaf tuan. Tapi saya sedang butuh pekerjaan. Resume saya ditolak mentah-mentah di bagian HRD Frederick grup, dan hanya anda yang bisa menolong saya," ucap gadis itu dengan wajah serius.
"Saya? Anda tahu siapa saya?"
"Tentu saja. Anda adalah tangan kanan tuan Frederick, anda adalah bayangannya."
"Lalu?"
"Berikan saya pekerjaan, apa saja, yang penting saya bisa membayar kontrakan saya yang sudah jatuh tempo."
Ben meletakkan tabletnya di atas meja marmer dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Suara ketukan benda tipis itu memecah keheningan ruang kerjanya yang bernuansa monokrom. Ia memiringkan kepalanya sedikit, mengamati gadis di hadapannya dari balik bingkai kacamatanya.
Ben tidak melihat sosok pelamar kerja yang biasa. Biasanya, para pelamar akan gemetar, menggunakan parfum yang menyengat, atau mencoba menjual keahlian mereka dengan bahasa yang dipoles demi menarik perhatian HRD.
Gadis ini? Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin luar, dan ada noda samar—mungkin tinta atau kopi—di lengan kemejanya.
Namun, cara gadis itu menatapnya tidak menunjukkan rasa takut. Ada sesuatu yang familiar dalam ketegasannya, sebuah percikan di balik matanya yang membuat memori Ben bekerja ekstra cepat, menyisir arsip wajah-wajah yang pernah ia temui di masa lalu.
"Blak-blakan sekali," ucap Ben akhirnya, suaranya datar namun menusuk. Ia bangkit dari kursi kerjanya, berjalan pelan mengelilingi meja, langkahnya tanpa suara, layaknya predator yang sedang mengukur mangsanya.
"Di dunia yang saya jalani, kejujuran seperti itu adalah komoditas yang sangat mahal. Anda tidak mencoba menjual potensi diri Anda, Anda hanya menjual keputusasaan."
Ben berhenti tepat di depan gadis itu, memaksanya menengadah.
"HRD menolak Anda karena mereka bekerja berdasarkan sistem dan prosedur. Saya adalah sistem itu sendiri. Jika mereka menolak Anda, berarti profil Anda cacat."
Ia terdiam sejenak, matanya menyipit, mencoba menangkap detail kecil di wajah gadis itu—sudut matanya, cara ia mengatupkan bibir saat menahan gugup.
Di mana? Ben merasa pernah melihat ekspresi ini sebelumnya. Apakah di sebuah seminar? Atau mungkin dalam sebuah berkas kasus yang pernah ia urus bertahun-tahun lalu?
"Katakan satu hal," lanjut Ben, nada suaranya sedikit merendah, menekan.
"Kenapa saya harus mempertaruhkan reputasi saya dan kenyamanan Tuan Frederick hanya karena Anda tidak bisa membayar kontrakan? Apa yang membuat Anda merasa Anda layak mendapatkan posisi di balik bayang-bayang saya?"
Tanpa berpikir panjang, Lala, sang desainer interior langsung menjawab dengan wajah meringis.
"Karena anda orang baik meskipun kata orang anda itu robot kejam dan tak punya perasaan."
Ben terdiam sejenak. Jika saja ruangan itu tidak kedap suara, mungkin staf di koridor luar akan mendengar dentuman jantungnya yang sedikit melambat, lalu berpacu karena terkejut.
"Robot kejam dan tak punya perasaan." Itu adalah deskripsi yang paling sering ia dengar tentang dirinya—kalimat yang biasanya diucapkan oleh bawahan yang takut atau rival yang benci.
Namun, cara gadis ini mengatakannya... tidak ada rasa takut atau kebencian. Hanya ada nada jujur yang menyebalkan.
Ben memutar bola matanya sedikit, gestur yang sangat tidak profesional, lalu kembali menatap gadis itu dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Robot? Saya rasa HRD tidak memasukkan parameter 'kemanusiaan' dalam penilaian kinerja saya. Dan sejujurnya, saya lebih suka dianggap robot. Itu lebih efisien daripada harus berurusan dengan emosi yang berantakan seperti Anda."
Ia kembali berjalan ke arah mejanya, namun kali ini ia tidak duduk. Ia bersandar di pinggiran meja, melipat tangan di depan dada. Ia kembali teringat sesuatu. Lala. Nama itu samar-samar muncul di ingatannya.
Apakah ini gadis yang pernah tak sengaja menabraknya di lobi tahun lalu, yang menjatuhkan sketsa desain interior yang berantakan tapi sangat brilian?
"Nama Anda Lala, bukan?" tanya Ben tiba-tiba, suaranya kini lebih rendah, tidak lagi mencoba untuk menakut-nakuti, melainkan menyelidiki.
Ia menarik sebuah berkas kosong dari tumpukan di meja, lalu meraih pulpen mahalnya. "Jika saya memberi Anda pekerjaan, itu bukan karena saya 'orang baik'. Itu adalah bentuk investasi. Saya benci melihat potensi yang terbuang sia-sia hanya karena sistem HRD yang terlalu kaku."
Ben menatap tajam ke arah Lala, seolah sedang membedah apakah gadis ini akan menjadi aset atau justru liabilitas terbesar dalam hidupnya yang tertata rapi.
"Saya punya banyak proyek interior yang terbengkalai karena tim yang ada saat ini terlalu takut untuk berinovasi dan lebih suka bermain aman. Anda bilang Anda butuh uang untuk kontrakan?" Ben menuliskan sesuatu di kertas itu dengan gerakan cepat dan tegas.
"Buktikan bahwa Anda desainer yang lebih baik daripada kemampuan Anda dalam merayu atasan dengan pujian kosong. Jika Anda bisa menyelesaikan deadline saya dalam 48 jam tanpa membuat satu pun kekacauan kecil... kita bisa bicara soal gaji."
Ia menyodorkan kertas itu ke arah Lala.
"Sekarang, keluar. Sebelum saya berubah pikiran dan memanggil keamanan untuk mengantar Anda keluar karena sudah membuang 5 menit waktu produktif saya."
"Okey! 48 jam!" ucap Lala dan langsung keluar dari ruangan kerja Ben, namun sayangnya langsung terjungkal karena ceroboh.
"Awwww!"
Bunyi benturan keras terdengar saat tubuh Lala menghantam lantai koridor, diikuti dengan suara seruan tertahan yang memecah ketenangan lantai eksekutif yang biasanya sunyi seperti kuburan.
Ben, yang baru saja hendak kembali meraih tabletnya untuk mengecek jadwal rapat, tertegun sejenak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, menghela napas panjang hingga bahunya turun.
Sudah dimulai.
Tanpa perlu beranjak dari posisinya, Ben sudah bisa membayangkan pemandangannya: Lala yang terjerembab dengan posisi kaki yang tidak estetik, mungkin tasnya sudah tumpah ke mana-mana, dan kertas-kertas rancangannya berserakan seperti konfeti di atas karpet mahal perusahaan.
"Aww!" suara itu kembali terdengar, kali ini diikuti suara gaduh seseorang yang mencoba berdiri namun terpeleset lagi.
Ben berjalan keluar dari ruang kerjanya dengan langkah tegap, raut wajahnya kembali sedingin es.
Ia mendapati Lala sedang berjuang mengumpulkan berkas-berkasnya yang berhamburan, wajahnya meringis menahan sakit di lututnya. Beberapa staf yang lewat hanya bisa melongo, tidak tahu harus membantu atau justru menjauh dari "gangguan" yang baru saja diterima sang tangan kanan Tuan Frederick.
Ben berhenti tepat di depan Lala, berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada. Ia tidak berniat mengulurkan tangan untuk membantu gadis itu bangun. Ia hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan yang amat tajam.
"Baru saja 10 detik sejak Anda keluar dari ruangan saya, dan Anda sudah melakukan dua kali kegagalan teknis dalam mobilitas dasar," ucap Ben dingin. Ia menunduk, memperhatikan kertas-kertas Lala yang kini terkena noda hitam dari sol sepatunya sendiri.
"Jika dalam 48 jam ke depan Anda tidak bisa berjalan di koridor tanpa mencium lantai, bagaimana Anda bisa menangani desain interior penthouse Tuan Frederick yang penuh dengan barang pecah belah senilai miliaran?"
Ben mendengus, lalu menunjuk ke arah pintu lift dengan dagunya.
"Pergi. Dan tolong, untuk kebaikan reputasi saya, jangan sampai Anda terjatuh lagi di lobi. Saya tidak ingin berita utama di perusahaan hari ini adalah tentang 'seorang desainer yang pingsan karena menabrak pintu kaca'."
Ia berbalik meninggalkan Lala, namun sebelum benar-benar masuk kembali ke ruangannya, ia menambahkan dengan suara yang masih cukup keras untuk didengar Lala,
"Dan pastikan 48 jam itu dihitung dari sekarang. Jika ada satu saja perabot yang Anda hancurkan, kontrakan Anda bukan lagi masalah saya—karena Anda tidak akan punya tempat untuk kembali."
Ceroboh, batin Ben sambil menutup pintu ruangannya.
Tapi, kenapa bibirnya hampir membentuk lengkungan kecil yang tidak disadarinya?
"Grrrrr!"
Lala meremas udara saking kesalnya. Jangan ditanya bagaimana warna wajahnya saat ini. Sifat cerobohnya memang benar-benar akut dan tak bisa diselamatkan lagi.
"48 jam! Semoga berjalan dengan baik," batinnya, "...atau aku akan tidur di halte bus."
Lala berdiri, menyikat debu tipis dari celananya—meskipun ia tahu itu sia-sia karena noda kopi dari insiden sebelumnya masih membekas—lalu menghentakkan kaki dengan penuh drama.
"Robot kejam! Awas saja kau, Tuan Ben Arganza!" bisiknya penuh dendam, memastikan suaranya hanya bisa didengar oleh tanaman hias di lorong.
Ia mengumpulkan berkasnya yang berserakan dengan gerakan cepat, meski sempat hampir menjatuhkan lagi pulpennya sendiri. Dengan napas terengah-engah dan wajah yang masih memerah padam, ia berjalan menuju lift. Kali ini, ia berjalan dengan langkah yang ia buat-buat sangat hati-hati, seperti seorang narapidana yang berjalan di atas ranjau darat.
Satu langkah, dua langkah... oke, Lala, jangan oleng. Fokus!
Sementara itu, di balik pintu kayu mahoni ruangannya, Ben berdiri mematung di dekat jendela besar yang menghadap ke gemerlap lampu kota Jakarta. Ia menatap pantulan dirinya di kaca.
"48 jam," gumamnya pelan.
Ben tahu betul apa yang ia lakukan. Proyek yang ia berikan pada Lala bukanlah proyek sembarangan. Itu adalah draft desain ulang lounge pribadi Tuan Frederick yang sudah gagal diselesaikan oleh tiga konsultan desain ternama dalam kurun waktu satu bulan. Jika Lala bisa menyelesaikannya—atau setidaknya memberikan ide yang masuk akal—maka ia adalah aset.
Namun, Ben juga tahu, deadline itu adalah jebakan maut bagi orang ceroboh.
Ia kembali duduk di kursi kerjanya, meraih tabletnya, dan membuka kamera CCTV koridor.
Di layar, ia melihat sosok Lala yang kini sudah berada di dalam lift, sedang sibuk membetulkan letak tasnya yang miring, lalu tanpa sengaja menabrak dinding lift hingga ia terpental sedikit.
Ben tertegun. Ia mematikan monitor CCTV dengan sekali tekan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan helaan napas panjang yang terdengar frustrasi.
"48 jam," ulang Ben, kali ini dengan nada yang lebih mirip gumaman tidak percaya pada dirinya sendiri. "Semoga kau tidak membakar gedung ini sebelum waktunya, Lala."
Ben meraih telepon interkom di mejanya.
"Gilang, batalkan semua pertemuan non-esensial untuk dua hari ke depan. Saya perlu fokus memantau... perkembangan proyek baru."
Ia ingin memastikan bahwa jika gadis itu gagal, ia tahu persis di mana letak kerusakannya. Hanya itu alasannya, pikir Ben meyakinkan dirinya sendiri. Bukan karena ia penasaran apakah gadis ceroboh itu bisa bertahan tanpa harus tidur di halte bus.
***
Like dan komen dong 😁 plis😍
jadi nikmati aja alurnya