NovelToon NovelToon
Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Gaji Untuk Suami Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Saat Setya membuang Arumi demi wanita muda yang lebih cantik, ia lupa bahwa rezekinya tertitip pada doa sang istri sah. Kini, setelah jatuh miskin dan dipecat, Setya terpaksa kembali bersimpuh hanya untuk mengemis pekerjaan di gudang milik Arumi—wanita yang kini menjadi bosnya sendiri."

Selamat membaca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma yang Berkhianat

​Dinding ruang tamu yang catnya mulai mengelupas itu seolah ikut membisu, menyaksikan Arumi yang masih terjaga di pukul dua dini hari. Di pangkuannya, si bungsu yang baru berusia dua tahun mendengkur halus, tidak terusik oleh suara jarum jam dinding yang berdetak nyaring—seperti detak jantung Arumi yang sedang dipenuhi kecemasan tak kasat mata. Cahaya lampu neon yang mulai berkedip-kedip menambah kesan suram di ruangan sempit itu.

​Arumi mengusap peluh di dahinya dengan punggung tangan yang kasar. Tangannya tidak halus, tidak juga lentur. Jari-jarinya menyimpan bekas luka kecil akibat pisau dapur dan kapalan tipis karena terlalu sering mencuci pakaian secara manual serta mengulek bumbu dagangan. Arumi sadar, ia bukan wanita yang akan membuat pria menoleh dua kali di jalanan. Wajahnya biasa saja, kulitnya kusam karena kurang tidur, dan tubuhnya tidak lagi kencang setelah melahirkan tiga anak yang ia besarkan dengan segala keterbatasan.

​Tapi, ia selalu percaya bahwa bakti dan kesetiaannya adalah alasan kenapa Setya, suaminya, tetap pulang kepadanya. Baginya, pernikahan adalah ibadah panjang di mana rupa fisik akan luntur ditelan waktu, dan pengabdian akan kekal. Sayangnya, pemikiran itu mulai terasa seperti sebuah lelucon pahit malam ini.

​Suara deru motor di depan rumah memutus lamunan Arumi. Sorot lampu kendaraan itu menembus kaca jendela yang buram, menciptakan bayangan panjang di lantai semen. Itu Setya. Arumi segera meletakkan si bungsu dengan perlahan di atas kasur lipat di ruang tengah, menyelimutinya dengan kain jarik yang sudah tipis, dan bergegas membukakan pintu.

​"Baru pulang, Mas?" sapanya dengan senyum yang dipaksakan tetap manis meski matanya perih karena kantuk dan tangis yang tertahan sejak sore.

​Setya masuk tanpa memandang istrinya. Lelaki itu tampak gagah dengan seragam kerja pelabuhan yang masih melekat di tubuhnya. Wajahnya memang menarik, setidaknya jauh lebih menarik dibanding Arumi yang kini hanya mengenakan daster motif bunga yang warnanya sudah pudar.

Jabatan Setya yang lumayan di pelabuhan telah mengubah gaya hidupnya setahun terakhir; dia mulai wangi, mulai rajin mencukur rapi jenggotnya, dan mulai enggan bersentuhan dengan Arumi yang menurutnya selalu berbau bawang dan minyak goreng.

​"Lembur. Banyak kapal masuk. Jangan banyak tanya, aku capek," jawab Setya pendek. Ia melemparkan tas punggungnya ke sofa kayu dengan kasar, menciptakan debu tipis yang menari-nari di bawah lampu.

​Arumi mendekat, hendak mengambil jaket suaminya untuk digantung atau segera dicuci jika kotor. Sayangnya, saat tangannya meraih kain jaket berbahan tebal itu, hidungnya menangkap sesuatu yang asing. Bau laut, garam, dan solar dari pelabuhan memang ada di sana, samar. Tapi di atas semua itu, ada aroma lain yang mendominasi, menusuk indra penciumannya dengan cara yang menyakitkan.

​Aroma manis. Aroma bunga lili yang lembut, elegan, dan sangat mahal. Aroma yang tidak mungkin berasal dari bau oli di dermaga atau asap knalpot motor. Dan yang pasti, aroma yang tidak pernah dimiliki Arumi yang hanya mampu membeli parfum minimarket lima belas ribuan yang baunya hilang dalam sekali usap keringat.

​"Mas..." suara Arumi tercekat di tenggorokan. Ia meremas kerah jaket itu. "Tumben baunya wangi bunga? Mas mampir ke toko bunga atau habis bertemu seseorang?"

​Langkah Setya yang menuju kamar mandi terhenti seketika. Punggungnya menegang selama beberapa detik, sebuah reaksi refleks yang tidak bisa ia sembunyikan, dengan cepat ia memutar tubuh, menatap Arumi dengan tatapan tajam yang penuh kilat kemarahan untuk menutupi kegugupannya.

​"Apa sih? Kamu ini jadi istri kok makin lama makin curigaan? Namanya juga kerja di tempat umum, mungkin tadi papasan sama orang kaya di kantor atau kena semprot parfum di toko pas mampir beli rokok. Jangan mulai deh, Arumi! Aku ini cari uang buat kamu sama anak-anak, bukan buat diinterogasi kayak narapidana!" bentak Setya.

​Arumi tersentak. Bentakan itu terasa lebih perih daripada sayatan pisau di jarinya pagi tadi. Ia terdiam, menatap punggung Setya yang kembali menjauh dan menghilang di balik pintu kamar mandi. Suara air yang mengucur deras dari kran seolah-olah menjadi musik latar bagi keruntuhan hatinya.

​Arumi kembali melihat jaket di tangannya. Di sana, di bagian kerah sebelah dalam, ada noda samar berwarna merah muda yang mengkilap. Bukan noda darah, melainkan noda yang tertinggal setelah seseorang menyandarkan pipinya dengan mesra di sana. Bekas lipstik.

​Hati Arumi mencelos. Rasanya seperti ada tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya hingga ia sesak napas. Ia berjalan gontai ke arah cermin tua yang permukaannya sudah mulai bintik-bintik hitam di sudut ruangan. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Mata sembab, rambut yang hanya dicepol asal menggunakan karet gelang, dan daster yang sudah tipis di bagian ketiak.

​Ia membandingkan dirinya dengan bayangan wanita yang mungkin memakai parfum lili itu. Wanita yang punya waktu untuk bersolek, wanita yang tangannya halus karena tidak pernah menyentuh sabun cuci piring, wanita yang mungkin jauh lebih muda dan berkelas di mata Setya.

​"Apa kurangku, Mas?" bisiknya pada bayangan di cermin. Ia teringat bagaimana dulu mereka memulai semua dari nol. Saat Setya belum punya apa-apa, Arumi-lah yang menjual kalung emas satu-satunya peninggalan ibunya agar Setya bisa membeli motor untuk mencari kerja. Ia rela makan nasi garam agar anak-anak mereka bisa minum susu formula. Arumi adalah pondasi yang menopang kesuksesan Setya sekarang, tapi sepertinya Setya mulai merasa pondasi itu terlalu kasar dan kotor untuk dipijak.

​Tiba-tiba, ponsel Setya yang tertinggal di dalam tas yang tergeletak di sofa bergetar. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi pesan singkat. Karena ponsel itu tidak menggunakan kata sandi—mungkin Setya terlalu percaya diri bahwa Arumi yang biasa tidak akan berani menyentuh barang pribadinya—pesan itu terbaca jelas.

​[Raya: Makasih buat malam ini ya, Mas. Rasanya nggak mau pisah. Hati-hati di jalan ya, Sayang. Sampai ketemu besok di tempat biasa.]

​Nama itu. Raya. Arumi merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat. Nama itu tidak asing. Raya adalah gadis muda, keponakan dari istri sepupunya Setya. Gadis yang baru lulus kuliah, yang saat lebaran kemarin dipuji-puji oleh keluarga besar karena kecantikannya yang luar biasa dan kulitnya yang putih bersih tanpa noda.

​Saat itu, Arumi ingat betul bagaimana istri sepupu Setya—yang ia anggap sebagai kakak sendiri—begitu membanggakan Raya di depan semua orang, bahkan sempat menyindir Arumi agar sedikit merawat diri supaya Setya tidak malu membawanya ke acara kantor. Ternyata, di balik pujian itu, ada duri yang sedang disiapkan untuk menusuk jantungnya.

​Lutut Arumi terasa lemas. Ia ambruk di atas lantai semen yang dingin, membiarkan jaket Setya jatuh tergeletak di sampingnya. Dunia yang selama ini ia bangun dengan peluh, doa, dan air mata, tiba-tiba terasa runtuh dalam sekejap mata. Selama ini Setya bukan hanya menyimpan rahasia, tapi ia sedang membangun istana baru di atas luka Arumi, didukung oleh orang-orang yang Arumi anggap sebagai keluarga.

​Pengkhianatan ini bukan hanya soal perselingkuhan fisik, tapi soal konspirasi. Bagaimana bisa keluarga sepupunya sendiri membiarkan hal ini terjadi? Bagaimana bisa mereka tega melihat Arumi yang setiap hari membanting tulang membantu ekonomi keluarga, sementara mereka memfasilitasi pengkhianatan suaminya?

​Di dalam kamar mandi, suara gemericik air berhenti. Setya bersiul kecil, seolah-olah ia baru saja membasuh seluruh kotoran di tubuhnya dan merasa suci kembali. Pria itu tidak tahu, atau mungkin tidak peduli, bahwa di ruang tamu, istrinya sedang sekarat tanpa darah.

​Arumi memejamkan mata. Tangannya meraba lantai, mencari tumpuan untuk bangkit. Ia tidak akan menangis meraung-raung malam ini. Ia tidak ingin membangunkan anak-anaknya dan menunjukkan betapa hancur ibunya. Namun, di dalam hati yang paling dalam, sebuah sumpah mulai terbentuk.

​"Ya Allah..." bisiknya dengan suara serak yang tertahan di kerongkongan. "Jika memang kesetiaanku dia balas dengan pengkhianatan ini, maka tunjukkanlah kuasaMU. Aku tidak akan meminta dia kembali, tapi aku meminta keadilan-Mu."

1
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
setya bukannya nyari istrinya malahan dudk didket raya🙄
Risa Istri Cantik
Sarah itu karma buatmu
Risa Istri Cantik
Setya ngemis kerjaan ke mantan istri
𑇛ʜᴇ ʏᴇ ǫɪᴀɴ
astaga semua itu juga karena ngurus anak dan kamu
Risa Istri Cantik
Sumpah serapahnya Arumi jadi nyata
Risa Istri Cantik
Arumi jadi wanita tangguh
Risa Istri Cantik
Arumi pasti perasaannya campur aduk
Risa Istri Cantik
Setya mengkhianati Arumi ya kejam
Risa Istri Cantik
Setya ngga tahu diri deh
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
putus iya karena ga suka kamu kali si dhanu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ibumu udah kecewa berat smaa kamu setya
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
cinta kan ga bisa dipaksa valerie😔
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
anaknya arumi, bukanya anakmu juga
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
ibumu pikir, setya bakalan berubah ternyata malahan nmbah parah😭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
gila, dia bikin ibunya kena serangan jantung demi raya😭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
nah iya bner
kamu anak durhaka🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ternyata beban sesungguhnya adalah raya🤭🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
iya setya itu bodoh buang berlian demi batu krikil 🤭
❀ ⃟⃟ˢᵏ ωᷟυᷴ уᷟυᷴ нαηɢ
iri kan, keluargamu lebih memilih orang lain dibanding anak durhaka kaya kamu
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
lagian kamu ninggalin keluarga demi orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!