NovelToon NovelToon
Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Serenada Putih Abu-Abu: Seteru Dan Rindu Jenawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Di bawah teriknya matahari dan riuhnya masa remaja, dua insan dengan dunia yang bertolak belakang dipertemukan oleh takdir. Jenawa Adraw, seorang pemuda dengan sorot mata tajam dan nyali yang tak pernah padam, adalah sosok sentral dalam persaudaraan keras di sekolahnya. Ia hidup dalam putaran kesetiakawanan, peluh, dan perseteruan abadi antargeng SMA yang tak kunjung usai. Di seberang dunianya, berdirilah Sinaca Tina, seorang gadis dengan tutur kata yang santun, pesona yang anggun, namun memiliki pendirian sekeras karang yang tak gentar oleh gertakan siapa pun.
Kisah ini mengalun layaknya sebuah gita cinta yang syahdu namun dipenuhi riak gelombang. Hubungan Jenawa dan Sinaca tumbuh di antara letupan amarah sisa tawuran dan manisnya janji yang terucap di beranda rumah. Asmara mereka diuji dengan keras—bukan hanya oleh pedasnya cemoohan teman-teman sebaya atau ancaman dari kubu sekolah seberang, melainkan pula oleh ego darah muda yang sering kali memicu pertengkaran hebat di antara merek

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pagi Mendung di SMA Bangsa

Bel masuk belum lagi berdentang, namun pekarangan SMA Bangsa telah riuh oleh kepulan debu dan deru mesin sepeda motor. Pagi itu, langit menyuguhkan rona abu-abu yang menggantung rendah, seolah mewakili raut wajah Jenawa Adraw. Pemuda itu melangkah menyusuri lorong utama sekolah dengan kemeja seragam yang lengannya digulung asal-asalan dan ujung kemeja yang enggan dimasukkan ke dalam celana. Ada sedikit memar di sudut bibirnya—sisa dari pergesekan kecil dengan anak-anak SMA Pelita di ujung jalan simpang tiga kemarin petang.

Di belakang Jenawa, mengekor beberapa kawan karibnya yang selalu siap pasang badan. Mereka tertawa terbahak-bahak, merayakan "kemenangan" kecil mereka seakan-akan lorong sekolah itu adalah daerah kekuasaan mutlak yang tak boleh diusik siapa pun.

"Lain kali, biar aku yang maju lebih dulu, Wa," ujar salah seorang kawannya dengan nada bangga.

Jenawa hanya menyunggingkan senyum tipis, tak terlalu menanggapi. Baginya, pertengkaran itu sekadar rutinitas untuk menjaga kehormatan, bukan sesuatu yang perlu dirayakan berlebihan. Ia menyandarkan punggungnya pada pilar besar di depan ruang perpustakaan, membiarkan kawan-kawannya sibuk berbual. Sorot mata Jenawa yang tajam menyapu sekeliling, mengamati hilir mudik siswa-siswi yang sebagian besar menundukkan pandangan kala melewati kelompoknya.

Hingga tiba-tiba, langkah seorang siswi memecah monotoni pagi itu.

Gadis itu berjalan dengan postur tegak yang menawan. Rambut hitamnya diikat rapi, menyisakan beberapa helai yang tertiup angin lamat-lamat. Ia memeluk dua buah buku tebal di depan dadanya. Tidak ada keraguan dalam setiap tapak sepatunya, dan yang paling mengejutkan Jenawa, gadis itu tidak menundukkan kepalanya saat berjalan mendekati kerumunan mereka.

Gadis itu adalah Sinaca Tina.

Karena pilar tempat Jenawa bersandar dan kawan-kawannya yang berkerumun memakan hampir separuh badan lorong, ruang untuk melintas menjadi amat sempit. Alih-alih memutar arah mencari jalan lain seperti yang biasa dilakukan siswi lainnya, Sinaca menghentikan langkahnya tepat di hadapan Jenawa.

Suasana lorong yang semula bising mendadak senyap. Kawan-kawan Jenawa saling melempar pandang, heran melihat ada seorang siswi yang berani menginterupsi wilayah mereka.

"Permisi," ucap Sinaca. Suaranya tidak keras, namun artikulasinya sangat jelas dan tegas. "Bolehkah kalian bergeser sedikit? Lorong ini bukan ruang tunggu pribadi."

Seorang kawan Jenawa maju selangkah, hendak memberikan gertakan bernada candaan, namun Jenawa mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar mereka diam. Pemuda itu menegakkan tubuhnya, melangkah pelan mendekati Sinaca. Ia menatap lekat-lekat netra kecokelatan milik gadis itu. Di sana, Jenawa tidak menemukan setitik pun ketakutan; yang ada hanyalah ketegasan yang dibalut oleh kesantunan.

"Siapa namamu?" tanya Jenawa, suaranya berat dan bernada menantang.

"Sinaca," jawabnya tanpa gentar. "Dan saya rasa, nama saya tidak ada sangkut pautnya dengan hak saya untuk melintasi lorong ini menuju kelas."

Jenawa tertegun sejenak. Kalimat yang runtut dan baku itu meluncur begitu saja dari bibir Sinaca, memberikan kesan bahwa gadis di hadapannya ini bukanlah gadis sembarangan yang mudah diintimidasi. Sebuah senyum perlahan mengembang di wajah Jenawa, kali ini bukan senyum sinis yang biasa ia perlihatkan kepada musuh-musuhnya.

"Baiklah, Sinaca," ucap Jenawa sembari melangkah mundur, memberikan jalan seluas-luasnya. Ia sedikit membungkukkan badan dengan gaya teatrikal yang mengundang decak heran dari teman-temannya. "Silakan lewat. Maaf jika kami menghalangi jalanmu."

Sinaca tidak membalas senyum itu. Ia hanya mengangguk sopan sekadarnya, lalu melanjutkan langkahnya dengan tenang membelah kerumunan, meninggalkan aroma wangi bunga melati yang samar-samar tertinggal di udara.

Jenawa terus memandangi punggung gadis itu hingga berbelok di ujung tangga. Ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Di tengah dunia putih abu-abunya yang selalu diwarnai oleh kepalan tangan dan ego jalanan, kemunculan Sinaca Tina barusan ibarat sebuah serenada yang asing, namun mengalun begitu merdu di telinganya.

Pagi yang mendung itu seketika terasa berbeda. Dan di sudut lorong tersebut, Jenawa tahu, perseteruannya kini bukan lagi sekadar dengan anak-anak dari SMA seberang, melainkan dengan hatinya sendiri yang mulai terusik oleh ketegasan seorang Sinaca.

1
Purnamanisa
badboy nih... seru keknya 😁😁
Nita
pertama...
semangat Thor nulisnya...💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!