Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Langkah itu semakin dekat.
Satu.
Dua.
Tiga—
Ia menoleh. Dan saat itulah semuanya seperti berhenti. Seorang pria dan beberapa pengawal di belakang masuk dengan langkah tenang. Wajahnya tegas, pembawaannya rapi, sorot matanya tajam tapi tidak dingin. Di sampingnya… seorang anak kecil menggenggam tangannya dengan erat.
Deg.
Dunia Adinda seakan menyempit hanya pada satu titik itu, baru saja tadi malam ia mendatangi restoran itu, tapi tidak menemukan jawaban sama sekali.
Tapi di tempat kerjanya. Anak kecil itu, seolah menjadi jawaban dari semua kerisauannya semalam.
"Ya Allah... dia..." Adinda menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan semua ini.
Langkah pria itu belum berhenti saat anak itu tiba-tiba melepas genggamannya. Kepalanya terangkat, matanya langsung menangkap sosok Adinda di antara banyak orang.
Dan tanpa ragu— Ia berlari.
“Mama!”
Suara itu kembali menggema. Jelas. Pasti. Tidak salah.
"Alesia," bisik Adinda.
Beberapa orang di ruangan itu langsung saling pandang. Ada yang terdiam, ada yang mulai berbisik. Suasana yang tadinya formal berubah menjadi canggung dalam hitungan detik.
Tubuh Adinda kaku. Ia tidak bergerak saat anak itu langsung memeluk kakinya erat, tanpa ada yang tahu jika semuanya ini tidak bisa hanya dianggap kebetulan semata.
“Mama…” ulangnya pelan, kali ini suaranya lebih lembut, tapi justru lebih dalam.
Napas Adinda tertahan. Tangannya menggantung di udara beberapa detik sebelum akhirnya turun perlahan, menyentuh kepala anak itu, tanpa sadar matanya menangkap sebuah tahi lalat cukup besar di tengah-tengah belahan rambut yang di kuncir dua.
Adinda tertegun dengan tanda itu. Entah kenapa ia merasa familiar sekali. Bukannya tanda itu sama dengan punya Arya. Ia langsung menutup mulutnya.
Sementara itu, pria yang tadi masuk kini sudah berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya tidak lagi sekadar mengamati. Ada sesuatu yang berubah sejak melihat pemandangan di depannya.
Ia menatap Adinda. Lebih lama dari seharusnya. Lalu, satu kalimat keluar dengan nada tenang—tidak kaget, tidak juga terburu.
“Akhirnya… kita bertemu lagi.”
Jantung Adinda kembali berdetak keras. Ia mengangkat wajahnya, menatap pria itu dengan penuh pertanyaan yang belum sempat ia susun.
“Iya ... Pak," sahut Adinda gugup.
Pria itu tidak langsung menimpali lagi. Ia melangkah mendekat, tapi berhenti dengan jarak yang cukup tidak terlalu dekat. Namun tatapannya jelas.
"Maaf, ya dia selalu begitu jika bertemu dengan mu," ucap pria itu akhirnya.
Adinda mengangkat pandangannya, ada banyak pertanyaan yang tersimpan, tapi tidak sekarang untuk diutarakan. Belum waktunya.
"Tidak masalah, saya tidak keberatan sama sekali," jawab Adinda pelan.
Pria itu terdiam sejenak seperti menimbang ucapannya. “Saya hanya tidak ingin dia terlalu mudah percaya pada orang yang baru dia kenal.”
Kalimat itu sedikit menampar hati Adinda, lalu ia mengangguk pelan, seolah paham dengan ketakutan seorang ayah. "Tenang saja Pak, aku tidak akan ngapa-ngapain."
"Terima kasih atas pengertiannya," ucap pria itu.
Lalu kemudian ia mulai mendekat ke arah Alesia, langkahnya cukup pelan lebih ke hati-hati, terlihat jelas. Ia begitu menjaga dan melindungi.
"Sayang, ayo ikut Papa," ajaknya.
Alesia mengerutkan dahinya seperti tidak mau melepas pelukannya. "Tidak Papa, aku masih ingin sama Mama."
Ucapan anak begitu yakin. Seolah tidak ada keraguan sedikit pun saat mempertahankan posisinya itu.
Adinda menelan ludah. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit… tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia pahami. Ada ruang kosong di dalam dirinya yang selama ini ia abaikan, dan sekarang—ruang itu seperti disentuh perlahan.
Bukan dengan ingatan. Tapi dengan rasa.
Ia menunduk lagi, menatap Alesia lebih lama dari sebelumnya.
"Alesia, Papa mengajakmu," katanya pelan. "Kamu harus mau ya."
Anak kecil itu beringsut sudut bibirnya sedikit ditekuk. "Gak mau, aku maunya sama Mama.
"Aku tahu, nanti kita ketemu lagi, saat ini Mama mau kerja dulu ya," ucapnya pelan.
Alesia terdiam cukup lama tatapannya mulai berpindah pada ayahnya, hingga pada akhirnya anak kecil itu mengangguk pelan.
"Papa tunggu bentar ya."
Pria itu mengangguk cepat, lalu memperhatikan Alesia berbicara dengan wanita itu, terlihat begitu akrab layaknya ibu dan anak.
"Mama, janji ya nanti kita ketemu lagi," ucapnya seolah mengingatkan sesuatu.
"Iya Nak," sahut Adinda sambil menyematkan jari kelingkingnya.
Anak itu kini menyambut genggaman sang ayah, langkah kecilnya perlahan menjauh meninggalkan meja kerja Adinda.
Sementara saat ini Adinda Mencoba fokus dengan pekerjaannya, tapi pikirannya penuh. Ia mencoba mencari tentang keanehan-keanehan yang terjadi.
Jemarinya bergerak membuka halaman, tapi matanya tidak benar-benar membaca. Tulisan-tulisan itu seperti hanya lewat tanpa makna. Pikirannya tertinggal di beberapa menit yang lalu.
Di pelukan kecil itu. Di suara yang memanggilnya tanpa ragu.
Ia menarik napas pelan, mencoba menormalkan detak jantungnya yang belum sepenuhnya tenang. Ini tidak boleh mengganggu pekerjaannya. Tidak boleh membuatnya terlihat berbeda di depan orang-orang.
Tapi semakin ia mencoba fokus… semakin jelas satu hal. Satu kali, mungkin bisa dianggap salah. Dua kali… tidak sesederhana itu.
Tangannya berhenti di atas kertas. Pandangannya kosong beberapa detik sebelum akhirnya ia menutup map di depannya.
Cukup. Ia tidak bisa terus duduk diam dan menunggu semuanya terjawab sendiri.
Hari berjalan lambat setelah itu. Jam dinding seperti bergerak lebih pelan dari biasanya. Setiap suara kecil terasa lebih jelas, setiap langkah orang di sekitar terdengar lebih mengganggu.
Dan tanpa sadar—ia menunggu waktu pulang.
☘️☘️☘️☘️
Sore menjelang, Adinda keluar dari gedung kantor dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Tidak berlari, tapi jelas tidak santai. Tangannya langsung meraih ponsel begitu sampai di parkiran.
Panggilan tersambung dalam hitungan detik.
“Nay, kamu di mana?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Ada di rumah. Kenapa?” jawab Naya cepat.
“Temuin aku. Sekarang.”
Nada suara itu cukup membuat Naya tidak banyak bertanya.
“Baik. Aku tunggu.”
Telepon terputus.
Mobil melaju tanpa ragu, membelah jalanan yang mulai padat. Kali ini Adinda tidak ingin berpikir terlalu jauh. Ia hanya ingin memastikan satu hal.
Dan untuk itu, ia butuh jawaban yang lebih nyata.
Beberapa waktu kemudian, mobil berhenti di depan rumah Naya. Tanpa menunggu lama, wanita itu sudah keluar, wajahnya penuh tanda tanya.
“Kamu kenapa?” tanya Naya begitu masuk ke dalam mobil.
Adinda tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik, seperti menyusun sesuatu di kepalanya.
“Aku mau ke rumah sakit,” ucapnya akhirnya.
Naya mengernyit. “Rumah sakit?”
“Iya.”
“Kamu sakit?”
Adinda menggeleng. “Bukan itu.”
Ia menoleh, menatap Naya dengan serius. “Aku mau ketemu suster yang dulu jaga aku.”
Naya terdiam sejenak. Kali ini ekspresinya berubah.
“Kamu… yakin?” tanyanya hati-hati.
Adinda mengangguk pelan. “Aku butuh tahu.”
Tidak ada penjelasan panjang. Ataupun alasan berbelit. Tapi dari nada suaranya saja Naya sudah paham, ini bukan hal kecil.
Sepanjang perjalanan, Adinda tidak banyak bicara. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya berjalan jauh.
"Sebenarnya apa yang ingin kamu telusuri lagi Din?" tanya Naya hati-hati.
Adinda terdiam tatapannya hanya fokus ke arah depan hingga pada akhirnya ia menoleh sebentar ke arah Naya.
"Aku hanya ingin bertanya, apakah dulu anak yang aku lahirkan, memiliki ciri-ciri tertentu, seperti tanda lahir...."
Ucapan itu menggantung di udara, dan tanpa sadar langkahnya sudah sejauh itu.
Bersambung ...