NovelToon NovelToon
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Jf

BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1Episode 1 — Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Malam itu hujan turun begitu deras, seakan langit sedang meluapkan semua kesedihannya sekaligus. Jalanan kota dipenuhi cahaya lampu kendaraan yang memantul di genangan air. Orang-orang sibuk berlari mencari tempat berteduh, sementara seorang laki-laki bernama Raka hanya duduk diam di halte tua dekat lampu merah.

Kemeja hitam yang ia pakai sudah basah sebagian. Rambutnya berantakan terkena angin malam. Di tangannya ada ponsel dengan layar redup yang hampir mati karena baterai habis. Tatapan matanya kosong, seolah hidup sudah mengambil terlalu banyak hal darinya.

Sudah tiga bulan Raka menganggur.

Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut secara tiba-tiba. Semua pegawai diberhentikan tanpa persiapan. Sejak saat itu hidup Raka perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tabungannya habis.

Motornya mulai rusak.

Tagihan menumpuk.

Dan orang-orang yang dulu mengaku teman perlahan menghilang satu per satu.

Malam itu pesan dari pemilik kontrakan kembali masuk ke ponselnya.

“Mas Raka, maaf saya udah kasih waktu cukup lama. Kalau minggu ini belum bayar juga, terpaksa saya suruh pindah.”

Raka membaca pesan itu berkali-kali sebelum akhirnya tertawa kecil dengan mata yang mulai memerah.

“Lucu ya hidup…” gumamnya lirih.

Ia memasukkan ponselnya ke saku lalu berjalan pelan meninggalkan halte. Hujan masih turun deras membasahi jalanan. Langkahnya terasa berat, sama beratnya dengan isi kepalanya malam itu.

Perutnya kosong sejak siang. Uang di dompetnya bahkan tidak cukup untuk makan enak. Namun rasa lapar bukan lagi hal yang paling menyakitkan baginya.

Yang paling menyakitkan adalah rasa gagal.

Raka selalu berusaha terlihat kuat di depan orang lain. Saat ibunya menelepon dari kampung dan bertanya apakah dirinya baik-baik saja, ia selalu menjawab dengan senyuman palsu.

“Aku baik kok, Bu.”

Padahal kenyataannya, ia hampir menyerah.

Saat melewati sebuah minimarket kecil, langkahnya tiba-tiba terhenti. Seorang perempuan terlihat kesulitan mengangkat kardus air mineral menuju motornya. Tanpa berpikir panjang, Raka langsung menghampiri.

“Sini, biar saya bantu,” katanya pelan.

Perempuan itu menoleh. Wajahnya sederhana, tetapi memiliki tatapan mata yang hangat dan tenang.

“Makasih ya,” ucapnya sambil tersenyum kecil.

Raka mengangkat kardus itu ke motor perempuan tersebut tanpa banyak bicara. Setelah selesai, ia berniat pergi begitu saja. Namun perempuan itu kembali memanggilnya.

“Tunggu.”

Raka menoleh.

“Kamu kehujanan dari tadi?”

“Iya.”

“Kamu nggak apa-apa?”

Pertanyaan sederhana itu membuat Raka sedikit terdiam.

Sudah lama tidak ada orang yang benar-benar menanyakan kabarnya dengan tulus.

Raka tersenyum kecil. “Nggak tahu juga.”

Perempuan itu memandang wajah Raka beberapa detik, seolah bisa melihat rasa lelah yang selama ini ia sembunyikan.

“Kamu kelihatan capek banget,” katanya pelan.

Raka menghela napas panjang.

“Capek hidup mungkin.”

Perempuan itu tertawa kecil, tetapi bukan tawa mengejek. Justru terdengar hangat.

“Hidup emang kadang nyebelin ya?”

Raka mengangguk pelan.

Hujan semakin deras. Suasana minimarket mulai sepi. Perempuan itu membuka jok motornya lalu mengambil payung kecil.

“Kalau nggak keberatan… mau temenin aku ngopi?” tanyanya.

Raka sempat ragu. Ia bahkan tidak mengenal perempuan itu. Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Raka merasa nyaman.

Akhirnya ia mengangguk pelan.

Mereka berjalan menuju warung kopi kecil di pinggir jalan. Tempatnya sederhana, hanya ada kursi plastik dan aroma kopi hitam yang memenuhi udara malam.

“Aku Nayla,” kata perempuan itu sambil mengulurkan tangan.

“Raka.”

Mereka berjabat tangan singkat.

Nayla memesan dua mie instan dan dua teh hangat. Saat makanan datang, Raka langsung menunduk malu karena perutnya berbunyi cukup keras.

Nayla tertawa kecil.

“Tenang aja, aku nggak bakal ngejudge orang lapar.”

Raka ikut tersenyum tipis.

Sudah lama ia tidak tersenyum setulus itu.

Malam terus berjalan. Obrolan mereka mengalir begitu saja. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Raka menceritakan semuanya kepada seseorang.

Tentang pekerjaannya yang hilang.

Tentang tagihan yang menumpuk.

Tentang rasa takut menghadapi hari esok.

Dan tentang dirinya yang mulai kehilangan semangat hidup.

“Aku kadang capek jadi kuat terus,” ucap Raka pelan sambil menatap gelas tehnya.

Nayla terdiam mendengarkan.

“Aku iri sama orang-orang yang hidupnya gampang,” lanjut Raka. “Sedangkan aku tiap hari harus pura-pura baik-baik aja.”

Hening beberapa saat.

Lalu Nayla berkata pelan—

“Semua orang punya luka yang nggak kelihatan, Ka.”

Raka menatapnya.

“Aku juga pernah ada di titik paling hancur dalam hidupku.”

“Terus?”

Nayla tersenyum kecil.

“Aku bertahan karena suatu hari ada orang asing yang bilang kalau hidupku masih berharga.”

Raka terdiam.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi entah kenapa menenangkan.

Nayla menatap hujan di luar jendela warung.

“Kamu tahu nggak?” katanya pelan. “Kadang Tuhan ngirim seseorang di waktu yang paling nggak kita duga.”

“Maksudnya?”

“Mungkin supaya kita nggak jadi nyerah.”

Jantung Raka terasa hangat mendengar itu.

Sudah lama tidak ada yang berbicara sebaik itu kepadanya.

Mereka menghabiskan hampir dua jam di warung kecil tersebut. Hujan mulai reda. Jalanan kota perlahan sepi.

Sebelum pulang, Nayla mengambil secarik kertas kecil dari tasnya lalu memberikannya kepada Raka.

“Itu nomor aku.”

Raka menerimanya perlahan.

“Buat apa?”

“Kalau suatu hari kamu ngerasa sendirian… cerita aja.”

Raka menatap perempuan itu cukup lama.

“Kenapa kamu baik sama aku?”

Nayla tersenyum tipis.

“Karena aku tahu rasanya hampir menyerah.”

Kalimat itu membuat dada Raka terasa sesak, tetapi hangat di saat bersamaan.

Nayla memakai helmnya lalu menyalakan motor. Namun sebelum pergi, ia sempat berkata—

“Jangan nyerah ya, Raka. Dunia belum selesai sama kamu.”

Motor itu perlahan menjauh meninggalkan jalanan yang masih basah oleh hujan malam.

Raka berdiri diam sambil menggenggam kertas kecil di tangannya.

Masalah hidupnya memang belum selesai.

Ia masih belum punya pekerjaan.

Masih belum tahu bagaimana membayar kontrakan.

Dan masih takut menghadapi hari esok.

Namun malam itu ada satu hal yang berubah.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Raka merasa dirinya tidak sendirian lagi.

Ia menatap langit malam yang mulai berhenti menangis, lalu tersenyum kecil.

“Mungkin… aku masih bisa bertahan.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!