Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Seharusnya Aku Kesana
Aku tidak seharusnya melihat itu. Tapi malam itu, aku melihat CEO-ku, membunuh seseorang. Dan yang lebih buruk, dia melihatku balik.
Kantor sudah hampir kosong ketika Aurora Flora Valerie masih duduk di mejanya.
Lampu di beberapa bagian lantai sudah dimatikan, menyisakan cahaya redup yang membuat bayangan tampak lebih panjang dari biasanya. Jam di dinding menunjukkan hampir pukul sembilan malam, tapi tumpukan berkas di hadapannya belum juga berkurang.
Aurora mendesah pelan sambil menjatuhkan pulpen ke meja, “Pak Zayn itu anggap aku manusia atau robot sih? Bisa-bisanya disuruh lembur lagi.”
Lembur bukan hal baru baginya. Sebagai sekretaris CEO, ritme kerja seperti ini sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Namun entah kenapa, malam ini terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih menekan.
Aurora mengangkat kepalanya, menatap sekeliling. Deretan meja kosong, kursi yang ditinggalkan begitu saja, dan lorong panjang yang mengarah ke bagian belakang kantor terlihat terlalu sepi. Seolah-olah gedung ini sedang menahan sesuatu.
Aurora menggeleng pelan, mencoba mengusir pikiran aneh itu. Tangannya kembali bergerak, merapikan dokumen yang harus ia serahkan besok pagi.
Brak.
Suara itu terdengar samar.
Aurora berhenti. Alisnya mengerut, “Suara apa tuh?”
Aurora menunggu, berharap itu hanya suara biasa, mungkin sesuatu jatuh, atau petugas kebersihan yang masih bekerja.
Tapi tidak ada suara lanjutan. Kantor terasa sunyi kembali.
Aurora menelan ludah, mencoba fokus. Namun beberapa detik kemudian Suara itu muncul lagi.
Suaranya terdengar lebih pelan. Seperti sesuatu yang digeser. Kali ini, Aurora yakin suara itu bukan imajinasinya.
Aurora menoleh ke arah lorong belakang. Area itu biasanya jarang digunakan di malam hari, kecuali untuk penyimpanan atau gudang arsip lama.
“Masih ada orang? Atau cuma kucing?” gumam Aurora pelan.
Aurora berdiri, ragu sejenak. Logikanya berkata untuk mengabaikan saja. Tapi rasa penasaran selalu menang.
“Aku cek bentar nggak papa kali ya? Aku cuma mau pastiin doang kok” ucap Aurora pelan.
Aurora melangkah pelan keluar dari ruangannya. Langkah kakinya terdengar lebih keras dari biasanya di lantai yang sepi.
Tok. Tok. Tok.
Setiap langkah terasa menggema.
Lorong menuju gudang tampak lebih gelap. Hanya satu lampu yang menyala, berkedip pelan seperti hampir mati.
Aurora berhenti sejenak, “Cuma cek sebentar” bisiknya pada diri sendiri.
Aurora kembali melangkah. Semakin ia mendekat, udara terasa lebih dingin. Dan ada sesuatu yang lain. Bau Logam.
Bau logam tercium tipis, tapi cukup untuk membuat perut Aurora terasa tidak nyaman.
Aurora berhenti di depan pintu gudang. Pintu itu tidak tertutup rapat. Sedikit terbuka. Dari celahnya, cahaya redup keluar. Dan suara samar terdengar.
Aurora menahan napas. Seharusnya ia pergi. Seharusnya ia berbalik dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Tapi tangannya bergerak sendiri. Perlahan ia mendorong pintu itu sedikit lebih terbuka.
Dan di detik berikutnya dunia Aurora berhenti. Di dalam ruangan itu, seorang pria berdiri dengan tenang. Jas hitamnya masih rapi. Tidak ada lipatan yang salah, tidak ada tanda-tanda kekacauan.
Berbanding terbalik dengan pria yang berlutut di depannya. Terikat. Berdarah.
Aurora membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Ia ingin menutup pintu. Ingin pergi. Tapi kakinya tidak bergerak, “Itu kan...” batinnya.
Pria itu berdiri tegak dengan aura dingin mengangkat tangannya perlahan. Gerakannya tenang.
Dan saat itulah Aurora melihat wajahnya dengan jelas.
Zayn Mavendra. CEO tempatnya bekerja.
Jantung Aurora berhenti sesaat, “Nggak, ini nggak masuk akal. Nggak mungkin” batinnya.
Suara benturan keras terdengar ketika tubuh pria yang berlutut itu terhempas ke samping. Aurora tersentak kecil, refleks mundur setengah langkah.
Namun itu justru menjadi kesalahan. Suara langkah kecilnya terdengar. Dan dalam satu detik Zayn berhenti. Perlahan kepalanya menoleh. Tatapan mereka bertemu.
Aurora tidak pernah tahu bahwa tatapan seseorang bisa terasa seperti itu. Dingin, tajam, dan mematikan. Seolah-olah ia baru saja dilihat bukan sebagai manusia. Tapi sebagai sesuatu yang harus diputuskan nasibnya.
Aurora ingin bicara, menjelaskan, dan meminta maaf, tapi tidak ada kata yang keluar.
Zayn menatapnya tanpa ekspresi selama beberapa detik. Kemudian ia melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Aurora mundur secara refleks, tapi punggungnya sudah menyentuh pintu. Tidak ada jalan keluar.
Pria itu kini berdiri tepat di depannya. Terlalu dekat bagi Aurora.
Aurora bisa mencium aroma parfum mahalnya, aromanya yang biasa terasa menenangkan, tapi entah kenapa malam ini aromanya terasa menenangkan sekaligus menakutkan.
Tangan Aurora gemetar. Ia menunduk sedikit, tidak berani menatap langsung.
“Aurora” panggil Zayn dingin.
Namun suara Zayn membuat Aurora kembali menatap Zayn.
Aurora menelan ludah, “I-ya, Pak…”
Zayn tidak langsung menjawab. Ia hanya menatapnya. Seolah sedang membaca sesuatu. Menimbang. Mmenentukan.
Detik-detik itu terasa seperti satu jam yang mencekam bagi Aurora.
Aurora bisa merasakan jantungnya berdetak begitu keras. Ia tahu, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.
Dan orang seperti Zayn tidak akan membiarkan saksi hidup.
Namun, alih-alih marah, alih-alih panik, Zayn justru terlihat tenang. Terlalu tenang, dan itu jauh lebih menakutkan.
Matanya turun sebentar, memperhatikan wajah Aurora dengan detail. Seolah menghafal. Seolah menyimpan.
Lalu, sangat pelan Zayn berbicara lagi, “Flora.”
Aurora mengerutkan kening. Kebingungan mengalahkan rasa takutnya sesaat, “Itu bukan-”
“Sekarang iya” sela Zayn.
Suasana kembali sunyi. Tidak ada penjelasan. Tidak ada nada bercanda. Hanya pernyataan dingin. Mutlak. Seolah keputusan itu sudah final.
Aurora menatapnya, tidak mengerti. Tapi sesuatu di dalam dirinya berkata ini bukan sekadar nama, ini tanda.
Dan entah kenapa Aurora masih merasa dirinya dalam bahaya. Ia merasa ini lebih berbahaya dari apa pun yang baru saja ia lihat di ruangan ini.
Zayn menatapnya satu detik lebih lama. Lalu berbalik. Seolah Aurora bukan ancaman. Seolah hidup atau matinya tidak lagi penting. Atau mungkin sudah diputuskan.
Aurora tetap berdiri di sana. Kaku, idak bergerak, tidak bernapas dengan benar. Dan satu pikiran terus berputar di kepalanya, ia seharusnya tidak masuk ke ruangan itu.
Karena sejak malam itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.