NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GERBANG PENANTIAN DI LEMBAH SUNYI

Lembah Sunyi bukanlah tempat yang tercatat dalam peta resmi tujuh sekte besar di daratan Zhonghua. Tempat ini adalah sebuah anomali—celah antara dunia fana dan keabadian yang tersembunyi di balik kabut abadi Pegunungan Kunlun yang paling dalam. Di sini, matahari tidak pernah benar-benar terbit; cahaya hanya muncul sebagai pendaran abu-abu yang suram, seolah-olah langit sendiri enggan menatap apa yang terkubur di bawah permukaannya.

Tanahnya hitam, pekat oleh darah para kultivator dari ribuan tahun yang lalu yang menguap menjadi energi Yin yang mematikan. Siapa pun yang nekat melangkah masuk tanpa perlindungan tenaga dalam yang mumpuni, akan mendapati aliran Qi mereka membeku dalam hitungan detik. Lembah ini adalah kuburan bagi ambisi. Ribuan pedang pusaka yang telah patah tertancap di sela-sela bebatuan, karatan dan kehilangan kilaunya, menjadi nisan bagi pemiliknya yang tewas sebelum mencapai ranah Immortal.

Di jantung lembah yang paling mencekam, berdirilah sebuah bangunan yang menantang nalar. PAVILIUN LENTERA ABADI.

Bangunan itu tidak terbuat dari kayu atau batu biasa. Tiang-tiangnya adalah kristal hitam yang memantulkan bayangan-bayangan yang gelisah, dan atapnya dilapisi oleh sisik naga yang telah membatu. Di teras paviliun yang luas, ratusan—mungkin ribuan—lentera kertas bergantung pada rantai perak yang menjuntai dari langit-langit. Lentera-lentera itu tidak bergoyang meski angin dingin menderu keras. Di dalamnya, api biru kehijauan berpijar stabil, mengeluarkan suara dengungan rendah yang terdengar seperti rintihan ribuan jiwa yang terjebak dalam penantian.

"Satu lagi jiwa yang keras kepala," sebuah suara memecah keheningan yang purba itu.

Suara itu datar, tanpa emosi, namun memiliki otoritas yang mampu menggetarkan fondasi lembah. He Xueyi melangkah keluar dari bayang-bayang paviliun. Jubah putihnya yang terbuat dari sutra surgawi tampak bercahaya di tengah kegelapan, sama sekali tidak tersentuh oleh debu atau kabut hitam yang merayap di sekitarnya. Rambut hitamnya yang panjang diikat tinggi dengan jepit perak berbentuk naga, dan matanya—mata yang telah menyaksikan runtuhnya kekaisaran dan lahirnya dewa-dewa baru—setajam mata elang yang mengintai mangsa di salju abadi.

Di tangan kanannya, ia memegang sebuah lentera perak kuno yang ukirannya sangat rumit. Lentera itu adalah Lentera Arwah Penuntun,pusaka tingkat tinggi yang menjadi kunci kehidupan dan kematian di tempat ini.

Di depannya, sekitar sepuluh langkah, sebuah bayangan hitam mulai memadat. Itu adalah arwah seorang pendekar pria yang tampak mengenaskan. Pakaian tempurnya compang-camping, dan luka besar menganga di dadanya—bekas serangan tenaga dalam yang menghancurkan jantungnya di dunia nyata. Di tangannya, ia masih memegang gagang pedang yang bilahnya sudah hancur.

"Siapa... siapa kau?" Arwah itu bertanya dengan suara bergetar. Energinya mulai memudar menjadi asap hitam di ujung kakinya. "Di mana ini? Aku... aku seharusnya sudah mencapai ranah Nascent Soul! Aku tidak mungkin mati!"

He Xueyi menatapnya tanpa secercah simpati pun. Baginya, setiap hari adalah perulangan dari kebodohan manusia yang sama. "Ranah Nascent Soul? Kau terlalu percaya diri, Pendekar Kecil. Kau mencoba menembus batas langit dengan hati yang penuh dendam dan obsesi pada kekuasaan. Langit tidak butuh sampah sepertimu."

"Bajingan! Kau tidak tahu siapa aku!" Arwah itu berteriak, mencoba mengumpulkan sisa tenaga dalamnya untuk menyerang. Namun, di Lembah Sunyi, hukum fisika dan spiritual berbeda. Saat ia mencoba menerjang, kakinya justru terasa berat seolah terikat rantai ribuan ton.

He Xueyi hanya mengangkat sedikit lenteranya. Pendaran api biru di dalamnya tiba-tiba membesar. "Kau bertanya siapa aku? Aku adalah penjaga ambisimu yang gagal. Aku adalah akhir dari perjalanan sombongmu."

He Xueyi melangkah mendekat. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara, seolah-olah ia tidak berpijak di atas tanah. "Kau tertahan di sini karena jiwamu menolak untuk musnah. Kau punya urusan yang belum usai, bukan? Dendam pada sekte yang mengkhianatimu? Atau keinginan untuk melihat musuhmu mati?"

Arwah pendekar itu terdiam. Matanya memerah. Penyesalan adalah racun paling kuat di dunia kultivasi, dan He Xueyi adalah pemanen dari racun tersebut.

"Serahkan sisa energi spiritualmu," perintah He Xueyi. "Jadilah bagian dari cahaya di paviliun ini, dan aku akan mengizinkanmu melihat apa yang terjadi di dunia fana melalui cermin lenteraku. Jika tidak, kabut lembah ini akan menelanmu, menghancurkan jiwamu hingga kau tidak akan pernah bisa masuk ke siklus Samsara lagi. Kau akan benar-benar lenyap, seolah-olah kau tidak pernah dilahirkan."

"Itu... itu tidak adil!" Arwah itu meraung.

"Keadilan adalah milik mereka yang hidup dan menang," sahut He Xueyi dingin. "Di sini, hanya ada transaksi."

He Xueyi menyentuhkan ujung jarinya ke lentera perak tersebut. Seketika, sebuah pusaran energi Yin muncul, menyedot udara di sekitar mereka. Arwah pendekar itu berteriak saat tubuh bayangannya mulai tertarik masuk ke dalam lubang cahaya lentera. Sedikit demi sedikit, esensi spiritualnya yang murni—hasil dari latihan keras selama puluhan tahun—terhisap keluar.

Saat proses itu selesai, sebuah pendaran api baru menyala di dalam lentera He Xueyi. Warnanya ungu gelap, menandakan betapa pekatnya dendam yang dibawa arwah tersebut. He Xueyi kemudian berjalan menuju salah satu rantai perak yang kosong di langit-langit paviliun dan menggantungkan api jiwa tersebut di sana.

Sekarang, ada satu lagi lentera yang menyinari kegelapan Lembah Sunyi.

He Xueyi berdiri di tepi paviliun, menatap hamparan kabut yang tak berujung. Di kejauhan, ia bisa merasakan ada jiwa-jiwa lain yang mulai mendekati gerbang lembahnya. Penulis takdir seolah tak pernah berhenti mengirimkan jiwa-jiwa yang gagal kepadanya.

"Dunia luar masih saja bising oleh teriakan orang-orang yang mengejar keabadian," gumamnya pelan. "Mereka lupa, bahwa keabadian yang sebenarnya hanyalah kesunyian yang tanpa akhir."

Ia mematikan cahaya kecil di tangannya, membiarkan dirinya ditelan oleh kegelapan paviliun untuk sesaat. Namun, telinganya yang tajam menangkap suara lain—suara langkah kaki yang tidak berasal dari arwah. Langkah kaki yang nyata, berdetak secara ritmis di atas bebatuan hitam lembah.

Seorang manusia hidup.

Mata He Xueyi sedikit menyipit. Sudah ratusan tahun sejak terakhir kali seorang manusia dengan tubuh fisik berhasil menembus kabut beracun Lembah Sunyi tanpa kehilangan nyawanya di gerbang depan.

"Menarik," bisik He Xueyi, sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di bibirnya yang pucat. "Mari kita lihat, apakah kau datang untuk menantang takdir, atau hanya sekadar ingin mati dengan cara yang lebih megah."

He Xueyi kembali mengangkat lenteranya, dan kali ini, cahayanya bukan lagi biru, melainkan putih cemerlang, membelah kabut Lembah Sunyi seolah-olah sedang menyambut tamu yang telah lama ia tunggu.

Di tempat di mana waktu berhenti berputar, sebuah babak baru baru saja dimulai. Di Lembah Sunyi, setiap pertemuan adalah kutukan, dan setiap janji adalah hutang darah yang harus dibayar dengan jiwa.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Bianzi bukan manusia ya, dia gak kena efek cermin 🤔
Xue Lian: astaga pertanyaan yang lucu...aku skip kalau setiap berhenti makan selama 120 bab kebanyakan daging panggang,ayam panggang🤣
total 3 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
berdebar melihat orang yang kau percayai 😆
Xue Lian: hayo loh
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
sungguh ironis, seorang yang bermusuhan dengan cahaya dan menganggap cahaya adalah kemunafikan justru terbuai dengan cahaya😌
Xue Lian: lah justru itu kuncinya...cahaya lawan cahaya hasilnya malah suka menjadi cahaya
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Aku belajar banyak soal Yin dan Yang dari novel ini /Smile/
Xue Lian: novel ku banyak moral Dunia wuxia jadi bisa buat pemahaman mendalam bagi penulis
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Aku belum terbiasa dengan kata 'Logika' di Xianxia sampai sekarang. pengulangannya terlalu sering.😌
Xue Lian: waduh...cuma novelku saja yang ada kata secara logika😭😂😂
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Gas😆
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
kata logika sudah jadi ciri khas He Xuenyi 😌
Xue Lian: Ya gitulah
total 3 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Gak biasanya kata "logika" dipakai buat fantim.🤔
☕︎⃝❥Mengare (Comeback): Secara logika 🖐️🗿🖐️
total 2 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Bianzi itu sudah mati kan?
Xue Lian: Bian Zhi itu belum mati..nyawa Dia sedang sekarat lalu He Xueyi nolong
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
hulu pedang itu gagang atau badannya?🤔
Xue Lian: gagang pedang
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Hemmm, masih menunggu /Chuckle/
Xue Lian: 😂😂wah baca terus ya😂
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Bikin ketagihan 😆
Xue Lian: Kamu ketinggalan ya ini novel udah tamat ending bahagia punya dua anak kembar laki laki sama perempuan.🤣🤣
total 3 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
sedang lelah menulis novel yang menguras emosi. Aneh, aku gak kuat baca dark fantasi tapi nulis dark fantasi 😭
Xue Lian: Semangat semangat sukses terus 😍
total 9 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
"Tuan" ini yang bikin aku sempat lupa kalau He Xuenyi cewek😭
Xue Lian: 😂😂😂panggilan Bian Zhi ke He Xueyi itu "Tuan Putri" tapi panggilan nya hanya Tuan
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Aura villain He Xuenyi kuat banget /Determined/
Xue Lian: 🤣🤣🤣secara logika itulah mc wanita mengejek arwah tapi dendam sendiri malah belum tuntas🤣
total 7 replies
Ra_Lathia
awalnya udah👍👍👍👍👍
Xue Lian: makasih kak,sudah mampir...sehat selalu😍
total 1 replies
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Xue Lian: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!