Willy Tjokro anak dari owner TV swasta nekad berubah wujud jadi perempuan. Targetnya mendekati Summer Lidya, gadis incaran sejak masa SMA yang menolaknya mentah-mentah karena phobia laki-laki.
Definisi jodoh nggak kemana, mereka ditakdirkan berkuliah di satu kampus dan jurusan yang sama. Hal yang menjadi celah bagi Willy mendekati Summer lagi.
Namun, kali ini berbeda, bukan sebagai pria, tapi bestie cewek jadi-jadian yang mengerti isi hati Summer.
Akankah penyamaran Willy berhasil?
Story by Instragram & Tiktok @penulis_rain
Cover Ilustrasi by ig @iyaa_laa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
“Mas, ini juga di-print?”
Tukang fotocopy itu menatap heran. Rentetan file yang hendak dicetak oleh Willy memang tidak biasa. Bukan kata-kata untuk ucapan ulang tahun atau hari Valentine. Sesuatu yang lebih aneh dan lucu menurut orang lain.
“Iyalah, semuanya itu. Pakai kertas bagus,” balas Willy sewot.
“Emang buat apaan ini, Mas? Formal banget. Perasaan situ belum masuk kuliah,” tanya pria itu penuh selidik.
“Buat nembak cewek.”
“Pfft! WHAT?” Ia tersentak, nyaris menjatuhkan cutter yang sedari tadi dipegang. Melihat respon si tukang fotocopy di hadapannya, Willy sontak merasa sedikit tersinggung. Apa yang lucu?
“Napa lo? Nggak suka? Kerjain aja napa. Kewajiban lo ini melayani pembeli,” pungkas Willy sinis.
Si tukang fotocopy menarik napas panjang, berusaha menahan tawanya susah payah.
“Bukan gitu, Mas. Ya, gue heran aja. Lo mau nembak cewek pakai ginian? Riset formal segala? Buat apa, toh? Yang ada kabur itu cewek,” ucapnya setengah terkekeh. Willy yang kepalang emosi mencabut flashdisk-nya dari PC, lalu beranjak pergi.
“Mending gue kerjain sendiri!”
Ia melangkah cepat menuju rumah dengan suasana hati yang sangat tidak baik usai di-roasting tukang fotocopy andalannya. Willy masuk kamar, mencari alat print yang masih ia simpan meski sudah rusak bertahun-tahun lalu. Ajaibnya ketika dinyalakan, alat itu berfungsi kembali.
“Cakep. Kayaknya semesta pun merestui hubungan kita ini, Mer,” batinnya tersenyum puas.
Usai mencetak file-file itu, ia lanjut membuat PPT. Berjam-jam lamanya ia habiskan di depan layar laptop, sesekali mengusap mata karena mulai berair dan kelelahan. Ia tidak menyerah. Tinggal satu detail lagi dan … ya! Selesai juga PPT sebagai bahan pelengkap aksinya esok.
“Wait, kayak ada yang kurang.” Willy menatap meja belajarnya. Di sana ada beberapa foto-foto seorang gadis yang ia cetak. Dilapisi plastik bening, ditempel di meja, lalu dilapisi cover transparan lagi agar tidak berdebu. Sebegitu detailnya Willy merawat sesuatu yang bahkan belum tentu akan menjadi miliknya.
Di wall samping meja belajarnya, berjejer sticky notes berbagai warna yang ditautkan dengan benang melintang. Isinya adalah semua informasi mengenai cewek itu yang ia dapat dari teman-temannya.
“Oke, selesai. Gue yakin lo bakal kaget dan terpesona sama gue.” Ia menutup laptop, tersenyum puas, lalu merebahkan dirinya sendiri di ranjang, menunggu esok hari yang terasa lambat berjalan.
***
Di lapangan upacara SMA Bintang Jaya siang itu masih dipenuhi bau keringat bercampur parfum murah dari anak-anak yang baru resmi menjadi mantan siswa. Topi toga berterbaran di mana-mana, jatuh sia-sia ke tanah tanpa menjadi pusat perhatian sementara. Ada yang menangis haru di pelukan guru BK. Ada pula yang mengambil swafoto dengan ular piton inflasi dari kelas 12 IPA 3. Lumayan chaos, tapi riang gembira.
Willy Tjokro, seorang anak dari keluarga terkenal pemilik stasiun TV Tjokro Group berdiri di pinggir lapangan. Tangan kanan masuk saku celana, sementara tangan kirinya memegang amplop cokelat kecil yang isinya surat cinta versi PowerPoint print-out. Serius, tidak ada ragu sedikit pun di hatinya ketika mencetak satu per satu semua slide sebanyak 7 halaman, font Calibri 11. Formal memang, tapi itu bukan tanpa alasan.
Sejak tadi matanya liar mencari-cari seseorang. Dari sekian banyak mantan siswa berdiri di sana, perhatian Willy tertuju pada satu nama.
Summer Lidya.
Gadis yang selama tiga tahun ini hanya bisa diperhatikan dari jarak aman 8 sampai12 meter. Nilai matematika Summer selalu lebih tinggi hingga 3 poin di atas Willy. Tidak hanya itu, tinggi badannya juga pas untuk dijadikan tiang gawang cadangan tim voli putri. Uniknya, dia punya kebiasaan bernyanyi pelan-pelan saat berjalan sendirian di koridor.
Dan sekarang, Willy telah menghitung semuanya. Kompatibilitasnya 87,4% menurut spreadsheet pribadinya yang dia ciptakan sendiri di Google Sheets, ada tab “Proyeksi Masa Depan” juga.
Akhirnya batang hidung Summer terlihat juga. Gadis itu tengah berdiri di dekat pohon kamboja dengan dua temen ceweknya. Mereka tertawa kecil sambil memegang tali toga yang kebesaran.
Willy narik napas dalam-dalam, berjalan mendekat. Langkahnya terbilang sangat kaku seperti robot Terminator yang tersangkut red carpet.
“Halo. Summer Lidya.”
Summer menoleh cepat, seiring dengan senyumnya yang lenyap setengah. Teman-temannya langsung melempar pandang ke arah Willy seolah melihat sosok alien turun dari UFO.
“Eh, Wil. Kenapa?” balas Summer ramah, ya sebatas anak sekolah itu sudah cukup. Seketika itu juga Willy gegas membuka amplopnya sangat pelan, seakan di dalamnya adalah rahasia negara.
“Ehm, jadi gini. Gue mau ngomong sesuatu sama lo, Mer. Berdua aja boleh nggak ya?”celetuk Willy setengah menunduk. Teman-teman Summer langsung mundur dua langkah, paham apa yang harus dilakukan tanpa perintah.
“Duh, kayaknya obrolannya bakal serius ini,” bisik mereka.
Summer mengangguk singkat. Mereka berjalan ke pinggir lapangan, dekat pagar besi yang sudah agak karatan termakan usia dan curah hujan.
Sementara Willy bersiap, menarik napas panjang lagi. Sesekali melirik kanan kiri, takut ada anomali yang diam-diam memasang telinga mencari informasi. Ah, untungnya aman saja, Willy mendesah lega.
“Oke-oke, sorry ganggu waktu lo sebelumnya. Gue udah pertimbangkan ini selama kurang lebih 26 bulan 14 hari. Gue bikin analisis sederhana yang presisi dan sangat mantap. Pertama, kita punya kesamaan minat, yaitu sama-sama suka ekonomi dan teknologi, terus benci olahraga lari pagi, dan tipe orang yang kalau hujan lebih suka stay di perpustakaan daripada ke kantin,” ucap Willy memulai. Suasana awkward menyelimuti mereka, tapi Willy berusaha rileks.
Summer hanya mengerutkan keningnya dan merasa aneh. Matanya bahkan sempat memicing, penasaran berapa celcius suhu tubuh Willy. Ataukah ia habis meneguk ramuan buah kecubung?
“Kedua, dari segi kepribadian. Menurut tes MBTI informal yang gue sebar ke 18 orang termasuk lo waktu ulang tahun kelas, kita sama-sama INTJ. Persentase kecocokan tipe kepribadian 92%. Ketiga, proyeksi masa depan. Kita berdua kemungkinan besar masuk UI atau UGM tahun depan. Statistik penerimaan FEB UI tahun lalu menunjukkan pasangan yang sama-sama kuliah di satu kampus punya tingkat kelangsungan hubungan 4,7 kali lebih tinggi dibanding pasangan beda kota.”
Summer mulai menggeser kaki kanannya ke belakang sedikit, tapi Willy tidak memperhatikan.
“Keempat, faktor finansial. Gue nggak punya utang, tabungan deposito 18 juta dari les privat sejak kelas 10. Gue anak memilik TV swasta terbesar di negara ini. Untuk uang kita nggak akan kekurangan. Lo juga tipe cewek yang nggak banyak mau dan hemat. Jadi konflik ekonomi hampir nol. Kelima ….”
“Wil,” potong Summer pelan. Willy berhenti, kepalanya terdongak sempurna.
“Ya?”
Summer menarik napas pendek. Matanya enggan bertemu mata Willy. Tangannya mulai gemetar, tapi dia sembunyikan di belakang punggung.
“Sorry, gue nggak nyaman dekat laki-laki,” sambungnya. Sontak Willy berkedip dua kali. Otaknya di dalam sana memuat hasil pencernaan makna dari ucapan Summer.
"Hah? Maksudnya gimana?”
“Ya … maksudnya itu. Gue nggak nyaman sama lo. Jadi, maaf, sebelum lo ngejelasin lebih jauh, gue bakal jawab sekarang. Gue nggak bisa,” balas Summer serius.
Willy bergeming, tangannya mengepal sempurna. Ia sempat berpikir ini adalah kode, semacam alasan klasik agar tak terlalu kasar. Memang betul ia sudah siap mental ditolak, tapi tidak menyangka penolakannya sementah itu juga.
“Oh, oke. Ngerti, kok. Gue cuma mau kasih tahu aja, sih. Nggak apa-apa kok. Gue nggak maksa. Lagian perasaan itu datangnya emang nggak instan.” Ia mencoba senyum terpaksa agar tidak terlihat mengiba.
Summer manggut-manggut paham. Wajahnya memucat dan napasnya mulai agak cepat. Dia mundur satu langkah lagi.
“Maaf, ya, Wil.”
“Iya, nggak apa-apa. Selamat ya, atas kelulusannya. Semoga kita ketemu lagi di kampus nanti.”
"Oke."
Summer menggumam singkat, lalu buru-buru kembali ke teman-temannya. Langkahnya yang begitu cepat, hampir seperti berlari-lari imut. Willy melihat punggung Summer menjauh dan baru sadar tangan Summer tadi gemetar parah. Seperti orang kedinginan padahal matahari lagi panas-panasnya.
Willy berdiri sendirian di situ. Amplop coklatnya masih terbuka. Slide nomor 6 dengan judul “Alasan Emosional yang Sulit Diukur, tapi Tetap Penting” belum sempat dibaca.
Dia mendesah panjang meratapi nasib yang malang.“Ya Tuhan … ternyata gue baru di-reject. Nggak masuk akal, sumpah. Gue ganteng, pinter, uang juga ada. Coba sebutin apa kekurangan seorang Willy?! Nggak ada.”
Namun, entah mereka memiliki kesempatan mengobrol tadi, Willy merasa ada yang kurang pas. Dari reaksi tubuh Summer yang gemetar, lalu buru-buru pergi. Seakan semesta menunjukkan sikap tadi bukan penolakan biasa.
Willy memasukkan amplop ke tas ransel. Matanya masih menempel ke arah Summer yang sekarang duduk di bangku jauh dengan kepala ditundukkan, tangan memeluk tasnya erat-erat.
“Gue bakal cari tahu kenapa seorang Willy yang sempurna kayak gue ditolak.” Ia bergumam sendiri, hampir seperti orang gila. Di kejauhan, terlihat Gio, teman cowoknya berlari-lari sambil berteriak panik.
“Will, kenapa? Muka lo pucet banget, Bro!”
“Relaks aja, masih ada empat tahun kuliah buat ngejar dia.”
Bukannya iba, Gio malah tertawa ngakak hingga hampir tersedak es teh.
"Hahaha ... di-reject, di-reject, di-reject aja\~"
"Diem lo cumi!"
Sementara Willy hanya tersenyum kecut. Namun, di dalam kepalanya, sekalimat itu muncul sekelebat lagi. Summer masuk FEB juga dan di universitas yang sama.
“Game belum kelar, Summer Lidya. Lo bakal jadi pacar gue!”