NovelToon NovelToon
Di Bawah Payung Yang Sama

Di Bawah Payung Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:913
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.

Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.

Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.

Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(REVISI) BAB 1

“Aku sudah berusaha sejauh ini… tapi bagaimana kalau tetap gagal?”

Kim Ae Ra menatap amplop cokelat di tangannya seolah benda tipis itu mampu menimbang seluruh masa depannya.

Sudutnya sedikit kusut karena terlalu sering ia rapikan sejak semalam, bahkan sampai ujung kertasnya mulai melengkung. Ia bahkan sempat bangun dua kali di tengah malam, sekali karena khawatir lupa melampirkan surat lamaran, dan lagi ketika mimpi buruk membuatnya terengah-engah.

Setiap kali ia membuka amplop, jari-jarinya akan menyentuh cap lilin kecil yang ayahnya tinggalkan pada sudut sampu, suatu hal kecil yang selalu membuatnya merasa tidak sendirian.

Cahaya pagi masuk perlahan melalui jendela kecil kamar sempitnya, menerobos celah tirai bekas yang warnanya sudah pudar. Debu-debu halus melayang di udara seperti butiran pasir emas. Tidak ada yang istimewa di ruangan itu, meja belajar tua dengan cat mengelupas, lemari kecil yang pintunya tak pernah tertutup sempurna, dan sebuah foto keluarga yang warnanya mulai pudar ditempel di dinding dekat ranjang.

Di dalam foto itu, ayahnya tersenyum hangat dengan lengannya menyangga bahu Ae Ra yang masih kecil, sementara ibunya berdiri di sebelahnya dengan senyum lembut. Rambut ayahnya sedikit berantakan oleh angin, tapi matanya penuh dengan kehangatan yang Ae Ra ingat sebagai bagian dari dunia yang dulu jauh lebih hangat.

Ayahnya.

Ae Ra menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya, jemarinya menyentuh kaca foto yang sudah menguning. Ia mencoba mengingat suara ayahnya, suara yang dulu membacakan dongeng atau mengejeknya lembut. Tapi yang tersisa hanya perasaan samar, hangat seperti teh panas di musim dingin, jauh seperti bintang di malam hari, dan sulit diraih seperti embun pagi.

Sejak hari itu, hari di mana kabar buruk datang tanpa peringatan, dunia terasa menyusut menjadi hanya dua orang, dirinya dan ibunya, berpegangan erat di tengah badai yang tak kunjung usai.

“Ae Ra, kau sudah bangun? Cepat keluar sebelum makanannya dingin!” Suara Mi Ran terdengar dari luar kamar dengan nada keras tapi penuh perhatian. Bunyi sendok menyentuh wajan juga terdengar samar dari dapur.

“Iya, Bu. Sebentar lagi!” Ae Ra menjawab sambil menyimpan amplop ke dalam tas ransel lusuhnya.

Ia melihat cermin kecil di atas meja, menyisir rambut hitamnya yang sedikit kusut, dan menyelaraskan kemeja biru muda yang satu-satunya yang layak dikenakan untuk wawancara. Ia sudah menyiapkan uang ekstra untuk membeli kemeja itu beberapa bulan lalu, meskipun itu hanya barang bekas.

Tangannya sempat berhenti di gagang pintu kayu yang sudah mengeras. Jari-jarinya meraba pola bekas goresan kecil di sana, goresan yang ia buat ketika masih kecil untuk mencatat tinggi badannya setiap tahun.

Hari ini berbeda.

Hari ini ia tidak pergi bekerja paruh waktu di toserba kecil tiga blok dari rumah, seperti yang telah ia lakukan selama tiga tahun. Hari ini ia tidak akan menghabiskan delapan jam melayani pelanggan atau merapikan rak. Hari ini ia mencoba melangkah ke kehidupan yang mungkin lebih stabil, hidup yang bisa membuat ibunya tidak perlu lagi bekerja sampai larut malam di restoran tetangga.

Aegis Corp.

Nama itu terasa terlalu besar untuk seseorang seperti dirinya, lulusan universitas swasta dengan beasiswa penuh yang harus bekerja sambil belajar.

Gedung menjulang tinggi seringkali ia lihat dari jendela bus, dan setiap kali ia pasti berpikir bahwa tempat itu bukan untuk orang seperti dirinya.

Meja makan kecil di ruang tamu sudah tertata rapi. Sup kacang merah hangat mengepul dari mangkuk tanah liat, telur dadar dengan daun bawang dipotong rapi, dan semangkuk kimchi buatan sendiri diletakkan di tengah meja. Sebuah cangkir teh hangat dengan gula pasir siap disajikan, sesuatu yang Mi Ran hanya sediakan pada hari-hari khusus.

Ae Ra berhenti di ambang pintu dan pura-pura terkejut. “Wah… apa kita kedatangan tamu penting? Atau ibu merayakan sesuatu yang lupa ibu bilang?”

Mi Ran mendengus pelan tanpa menoleh, sedang menyeka meja. “Cepat duduk. Bukankah kau harus berangkat pagi? Jangan sampai terlambat hanya karena melihat-lihat.”

Ae Ra duduk sambil tersenyum lebar, senyum yang sedikit terlalu cerah untuk menyembunyikan kegugupan. “Aku kelaparan karena terlalu gugup, Bu. Ibuku hampir membiarkan anaknya pingsan sebelum wawancara!”

“Kau ini,” Mi Ran menggeleng dengan tatapan penuh kasih. “Sudah dewasa tapi masih banyak bicara seperti anak kecil. Makan cepat sebelum dingin.”

Ae Ra tertawa kecil. Candaan selalu menjadi tameng terbaiknya untuk menyembunyikan ketakutan.

Mereka makan dalam diam beberapa saat. Suara sendok beradu dengan mangkuk terdengar jelas. Tidak ada yang membicarakan kemungkinan gagal, meski keduanya jelas memikirkannya, Ae Ra bisa merasakannya dari cara Mi Ran seringkali melihatnya dengan tatapan cemas sebelum menunduk ke mangkuknya.

Setelah beberapa menit, Mi Ran berkata pelan, “Tidak apa-apa kalau tidak berhasil, Ae Ra. Kau sudah bekerja keras, kuliah sambil bekerja, membantu aku dengan biaya rumah. Itu sudah cukup bagiku.”

Ae Ra berhenti mengunyah, lalu tersenyum lagi. “Aku pasti berhasil, Bu. Nanti aku belikan kamu baju baru yang tidak bekas.” Kalimat itu terdengar lebih seperti janji pada dirinya sendiri.

Perjalanan bus memakan waktu dua puluh menit, namun bagi Ae Ra terasa jauh lebih panjang. Ia beberapa kali mengecek jam tangan murah dari sahabatnya Bo Ram, lalu merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi.

Ketika bus berhenti, gedung Aegis Corp langsung terlihat menjulang tinggi di hadapannya. Kaca-kaca besar memantulkan langit pagi, orang-orang keluar masuk dengan langkah cepat dan percaya diri. Suara sepatu hak tinggi berderap di lantai marmer, suara percakapan formal terdengar samar.

Ae Ra menelan ludah dengan susah payah. Ia merasa seperti orang yang salah tempat.

“Tenang… cuma perlu bertanya arah saja,” ia bisik pada diri sendiri.

Namun setiap orang yang ia hampiri tampaknya terlalu sibuk. Ia menghampiri seorang wanita mengenakan jas biru muda.

“Permisi,—” Wanita itu hanya melangkah melewatinya tanpa mengucapkan sepatah kata.

Ia mencoba lagi dengan seorang pria yang melihat ponselnya.

“Maaf, pak. Bolehkah saya bertanya—” Pria itu melirik singkat lalu masuk ke gedung.

Ae Ra mulai panik. Keringat muncul di dahinya saat ia berputar kecil, mencoba membaca papan petunjuk yang terasa membingungkan.

“Kenapa semua orang terlihat sibuk sekali…?”

“Hey. Dasar gadis bodoh.”

Suara kasar dari belakangnya membuatnya terkejut. Ia berbalik cepat, matanya memuntahkan rasa marah.

Seorang pria muda berdiri beberapa langkah darinya, jas hitam rapi, postur tegap, wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang mengucapkan kata-kata menyebalkan.

“Kalau mau melamar kerja,” katanya santai, “kenapa bertanya pada orang yang jelas tidak peduli? Bukankah itu hal dasar?”

Darah Ae Ra langsung naik ke wajahnya.

“HEY! Siapa yang kau panggil bodoh? Kau baru melihatku satu menit!”

Pria itu mengangkat alis, tampak sedikit terhibur.

“Masuk saja, tanya resepsionis. Tidak sulit kok.” Nada suaranya tenang tapi meremehkan.

Ae Ra ingin membalas, tapi pria itu sudah berbalik berjalan.

“Oh ya,” tambahnya tanpa menoleh, “sebut saja kau direkomendasikan oleh Hyun Jae Hyuk.” Ia masuk ke gedung begitu saja.

Ae Ra menatap punggungnya dengan kesal.

“Orang aneh…!” Namun ia tetap mengikuti sarannya.

Begitu nama Hyun Jae Hyuk disebutkan di meja informasi, suasana langsung berubah. Dua resepsionis yang awalnya dingin segera berdiri dengan sikap formal, senyum profesional muncul di wajah mereka.

“Maafkan kami, Nona Kim Ae Ra,” kata salah satunya, “kami tidak menyadari Anda adalah tamu dari Tuan Hyun Jae Hyuk. Silakan duduk sebentar sambil kami siapkan formulir.”

Tanpa menunggu jawaban, mereka memberikan formulir dan gelas air mineral. Beberapa karyawan yang lewat menoleh sekilas dengan ekspresi penasaran. Ae Ra merasakan beratnya nama itu seolah ia baru saja menyebut seseorang yang sangat penting. Ia keluar gedung dengan kepala penuh tanda tanya tentang siapa pria arogan itu sebenarnya.

Di lantai tertinggi gedung yang sama, Hyun Jae Hyuk berdiri di depan jendela kantornya. Seoul terbentang luas di bawahnya, tapi pikirannya tidak berada di sana. Seorang gadis berkemeja biru dan sepatu kets terus muncul di kepalanya. Ia mengerutkan kening, kenapa wajah itu terasa begitu familiar?

Ketukan pintu memecah lamunannya. Kepala personalia, Han Sin Woo, masuk dan menyerahkan sebuah amplop.

“Pak CEO, mengenai kandidat yang Anda rekomendasikan…”

Jae Hyuk membuka berkas itu dan berhenti. Foto kecil di sudut formulir membuat dadanya terasa aneh.

Kim Ae Ra.

Nama itu seperti membuka pintu ingatan yang hampir terbuka namun kembali tertutup. Tanpa berpikir lama, ia berkata tegas, “Tempatkan dia sebagai sekretaris pribadi CEO.”

Han Sin Woo tampak terkejut. “Pak… posisi itu—”

“Dan berikan fasilitas terbaik.” Nada suaranya tidak memberi ruang bantahan.

“Baik, Tuan.”

Pintu tertutup kembali. Jae Hyuk menatap foto itu lama.

“…Aku akhirnya menemukanmu.” Bahkan ia sendiri tidak sepenuhnya mengerti kenapa kalimat itu keluar.

Sore hari, Ae Ra kembali ke toserba kecil tempat ia bekerja. Lampu neon putih, suara bel pintu, dan candaan Bo Ram terasa jauh lebih nyata dibanding gedung mewah pagi tadi. Ia tertawa bersama sahabatnya, namun pikirannya terus kembali pada pria arogan itu dan nama yang ia sebutkan, Hyun Jae Hyuk. Kenapa rasanya asing sekaligus tidak?

Saat toko mulai sepi, Ae Ra merapikan rak minuman hanya untuk mengalihkan pikirannya. Ponselnya tiba-tiba berdering, nomor asing.

“Halo?”

“Halo, apakah ini Nona Kim Ae Ra?”

“Iya, benar.”

“Saya Han Sin Woo dari Aegis Corp. Kami ingin menginformasikan bahwa mulai besok Anda diterima bekerja sebagai sekretaris pribadi CEO Hyun Jae Hyuk.”

Ae Ra membeku. Rak minuman di depannya terasa menjauh, suara kendaraan di luar menghilang. Jantungnya berdetak keras.

“…Maaf?” Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan. Dan tanpa ia sadari, hidupnya baru saja berubah arah.

1
Lisa
Moga tdk terjadi apa² pada teman² Ae Ra
Lisa
Semangat y Ae Ra..gmn klo Bo Ram dijodohkan dgn Seo Jun..kan mereka sama² sahabatnya Ae Ra 😊
Lisa
Seneng banget baca ceritanya..happy terus ya Ae Ra bersama kekasih & sahabat²mu 😊
Lisa
Suka banget Kak pake bahasa Indo ga perlu diubah Kak..biar lebih nyantai juga bacanya 😊
Lisa
Makin seru nih ceritanya..bahagia selalu y utk Ae Ra & Jae Hyuk
Lisa
Bagus banget ceritanya..mereka saling mendukung satu sama lain..
Lisa
Rukun & bahagia selalu y utk Jae Hyuk & Ae Ra 😊👍
Lisa
Puji Tuhan pertemuan itu berjln dgn lancar..sukses y utk kerjasamanya..
Lisa
Moga pertemuannya dgn Tn. Lee lancar y Aera..semangat ya 💪😊
Lisa
Amin..kalian berdua harus kuat yaa..
Lisa
Senangnya akhirnya Jae Hyuk & Ae Ra sudah mengetahui masa lalu itu dan membuat hubungan mereka makin dekat 👍👍
Lisa
Semangat y Ae Ra..💪👍
Lisa
Kmu harus kuat Ae Ra..ada Jae Hyuk yg selalu mendampingimu..
Lisa
Wah gimana ya suasananya pertemuan bisnis itu..makin seru aj nih ceritanya
Lisa
Ceritanya menarik jg nih ternyata Ae Ra adalah anak dr org yg dibunuh oleh papa dr direktur tmptnya bekerja saat ini..moga aj kebenaran itu dapat terungkap.
Lisa
Wah gmn y acara rapat besarnya..jadi penasaran nih 😊
Lisa
Ae Ra punya masa lalu yg berhubungan dgn CEO
Lisa
Tetap semangat y Ae Ra 💪👍
Lisa
Seo Jun sebenarnya siapa y..apakah dia org penting.
zhafira: hayoo siapa ya?🤭
masih 'Rahasia' 🧐
total 1 replies
Lisa
Wah berarti ada mata² di toserba itu
zhafira: wahh hayoo ada siapa?? 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!