laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Rumah Tanpa Ibu
Langit pagi masih berwarna abu-abu ketika Zaskia sibuk di dapur, menata kue pesanan online.
Aroma mentega bercampur udara lembap sisa hujan. Tangannya bergerak cekatan, namun pikirannya melayang jauh—menyusuri masa lalu yang belum benar-benar ia lepaskan. Jari-jarinya terasa dingin, dan dadanya sesak saat pandangannya jatuh pada kursi kosong di ujung dapur—tempat Ibu dulu suka duduk. Jarak antara masa kini dan masa lalu terasa semakin melebar.
Sudah tujuh tahun Zaskia berjualan kue seperti ini.
Di rumah sederhana, di dapur sempit, ia belajar bertahan hidup tanpa bantuan siapa pun.
Tanpa ayah yang memilih wanita lain.
Tanpa ibu yang pergi dan tak kunjung kembali.
Dan tanpa adik—yang kini wajahnya terpampang di media sosial, menjadi selebgram terkenal di kota ini.
"Rania Anggraeni, selebgram cantik yang naik daun, kini menjadi brand ambassador produk ternama."
Zaskia mengernyit saat video adiknya muncul di beranda ponselnya.
Senyum Rania tampak sempurna. Sama seperti dulu—semua orang selalu bilang hanya dia yang mewarisi kecantikan ibu mereka.
Zaskia tersenyum tipis. Ada rasa bangga, tapi juga perih yang samar.
Dalam hati, ia berdoa lirih,
Semoga Allah selalu melindungi Rania… meski kini aku tak lagi menjaganya, seperti pesan Ibu dulu.
Baru saja ia membalikkan badan untuk keluar dari dapur, tiba-tiba seseorang berdiri di ambang pintu.
Perempuan cantik dengan dress krem bermotif bunga. Wajah yang baru saja ia lihat di layar ponsel.
Rania.
Zaskia tertegun, menelan ludah, genggaman di paper bag makin erat.
"Kan bisa salam dulu kalau mau masuk rumah orang, Dek," ucapnya sambil melepas sarung tangan plastik, lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Udah kok. Cuma Kak Kia yang nggak denger."
Rania melangkah santai ke arah meja, lalu duduk di kursi ujung dapur sambil memandangi tumpukan kue.
"Mau sampai kapan Kak Kia hidup sendiri, jualan kue kayak gini?" nadanya datar, terdengar seperti sindiran halus.
Zaskia menatapnya singkat. Untuk pertama kalinya Rania datang setelah sekian lama sibuk di dunia maya, dan kalimat pertamanya langsung menusuk. Tapi Zaskia tetap tenang.
"Sampai Ibu kembali," jawabnya pelan.
Mata Rania bergetar—antara marah dan sedih.
"Empat belas tahun, Kak...Selama itu Ibu pergi tanpa alasan ninggalin kita."
Air mata Rania jatuh, membasahi pipinya yang ber-makeup tipis.
"Pasti ada alasan kenapa Ibu memilih pergi," ucap Zaskia lembut tapi yakin. "Aku percaya, Ibu akan pulang dan kembali hidup bersama kita."
"Nggak ada ibu yang tega ninggalin anaknya di usia sekecil itu kecuali ibu yang jahat! Sekarang ada Mama Ratna yang gantiin Ibu. Dia baik, mau ngerawat kita. Lihat aku sekarang—sukses, bahagia! Kalau Kak Kia nggak keluar dari rumah Mama, hidup Kakak nggak bakal sesulit ini!"
Zaskia berdiri, membereskan kue dan memasukkannya ke dalam paper bag. Napasnya tertahan sebentar, tapi ia memilih tetap tenang.
"Kalau kamu ke sini cuma buat hina Ibu dan bandingin beliau sama orang lain, sebaiknya kamu pulang. Kakak mau antar kue."
Langkahnya cepat, hendak meninggalkan dapur.
"Aku ke sini cuma mau Kak Kia ikut pulang sama aku."
Langkah Zaskia terhenti. Ia menoleh, menatap adiknya dalam keheningan.
"Kakak mau kuliah, kan? Ayah bakal biayai semuanya asal Kak Kia pulang."
Zaskia tersenyum pahit—bukan pada Rania, tapi pada ayah mereka yang hanya mengingatnya saat butuh sesuatu.
"Begitu, ya. Aku mau tinggal sama Ayah asal Ayah ninggalin wanita itu. Status Ayah aja belum cerai sama Ibu. Bahkan sejak Ibu pergi, Ayah nggak pernah nyari, nggak peduli. Aku bisa aja nuntut soal nafkah, Dek. Ada di pasal 1967 KUH Perdata. Tapi aku nggak akan lakukan itu. Aku masih hormati beliau sebagai Ayah...tapi bukan sebagai suami Ibu."
"Kak Kia nggak sopan bicara begitu soal Ayah!" seru Rania, nadanya meninggi.
"Kamu juga nggak sopan bicara sembarangan soal Ibu," balas Zaskia tegas.
"Kamu jangan kayak orang-orang yang ngatain Ibu jahat. Ibu itu ibu terbaik sedunia. Apa kamu pernah denger penjelasan Ayah soal kenapa Ibu pergi? Justru Ayah yang jahat—nggak peduli sama Ibu, dan kamu malah dukung Ayah. Aku yakin, Ibu punya alasan besar di balik tindakannya."
Rania terdiam. Ucapan Zaskia seperti tamparan keras. Ia menghentakkan kaki, lalu mengambil tas kecilnya di meja.
"Kak Kia keras kepala!" katanya sarkastik sebelum melangkah cepat keluar rumah.
Zaskia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ketika suasana kembali hening, ia menatap jam dinding. Bola matanya membesar—terlambat lima menit untuk mengantar pesanan.
Notifikasi pesan dari Nadine muncul. Ia disuruh lebih cepat karena kue itu untuk karyawan pabrik tempat Nadine kerja.
Zaskia segera bergegas, naik motor dengan udara dingin menusuk wajah. Tiap putaran roda mengingatkannya—ini bukan sekadar kue yang diantar, ini bagian dari hidupnya yang ia pilih sendiri.
Sesampainya di pabrik sepatu...
"Kamu udah telat banget, Kia," ucap Nadine gugup, menunggu di depan gedung sambil mengambil kue dari tangannya.
"Iya, maaf. Tadi udah mau cepat-cepat ke sini, tapi Rania ke rumah...ngobrol dulu," jawab Zaskia lirih.
"Aku bisa maafin kamu, tapi gimana dengan bos? Ini bukan buat karyawan aja, tapi juga pelanggan besar. Beliau sangat disiplin waktu."
"Ya sudah, aku masuk dulu. Kamu langsung pulang aja, ya. Nanti selesai kerja aku ke rumahmu, mau nginep."
Zaskia tersenyum, mengacungkan jempol. "Siap. Semangat kerjanya, Nad!"
Hufft...napas berat Zaskia keluar, lega sekaligus bahagia. Pertama kalinya ia mendapat pesanan jumlah banyak dari pabrik besar. Harapannya sederhana—bisnis kue yang ia pelajari dari ibunya bisa terus berkembang.
Namun dalam perjalanan pulang, langkah cepatnya membuatnya mendengar ucapan yang menyayat hati.
"Aku tadi sempat lihat Rania ke sini, dia tambah dewasa, makin cantik. Kok nggak kayak kakaknya, ya? Biasanya anak pertama itu kan lebih dominan gen orang tuanya, kayak anak Pak Lurah itu..."
Zaskia menoleh. Dua tetangganya, Bu Endang dan Bu Lastri, berdiri di depan halaman rumah—dua orang yang memang terkenal suka julid. Detak jantungnya ikut cepat, tapi ia menegakkan bahu.
"Eh, Bu Endang, Bu Lastri. Iya, adik saya memang tadi ke sini," jawab Zaskia tetap ramah.
"Adikmu sekarang terkenal, ya. Mukanya sering muncul di TikTok aku," ujar Bu Lastri, nadanya seolah membandingkan.
"Rania kan selebgram, Bu. Wajar kalau kontennya FYP," balas Zaskia lembut.
"Wah, uangnya banyak dong. Sering dapet endorse-an. Kok kamu nggak mau kayak adikmu? Yah, walaupun kamu nggak secantik Rania, tapi kan nggak jelek-jelek amat," ujar Bu Endang tanpa rasa bersalah.
Zaskia menarik napas panjang, mencoba menahan perih yang menumpuk.
"Setiap orang punya kelebihan, Bu. Hanya beda bidang yang kami kuasai. Soal cantik, menurutku cantik itu relatif. Kita akan terlihat cantik di mata orang yang tepat."
"Maksudnya?" ucap Endang dan Lastri bersamaan.
"Maksudnya, mata Ibu-ibu itu nggak bisa melihat kecantikan Zaskia," sahut Nadine tiba-tiba sambil melepaskan helm. "Kalau nggak suka ngelihatnya, jangan nyuruh dia kayak Rania. Tapi mata Ibu-ibu aja yang diganti."
"Eh, siapa kamu? Nggak sopan banget sama orang tua!" omel Bu Endang.
"Saya orangnya sopan, Bu. Tapi nggak tunduk sama kesalahan, sekalipun itu dari orang tua. Mulut kalian lemes banget, kayak kerupuk kecelup air."
"Husss, Nadine...udah."
Zaskia menunduk, menenangkan diri. "Maaf, Ibu-ibu. Permisi." Ia menarik tangan Nadine, membawanya masuk ke rumah.
Dalam hati, sesuatu yang beku perlahan mencair. Kalau bukan karena Nadine, dunia ini akan terasa benar-benar sunyi.
"Kenapa diem, masih mikirin omongan mereka?" tanya Nadine seraya mendekati Zaskia yang sedang rebahan, terlihat gelisah setelah lelah bekerja.
"Enggak, hanya mengasihani diri sendiri. Keluargaku hancur setelah kepergian ibu, ayah yang nggak peduli, adik yang membenci, hidupku begini amat, Nad," keluh Zaskia, air matanya menetes tanpa aba-aba.
Nadine mengelus bahu Zaskia lembut. "Aku tahu, ada masa kamu lelah dengan semuanya. Kamu nggak harus selalu terlihat kuat, Kia. Lebih baik kamu mengakui rasa sakitmu, rapuhmu, letihmu. Menangislah sepuasnya, keluarkan semua rasa sakit itu sampai air matamu habis. Lalu bangkit, ingat tujuan kamu memilih hidup seperti sekarang."
Zaskia menghela napas, ucapan Nadine berhasil membuatnya tenang. Beban di pundaknya sedikit berkurang. Selama ini ia selalu terlihat kuat padahal bagian lubuk paling dalam hatinya hancur.
"Sekarang tidur, ya," ujar Nadine.
Zaskia memejamkan mata di samping sahabatnya. Malam itu, udara terasa berat. Bayangan Ibu terus muncul di kepala—malam saat ia pamit dengan pesan-pesannya.
Ia tidak tahu...dingin malam itu akan menjadi awal dari retakan yang perlahan memisahkan keluarganya.