Zee Chou, atau yang dikenal dengan nama panggung Choi Heesung, adalah idola K-Pop paling populer dan dicintai jutaan penggemar. Di atas panggung, ia bersinar sempurna, tampan, dan memiliki citra bersih yang dijaga sangat ketat. Namun di balik kemegahan itu, ia menyembunyikan satu kenyataan pahit: warisan perusahaan keluarga yang terancam bangkrut. Demi menyelamatkan segalanya, Zee terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan—menikahi Park Hye-ri, gadis biasa dan sederhana, putri sahabat orang tuanya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia hiburan.
Pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan di atas kertas, rahasia yang harus dijaga mati-matian dari publik dan penggemar. Tidak ada cinta, tidak ada perasaan, hanya kewajiban dan aturan ketat. Bagi Zee, Hye-ri hanyalah kewajiban yang mengganggu karir cemerlangnya. Bagi Hye-ri, Zee hanyalah idola dingin, angkuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Eunbi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Ancaman di Antara Kita
Hari-hari berlalu begitu indah sejak Nenek Chou secara resmi menyetujui dan menjodohkan Heesung dan Hyeri. Bagi Hyeri, masa-masa ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ia sering diajak Heesung menghadiri acara-acara penting keluarga, berjalan berdua di taman luas kediaman Chou, dan menerima perlakuan manis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di mata semua orang, mereka adalah pasangan sempurna yang ditakdirkan bersatu.
Namun, di balik senyum Heesung yang selalu menenangkan, sebenarnya ada beban berat yang ia sembunyikan sendirian. Sebagai pewaris tunggal Grup Perusahaan Chou, nama baik dan citra publik adalah segalanya. Karirnya sedang menanjak sangat tinggi, banyak proyek besar bergantung padanya, dan posisinya sebagai Direktur Utama sangat diandalkan banyak pihak.
Pagi itu, Hyeri sedang menyiapkan dokumen di ruang kerja Heesung. Ia ingin membantu sesekali agar Heesung tidak terlalu lelah. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka kasar.
"Heesung! Kau ada di sini?" terdengar suara berat Pak Kang, sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan Nenek Chou. Wajahnya terlihat pucat dan penuh kekhawatiran.
Heesung yang sedang memeriksa laporan langsung berdiri tegak. "Ada apa, Pak Kang? Kenapa wajahmu pucat sekali?"
Pak Kang melirik sebentar ke arah Hyeri, seolah ragu untuk berbicara.
"Katakan saja, Pak. Hyeri sudah seperti keluarga sendiri," ujar Heesung meyakinkan.
Dengan napas berat, Pak Kang meletakkan sebuah berkas dan beberapa potongan berita cetak di meja.
"Masalah besar datang, Tuan Muda... Ada berita yang menyebar cepat di kalangan investor dan media bisnis. Dan semuanya berpusat pada satu nama: Jung Soo-ah."
Nama itu membuat hati Heesung bergetar. Jung Soo-ah... wanita itu adalah mantan rekan kerjanya dulu, wanita yang ambisius, pintar, namun dikenal sangat licik dan tidak mau kalah. Ia pernah bekerja di bawah pengawasan Heesung sebelum akhirnya mengundurkan diri secara misterius setahun lalu.
"Jung Soo-ah?" Hyeri mengerutkan kening, merasa asing namun ada firasat buruk. "Siapa dia, Heesung?"
"Dia seseorang yang dulu bekerja bersamaku. Wanita yang akan melakukan apa saja demi kekuasaan dan kedudukan," jawab Heesung dingin, namun matanya menatap berita di meja dengan tegang.
Pak Kang mengangguk. "Tepat sekali. Sekarang dia kembali, dan posisinya sudah berubah. Dia kini menjadi penasihat utama Grup Daeshin, pesaing terbesar kita. Dan yang lebih parah... dia membawa bukti-bukti lama yang dia klaim sebagai 'kesalahan fatal' Tuan Heesung dalam proyek lima tahun lalu. Dia bilang dia punya data rahasia bahwa Tuan Heesung melakukan pelanggaran kontrak dan manipulasi data demi keuntungan perusahaan."
"Itu bohong!" potong Heesung tegas. "Proyek itu berjalan bersih. Semua keputusan diambil berdasarkan hukum dan aturan. Dia hanya staf biasa saat itu, dia tidak tahu apa-apa tentang strategi tingkat atas."
"Saya tahu itu, Tuan. Tapi masalahnya... data yang dia miliki sangat meyakinkan. Dia punya dokumen palsu yang dibuat sedemikian rupa sehingga terlihat asli. Dia juga mulai berbicara ke publik dan investor besar, mengatakan bahwa Tuan Heesung tidak pantas memimpin perusahaan keluarga Chou karena 'masa lalu yang kotor'. Jika hal ini terus menyebar, para investor akan menarik dana mereka. Saham kita sudah mulai turun sejak pagi tadi."
Hyeri mendengarkan dengan cemas. Ia menyadari betapa besar bahayanya ini. Jika karir dan nama baik Heesung hancur, maka seluruh keluarga Chou akan terancam. Dan posisinya sebagai calon istri Heesung pun tentu akan menjadi sasaran gunjingan orang banyak.
"Tapi kenapa dia melakukan ini?" tanya Hyeri pelan.
Wajah Heesung menjadi suram. "Karena dia menginginkan dua hal: Kekuasaan... dan aku."
Hyeri tertegun.
"Dulu dia pernah mendekatiku. Dia ingin menjadi pasanganku, berharap bisa menguasai separuh kekayaan keluarga Chou. Saat aku menolak tegas dan menjelaskan bahwa bagiku hubungan tidak boleh dicampur dengan ambisi, dia marah besar dan pergi. Sekarang ini adalah cara balas dendamnya. Dia ingin menghancurkan segala yang kumiliki, agar aku jatuh dan dia bisa menjadi penguasa."
Suasana di ruangan itu menjadi berat dan mencekam.
"Dan ada satu hal lagi," tambah Pak Kang dengan suara rendah. "Nenek Besar Chou sudah mendengar kabar ini. Beliau memanggil kita semua ke ruang tengah sekarang juga. Beliau terlihat sangat marah dan kecewa."
Di ruang tengah yang megah namun dingin, Nenek Chou duduk di kursi kebesarannya. Wajah beliau yang biasanya lembut dan ramah kini terlihat keras dan serius. Di sebelahnya sudah duduk beberapa anggota dewan keluarga dan penasihat hukum.
Heesung dan Hyeri masuk bersama-sama. Begitu melihat mereka, suasana menjadi hening seketika.
"Nenek..." sapa Heesung sopan namun penuh rasa bersalah.
Nenek Chou menatap cucunya tajam. "Heesung... apakah semua berita yang beredar itu benar? Apakah kau benar-benar melakukan kesalahan yang memalukan perusahaan ini?"
"Tidak, Nenek. Saya bersumpah semuanya fitnah. Jung Soo-ah membuat semua ini untuk menjatuhkan saya," jawab Heesung tegas.
"Tapi bukti yang dia bawa sangat kuat, Heesung! Saham kita jatuh, mitra bisnis mulai ragu. Kau tahu betapa berharganya nama baik keluarga ini. Jika kau tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan bersih... maka posisimu sebagai pewaris bisa dicabut. Dan..." Nenek Chou mengalihkan pandangannya ke arah Hyeri, "...perjodohan ini pun harus ditinjau ulang."
Kalimat terakhir itu seperti petir di siang hari bagi Hyeri. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu Nenek Chou sangat menyayanginya, tapi bagi neneknya, kelangsungan perusahaan dan nama baik keluarga adalah yang utama.
"Tapi Nenek... Hyeri tidak ada hubungannya dengan masalah ini," bela Heesung cepat.
"Masalahnya, cucuku... Citra itu segalanya. Jika kau dianggap orang yang tidak jujur, maka orang yang ada di sisimu pun akan dianggap membawa nasib buruk bagi keluarga ini. Kau harus bersihkan namamu secepat mungkin, atau semuanya akan hilang. Termasuk masa depanmu bersama Hyeri."
Setelah pertemuan itu selesai, Heesung langsung pergi ke kantor pusat untuk menangani krisis itu, meninggalkan Hyeri sendirian di kediaman. Hyeri merasa sangat sedih dan takut. Ia merasa menjadi beban, dan ia merasa tidak berdaya.
Belum lama itu, telepon genggam Hyeri berdering. Nomor tak dikenal.
"Halo?"
"Jadi kau Hyeri ya... gadis sederhana yang berhasil memikat hati Heesung dan Nenek Chou?" suara wanita terdengar manis namun penuh sindiran tajam.
"Siapa kau?"
"Aku Jung Soo-ah. Tentu saja kau sudah mendengar namaku dari Heesung. Dengar baik-baik, gadis kecil. Aku menelepon untuk memberi peringatan."
Hyeri menggenggam ponselnya erat.
"Heesung sedang di ambang kehancuran. Karirnya, kekayaannya, segalanya akan aku hancurkan berkeping-keping. Tapi... ada satu cara agar dia selamat."
"Apa maksudmu?"
"Tinggalkan dia. Mundurlah dari hidupnya. Jika kau menghilang, aku akan menarik semua tuduhan, aku akan hentikan serangan ini, dan aku akan pastikan Heesung tetap memimpin perusahaan. Tentu saja... dengan syarat dia akan bersamaku."
Hyeri terdiam, matanya berkaca-kaca.
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?" tanya Hyeri dengan suara bergetar namun berani.
"Kau bisa pilih, Hyeri. Biarkan Heesung hancur karena kau tetap di sisinya... atau selamatkan masa depannya dengan cara pergi darinya. Ingat, Nenek Chou pun mulai ragu padanya sekarang. Siapa yang akan kau pilih? Kebahagiaanmu sendiri... atau kebahagiaan Heesung?"
Panggilan telepon terputus begitu saja.
Hyeri terduduk lemas. Di luar jendela, langit mulai mendung, seolah ikut merasakan kegelisahan hatinya. Di satu sisi, ia sangat mencintai Heesung dan tidak mau kehilangannya. Tapi di sisi lain, ia tidak sanggup melihat Heesung kehilangan semua perjuangannya selama ini hanya demi dirinya.
Malam itu Heesung pulang dengan wajah lelah dan penuh beban. Saat melihat Hyeri yang duduk sendirian di beranda, ia langsung mendekat dan memeluknya erat.
"Maafkan aku, Hyeri... Maafkan aku karena membawa masalah ini ke dalam hidupmu," bisik Heesung lembut.
Hyeri membalas pelukan itu, menempelkan telinganya di dada bidang itu, mendengar detak jantung yang berjuang keras.
"Heesung... apa kau akan melepaskan semuanya demi aku?" tanya Hyeri pelan.
Heesung menatap mata Hyeri dalam-dalam. "Tidak ada apa pun di dunia ini yang lebih berharga bagiku selain kau. Perusahaan, kekayaan, jabatan... semuanya bisa dicari kembali. Tapi jika aku kehilanganmu, aku tidak akan pernah menemukan penggantinya."
"Tapi Jung Soo-ah bilang..."
"Abaikan apa pun yang dia katakan," potong Heesung tegas. "Dia hanya ingin memecah belah kita. Dia tahu satu kelemahan terbesarku... dan itu adalah rasa takut kehilanganmu. Tapi dia salah besar. Justru karenamu, aku akan semakin kuat. Bersamamu, aku punya alasan untuk bertarung dan membuktikan kebenaran."
Heesung menggenggam tangan Hyeri dan mengecup punggung tangannya dengan penuh keyakinan.
"Dengar aku, Hyeri. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Seperti yang Nenek katakan, pasangan sejati adalah yang tetap bertahan saat badai datang. Aku tidak akan membiarkan dia menang. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk dia, memisahkan kita."
Meskipun ancaman Jung Soo-ah semakin nyata, meskipun karirnya terancam runtuh, dan meskipun tekanan dari keluarga semakin berat... di malam itu, Hyeri menyadari satu hal penting.
Cinta mereka diuji bukan hanya oleh perbedaan status sosial, tapi juga oleh ambisi jahat orang lain. Dan ujian ini baru saja dimulai.
Apakah mereka cukup kuat melawan?