(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Perubahan sikap Raka
Rasti tertegun melihat Raka yang sangat berbeda, ia terus memperhatikan motor Raka yang mulai menjauh dan hanya menyisakan suara deru motornya yang menggema di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi.
“Sayang, kamu kenapa. Sudahlah, jangan terlalu memikirkan bekas suamimu yang miskin itu," ucap pria di sebalah Rasti itu.
Rasti menoleh pelan. “Sudahlah, Farhan aku hanya ingin pulang.”
Pria bernama Farhan itu jelas merasa kesal mendengarnya, namun ia tetap mempertahankan ekspresinya agar tak membuat Rasti curiga.
Ia pikir hidup bersama perempuan itu tidak serumit yang di pikirkannya, tapi ada kenyataannya ia harus menanggung banyak beban yang belum tentu ia sanggup melakukannya, seperti apa yang di lakukan oleh Raka.
“Sialan, kenapa malah jadi begini,” batinnya kesal.
Farhan memaksakan senyum kecil meski rahangnya tampak sedikit mengeras, tangannya perlahan masuk ke saku celana sambil melirik sekilas ke arah jalan tempat motor Raka tadi menghilang, ada rasa kesal yang mulai mengganggu pikirannya.
Seharusnya pria miskin yang ditinggalkan istrinya akan marah, memohon, atau setidaknya kehilangan harga diri. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Raka terlihat seperti seseorang yang sudah tidak peduli lagi.
Hal itu membuat Farhan merasa aneh, dan sedikit tidak nyaman, terlebih melihat Raka datang di kawal tiga orang yang memanggilnya Tuan, itu sedikit mengganggu pikirannya.
“Ya udah, kalau capek kita pulang saja,” ucap Farhan akhirnya sambil berusaha terdengar santai. “Aku antar.”
Namun langkah Rasti tidak langsung bergerak, tatapannya masih sesaat tertuju ke luar kaca besar kafe, ke arah jalanan yang sudah kembali sibuk seolah mencoba memastikan bahwa Raka benar-benar sudah pergi.
Entah kenapa, bayangan wajah datar pria itu terus terlintas di kepalanya, tidak ada amarah dan tidak ada usaha untuk mempertahankannya.
Seolah semua yang mereka jalani selama bertahun-tahun benar-benar selesai hanya dalam beberapa kalimat.
Rasti menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya membuang napas panjang. “Ayo,” ucapnya lirih.
Farhan mengangguk cepat, jelas lega karena pembicaraan itu tidak diperpanjang. Namun saat keduanya baru beberapa langkah meninggalkan meja, ponsel di tas Rasti bergetar cukup panjang.
Nama yang muncul di layar membuat langkah wanita itu berhenti.
Mama.
Rasti mengernyit kecil lalu segera mengangkat panggilan itu.
“Ma?”
Namun bahkan sebelum ia sempat berbicara lebih jauh, suara panik langsung terdengar dari seberang telepon.
“Rasti! Kamu di mana? Cepat pulang sekarang!”
Rasti langsung menegakkan tubuh. “Kenapa, Ma?”
Suara ibunya terdengar kacau dan penuh kepanikan.
“Orang-orang itu datang ke rumah! Mereka menagih uang, listrik hampir diputus, terus orang leasing juga datang! Mama nggak tahu lagi harus gimana!”
Wajah Rasti berubah pucat seketika. “A-apa?” gumamnya pelan.
Farhan yang berdiri di samping mulai mengernyit bingung, di seberang sana, suara gaduh samar terdengar, seperti beberapa orang sedang berdebat cukup keras.
“Kamu cepat pulang!” lanjut ibunya nyaris menangis.
“Katanya pembayaran udah telat berbulan-bulan, terus ada tagihan pinjaman juga! Mama pikir selama ini semuanya aman-aman aja!”
Jantung Rasti berdetak lebih cepat, kepalanya mendadak terasa kosong. Karena untuk pertama kalinya, ia sadar akan satu hal yang selama ini tak pernah benar-benar ia pikirkan, selama Raka ada, semua masalah itu selalu selesai tanpa ada sedikitpun masalah.
Ia tidak pernah tahu kapan tagihan dibayar, tidak pernah tahu dari mana uang itu datang. Dan tidak pernah bertanya bagaimana Raka menanggung itu semua.
Karena semuanya selalu terasa... berjalan begitu saja.
Farhan mulai terlihat tidak nyaman. “Emang kenapa?” tanyanya pelan.
Rasti menoleh perlahan dengan wajah yang mulai kehilangan warna. “Rumah...” suaranya tercekat kecil. “Banyak penagih datang.”
Ekspresi Farhan berubah tipis, nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam hatinya ikut terasa tidak enak.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai sadar bahwa hubungan ini mungkin tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Farhan terdiam beberapa saat, ekspresinya berubah samar sebelum cepat-cepat dipaksakan kembali menjadi tenang. Ia berdeham kecil lalu mencoba tersenyum seolah situasi itu bukan sesuatu yang besar.
“Ya udah, paling cuma salah paham tagihan atau apa,” ucapnya santai meski nada suaranya terdengar sedikit dipaksakan. “Nanti juga bisa dibereskan.”
Namun Rasti tidak menjawab, jemarinya menggenggam ponsel sedikit lebih erat, suara ibunya yang panik masih terngiang jelas di kepalanya.
Kalimat-kalimat itu terasa asing sekaligus menyesakkan. Karena selama bertahun-tahun, rumah mereka memang tidak pernah mewah, tetapi juga tidak pernah berada dalam kondisi sekacau ini.
Raka selalu memastikan semuanya tetap berjalan, meski sering pulang larut malam, anehnya, kebutuhan rumah tidak pernah benar-benar kurang sedikitpun.
Rasti menelan ludah pelan sebelum buru-buru melangkah keluar kafe. “Aku harus pulang sekarang,” ucapnya cepat.
Farhan refleks ikut berjalan di sampingnya. “Ya udah, aku antar.”
Namun di dalam hati, pikirannya mulai terasa tidak nyaman. Ia sempat membayangkan hubungan dengan Rasti akan terasa mudah, seorang perempuan yang cantik, perhatian, dan selama ini tampak terjebak dengan suami yang menurutnya tidak punya masa depan.
Tetapi sekarang? Masalah keuangan, dan hal yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya membuat Farhan sedikit memiliki penyesalan di hatinya.
Semakin dipikirkan, semakin jauh dari gambaran menyenangkan yang sebelumnya ada di kepalanya.
“Sial...” batinnya kesal.
Begitu keduanya sampai di area parkir, langkah Farhan sedikit melambat tanpa sadar. Tatapannya sekilas kembali mengarah ke jalan besar tempat Raka tadi pergi, sebelum akhirnya ia dan Rasti masuk ke dalam mobilnya.
***
Langit perlahan gelap ketika suara mesin Ducati milik Raka akhirnya memasuki area mansion Pradipta. Lampu-lampu taman yang menyala hangat menerangi jalan panjang menuju bangunan utama, memantulkan bayangan pepohonan rapi di sepanjang halaman yang luas.
Gerbang besar otomatis terbuka tanpa hambatan begitu kendaraan mereka mendekat, mobil pengawal tetap mengikuti dari belakang dengan jarak aman, sementara beberapa petugas keamanan langsung menundukkan kepala hormat saat melihat sosok Raka kembali memasuki kediaman keluarga.
Motor Raka perlahan berhenti di depan area utama mansion, ia mematikan mesin lalu melepas helm dengan gerakan tenang, napasnya keluar pelan seolah berusaha melepaskan sisa penat yang masih tertinggal sejak pertemuan tak terduga tadi.
Jack turun dari motor di belakang sambil melepas helmnya, memperhatikan tuan mudanya sekilas sebelum berkata pelan, “Apa Tuan muda baik-baik saja?”
Raka hanya mengangguk kecil. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya singkat.
Dirinya tahu, ada sesuatu yang terasa aneh setelah bertemu kembali dengan Rasti yang beberapa jam lalu sudah ia putuskan untuk benar-benar meninggalkannya.
Bukan karena masih peduli, tetapi karena akhirnya ia sadar, semua pengorbanan bertahun-tahun itu ternyata benar-benar telah berakhir.
Belum sempat Raka melangkah masuk, suara langkah cepat terdengar dari arah tangga depan mansion.
“Wah, akhirnya kau pulang juga.”
Selina muncul dengan kedua tangan terlipat di dada, rambut panjangnya tergerai santai sementara ekspresi wajahnya terlihat seperti seseorang yang sejak tadi sengaja menunggu.
Tatapannya langsung bergerak dari atas ke bawah, berhenti pada jaket Raka yang sedikit terkena debu jalanan.
“Kamu pergi cuma cari angin atau ikut balapan liar?” tanyanya dengan nada datar bercampur sindiran tipis, karena ia tahu balapan liar termasuk kebiasaan Raka yang sejak dulu sulit di ubah.
Raka mengangkat sebelah alis kecil sebelum melepas sarung tangan motornya. “Kenapa? Khawatir?”
Selina langsung mendecak pelan. “Mimpi,” balasnya cepat. “Aku hanya tidak mau tante Shanum marah, jika tahu anaknya melakukan kebiasaan lamanya.”
Jack refleks menundukkan kepala kecil sambil menahan senyum samar, Raka hanya menggeleng kecil sebelum menyerahkan helmnya pada salah satu pelayan yang datang menghampiri.
“Papa mana?” tanyanya tenang.
“Di ruang kerja, masih rapat online dengan direksi di cabang Singapura,” jawab Selina sambil berjalan mendekat. “Dan Tante Shanum dari tadi nunggu kamu di ruang keluarga. Bahkan nyuruh koki siapin makan malam lebih awal karena takut kamu belum makan.”
Langkah Raka berhenti sesaat, ekspresinya berubah samar, jauh lebih lembut dibanding beberapa detik sebelumnya. Hal kecil seperti itu terasa asing sekaligus hangat bagi dirinya.
Sudah terlalu lama tidak ada seseorang yang benar-benar menunggunya pulang, melihat perubahan kecil di wajah Raka, Selina diam beberapa saat sebelum akhirnya berdeham kecil.
“Oh iya,” katanya santai seolah baru teringat sesuatu. “Tante juga memintaku untuk memarahimu.”
Raka melirik datar. “Kenapa?”
Selina mengangkat alis. “Karena anaknya baru pulang sehari tapi sudah keluyuran sampai sore.”
Kalimat itu membuat langkah Raka berhenti lebih lama, untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam.
Lalu tanpa sadar, sudut bibirnya bergerak tipis, tetapi cukup membuat Selina sedikit terdiam karena sudah lama sekali ia tidak melihat ekspresi seperti itu dari Raka.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku,” bisik Raka sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Selina lalu ia pergi begitu saja.
Sementara itu tanpa sadar wajah Selina memerah, perlakuan Raka kepadanya sangat berbeda dengan sosok Raka yang dulu di kenalnya, dingin, ceroboh berandalan dan terkadang sering membuat dirinya menangis.
“Apa yang sebenarnya terjadi? sikap dia... sedikit lebih lembut dari biasanya,” batin Selina sambil melangkah masuk menyusul Raka yang ada di depannya.
Note: Mohon maaf apabila ada kesalahan kata dan kalimat, Author nulis banyak buku + kejar target jadi terkadang lupa untuk merevisi naskah, jika ada yang perlu di koreksi silahkan berkomentar, terimakasih ya teman-teman sudah mampir dan baca karya ini.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km