hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 13: KEBERSAMAAN YANG TAK TERLUPAK
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 13: KEBERSAMAAN YANG TAK TERLUPAKAN
"Ria senang sekali hari ini... terima kasih sudah mengajak Ria ke pasar," kata Ria tulus sambil menatap wajah abangnya dengan mata yang berbinar-binar bahagia, seolah mendapatkan hadiah paling indah di dunia.
"Haaa... kamu ini Dik... sampai begitu senangnya ya?" goda Bang Arefin sambil tertawa kecil, hatinya terasa hangat melihat wajah adiknya yang berseri-seri, jauh berbeda dari wajah murung dan takut yang biasa ia lihat selama ini.
Karena pasar itu letaknya agak jauh dari desa mereka, biasanya Ria hanya mendengar cerita orang lain saja, ia sendiri belum pernah sekalipun diajak atau berkesempatan ke sana, apalagi berjalan beriringan bersama seluruh anggota keluarga seperti hari ini. Rasanya mimpi indah yang akhirnya menjadi nyata.
Ria langsung menggenggam tangan Bunda dengan erat dan penuh rasa sayang, diikuti oleh Dimas, Bagas, dan Fajar yang dengan ceria berjalan di sampingnya, sesekali berlari kecil ke depan lalu kembali lagi ke belakang sambil tertawa riang. Di sebelah kiri dan kanan mereka, berjalan ketiga abangnya, Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah, berjalan tegap seolah menjadi benteng pelindung agar tak ada satu pun orang yang berani mendekat atau mengganggu mereka sepanjang jalan.
Sepanjang perjalanan, warga desa yang berpapasan dengan mereka seketika berhenti dan menatap takjub, tak percaya dengan pemandangan indah di depan mata mereka. Dulu, Ria selalu berjalan sendirian, menundukkan kepala, sepi, dan sering jadi bahan cemoohan. Tapi hari ini? Ia berjalan di tengah-tengah, dikelilingi kasih sayang yang utuh, wajahnya berbinar penuh percaya diri, dan senyumnya memancarkan kebahagiaan yang begitu tulus.
"Lihat deh, Bu... betapa berubahnya keluarga itu ya... Dulu rasanya dingin banget, sekarang hangat banget lihatnya," bisik seorang warga pada temannya.
"Iya ya... Mungkin mereka sadar akhirnya, betapa berharganya punya saudara perempuan satu-satunya. Senang sekali rasanya melihat mereka rukun dan bahagia begini," jawab yang lain sambil tersenyum haru.
Percakapan itu terdengar jelas di telinga Bang Hamza, namun ia hanya tersenyum tipis dan menatap adiknya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ada rasa bahagia, tapi jauh di lubuk hatinya masih ada rasa perih dan sesal yang mendalam, mengingat betapa lama mereka membiarkan adik kecilnya itu berjuang sendirian menanggung kesepian dan penderitaan.
Sesampainya di pasar, suasana riuh dan ramai langsung menyambut mereka. Berbagai aroma makanan, suara pedagang yang menawarkan dagangan, dan warna-warni barang dagangan membuat mata Ria berbinar takjub. Ia berjalan perlahan sambil menatap segala sesuatu di sekelilingnya, seolah sedang masuk ke dalam dunia baru yang belum pernah ia jamah sebelumnya.
"Kamu mau beli apa, Dik? Atau ada makanan apa yang kamu suka? Bilang saja sama Abang, boleh ambil apa saja yang kamu mau," tanya Bang Ardiansyah lembut sambil mengusap bahu adiknya.
Matanya berkaca-kaca melihat wajah polos adiknya yang begitu takjub melihat hal-hal yang sebenarnya biasa saja bagi orang lain, tapi baginya adalah hal yang luar biasa.
Ria menggeleng pelan sambil tersenyum, "Tidak usah mahal-mahal, Bang... Cuma melihat-lihat saja sudah cukup buat Ria kok. Ria sudah sangat senang bisa jalan-jalan sama kalian semua begini..." jawabnya tulus, hatinya sudah terasa penuh sampai meluap-luap.
Namun Bunda Maria langsung menepuk pelan tangan Ria, "Jangan bicara begitu, Nak... Hari ini Bunda dan Abang-abangmu sengaja mengajak kamu ke sini, mau membelikan apa saja yang kamu suka sebagai tanda kasih sayang kami, dan sebagai tanda permohonan maaf kami yang selama ini lalai dan lupa akan keberadaanmu. Anggap saja ini hadiah kami buat kamu, ya?" bujuk Bunda lembut dengan suara yang sedikit bergetar menahan haru.
Mereka pun berkeliling beriringan, membeli kebutuhan dapur, sayuran segar, dan buah-buahan. Bang Arefin sengaja membeli jajanan kesukaan anak-anak, dan tak lupa ia membelikan sebungkus besar kue basah yang paling disukai Ria, meski ia tahu Ria tak akan pernah memintanya sendiri.
"Ini buat kamu ya, Dik... Makanlah yang enak, nikmati ya," kata Bang Arefin sambil menyodorkan bungkusan itu ke tangan Ria. "Dulu Abang sadar, Abang sering makan enak tapi sama sekali tidak pernah ingat atau menawarkan padamu. Maafkan kelalaian Abang ya... Mulai sekarang, apa saja yang ada, pasti ada bagiannya buat kamu, tidak akan pernah lagi dibedakan atau disembunyikan."
Ria menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar, air matanya kembali menggenang namun ia buru-buru menyekanya agar tidak sampai jatuh dan membuat mereka sedih. Rasanya, setiap kata yang keluar dari mulut abangnya terasa begitu manis dan menenangkan hati, lebih nikmat dari makanan apa pun yang ada di dunia ini.
Setelah selesai berbelanja dan berkeliling sepuas hati, matahari sudah mulai condong ke barat, langit berubah menjadi jingga keemasan yang indah sekali. Mereka pun berjalan pulang dengan langkah yang sama gembiranya seperti saat berangkat. Di sepanjang jalan pulang, obrolan mereka tak pernah putus, canda tawa mengisi udara, menandakan bahwa luka lama perlahan mulai menutup dan digantikan dengan kebahagiaan yang nyata.
Di dalam hati Ria, ia bersyukur tak terkira pada Tuhan. Ia sadar, perubahan ini mungkin baru permulaan, luka di hatinya mungkin belum hilang sepenuhnya, tapi ia percaya, dengan kasih sayang yang tulus dan kebersamaan yang mulai terjalin erat seperti ini, kebahagiaan sejati akan segera menghampiri dan menetap selamanya di rumah kecil mereka.
Hari itu menjadi kenangan indah yang terukir dalam ingatan mereka semua, bukti nyata bahwa tak ada kasih sayang yang lebih kuat selain kasih sayang saudara yang mau saling memaafkan dan saling menjaga.