Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAWAL PRIBADI
Alessandro berjalan ke balik meja kerjanya, lalu menuangkan minuman keras ke dalam dua gelas kaca kecil.
"Minumlah, hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi kita," ucap Alessandro, menyodorkan salah satu gelas ke arah Nero.
"Terima kasih, Yang Mulia," jawab Nero menerima gelas itu dengan hormat, lalu meminumnya dalam sekali tegak.
Glek
Rasa hangat langsung menjalar di tenggorokannya, padahal ini masih pagi, mereka berdua sudah minum wine, untung mereka mereka berdua memiliki kekebalan tubuh yang tinggi.
"Nanti siang siapkan surat resmi dari kediaman Magnus yang ditujukan langsung kepada Kaisar. Tuliskan dengan jelas bahwa Pangeran Mahkota tertangkap basah melakukan percobaan pembunuhan terhadap Grand Duchess," perintah Alessandro, meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
"Apakah kita juga harus melampirkan tuntutan ganti rugi atau wilayah anda ingin kan, Grand Duke?" tanya Nero, matanya berbinar karena tahu ini adalah kesempatan emas untuk memperluas wilayah utara.
"Jangan terburu-buru, Nero. Biarkan pria tua itu yang menawarkan kompensasinya sendiri terlebih dahulu, kita lihat seberapa berharga nyawa putra mahkota di matanya," jawab Alessandro dengan kekehan rendah yang terdengar sangat licik.
Nero tersenyum lebar, menyadari betapa pasnya pasangan Grand Duke dan Grand Duchess mereka saat ini, sama-sama memiliki otak yang dipenuhi rencana licik untuk menghancurkan musuh.
"Saya mengerti, kalau begitu, saya permisi dulu untuk menyelesaikan urusan penjagaan dan mata-mata, Yang Mulia," pamit Nero, membungkuk dalam.
"Satu lagi Nero, panggil Hugo untuk kembali ke kediaman Magnus, aku ingin dai menjadi pengawal pribadi Anastasia!" Perintah Alessandro yang cukup mengejutkan Nero.
"A-apa Yang Mulia, Hugo?" tanya Nero, melotot kan matanya.
"iya."
Jawab Alessandro singkat.
"Tapi, Grand Duke... Apakah Anda yakin?" tanya Nero setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya, meskipun raut wajahnya masih dipenuhi keraguan yang besar.
Alessandro tidak langsung menjawab, dia berjalan mendekati perapian dan melemparkan sepotong kayu kayu kering ke dalam kobaran api, membuat percikan merah melesat ke udara.
"Aku tidak pernah mengulang perintahku dua kali, Nero," ucap Alessandro dingin tanpa berbalik, namun nadanya sudah cukup membuat nyali bawahannya itu sedikit ciut.
"Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia. Hanya saja, kita semua tahu bagaimana watak Hugo," ucap Nero mencoba menjelaskan alasannya dengan hati-hati, tidak ingin memancing amarah sang Grand Duke.
"Dia adalah ksatria paling keras kepala dan bermulut tajam di seluruh pasukan Magnus. Menempatkannya untuk menjadi pengawal pribadi Grand Duchess, yang baru saja kita ketahui memiliki sifat yang cukup keras dan kejam, bukankah itu bisa memicu keributan baru di kediaman ini?" lanjut Nero, menyampaikan ke khawatiran nya.
Alessandro akhirnya berbalik, bersandar pada tepian meja di belakangnya sambil bersedekap dada.
"Justru karena wataknya yang seperti itu, Nero, aku ingin Hugo menjadi pengawal pribadi nya," ucap Alessandro dengan senyum misterius yang tersungging di sudut bibirnya.
Nero mengerutkan keningnya, masih belum menangkap sepenuhnya jalan pikiran sang Grand Duke.
"Maksud Anda?" tanya Nero, menanti penjelasan lebih lanjut.
"Anastasia adalah wanita yang sangat cerdas dan penuh manipulasi, jika aku menempatkan ksatria biasa atau pelayan penurut di sisinya, dia akan dengan sangat mudah menyetir mereka di bawah telunjuknya," jawab Alessandro, menjelaskan, matanya berkilat penuh perhitungan.
"Tapi Hugo? Bocah itu tidak peduli pada air mata wanita atau status bangsawan, dia hanya patuh pada perintahku, dan aku butuh seseorang yang tidak bisa digoyahkan oleh pesona Anastasia untuk terus mengawasinya dari jarak dekat," lanjut Alessandro.
Nero terdiam sejenak, mencerna setiap kata yang diucapkan tuannya, sebelum akhirnya sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya karena menyadari betapa cerdiknya keputusan tersebut.
"Ah, jadi Anda ingin menyatukan dua manusia yang sama-sama keras itu?" gurau Nero, mencoba mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Bisa dibilang begitu. Aku ingin tahu, seberapa cepat istri ku itu bisa menjinakkan serigala liar seperti Hugo, atau justru sebaliknya," jawab Alessandro, ikut terkekeh pelan membayangkan interaksi yang akan terjadi antara istrinya dan sang ksatria berbakat namun menyebalkan itu.
"Rencana yang sangat menarik, Yang Mulia. Kalau begitu, saya akan segera mengirim burung pesan ke perbatasan hari ini juga agar Hugo bisa tiba di kediaman ini sebelum makan malam nanti," ucap Nero, kini sepenuhnya mendukung keputusan sang Grand Duke.
"Bagus. Pastikan dia langsung menghadap ku begitu menginjakkan kaki di halaman depan," perintah Alessandro tegas, memberikan lambaian tangan kecil sebagai isyarat bahwa pembicaraan mereka benar-benar telah usai.
"Baik, dilaksanakan. Saya permisi, Grand Duke," pamit Nero, kali ini benar-benar melangkah mundur dengan senyum penuh arti, lalu menutup pintu ruang kerja tersebut dengan rapat.
Setelah Nero keluar dari ruangan, Alessandro tidak langsung kembali ke meja kerjanya. Pria itu melangkah pelan menuju sofa panjang di sudut ruangan, tempat di mana lilin aromaterapi pemberian Anastasia tadi malam sudah mati.
Aroma lavender di ruangan itu sudah mulai menipis, berganti dengan aroma pagi yang dingin. Alessandro menyentuh ujung lilin tersebut dengan jarinya, dengan garis bibir nya yang sedikit terangkat, membentuk senyuman kecil.
Sementara itu, di kamar sang Grand Duchess,
Anastasia menggeliat malas di atas ranjangnya, dia mengembuskan napas panjang, merasa tidurnya semalam adalah yang paling nyenyak sejak dia bertransmigrasi ke dunia ini.
"Ah, segar sekali, ternyata punya tubuh sehat tanpa beban pikiran di pagi hari itu luar biasa," bisik Anastasia pada dirinya sendiri sembari mendudukkan diri di tepi ranjang.
Tadi malam sebelum tidur, Anatasia menyempatkan diri nya untuk masuk ke ruang dimensi nya sebentar, mengambil beberapa vitamin.
Tok
Tok
Tok
"Grand Duchess, apakah Anda sudah bangun?" suara Nina terdengar dari balik pintu.
"Masuklah, Nina," jawab Anastasia, suaranya sudah kembali terdengar tenang dan berwibawa.
Pintu terbuka, dan Nina melangkah masuk, dengan wajah yang terlihat jauh lebih rileks dibandingkan kemarin, dan ada sedikit binar penasaran di matanya.
"Selamat pagi, Grand Duchess. Anda terlihat sangat segar hari ini," ucap Nina tersenyum sopan.
"Tentu saja aku segar, Nina, setelah pertunjukan yang sangat meriah kemarin dan sedikit hiburan tadi malam, bagaimana mungkin aku tidak tidur nyenyak?" jawab Anastasia, tersenyum tipis.
"Grand Duchess, gosip di dapur pagi ini benar-benar meledak! Para pelayan bilang Pangeran Mahkota Arkan dikurung di kamar tamu tahanan, atas perintah Grand Duke langsung! Apakah itu benar?" tanya Nina dengan suara berbisik, tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Anastasia terkekeh pelan melihat ekspresi pelayan pribadinya yang tampak sangat puas itu.
"Itu bukan cuma gosip, Nina, tapi itu fakta. Pria bodoh itu sekarang sedang meratapi nasibnya di dalam kamar yang dijaga ketat," jawab Anastasia, tersenyum miring.
"Baguslah! Biar dia tahu rasa!" seru Nina pelan, mengepalkan tinjunya dengan penuh semangat.