Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Masuk ke Sarang Monster
Bab 10 — Masuk ke Sarang Monster
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan terus menggema di depan gedung. Malam Palermo berubah seperti neraka penuh darah dan api.
Amelia Santoso berjongkok di balik mobil hitam dengan tubuh gemetar hebat. Kedua tangannya menutup telinga, tetapi suara tembakan tetap terasa memekakkan.
Air matanya terus jatuh.
Ia takut.
Sangat takut.
Beberapa meter di depannya, Lorenzo Moretti berdiri sambil menembaki musuh-musuhnya tanpa ragu sedikit pun.
Dor!
Satu pria kembali roboh.
Tatapan Lorenzo tetap dingin. Wajah tampannya bahkan tidak menunjukkan emosi saat melihat orang-orang mati di sekitarnya.
Seolah membunuh hanyalah bagian biasa dari hidupnya.
Marco De Luca berlindung di balik mobil lain sambil membalas tembakan.
“Bos! Kita harus pergi sebelum polisi datang!”
Lorenzo menembak satu pria lagi sebelum akhirnya berjalan mundur perlahan.
“Siapkan mobil.”
“Sudah.”
Anak buah Moretti segera membuka pintu mobil hitam panjang di belakang mereka.
Namun saat Marco hendak menarik Amelia masuk—
“Aku tidak mau ikut!” Amelia langsung memberontak panik.
Marco menahan lengannya kuat-kuat. “Kalau kau tetap di sini, kau akan mati.”
“Aku hanya ingin pulang!”
“Terlambat.”
Jawaban itu membuat Amelia membeku.
Terlambat?
Apa maksudnya terlambat?
Namun sebelum ia sempat bertanya—
Dor!
Peluru menghantam kaca mobil tepat di samping mereka.
Amelia menjerit ketakutan.
Marco langsung menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam mobil.
“Jalan sekarang!”
Ban mobil berdecit keras saat iring-iringan kendaraan hitam melaju meninggalkan gedung.
Suasana di dalam mobil terasa sangat sunyi.
Amelia duduk di sudut kursi sambil memeluk dirinya sendiri. Napasnya masih kacau. Wajahnya pucat. Tubuhnya belum berhenti gemetar sejak tadi.
Di depannya, Lorenzo duduk dengan tenang sambil membersihkan darah di tangannya menggunakan sapu tangan hitam.
Seolah malam berdarah tadi tidak memengaruhinya sama sekali.
Amelia diam-diam menatap pria itu.
Tampan.
Elegan.
Namun mengerikan.
Aura Lorenzo terlalu gelap hingga membuat Amelia sulit bernapas jika berada dekat dengannya.
Mobil terus melaju melewati jalanan malam Palermo yang dipenuhi cahaya kota.
Marco akhirnya memecah keheningan.
“Kau aman sekarang.”
Amelia langsung menatapnya.
“Aman?” suaranya bergetar. “Kalian membunuh orang…”
Marco terdiam beberapa detik.
“Kami juga menyelamatkanmu.”
“Itu tidak mengubah kenyataan!”
Tatapan Amelia mulai memerah karena menahan tangis.
“Aku hanya ingin pulang ke desa… aku tidak ingin berada di sini…”
Lorenzo akhirnya mengangkat pandangan perlahan.
Tatapan abu-abunya langsung bertemu dengan mata Amelia.
Dan seketika suasana kembali terasa menyesakkan.
“Namamu.”
Amelia membeku beberapa detik sebelum menjawab pelan.
“Amelia…”
“Nama lengkap.”
“Amelia Santoso.”
Lorenzo terus menatapnya tanpa berkedip.
“Usia.”
“D-dua puluh empat…”
Marco diam-diam memperhatikan interaksi itu dengan heran.
Biasanya Lorenzo sama sekali tidak tertarik mengenal siapa pun.
Namun sekarang…
bosnya malah menginterogasi seorang gadis desa.
“Kenapa mereka membawamu ke sana?” tanya Lorenzo lagi.
Amelia menggenggam ujung bajunya pelan.
“Aku… dijanjikan pekerjaan…”
“Dan kau langsung percaya?”
Nada suara Lorenzo terdengar dingin dan tajam.
Amelia langsung menunduk malu.
“Aku butuh uang untuk pengobatan nenekku…”
Kalimat itu membuat suasana mobil mendadak sunyi.
Tatapan Lorenzo berubah samar.
“Nenek?”
Amelia mengangguk pelan.
“Beliau sakit…”
Suara gadis itu mulai bergetar lagi.
“Aku tidak punya siapa-siapa selain beliau…”
Marco menghela napas pelan.
Sekarang ia mulai mengerti kenapa Amelia bisa terjebak perdagangan manusia seperti tadi.
Karena putus asa.
Dan dunia selalu kejam pada orang-orang putus asa.
Mobil akhirnya memasuki area mansion besar berpagar besi hitam.
Mata Amelia langsung membesar.
Bangunan itu terlihat seperti istana.
Mewah.
Gelap.
Dan menakutkan.
Puluhan pria bersenjata berjaga di berbagai sudut.
Pintu gerbang terbuka perlahan saat mobil masuk.
Jantung Amelia kembali berdegup tidak tenang.
Tempat apa ini sebenarnya?
Mobil berhenti tepat di depan mansion utama.
Beberapa pelayan langsung berdiri rapi menyambut kedatangan mereka.
Marco turun lebih dulu.
Sementara Amelia masih diam di dalam mobil dengan wajah pucat.
“Ayo turun,” ucap Marco.
Amelia menggeleng cepat.
“Aku ingin pulang…”
Marco terlihat serba salah.
Namun sebelum ia sempat bicara—
“Keluar.”
Suara Lorenzo membuat Amelia langsung menegang.
Pria itu sudah berdiri di luar mobil sambil menatapnya dingin.
Amelia perlahan turun dengan kaki gemetar.
Begitu berdiri di dekat Lorenzo, ia baru sadar pria itu jauh lebih tinggi dibanding dirinya.
Dan aura menakutkan itu terasa semakin kuat dari dekat.
Beberapa pelayan diam-diam terlihat terkejut melihat Amelia.
Karena selama ini…
Lorenzo tidak pernah membawa wanita pulang ke mansion.
Tidak pernah.
Mereka masuk ke dalam mansion yang sangat besar dan mewah.
Lampu kristal menggantung tinggi di langit-langit. Lantai marmer hitam mengilap. Lukisan-lukisan mahal memenuhi dinding.
Namun entah kenapa…
tempat itu terasa dingin.
Tidak ada kehangatan sama sekali.
Amelia merasa seperti masuk ke sarang monster.
“Siapkan kamar,” ucap Lorenzo singkat.
Salah satu pelayan wanita langsung menunduk hormat. “Baik, Tuan Lorenzo.”
Amelia langsung panik.
“Kamar?”
Tatapan Lorenzo kembali tertuju padanya.
“Kau tinggal di sini sementara.”
“A-apa?! Tidak!”
Amelia langsung mundur selangkah.
“Aku tidak mengenal kalian!”
“Kau juga tidak punya tempat aman untuk pergi sekarang.”
“Aku bisa pulang!”
“Orang-orang yang menjualmu masih hidup.”
Kalimat Lorenzo membuat Amelia langsung terdiam.
Wajahnya perlahan memucat.
Ia bahkan tidak memikirkan itu sebelumnya.
Kalau mereka mencarinya lagi…
Kalau mereka datang ke desa…
Kalau neneknya dalam bahaya…
Tubuh Amelia mulai gemetar lagi.
Lorenzo memperhatikan perubahan ekspresi gadis itu tanpa bicara.
Lalu akhirnya berkata pelan,
“Di sini lebih aman.”
Aneh.
Nada suara pria itu tetap dingin.
Namun untuk pertama kalinya…
Amelia tidak mendengar ancaman di dalamnya.
Seorang pelayan wanita akhirnya mendekat perlahan.
“Nona, mari ikut saya.”
Amelia masih ragu.
Namun ia sadar tidak punya pilihan lain.
Sebelum pergi, ia kembali menatap Lorenzo.
Pria itu kini berjalan menuju tangga utama mansion sambil melepas jas hitamnya yang berlumuran darah.
Langkahnya tenang.
Dingin.
Dan penuh wibawa mengerikan.
Marco berdiri di dekat Amelia sambil menghela napas pelan.
“Selamat datang di rumah keluarga Moretti.”
Amelia menelan ludah gugup.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia merasa hidupnya tidak akan pernah sama lagi sejak bertemu Lorenzo Moretti.
Pelayan wanita tadi membawa Amelia melewati koridor panjang mansion yang dipenuhi lukisan mahal dan lampu dinding berwarna keemasan.
Semakin jauh mereka berjalan, Amelia semakin merasa kecil di tempat sebesar itu.
“Ini kamar Anda, Nona,” ucap pelayan tersebut lembut.
Pintu besar dibuka perlahan.
Mata Amelia langsung membesar.
Kamar itu bahkan lebih besar daripada rumah kecilnya di desa.
Tempat tidur luas dengan seprai putih bersih berdiri di tengah ruangan. Ada balkon pribadi dengan pemandangan taman belakang mansion. Lemari pakaian besar memenuhi sisi ruangan.
Semua terlihat begitu mewah.
Namun Amelia justru merasa asing.
“Aku benar-benar akan tinggal di sini…?” gumamnya pelan.
Pelayan itu mengangguk sopan.
“Kalau Anda membutuhkan sesuatu, tekan bel di dekat tempat tidur.”
Amelia menunduk pelan.
“Terima kasih…”
Setelah pelayan pergi, Amelia duduk perlahan di tepi ranjang.
Tubuhnya terasa sangat lelah.
Namun pikirannya jauh lebih lelah.
Ia memeluk dirinya sendiri sambil memandangi ruangan sunyi itu.
Lalu perlahan…
air matanya jatuh lagi.
Ia merindukan rumah.
Merindukan neneknya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Amelia merasa benar-benar sendirian di dunia yang begitu gelap.