NovelToon NovelToon
Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Salah Alamat Berujung Di Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Nayla Putri tidak menyangka kalau niatnya menolong orang yang pingsan di depan pintu rumahnya harus berahir di pelaminan Bagaimana Nayla menjalani pernikahan dadakannya itu ? apakah Nayla akan bahagia ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung yang Berdetak

Ancaman Baskoro membuat bulu kuduk Nayla berdiri. Pria tua ini benar-benar kejam dan berkuasa. Nayla melirik Gibran dengan tatapan horor, namun Gibran justru mengangguk pelan ke arahnya, memberikan kode agar menerima tantangan tersebut.

"Bagaimana? Kalian sanggup?" tanya Baskoro menantang.

Gibran melangkah maju. "Kami sanggup, Pa."

Baskoro kemudian menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut, lalu mendorongnya ke arah Gibran dan Nayla. "Tanda tangani surat perjanjian ini. Tiga bulan tinggal bersama. Tanpa ada skandal, tanpa ada drama yang keluar ke media. Jika kalian berhasil melewati tiga bulan ini dengan harmonis, Papa akan merestui pernikahan kalian dan mendaftarkannya secara resmi ke KUA. Tapi jika gagal ... kalian tahu konsekuensinya."

Dengan tangan yang sedikit bergetar, Gibran mengambil pulpen dan menorehkan tanda tangannya di atas kertas perjanjian tersebut. Dia kemudian menyerahkan pulpen itu kepada Nayla. Nayla menatap kertas itu dengan perasaan campur aduk. Menandatangani kertas ini berarti dia harus merelakan kehidupan lajangnya yang tenang selama tiga bulan ke depan untuk hidup bersama seorang pria asing yang super kaya dan menyebalkan. Namun, menolaknya berarti dia harus menghadapi kehancuran kariernya akibat ancaman Baskoro.

"Bismillah ... persetan dengan drama ini," gumam Nayla sangat lirih, lalu menandatangani kertas tersebut dengan coretan yang tegas.

Setelah drama menegangkan di ruangan Baskoro selesai, Gibran dan Nayla akhirnya diizinkan keluar.

Mereka kini berdiri di dalam lift yang sedang bergerak turun menuju lobi. Suasana di dalam lift kembali hening, namun kali ini dipenuhi oleh aura kecanggungan yang berbeda.

Begitu pintu lift terbuka di lobi, Nayla langsung melangkah keluar dengan cepat, tidak ingin berlama-lama berada di dekat Gibran.

Namun, Gibran kembali mengejarnya dan menahan lengannya di dekat pintu keluar gedung.

"Nayla, tunggu dulu!" seru Gibran.

Nayla berbalik dengan wajah yang memerah karena marah. "Apalagi sih, Mas?! Puas lu sekarang?! Hidup gue yang tenang mendadak jadi taruhan dalam permainan gila keluarga lu! Tiga bulan? Tinggal bersama? Lu pikir kita lagi syuting acara realitas?!"

"Gue terpaksa, Nayla! Lu enggak tahu bokap gue kayak gimana. Kalau tadi gue enggak ambil keputusan itu, dia bisa bertindak lebih nekat," Gibran mencoba menjelaskan dengan nada frustrasi. Dia mengusap wajahnya yang lelah. "Dengar, kita sudah tanda tangan. Enggak ada jalan kembali. Sekarang kita harus menyusun rencana dasar untuk tiga bulan ke depan."

Nayla melipat kedua tangannya, menatap Gibran dengan tatapan menantang. "Rencana apa?"

Gibran mencondongkan tubuhnya, berbicara dengan suara setengah berbisik agar tidak terdengar oleh orang lain. "Kita buat surat perjanjian rahasia di antara kita berdua. Pertama, kita tinggal di apartemen gue, bukan di kontrakan lu yang sempit itu karena orang suruhan bokap gue bakal gampang curiga. Kedua, di dalam apartemen, kita punya wilayah kekuasaan masing-masing. Kamar tidur pisah. Lu jangan harap bisa menyentuh gue, dan gue juga enggak bakal menyentuh lu."

Nayla mencibir mendengar poin kedua. "Heh, Mas Direktur yang terhormat. Lu pikir gue nafsu sama cowok yang hobi pingsan di teras rumah orang dengan kancing baju terbuka? Jangan kegeeran ya! Nilai ketampanan lu langsung minus di mata gue sejak semalam!"

Gibran mendengus, sedikit tersinggung karena ketampanannya yang biasa dipuji banyak wanita kini dihina oleh seorang desainer kasual. "Bagus kalau begitu. Poin ketiga, di depan publik atau di depan orang suruhan bokap gue, kita harus pura-pura jadi pasangan yang harmonis dan saling menyayangi. Mengerti?"

"Mengerti, Suami Pajangan," jawab Nayla dengan senyum sinis yang dipaksakan. Dia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit pagi. "Sekarang, berikan uang taksi sepuluh kali lipat yang lu janjikan tadi. Gue harus ke kantor sebelum bos gue berubah jadi monster yang mengamuk!"

Gibran tidak banyak bicara lagi. Dia membuka dompetnya, mengambil seluruh uang tunai pecahan seratus ribu yang ada di dalamnya total ada sekitar satu juta rupiah lalu menyerahkannya ke tangan Nayla. "Nih. Ambil sekalian kembaliannya untuk ongkos lu pindahan ke apartemen gue nanti malam. Gue bakal kirim sopir untuk jemput lu jam tujuh malam di kontrakan. Jangan terlambat."

Nayla menerima segepok uang tersebut dengan mata yang sedikit berbinar.

Setidaknya, penderitaannya pagi ini dibayar dengan tunai. "Oke. Sampai jumpa nanti malam, Mas Gibran yang salah alamat. Bersiaplah menghadapi mimpi buruk terbesarmu selama tiga bulan ke depan," ucap Nayla dengan nada penuh kemenangan yang dibuat-buat, lalu berbalik dan melangkah anggun meninggalkan lobi Mahardika Tower.

Nayla baru saja melangkahkan kaki melewati pintu lobi ketika tiba-tiba sebuah tangan besar kembali menarik pergelangan tangannya dengan cepat.

“Eh ... !”

Karena gerakannya terlalu mendadak, tubuh Nayla kehilangan keseimbangan. Hak sepatu rendah yang dikenakannya sedikit terpeleset di lantai marmer licin. Dalam sepersekian detik, tubuhnya oleng ke belakang.

Refleks, Gibran langsung menarik Nayla lebih kuat agar gadis itu tidak jatuh.

Namun akibatnya justru lebih fatal.

Bukannya berhasil berdiri tegak, Nayla malah terhuyung tepat ke dalam pelukan Gibran.

Bruk!

Kedua tubuh mereka saling bertabrakan cukup keras.

Nayla membelalakkan mata sempurna ketika kedua tangannya tanpa sadar mencengkeram dada bidang Gibran, sementara lengan pria itu melingkar erat di pinggangnya untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.

Waktu seolah berhenti sesaat.

Suasana lobi yang ramai mendadak terasa menghilang dari pendengaran mereka.

Yang terdengar hanya detak jantung.

Deg!

Deg!

Deg!

Napas Nayla tercekat. Aroma parfum maskulin bercampur aroma kopi dari tubuh Gibran memenuhi indra penciumannya. Jarak mereka terlalu dekat. Sangat dekat hingga Nayla bisa melihat jelas garis rahang tegas pria itu dan bulu mata lentiknya yang ternyata terlalu sempurna untuk ukuran laki-laki.

Sementara itu, Gibran sendiri tampak sama terkejutnya.

Untuk pertama kalinya, dia menyadari kalau gadis cerewet di hadapannya ini ternyata memiliki mata yang sangat jernih. Wajah Nayla yang biasanya galak kini terlihat berbeda dalam jarak sedekat ini. Ada kepanikan, rasa malu, sekaligus sesuatu yang sulit dijelaskan.

Dan anehnya …

Jantung Gibran berdetak lebih cepat.

Pria itu bahkan bisa merasakan tubuh Nayla yang ikut menegang di dalam pelukannya.

Beberapa orang di lobi mulai melirik ke arah mereka.

Seorang resepsionis wanita bahkan tampak menahan senyum melihat posisi keduanya yang terlalu romantis untuk disebut kebetulan.

Nayla langsung tersadar lebih dulu.

Dengan wajah merah padam sampai ke telinga, dia buru-buru mendorong dada Gibran hingga sedikit menjauh.

“Mas bisa enggak sih enggak nyentuh orang sembarangan?!” semburnya salah tingkah.

Padahal jantungnya sendiri masih berdetak tidak karuan.

Gibran ikut berdeham canggung. Biasanya dia sangat tenang menghadapi wanita mana pun, tetapi entah kenapa bersama Nayla semuanya terasa berantakan.

“Kalau gue enggak narik lu tadi, lu sudah nyium lantai,” balas Gibran berusaha terdengar santai, meski telinganya ikut memerah.

Nayla mendelik malu. “Ya terus kenapa harus meluk segala?!”

“Refleks.”

“Alasan!”

“Ya habis tubuh lu ringan banget!”

“MAS!”

Gibran spontan tertawa kecil melihat Nayla yang makin panik sendiri. Dan anehnya, untuk pertama kali sejak drama gilanya pagi itu dimulai, rasa pusing di kepalanya sedikit menghilang.

Sedangkan Nayla diam-diam menggigit bibir bawahnya sendiri.

("Kenapa jantung gue jadi aneh begini…?") batinnya panik.

Tanpa mereka sadari, benih perasaan kecil mulai muncul di antara pertengkaran konyol dan pernikahan pura-pura mereka.

1
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
SANG
Hadi💪👍
falea sezi
lanjut q kasih nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!