Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Semburat Kecemburuan
Aroma bedak bayi dan minyak telon menyapu indra penciuman Sumarni. Bau lembut itu beradu dengan aroma anyir pelumas hitam di telapak tangannya. Pelukan mungil Dimas begitu erat, menghalau rasa dingin dari lantai tegel paviliun.
Dimas melepaskan pelukannya perlahan. Mata bulat bocah itu bergerak turun, menatap telapak tangan Sumarni yang kotor. Ada goresan merah keunguan di dekat ibu jari Sumarni akibat jepitan tang besi semalam.
Bocah itu menarik tangan kanan Sumarni menggunakan kedua tangan kecilnya. Ia mendekatkan luka tersebut ke mulutnya, lalu meniupnya dengan embusan napas hangat.
"Biar tidak sakit lagi, Ibuk," bisik Dimas polos.
Kata-kata itu mendarat lembut, menembus kesadaran Ratna Dewi yang kini menghuni tubuh ini. Sebagai mantan editor konten tahun 2026, ia terbiasa dengan persaingan kejam.
Namun, ketulusan anak tiri di hadapannya ini seketika meruntuhkan seluruh dinding pertahanan emosionalnya.
Naluri keibuan yang murni bergejolak kuat di dalam dadanya, menciptakan debaran hangat. Sumarni tersenyum, mengabaikan rasa perih di jemarinya yang kapalan.
Ia menggunakan punggung tangan kiri untuk mengusap sisa air mata di pipi Dimas.
"Ibuk sudah tidak sakit lagi, Dimas. Lihat, mesin jahit Ibuk juga sudah sembuh," kata Sumarni lembut.
Dimas menoleh ke arah mesin jahit Singer hitam di atas meja jati. Pancaran cahaya fajar membuat permukaan besi itu berkilau magis. Bocah itu tahu betapa mengerikannya amukan preman suruhan Sulastri kemarin malam.
Bagi pikiran kecil Dimas, Ibuknya adalah sosok pelindung yang luar biasa hebat.
Di ambang pintu kamar yang sedikit terbuka, sebuah bayangan tinggi kokoh berdiri mematung. Harjono baru saja kembali dari rumah utama setelah meluapkan kemarahannya kepada Sulastri. Sepatu kulitnya sengaja tidak ia ketukkan ke lantai tegel.
Ia menyaksikan seluruh interaksi manis itu dari balik kegelapan koridor.
Mata tajam Harjono beralih dari pelukan hangat itu ke arah mesin jahit Singer yang tampak utuh. Rahangnya mengeras karena terkejut. Semalam, ia melihat mesin itu ringsek dengan roda pemutar hancur.
Benda tua itu mengingatkannya pada almarhum ibunya, seorang pengrajin batik tulis yang tekun. Harjono sendiri memilih membangun pabrik rokok kretek sebagai bisnis utamanya.
Meskipun sukses mengelola ribuan buruh linting tembakau, Harjono tetap paham tentang mekanisme mesin jahit berkat kenangan masa kecilnya.
Ia tahu betul bahwa memperbaiki poros besi yang bengkok memerlukan keahlian mekanik tingkat tinggi. Bagaimana mungkin seorang Sumarni yang selama ini lemah mampu melakukan hal tersebut sendirian dalam satu malam?
Harjono melangkah masuk ke dalam kamar, memecah keheningan dengan suara gesekan sol sepatunya yang berat. Sumarni dan Dimas menoleh serentak.
Dimas langsung bergeser, menyembunyikan tubuh kecilnya di belakang punggung Sumarni. Tangan mungilnya mencengkeram erat kain kebaya katun ibunya yang terkena pelumas. Dimas memilih berlindung di balik tubuh Sumarni daripada melarikan diri.
Sikap spontan Dimas adalah bukti nyata dari sebuah kepercayaan mutlak yang telah terbangun sempurna.
Harjono merasakan dadanya berdenyut aneh, ada rasa bersalah yang menusuk hatinya melihat reaksi ketakutan sang anak. Kebohongan Sulastri yang menuduh Sumarni kejam kini runtuh tidak bersisa di depan matanya.
"Dimas, kembali ke kamarmu dulu dan bersiap untuk mandi pagi," ujar Harjono berat.
Dimas mendongak menatap wajah Sumarni untuk meminta persetujuan. Setelah Sumarni memberikan anggukan lembut, bocah itu baru melepaskan cengkeramannya. Ia berjalan cepat keluar kamar.
Kini, ruangan yang dipenuhi aroma pelumas hanya menyisakan Harjono dan Sumarni. Harjono mendekat hingga aroma tembakau cengkehnya tercium tajam. Pria itu menyentuh roda penggerak mesin jahit yang berputar sangat halus.
"Kamu yang memperbaiki ini sendirian?" tanya Harjono, menatap lurus ke dalam manik mata Sumarni.
Sumarni berdiri tegak, melipat kedua tangan di depan dada tanpa menunjukkan rasa gentar. "Tidak ada orang lain di paviliun ini yang memiliki kepentingan untuk menyelamatkan bisnis Sekar Malam selain saya, Tuan Harjono."
Harjono mengamat-amati penampilan Sumarni dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wajah cantik wanita itu cemong oleh bercak hitam pelumas. Kerah kebayanya basah oleh keringat, memperlihatkan lekuk lehernya yang tegang karena kelelahan.
Namun, tidak ada secercah pun kelemahan atau kepasrahan yang terpancar dari wajah itu.
Ada rasa kagum mulai bergejolak di dalam hati sang pemilik pabrik kretek. Wanita di hadapannya bukan lagi Sumarni yang lemah yang dulu ia nikahi demi status sosial. Ada api kecerdasan dan kekuatan menyala tajam di sepasang matanya.
"Dari mana kamu mendapatkan keahlian mekanik seperti ini?" Harjono menelisik lebih dalam.
"Saat seseorang terdesak untuk mempertahankan hidup dan masa depannya, akal budinya akan bekerja melebihi batas," jawab Sumarni dingin. "Saya tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan mata pencaharian saya lagi."
Harjono terdiam, lidahnya mendadak kelu mendengarkan jawaban menohok itu. Kalimat Sumarni adalah tamparan keras bagi harga dirinya sebagai suami. Pengusaha kretek itu merasa posisinya sebagai pelindung utama kini bergeser sepenuhnya.
"Aku sudah memberikan pelajaran keras pada Sulastri di rumah utama," kata Harjono, mencoba menegakkan kembali wibawanya. "Dia tidak akan pernah berani mengusik paviliun ini atau menyentuh barang-barangmu lagi."
Sumarni hanya menyunggingkan senyuman tipis yang penuh dengan makna tersembunyi di balik ketenangannya. Sebagai mantan editor, ia tahu gertakan Harjono hanya akan membuat Sulastri bermain lebih rapi. Namun, untuk saat ini, ia memilih menerima pernyataan tersebut sebagai sebuah keuntungan taktik.
[Sistem Istri Ideal Era mendeteksi rasa bersalah dan ketertarikan target meningkat pesat. Poin tambahan berhasil diperoleh: 150 Poin.]
Layar transparan berwarna hijau neon berkedip sesaat sebelum lenyap kembali ke dalam sistem. Sisa poinnya kini bertambah, mengamankan posisinya untuk membuka keterampilan berikutnya yang ia butuhkan.
Sumarni mengembuskan napas panjang, menatap suaminya dengan tatapan mengusir secara halus.
"Terima kasih atas tindakan tegas Anda, Tuan Harjono," ucap Sumarni dengan nada formal yang menjaga jarak. "Sekar Malam harus segera memproduksi kain batik sutra pesanan Nyonya Wardoyo hari ini juga."
Harjono merasa tidak nyaman dengan panggilan formal yang terus dilemparkan oleh Sumarni. Ia teringat warisan almarhum ibunya yang masih tersimpan rapi di lemari khusus rumah utama. Meskipun fokus bisnis utamanya adalah rokok kretek, ia masih menyimpan jaringan pemasok katun peninggalan ibunya.
"Nanti siang, aku akan meminta mantan rekanan almarhum Ibu untuk mengirimkan kain katun terbaik ke paviliun ini," ujar Harjono menawarkan bantuan. "Mereka memiliki persediaan bahan katun mori primisima yang paling halus untuk mempermudah pekerjaanmu."
Sumarni menatap wajah suaminya tanpa ada rasa gejolak kekaguman atau rasa berutang budi. "Anda tidak perlu repot-repot menghubungi mereka, Tuan Harjono. Saya sudah mengurus semua kebutuhan bahan baku Sekar Malam secara mandiri."
Harjono membalikkan seluruh tubuhnya dengan cepat, alis tebalnya bertaut rapat memancarkan ketidakpuasan yang nyata. "Mandiri? Dari mana kamu mendapatkan jalur perdagangan kain berkualitas tanpa bantuan dariku?"
"Saya sudah menjalin kerja sama dengan pengepul kain terbesar di pasar Beringharjo," jawab Sumarni dengan tenang. "Pemiliknya sendiri yang akan mengantarkan contoh kain dan bahan sutra terbaik ke paviliun ini."
Harjono merasakan dadanya mendadak sesak oleh ketidaknyamanan asing yang mulai membakar hatinya. "Siapa pemilik yang kamu maksud itu?"
"Raden Mas Bramantyo," sahut Sumarni singkat, menyebutkan nama pengusaha muda keturunan bangsawan yang sukses di kota itu. "Beliau akan datang berkunjung ke paviliun ini tepat jam sepuluh pagi nanti untuk membicarakan kontrak jangka panjang bisnis Sekar Malam."
Mendengar nama itu disebut dengan begitu santai dari bibir istri keduanya, rahang Harjono seketika mengeras kuat. Rasa tidak nyaman menyerang dadanya secara brutal, merusak ketenangan pagi. Semburat kecemburuan yang belum pernah ia rasakan kini meledak mendominasi pikiran.