Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata yang selalu basah
“Tolooooong.” Delana berusaha berontak saat pria itu masih berusaha untuk mencium Delana. Bahkan dua teman nya berusaha membantu sampai akhirnya.
Bughhhh!
Sebuah hantaman keras mendarat di wajah pria itu hingga terpental. Kirana yang masih ketakutan pun dibuat kaget.
Beberapa di anatara merka berusaha lari, namun dua pria dengan pakaian jas lengkap dengan cekatan menarik mereka dan melemparnya ke jalanan. Motor mereka pun dirusaknya dengan cepat.
“Delana.”
Gadis itu segera menoleh saat mendengar suara orang yang dia kenal sekilas saat di pesta.
“Pak Rayden.”
Rayden segera melepaskan jas nya, lalu menutupi tubuh Delana. Tanpa banyak bertanya, Rayden menggendong Delana menuju mobil.
“Habisi mereka semua!”
Mata Delana membelalak mendengar ucapan Rayden. Dia menoleh ke belakang dan melihat anak-anak yang menjahati dirinya sedang di hajar oleh dua orang bodyguard Rayden.
“Pak, jangan sampai mereka mati.”
Rayden tidak menjawab.
“Pak ….”
“Tenang saja, mereka masih akan aku beri kesempatan hidup meski harus dalam keadaan cacat.”
Tubuh Delana melemas mendengar ucapan Rayden. Dia memang marah dan benci pada pria dan temannya itu, hanya saja …. Bukankah balasan nya terlalu kejam.
Rayden membawa Delana ke rumah sakit untuk diperiksa.
“Apa perlu aku menghubungi Rex?”
Delana hanya diam meski sebenarnya dia ingin sekali menghubunginya.
Rayden tersenyum tipis, lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Rex. Tidak mengatakan apapun, hanya melakukan video call sambil menunjukkan keadaan Delana. Mematikan ponselnya, lalu sharelok pada Rex.
“Rex akan sampai sebentar lagi, aku harus pergi.”
“Tapi ….”
“Jika kami bertemu di sini, takutnya ruang IGD akan porak poranda.”
Meski tidak mengerti, tapi Delana mencoba untuk memahami jika Rex dan Rayden memang tidak punya hubungan baik.
“Pak, makasih ya.”
“Oke. Aku pergi ya.”
“Hati-hati, Pak.”
“Serius kamu bilang begitu?”
Delana tertawa. Rayden pun pergi meninggalkan Delana sendiri di IGD.
Gadis itu melihat sikutnya yang terluka, terasa perih. Delana meniupnya pelan-pelan.
Mata Delana teralihkan pada sebuah sepatu yang begitu mengkilap di bawah. Dia tahu itu adalah Rex. Delana berpura-pura tidak ngeh jika Rex sudah datang.
“Jelaskan.”
Delana masih pura-pura meniup sikutnya.
Rex menarik nafas dalam. Dia berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Benar-benar butuh kesabaran tingkat dewa menghadapi bocah yang ada di hadapan nya ini.
“Delana, look at me.”
Delana menurunkan tangannya, lalu menengadahkan kepala pelan.
“I’am fine?”
“Are you kidding me!?”
“Iya, iya. Aku jelasin.”
Delana menceritakan semua runtutan kejadian dari awal dia diusir orang tuanya, berjalan kesasar, bertemu segerombolan orang jahat dan berakhir di di rumah sakit.
“Digendong Rayden?”
Delana tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rex.
“Dari semua rangkaian kejadian, serius bapak lebih penasaran dengan adegan itu?”
“Kenapa dia harus menggendong kamu?”
“Ya terus? Masa iya Pak Rayden harus nyeret aku gitu!? Ish, gimana sih?”
“Kan bisa memapah aja. Toh kamu juga gak pincang kan?”
“Dahlah. Tadi mending ikut aja ke rumah Pak Rayden.”
Delana berbaring, lalu membelakangi Rex. Tanpa aba-aba, Rex menggendong Delana dan membawanya pulang.
Saat di perjalanan, Delana lebih banyak diam, tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan mengajak Rex ribut sangan ucapan nya yang asbun.
“Apa yang akan terjadi jika Pak Rayden tidak melintas?”
Pertanyaan Delana membuat Rex emosi dan ingin mencari para bocah yang sudah membuat Delana seperti ini.
Dia menggenggam erat jemari Delana.
“Ada aku sekarang. Kamu aman.”
Delana menatap Rex. Matanya sudah basah karena air mata. Hati Rex semakin sakit dan marah melihat nya.
“Aku bersedia tinggal di rumah bapak.”
“Ya, tentu.”
Delana kembali menatap jauh ke luar sana. Membayangkan bagaimana jika Rayden tidak datang saat itu. Badan nya bergetar karena rasa takut dan trauma.
“Lana, kemarilah.”
Delana menoleh, dia menggeserkan tubuhnya agar bisa lebih dekat pada Rex. Dengan hangat, pria itu merangkul Delana. Memberikan rasa aman pada gadis itu, memastikan agar dia tahu bahwa selama ada dirinya, maka Delana akan baik-baik saja.
Gadis itu menangis sesenggukan dalam dekapan Rex.
Saat terlelap, terlihat sekali dengan jelas wajah lelah Delana. Meski cantik, tapi tidak ada aura kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Dia memang ceria dan selalu tertawa, tapi matanya selalu terlihat basah. Seolah menangis adalah hal yang sulit dia lakukan jika tidak dalam kondisi yang benar-benar dramatis seperti kejadian malam ini.
Rasa ingin melindungi nya tumbuh semakin besar dalam hati Rex. Apapun itu, dia tidak akan melepaskan Delana lagi.
Rex kembali ke balkon, menghirup cerutu sambil memandang langit malam.
“Ada apa lagi dengan si bos? Padahal wanitanya sudah ada di kamar, tapi wajahnya masih saja masam.”
“Setidaknya tidak ada yang berdiri tegak lagi.”
“Ah elah, lo kenapa sih ke situ lagi fokusnya.”
“Begitulah cinta dan wanita, si bos yang terkenal sangar dan kejam saja bisa dibuat sekusut itu sama perempuan.”
“Memangnya kenapa sama mereka? Berantem kah?”
“Bukan, katanya wanita yang ada di kamar si bos sekarang anaknya Pak Sharga.”
“Hah? Yang bener lo?”
“Beneran. Mungkin nyonya kita adalah jaminan hutangnya.”
“Tapi kok si bos mau ya? Anak perempuan dari pengusaha lain kan banyak? Kalian tau kan Non Celine? Beuh, dia kan ajip bener badan nya. Sementara yang sekarang? Mana kecil, ceking, kayak bukan anak orang kaya.”
“Mungkin si bos suka beneran kali.”
“Bisa jadi.”
“Ya sudah, ayo kita kembali main. Lo udah kalah dua kali, sekali lagi lo kalah, jangan lupa transfer ke dana, gue mau bayar cod anak gue.”
Saat satu batang cerutu nya habis, Rex kembali masuk. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tidak ingin ada sisa asap yang menempel di tubuhnya saat mendekati Delana.
Dengan memakai kaos putih dan celana panjang untuk tidur, Rex membaringkan tubuhnya di samping Delana. Di tatapnya wajah sendu itu tanpa jeda. Sesekali Rex mengusap kepala gadis itu.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi.”
Rex menggenggam tangan Delana, lalu dia pun mulai memejamkan mata.