NovelToon NovelToon
Terjebak CEO Tampan

Terjebak CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.

IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9 : Tiga Hari?

Beberapa saat setelah itu…

Nayra perlahan melepaskan pelukan Raya. Ia mengusap air mata di pipi anaknya dengan lembut, lalu tersenyum tipis.

“Ayo… kita pilih,” bisiknya pelan.

Raya tidak langsung menjawab, tapi akhirnya mengangguk kecil. Mereka kembali ke area utama butik.

Di sisi lain, Alea masih sibuk dengan gaun-gaun cantik yang dipilihkan oleh para pelayan. Ia sudah mencoba beberapa, berputar di depan cermin sambil tertawa kecil.

“Ma! Lihat ini!” serunya riang.

Nayra tersenyum melihatnya. Nayra sangat bahagia ia melihat Alea benar-benar bahagia tanpa beban.

Sementara itu, Raya akhirnya mulai berjalan perlahan ke arah rak gaun anak-anak. Meski masih terlihat ragu, ia mulai memperhatikan satu per satu.

Seorang pelayan mendekat dengan ramah.

“Nona, mungkin yang ini cocok,” ucapnya sambil menunjukkan gaun berwarna lembut dengan desain sederhana tapi manis.

Raya menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Aku coba,” ucapnya singkat.

Tak lama kemudian, keduanya sudah masuk ke ruang ganti masing-masing.

Alea keluar lebih dulu. Gaun berwarna pastel itu jatuh ringan di tubuh kecilnya. Ia berputar di depan cermin, rambutnya sedikit terayun.

“Cantik nggak, Ma?” tanyanya penuh harap.

“Cantik banget,” jawab Nayra tulus.

Beberapa detik kemudian, Raya juga keluar. Gaun pilihannya jauh lebih sederhana. Tidak terlalu mencolok, tapi elegan. Ia berdiri kaku di depan cermin. Seolah tidak terbiasa melihat dirinya seperti itu.

Nayra mendekat, lalu tersenyum. “Raya… kamu cantik.”

Raya sedikit menunduk, pipinya memerah samar. Namun ia tidak membantah. Di kejauhan, Arsen berdiri memperhatikan.

Tatapannya tenang, tapi jelas tidak melewatkan satu pun momen itu.

“Sekarang kamu.” Suara Arsen membuat Nayra menoleh.

Ia terdiam sejenak. Lalu akhirnya, Nayra berjalan ke arah deretan gaun pengantin. Tangannya menyusuri kain-kain lembut yang tergantung rapi. Ada yang megah, berlapis-lapis, penuh detail berkilau.

Namun, langkahnya berhenti pada satu gaun. Gaun itu simple, tanpa terlalu banyak hiasan. Tapi potongannya bersih, jatuh dengan elegan… sepertinya dirancang untuk seseorang yang tidak ingin terlihat berlebihan, namun tetap memikat.

Nayra menatapnya cukup lama. “Yang ini,” ucapnya pelan.

Pelayan segera tersenyum. “Pilihan yang sangat bagus, Nona.”

Beberapa menit kemudian…

Tirai ruang ganti perlahan terbuka, dan Nayra melangkah keluar.

Gaun itu membalut tubuh Nayra dengan sempurna. Garisnya sederhana, tapi justru menonjolkan keanggunan alami yang selama ini tersembunyi.

Gaunnya tidak berlebihan, tidak mencolok, tapi memukau. Wajah Nayra terlihat lebih lembut dan lebih segar.

Namun yang paling mencolok, Nayra tidak terlihat seperti wanita yang sudah memiliki dua anak. Justru, seperti seseorang yang baru saja menemukan kembali dirinya.

Alea langsung membulatkan mata. “Mama…” suaranya penuh takjub.

Raya terdiam sejenak, tiba-tiba ekspresinya berubah, dia merasa kagum dengan Ibunya.

“Cantik banget…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Sementara itu, Arsen tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya berhenti lebih lama dari biasanya. Dingin yang biasa ada di matanya, seakan menghilang sejenak.

Ia menatap Nayra tanpa berkedip. Ia benar-benar melihat wanita itu, bukan sekadar sebagai bagian dari sebuah kesepakatan.

Ruangan itu masih hening.

Seolah semua orang enggan merusak momen yang baru saja tercipta.

Nayra berdiri canggung di depan cermin besar. Tangannya sedikit meremas kain gaun di sampingnya. Ia tidak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini.

“Kalau… ini terlalu berlebihan, aku bisa ganti yang lain,” ucap Nayra pelan, sedikit ragu.

“Jangan.” Suara itu datang cepat dari Raya.

Nayra menoleh.

Raya melangkah mendekat, matanya masih tertuju pada ibunya. “Jangan diganti,” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Yang ini… bagus.”

Ada sesuatu dalam suaranya, bukan sekadar pendapat. Tapi… pengakuan.

Alea juga langsung mengangguk cepat. “Iya, Ma! Mama pakai gaun ini, Mama terlihat semakin cantik!”

Ia bahkan menarik sedikit ujung gaun itu dengan hati-hati, seolah tidak ingin merusaknya. Nayra tersenyum kecil. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun...

“Ambil yang itu.” Suara Arsen terdengar datar, tapi tegas.

Semua menoleh padanya.

Ia berdiri dengan kedua tangan di saku, tatapannya masih tertuju pada Nayra. “Tidak perlu lihat yang lain.”

Kalimatnya singkat. Seolah keputusan itu sudah final.

Nayra terdiam. Ia menatap Arsen beberapa detik. Entah mengapa… kali ini, nada suara pria itu tidak terasa memaksa seperti sebelumnya.

Pelayan butik langsung bergerak sigap. “Baik, Tuan. Kami akan siapkan gaun ini,” ucapnya ramah.

Beberapa pelayan lain mulai mencatat, menyiapkan ukuran, dan detail penyesuaian.

Alea langsung bersorak kecil. “Yeay! Mama jadi pakai itu!”

Raya hanya tersenyum tipis.

Nayra menghela napas pelan. Perlahan, ia menatap dirinya sendiri di cermin sekali lagi. Gaun itu, bukan hanya mengubah penampilannya. Tapi juga menariknya masuk ke dalam kehidupan baru yang tidak pernah ia rencanakan.

Langkah kaki Arsen terdengar mendekat. Ia berhenti tepat di belakang Nayra. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Nayra menyadari keberadaannya.

“Cocok,” ucap Arsen singkat.

Namun entah mengapa ucapannya, terasa berbeda. Nayra menatap pantulan Arsen di cermin. Untuk sesaat, tatapan mereka bertemu.

Dan kali ini, tidak ada dingin yang biasanya terasa. Hanya diam, dan sesuatu yang belum bisa dijelaskan. Nayra langsung mengalihkan pandangan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Aku… akan ganti,” ucapnya pelan.

Ia berbalik dan berjalan kembali ke ruang ganti. Namun sebelum tirai tertutup sepenuhnya, suaranya berhenti sejenak.

Ia menoleh sedikit, ke arah Raya dan Alea. Kedua anak itu masih menatapnya dengan ekspresi yang sama. Bangga dan bahagia.

Nayra tersenyum kecil. Lalu masuk sepenuhnya ke dalam ruang ganti.

Beberapa menit kemudian…

Mereka kembali berada di luar butik. Kotak-kotak gaun sudah dibawa oleh para staf ke mobil. Alea masih bercerita tanpa henti tentang gaun pilihannya.

Raya berjalan di samping Nayra, kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Tanpa sadar, tangannya menggenggam ujung lengan Nayra.

Arsen berjalan lebih dulu menuju mobil. Namun sebelum masuk, ia berhenti. Menoleh sedikit ke belakang. Tatapannya jatuh pada tiga sosok itu.

Nayra dan kedua anaknya. Untuk beberapa detik, ia hanya diam. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia masuk ke dalam mobil.

Namun kali ini, ada satu hal yang berbeda. Keputusan yang ia buat, tidak lagi terasa sekadar urusan bisnis. Dan tanpa ia sadari, sesuatu mulai berubah.

Mobil kembali melaju meninggalkan butik.

Kali ini… suasananya berbeda.

Alea masih sibuk bercerita tentang gaunnya, sesekali tertawa kecil, penuh semangat.

Raya duduk di samping Nayra. Tidak banyak bicara, tapi tangannya masih menggenggam lengan Nayra, seolah belum ingin melepaskannya.

Sedangkan Nayra hanya terdiam. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya jauh ke mana-mana. Semua terasa terlalu cepat dan kehidupan baru yang bahkan belum sempat ia pahami.

“Tiga hari lagi.” Suara Arsen tiba-tiba memecah keheningan.

Nayra langsung menoleh. “Tiga hari lagi apa?” tanyanya pelan.

Arsen tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap ke depan. “Pernikahan,” ucapnya singkat.

Namun cukup untuk membuat jantung Nayra seolah berhenti sesaat. “Tiga hari?” ulang Nayra, suaranya sedikit bergetar.

“Itu sudah termasuk lama,” jawab Arsen tenang.

Nayra terdiam. Tangannya tanpa sadar menggenggam lebih erat kain di pangkuannya.

“Itu terlalu cepat…” gumamnya pelan.

Raya yang mendengar langsung menoleh. “Tiga hari?” ulangnya, kali ini dengan nada tidak suka. “Kenapa harus secepat itu?”

Arsen tidak terlihat terganggu. “Karena tidak ada yang perlu ditunda." Jawaban yang dingin, tapi tegas. Dan tidak memberi ruang untuk dibantah.

Raya langsung menyipitkan mata. “Tapi Mama belum siap. Suasana kembali menegang.

Nayra sedikit terkejut mendengar itu. Namun sebelum ia sempat berbicara...

“Aku tidak butuh dia siap atau tidak,” jawab Arsen datar. Kalimat itu, menusuk.

Raya langsung menatap Arsen dengan tajam. “Aku butuh!” Suara Raya kali ini lebih keras.

Alea yang tadi ceria langsung diam, menoleh bingung.

Nayra refleks memegang tangan Raya. “Raya…”

Namun anak itu tidak mundur. Tatapannya tetap lurus ke depan. “Kalau Mama sedih lagi, aku nggak akan diam,” lanjutnya.

1
Arditya
Buku ini bagus ceritanya. Authornya mendalami banget ya sama cerita ini. lanjut thor sampai ratusan bab.
Vhiie Chavtry
suka banget, ada gambar visualnya di babnya... semangat Thoor😍
Vhiie Chavtry
aku suka banget sama Alea...hheee

semangat, lanjut thoor😄👍
Vhiie Chavtry
Ceritanya sangat menarik, dan relate... semangat author. recommended bangt sih😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!