Rumi terlempar ke dunia otome game yang sedang digandrungi. Tapi, dia bukan tokoh utama wanitanya.... Dia cuma seekor kucing!
Berbekal pengetahuan akan seluruh akhir cerita bersama tiga pangeran, Rumi bertekad mengatur jalur romansa agar semuanya berakhir bahagia.
Namun, kehidupan tidak pernah sesederhana permainan game....
Tiga pangeran berarti tiga jalan hidup. Tiga pilihan. Dan hubungan yang perlahan menghancurkan dari dalam.
Apakah yang dia ketahui masih cukup? Ataukah, pada akhirnya Rumi tidak bisa melakukan apa-apa....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rootea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 - Tak Terduga
Dalam perburuan ini, setiap partisipan dibekali terompet dengan bunyi yang berbeda. Pengawal dan pelayan yang menemani bertugas akan membunyikan terompet itu tiap kali mereka berhasil mendapat buruan, juga mencatat skor dari masing-masing partisipan lain. Sehingga, biarpun hutan itu begitu luas dan peserta tersebar sehingga nyaris tidak bisa melihat keberadaan yang lain, dapat diketahui bahwa Raien berada di posisi pertama saat ini.
Sudah kuduga.
Nomor dua diisi oleh Caelian dan Kaisar yang mendapat total poin yang sama. Selanjutnya ada nama bangsawan, Halden, dan di bawahnya adalah Jovienne. Beberapa nama bangsawan seperti Regnard, Lysarent, dan entah siapa lagi, mengikuti setelahnya.
Jovienne terlihat sangat berambisi untuk mengejar sang pangeran kedua.
Seekor babi hutan berukuran besar dengan kulit keras dan kasar menyerupa kayu tua baru saja terguling di hadapan kami. Jovienne berseru girang kala melompat dari kudanya untuk memastikan hewan itu benar-benar mati dan tidak lagi bergerak.
Babi hutan itu lebih sulit untuk dilumpuhkan dibanding si rusa. Mendapatkannya otomatis meraih poin lebih besar. Aku bisa lihat senyum puas di wajah Jovienne.
Sebagai seorang yang lahir dan besar di Tokyo, aku tidak pernah lihat babi hutan. Sedikit penasaran, aku ikut melompat dari keranjang dan menghampiri mereka. Kabarnya, di permukaan kulit babi ini kadang tumbuh lumut yang bercahaya di bawah bulan purnama.
Ketika aku mendekat, Jovienne sedang berjongkok di samping si babi. Wajah gadis itu terlihat begitu serius.
“Aneh,” dia bergumam. Jemarinya menyusuri bekas luka melengkung di sisi tubuh babi itu.
Apanya yang aneh?
Seolah sedang mengobrol dengan bahasa yang sama, aku menanggapi gadis itu.
“Ada yang lebih dulu menyentuhnya.” Jovienne kembali berucap pelan. Seakan benar mengerti perkataanku. "Ini bukan luka dariku."
Aku mengulurkan kepala untuk melihat lebih jelas. Dari dekat, bekas luka itu tampak berkilau. Seperti ditaburi emas—
Suara keresak samar sontak membuat Jovienne berdiri. Detik berikutnya, gadis itu sudah berlari mengejar.
Aku sendiri hanya sempat lihat sepintas di antara ranting. Tapi, aku yakin itu tanduk emas!
Jovienne juga pasti melihatnya.
Sebelum sadar, aku sudah ikut berlari di belakang gadis itu. Ada adrenalin yang berpacu di tubuhku. Lebih banyak karena penasaran. Sedikitnya juga ingin membuktikan apakah cerita soal hewan magis itu benar adanya.
Sayangnya, bukan tanpa sebab hewan itu dibilang langka dan sulit didapat. Berkompetisi dalam kecepatan seperti ini mungkin bukan strategi terbaik.
Kami kehilangan jejak.
Dan ketika mengedarkan pandangan, aku baru sadar kami terpisah dari rombongan. Tak tampak seorang lainpun di sekitar sana.
Aku melompat ke pundak Jovienne dan mengeong pelan. Mengajak gadis ini untuk berbalik dan kembali ke tempat semula. Kemungkinan bahwa kami tersesat di hutan asing ini sama sekali bukan pikiran menyenangkan.
Lagi, kami mendengar suara keresak dan ranting terinjak.
Pergerakan tiba-tiba berbarengan dengan angin yang berhembus kencang itu sempat membuat jantungku melompat. Anak panah Jovienne dengan cepat terpasang pada busur yang tegang, siap melesat.
Ketika berbalik ke arah sumber suara, rupanya….
“Jangan melangkah lebih jauh, Tuan Putri,”
Rambut perak muncul dari antara dedaunan, berkilau di bawah cahaya matahari.
“ini terlalu dekat perbatasan.”
Bersamaan, kami menghela napas lega.
Rupanya itu Havren.
Melihat ke sekeliling, aku baru menyadari pepohonan di sini memiliki batang lebih besar. Sulur-sulur tua menggantung di antara dahannya. Dan kabut tipis menggantung rendah.
Sebelum sempat menanggapi, tiba-tiba terdengar suara geraman.
Bersamaan dengan itu bau hangus menguar di udara. Di antara pepohonan, sesuatu bergerak. Kilatan hitam. Mendekat cepat.
Harimau Api Hitam!
Nama itu terlintas di kepala sebelum dia benar-benar muncul di hadapan kami.
Aku tahu yang namanya harimau memang berukuran besar. Tapi! Hewan buas ini lebih besar lagi. Dia menjulang begitu tinggi dan bisa dengan mudah menginjak kami. Api hitam menyala di antara cakar tajam. Kontras dengan bulunya yang seputih tulang.
Jelas sekali kalau mencoba kabur, kami akan kalah cepat.
Seakan tidak mau memberi waktu untuk berpikir, Harimau itu mendekat. Langkahnya berat. Geraman bergetar dari dadanya. Rendah. Mengancam.
Jovienne melempar belati ke arah mata gelap hewan itu. Jelas mengincar titik untuk melumpuhkannya. Sayangnya, serangan itu meleset—harimau itu menghindar!—dan bilah tajam hanya menggores di dekat telinga.
Hewan itu mengaum. Nyaring. Membuat pepohonan dan tanah bergetar.
Lalu, ia menerjang—
Di bawah ancaman besar itu tubuh kami membeku. Aku, membeku.
Di hadapan taring yang siap menerkam, aku sempat melihat Havren melangkah ke hadapan Jovienne, memposisikan diri sebagai tameng.
Aaaah apa kami akan mati di sini??
—game over??
Apa aku bisa revive dan mengulang dari awal??
Sebelum aku menutup mata dan menerima takdir, tiba-tiba saja… harimau itu tersayat.
Pedang besar membelah tubuh raksasa. Darahnya menciprat ke mana-mana. Kepala harimau yang memamerkan taring pun menggelinding ke dekat kaki.
Dari balik pemandangan mengerikan itu, Raien berdiri dengan gagah, mengibaskan sisa darah dari pedangnya.
Di belakang, pelayan dan prajurit mulai berdatangan. Terdengar pekikan terkejut begitu mereka melihat keberadaan harimau api hitam di sana.
“Pangeran Raien.” Havren memanggil dengan lega bercampur senang. Ia melangkah, berniat menghampiri yang lebih tua.
Raien berdecak keras.
Rahangnya tampak kaku. Ekspresinya tak bersahabat; tidak kalah seram dari si harimau.
Dia menancapkan pedang besarnya di jantung hewan buas itu, menghentikan pergerakan yang tersisa. “Perhatikan sekitarmu, bodoh!” sentaknya.
Langkah Havren terhenti.
Raien melirik kepala bangkai harimau yang terpisah dari badan. “Merepotkan sekali.” Suaranya terdengar rendah, hampir seperti geraman. “Bedebah tidak berguna.”
Tubuh tegap itu lalu berbalik, berjalan menghampiri kuda hitamnya dalam langkah lebar, seolah tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi di sana.
Aku mengernyit. Heran.
Kenapa Raien bicara seperti itu??
Dalam game, Raien memang terlihat garang dan susah didekati. Tapi... Rasanya dia tidak sekasar ini.
“Terima kasih atas pertolonganmu, Pangeran Raien.” Jovienne berseru.
Telah kembali duduk di atas pelana kuda, Raien pun mengangguk.
“Kuharap kau tidak terluka, Putri Jovienne. Pergilah segera ke dokter istana,” ucapnya.
“Aku akan mengantar—”
“Raien.”
Dari antara kerumunan, Caelian tiba-tiba muncul. Kedatangannya di atas kuda putih tampak begitu terang. Menyilaukan. Terutama setelah apa yang terjadi.
Aku menyadari perkataan Havren terputus dan dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak juga ada sapaan terdengar. Pangeran bungsu itu hanya menundukkan kepala, seakan jalinan akar di bawah kakinya tiba-tiba begitu menarik untuk diperhatikan.
“Ada yang berhasil melukaimu?” Sang putra mahkota bertanya, mengisyaratkan pada cipratan darah di pakaian Raien.
“Bukan darahku.”
“Kalau begitu, mungkin bisa dihitung sebagai buruanmu.” Caelian tersenyum tipis.
“Selera humormu tetap payah.” Sahutan itu terdengar dingin.
Kemudian, dua kuda dengan warna kontras itu membawa pemiliknya pergi.
Samar-samar aku mendengar Raien menggerutu,
“Bedebah tak berguna itu seharusnya sudah lama diberi pelajaran.”
Selama beberapa saat, aku menatap kepergian mereka. Sampai dua sosok itu hilang di antara pepohonan.
Sementara di sekitar kami, para prajurit mulai mengurusi bangkai si harimau. Dan beberapa pelayan memeriksa kemungkinan luka di tubuh Jovienne juga Havren. Meski tak ditemukan luka, sudah diputuskan mereka harus segera kembali ke istana.
Selama perjalanan pulang, aku tidak bisa menyingkirkan perasaan mengganjal di hatiku.
Apa yang terjadi barusan itu… begitu aneh.
Bukan saja karena tiba-tiba ada hewan buas yang dikata hanya muncul di Hutan Selubung Maut. Kami memang cukup dekat dengan perbatasan, tapi, apa tidak ada yang menjaga area itu dan memastikan tidak ada gangguan??
Selain itu… ada hal kecil yang aku sadari. Kecil, tapi cukup mengganggu.
Selama kejadian tadi, tidak sekalipun Caelian melirik Havren. Apalagi menyapa. Seolah-olah… tidak ada di sana…
Hah! Apa-apaan ini…
Jangan bilang Havren dirundung dua kakaknya???