NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:471
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Listrik Kandang dan Lampu Belajar Nisa

Hujan deras malam itu. Genteng kandang bocor di tiga titik. Nisa tidur meluk seragam barunya biar gak basah. PR matematika dari Bu Indah ketutup plastik kresek.

Lampu teplok satu-satunya mati. Minyak tanah habis. Gelap total Jendral. Cuma ada suara kodok sama suara air netes. Tir.. tir.. tir.. kena ember.

Nisa bangun. "Yah, gelap. Nisa gak bisa ngerjain PR. Besok Bu Indah marah."

Aku genggam tangan Nisa. Dingin. Badanku ikut dingin. Bukan karena hujan. Tapi karena malu. Ayahnya penulis, katanya. Tapi anaknya gak bisa ngerjain PR karena gak ada lampu.

Istriku nyalain HP kentang. Sisa batre 12 persen. Dia pake senter HP buat Nisa nulis. Cahaya kecil itu goyang-goyang. Nisa nulis angka 1 jadi kayak cacing.

Jam 9 malam, HP mati. Total. PR baru selesai setengah.

Nisa nangis pelan. "Nisa takut dimarahin, Yah. Nisa malu sama temen."

Aku gak tidur semalaman Jendral. Duduk di kursi roda. Ngepel lantai kandang yang banjir pake baju bekas. Sambil mikir.

Paginya aku ke warung Pak RT. "Pak, numpang ngecas HP boleh? Buat anak ngerjain PR."

Pak RT diem. Dia liat muka lelahku. "Cas aja Galih. Gratis. Tapi gini terus kasihan Nisa. Listrik lu kapan nyambung?"

Listrik. Kata itu nampar aku. Masang listrik 900VA butuh 1,2 juta. Uang dari mana.

Siang itu HP nyala lagi. Ada notif NovelToon. "Selamat! Episode #6 Anda Berhasil. Royalti Pembaca: Rp 70.000 masuk saldo."

70 ribu. Ditambah sisa saldo kemarin 40 ribu. Total 110 ribu.

Aku liat Nisa pulang sekolah. Bajunya basah kehujanan. Dia senyum bawa nilai 100. "Nisa bisa Yah! Nisa minjem senter Bu Indah di kelas!"

Tapi malamnya hujan lagi. Lebih deras.

Aku buka NovelToon. Liat dashboard. Episode #7 udah 200 pembaca. Komentar 50. Isinya: "Semangat Pak!", "Nangis bacanya", "Kirim rekening Pak".

Tiba-tiba ada inbox dari Editor NovelToon. "Pak Galih, kami pantau progres Bapak luar biasa. Sisa 15 bab lagi untuk kontrak. Tetap semangat. Kami tunggu."

Editor. Nyapa langsung Jendral. Biasanya mereka diem.

Malam itu aku nekat. Kuambil 110 ribu dari saldo. Kubeli lampu cas LED 50 ribu di pasar. Sisa 60 ribu buat minyak dan beras.

Lampu itu terang Jendral. Terang banget. Satu kandang ayam jadi kayak istana.

Nisa ketawa. Dia buka buku di bawah lampu. "Silau Yah! Kayak matahari!"

Dia ngerjain PR sampai selesai. Nilai 100 lagi besoknya.

Aku nulis bab 10 di bawah lampu yang sama. 500 kata. Tanganku gak gemeter lagi. Karena terang.

Catatanku di kardus Indomie kutambah: "SISA 14 BAB. LISTRIK 1,2 JUTA. KONTRAK 2.4 JUTA. KEBELI."

Karena aku tau Jendral. Lampu ini dibeli dari kata. Dan kata berikutnya bakal beli meteran listrik. Lalu beli rumah. Demi Nisa yang gak boleh lagi ngerjain PR pake senter HP.

14 bab lagi. Editor udah melirik. Aku gak bakal berhenti.Janji aku ke Nisa sederhana. Dia gak akan kedinginan lagi. Gak akan gelap lagi. Tiap bab yang kutulis adalah satu kabel yang kusambung. Satu saklar yang kunyalakan. Demi masa depan dia. Editor, 14 bab lagi. Aku datang.Kita buktikan sekarang.Kontrak itu hak Nisa. Aku ambil pakai pena.sekarang.y

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!