Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.
Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.
Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Hari Rabu pagi terasa sangat asing bagi Bayu. Tidak ada suara alarm yang memekakkan telinga pada pukul lima subuh. Tidak ada kepanikan mencari kaus kaki yang hilang sebelah. Dan yang paling penting, tidak ada pesan ancaman dari Pak Handoko di grup obrolan divisi.
Bayu terbangun pukul delapan pagi dengan perasaan ringan yang belum pernah ia rasakan selama bertahun-tahun. Ia menyeduh kopi hitam instan, lalu duduk bersila di atas kasur busanya yang sudah mulai kempis.
Ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Angka empat ratus sembilan puluh tujuh juta rupiah masih bertengger dengan manis di layar. Itu adalah uang yang sangat banyak bagi orang biasa. Dengan uang itu, Bayu bisa pulang ke kampung halaman, membangun rumah, dan membuka toko kelontong yang nyaman.
Namun, Bayu bukan orang biasa lagi.
"Uang setengah miliar ini tidak akan bertahan seumur hidup kalau kena inflasi. Apalagi kalau aku mau mengamankan diriku dari kemungkinan terburuk... yaitu monster-monster pengguna sistem lainnya," gumam Bayu sambil menyesap kopinya. "Aku butuh lebih banyak. Aku butuh uang yang bisa melahirkan uang."
Ia meletakkan cangkir kopinya dan membuka aplikasi Toko Ajaib. Saldo Koin Sistemnya tersisa dua ratus koin, setelah kemarin ia menukarkan lima puluh juta rupiah dan membelanjakan tiga ratus koin untuk flashdisk perekam.
Bayu tahu bahwa fitur paling menguntungkan dari aplikasi ini bukanlah katalog standarnya, melainkan menu Flash Sale yang diperbarui setiap tengah malam. Ia harus sabar menunggu.
Waktu berlalu lambat. Bayu menghabiskan sisa hari itu dengan menyusun rencana. Ia membuka laptop usangnya, menelusuri internet, dan membaca ratusan artikel tentang hukum pasar modal Indonesia, regulasi Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, dan cara mendirikan perusahaan cangkang. Sifat otodidaknya bekerja dengan kecepatan mengerikan.
Tepat pukul dua belas malam, Bayu kembali membuka aplikasi tersebut. Sebuah spanduk merah menyala muncul di bagian atas layar.
Flash Sale Harian - Tersisa 24 Jam!
Bayu mengeklik spanduk itu dengan jantung berdebar. Halaman berpindah ke sebuah etalase eksklusif.
[Tablet Prediksi Pasar Modal Nusantara]
Deskripsi: Menampilkan grafik pergerakan seluruh saham di Bursa Efek Indonesia dengan akurasi seratus persen selama 14 hari ke depan. Dilengkapi dengan berita pemicu pergerakan saham tersebut.
Harga Normal: 15.000 Koin Sistem.
Harga Flash Sale: 150 Koin Sistem.
Mata Bayu membelalak. Ini dia. Ini adalah tiket emas menuju kekayaan yang tidak terbatas. Informasi adalah komoditas paling mahal di dunia, dan aplikasi ini menjual informasi masa depan hanya seharga lima belas juta rupiah.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bayu menekan tombol beli.
[Konfirmasi Pembelian: Tablet Prediksi Pasar Modal Nusantara seharga 150 Koin Sistem?]
"Ya," ucap Bayu mantap, menekannya dengan ujung telunjuk.
[Transaksi Berhasil.]
[Saldo Koin Sistem saat ini: 50 Koin.]
Udara di atas kasur Bayu beriak kecil. Sebuah benda pipih berwarna hitam pekat mendarat tanpa suara di pangkuannya. Benda itu menyerupai komputer tablet mutakhir, namun tidak memiliki tombol, kamera, atau bahkan lubang pengisi daya. Layarnya terbuat dari material yang menyerupai kaca hitam pekat.
Begitu jari Bayu menyentuh layar tersebut, tablet itu menyala. Antarmukanya sangat bersih, hanya menampilkan deretan kode saham perusahaan Indonesia beserta grafik lilin yang biasa digunakan oleh para pedagang saham. Namun bedanya, grafik di tablet ini melampaui tanggal hari ini. Garis-garisnya terus bergerak naik dan turun, memetakan masa depan hingga empat belas hari ke depan.
"Gila. Ini benar-benar curang," bisik Bayu sambil menelan ludah.
Ia mulai memindai daftar saham, mencari celah dengan keuntungan paling masif. Ia tahu ia tidak bisa sekadar menaruh seluruh uangnya di saham perusahaan perbankan besar yang pergerakannya lambat. Ia butuh saham gorengan. Saham perusahaan kecil yang harganya bisa meroket puluhan persen dalam sehari, namun berisiko membuat orang biasa bangkrut seketika.
Tentu saja, dengan tablet ini, kata risiko sudah tidak ada lagi di kamus Bayu.
Pencariannya berhenti pada sebuah kode saham: NUSA, milik PT Nusantara Energi, sebuah perusahaan tambang mineral yang sahamnya sedang hancur lebur di harga lima puluh rupiah per lembar, batas bawah terendah di bursa.
Di layar tablet masa depan itu, grafik saham NUSA terlihat datar di angka lima puluh selama dua hari ke depan. Namun, pada hari Jumat pukul sepuluh pagi, grafiknya mendadak menanjak vertikal. Saham itu menghantam batas Auto Reject Atas atau ARA, naik tiga puluh lima persen. Dan tren mengerikan itu terus berlanjut. Senin naik lagi tiga puluh lima persen. Selasa, Rabu, hingga minggu berikutnya, NUSA terus meroket tanpa ada yang bisa menghentikan.
Bayu mengeklik grafik tersebut untuk melihat penyebabnya. Sebuah jendela informasi kecil muncul.
[Berita Pemicu Jumat, Pukul 09.50 WIB: PT Nusantara Energi mengumumkan penemuan cadangan litium terbesar di Asia Tenggara pada area tambang lama mereka yang sebelumnya dianggap mati.]
"Sempurna," senyum Bayu mengembang.
Namun, otak rasionalnya segera memberikan peringatan. Jika ia membeli saham mati senilai empat ratus juta secara tiba-tiba menggunakan satu akun sekuritas, dan beberapa hari kemudian saham itu meledak naik ribuan persen, OJK dan pihak bursa efek pasti akan mencium hal yang tidak wajar. Mereka bisa mengira Bayu melakukan perdagangan orang dalam atau insider trading dan membekukan asetnya.
"Aku tidak bisa serakah secara bodoh. Aku harus memecah transaksinya," batin Bayu.
Ia menghabiskan sisa malam itu untuk membuka akun di lima perusahaan sekuritas atau pialang saham yang berbeda secara daring. Karena ia hanya menggunakan modal kurang dari satu miliar, proses verifikasinya relatif cepat. Ia memecah uang empat ratus lima puluh jutanya ke dalam lima rekening dana nasabah yang berbeda, masing-masing berisi sembilan puluh juta rupiah.
Hari Kamis pagi, saat bursa efek dibuka, Bayu mengeksekusi rencananya. Ia tidak membeli saham NUSA sekaligus. Ia membelinya secara bertahap. Sedikit demi sedikit di lima aplikasi pialang yang berbeda sepanjang hari, menyamarkan transaksinya di antara ribuan transaksi pedagang kecil lainnya.
Pada saat bursa tutup di sore hari, seluruh uang Bayu telah berubah menjadi jutaan lembar saham NUSA di harga lima puluh rupiah. Saldo di rekening bank aslinya kini hanya tersisa sepuluh juta rupiah untuk biaya hidup darurat.
Ia mempertaruhkan segalanya. Jika tablet itu berbohong, ia akan kembali menjadi gembel.
Hari Jumat tiba. Bayu duduk di warung kopi Pak Slamet di seberang gedung kantor lamanya. Ia sengaja datang ke sana untuk menikmati sarapan nasi uduk sambil memantau pasar. Di meja, segelas teh manis panas menemaninya.
Pukul sembilan pagi, bursa dibuka. Saham NUSA masih diam di angka lima puluh. Angka yang berwarna kuning, tidak naik dan tidak turun.
Bayu terus memperhatikan jam di ponselnya. Pukul sembilan lewat empat puluh lima menit. Pukul sembilan lewat empat puluh delapan menit.
Pukul sembilan lewat lima puluh menit.
Tiba-tiba, aplikasi berita ekonomi di ponsel Bayu mengirimkan notifikasi darurat.
[Breaking News: Nusantara Energi Temukan Cadangan Litium Raksasa, Saham Sektor Tambang Bersiap Meledak!]