Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 : Rasa Rindu yang tak tertahankan.
Setelah kabur dari hadapan Rion, Zinnia berjalan terus tanpa arah, perutnya semakin terasa keroncongan keras sampai rasanya mau masuk angin. Dia sudah tak peduli lagi mau makan dimana, yang penting masuk apapun asal perut kenyang. Sampai akhirnya matanya tertuju pada warung tenda pinggir jalan yang ramai, berjejer dengan pedagang lain, baunya wangi menggoda.
" Yaudah lah, makan disini aja. Bodo amat orang mau ngomong apa, yang penting perut kenyang dulu. " Batinnya dalam hati.
Dia langsung duduk di bangku kayu yang agak reyot, memesan nasi goreng dan es teh manis. Begitu dia duduk, langsung jadi pusat perhatian banyak orang. Entah yang lewat atau pengunjung lain yang sama sedang memesan makanan. Orang-orang disana saling melirik, ada yang heran, ada yang kagum, ada yang sampai buka mulut. Cewek secantik, dan seberkelas ini malah mau makan di pinggir jalan? Padahal dia bisa makan di restoran bintang lima kalau dia mau.
Tapi Zinnia tak peduli sedikit pun, dengan semua pandangan orang. Dia hanya fokus pada makanan yang datang, langsung ia lahap sampai habis, mulutnya penuh, pipinya mengembang kayak tupai, tak ada kesan manja atau jaim sama sekali.
Dan tak jauh dari situ, di balik pohon besar yang rindang, Rion duduk diam mengawasi. Dia duduk di dalam mobilnya, Ternyata dia tak jadi makan di restoran yang sempat ia booking tadi. Dia lebih memilih mengikuti Zinnia secara diam-diam. Tak berani mendekat, Dan tak berani menampakkan diri. Melihat wajah Zinnia yang terlihat kecewa dan kesal, saat pergi dari hadapannya tadi, rasa bersalah dan rindu itu makin membesar sampai sesak di dada.
Beberapa menit kemudian Zinnia selesai makan, dia hendak bangkit berdiri, tiba-tiba di halangi oleh beberapa pemuda yang sejak dari tadi, memperhatikan dan mengagumi kecantikannya. Lalu memberanikan diri mendekat. Mereka berdiri mengelilingi meja, senyum-senyum nakal, jelas-jelas mau mengoda.
" Eh cantik... boleh dong nomer telponnya? Kita kenalan dulu ya..." kata salah satu dari mereka dengan nada sok asik.
Zinnia menoleh, alisnya terangkat sebelah, tatapannya datar, seperti melihat serangga.
" Oh tentu saja boleh... Tapi, setiap satu angka aku tulis kamu harus transfer dulu 100 juta ke rekeningku ya. Gimana? Deal kan? "
Mendengar itu, cowok itu langsung tertegun, lalu ketawa canggung.
" Ah kamu pasti bercanda kan.. masa tulis nomer aja harus transfer dulu.. nanti dulu dong, kita jalan-jalan dulu, ngedate dulu baru transfer-transferan. Gimana?? "
Zinnia memutar bola matanya malas, jawabannya keluar cepat dan tajam. Tentunya dengan suara lantang sampai terdengar kemana-mana.
" Kan aku udah bisa jalan sendiri, udah gede bukan bayi lagi, ngapain harus jalan dulu, bareng kamu lagi. "
Seketika cowok itu terdiam seribu kata, tak tau harus mejawab apa. Rion yang lihat dari kejauhan sampai tak tahan, bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Dia kenal banget sifat ini, mulutnya tajam kayak pisau, tapi lucu dan bikin orang gemes, dan cuma dia dan juga Darren mungkin, yang tau bagaimana cara menghadapi itu.
Cowok itu masih berusaha, sok ganteng sok pinter.
" Wahh ternyata selain cantik, kamu spesial lagi, kayak menu mie goreng abang-abang pinggir jalan nih... ahayyy..." godanya sok romantis.
Zinnia langsung mendengus keras, tatapannya makin tajam menusuk.
" Gak usah banyak omong lah. Bilang aja miskin. gak usah sok gaya minta nomer orang segala. Kalau udah tau dompet kosong, mending pulang tidur aja sana, jangan ganggu orang makan. "
DEG!!
Satu kalimat itu langsung bikin semua cowok itu membeku di tempat, wajah mereka memerah malu campur kesal tapi gak berani marah. Yang dihadapi ini cantiknya luar biasa, kalau sampai berbuat kasar, malah mereka yang bakal kelihatan buruk. Akhirnya cowok tadi menggaruk kepala canggung, lalu menunduk pasrah.
"Yaudah yaudah... maaf deh aku undur diri. Baru kali ini aku merasa terhina, ternyata dompetku gak setebal muka ku sendiri..." gumamnya, lalu mereka semua mundur dan pergi menjauh secepat mungkin.
Melihat mereka pergi, wajah Zinnia kembali cemberut kesal, dia mengibaskan tangannya seolah baru kena debu.
" Dasar cowok rese semua..." gumamnya pelan.
Dan pemandangan itu makin bikin hati Rion diremas kuat-kuat. Dia rindu... sangat.. Sangat rindu, dengan gadis itu. Dia rindu melihat ekspresi kesalnya, rindu melihat bagaimana dia ngambek, rindu lihat dia berani melawan siapapun, sampai rindu bagaiman gadis itu minta dimanja sepanjang hari. Semua kenangan itu berputar cepat di kepalanya, membuat dadanya sakit sampai napasnya terasa berat.
Zinnia lalu melangkah pergi, gerakannya anggun, badan tingginya sempurna, lekuk tubuhnya terlihat jelas di balik baju yang dia pakai, setiap langkahnya bikin jantung Rion berdebar makin kencang. Dia rindu sentuhan gadis itu, rindu saat tangan halus itu menyentuh kulitnya, rindu saat bibirnya mendarat di wajah dan bibirnya, rindu saat gadis itu dengan berani mengoda dia sampai dia hilang kendali.
Dia gak tahan lagi, kakinya bergerak sendiri hendak melangkah maju, Tapi baru beberapa langkah, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Zinnia. Pintu terbuka, dan sosok yang keluar dari sana langsung bikin langkah Rion berhenti total, seolah kaki nya diikat ke tanah.
Itu adalah Darren. Yang sejak dua hari yang lalu, sudah resmi menjadi kekasih Zinnia.
Begitu melihat Zinnia, Darren langsung melangkah cepat, tangannya terulur dan menarik tubuh Zinnia masuk ke dalam pelukannya erat-erat, menempelkan wajah gadis itu di dadanya, mencium ubun-ubunnya berkali-kali.
" Kemana aja kamu sayang? Aku mau jemput kamu pulang, malah main kabur aja sih? " bisik Darren lembut, suaranya penuh perhatian dan kepemilikan.
Zinnia langsung berubah, wajah kesalnya hilang seketika diganti senyum ceria dan manja, tangannya melingkar erat di leher Darren.
" Maaf deh, soalnya perut aku laper banget banget tadi. terus restoran tempat biasa tutup, akhirnya aku makan disini aja deh..." jawabnya manja, nada suaranya beda 180 derajat, persis dulu saat dia sama Rion.
" Ya, tapi kan kamu bisa minta aku temenin kamu makan. Aku siap antar kamu kemanapun kamu mau, kenapa malah kabur segala kayak lihat hantu aja. " Bisiknya manja.
" Soalnya aku gak mau di ganggu kamu kalau lagi laper. Kamu kan punya kebiasaan buruk kalau deket aku pasti terus godain aku. "
Darren tertawa sambil mengusap kepalanya.
" Iya deh iya.. Gak masalah yang penting kamu bahagia aja lah. Sekarang kita pulang yah.. "
" Ok. "
Mereka berdua lalu masuk ke dalam mobil, Darren memegang tangan Zinnia sepanjang jalan, dan tak lama kemudian mobil itu melaju pergi, meninggalkan Rion yang masih berdiri di tengah jalan yang ramai. Rion tampak menunduk, napasnya dihembuskan panjang dan getir, matanya kosong menatap jalanan yang sudah sepi. Dia baru sadar satu hal.
Jika Zinnia sekarang milik orang lain. Milik sahabatnya sendiri. Dan dia? Dia cuman orang luar, orang yang sudah kehilangan hak apapun untuk mendekat, untuk menyentuh, untuk memeluk, bahkan untuk sekedar bilang jika dirinya rindu.
Semua hal yang dulu jadi miliknya, sekarang jadi milik Darren. Dan dia hanya bisa berdiri dari kejauhan, melihat, merindukan, dan menyiksa dirinya sendiri dengan semua perasaan itu.
***