NovelToon NovelToon
Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Jejak Cahaya Di Bumi Pertwi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jesa Cristian

Langit Jakarta sore itu tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pekat, tertekan oleh lapisan polusi yang bercampur dengan awan mendung pembawa hujan. Di lantai empat puluh gedung perkantoran kaca di kawasan Sudirman, AC berdengung halus, menciptakan suhu dingin yang artifisial, kontras dengan panasnya kemacetan yang terlihat jelas dari balik jendela floor-to-ceiling.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Fajar di Atas Meja Rapat

Cahaya fajar mulai menyelinap masuk melalui celah-celah tirai jendela ruang rapat utama di lantai 40 gedung Wiguna Cipta Nusantara. Langit Jakarta yang tadi kelabu kini berubah menjadi gradasi ungu dan oranye lembut, namun suasana di dalam ruangan itu sama sekali tidak seindah pemandangan luar. Udara terasa berat, dipenuhi ketegangan yang hampir bisa dipotong dengan pisau.

Arya Wiguna duduk di ujung meja rapat panjang berbahan kayu jati itu. Di hadapannya, secangkir kopi hitam sudah dingin, tak tersentuh sejak satu jam lalu. Di sebelah kanannya, Mas Raka, mantan prajurit khusus yang kini menjadi kepala keamanan pribadi Arya, berdiri tegak dengan tangan terlipat di dada, matanya waspada memantau setiap sudut ruangan. Di sebelah kirinya, Hendra, Direktur Keuangan, tampak gugup sambil memeluk laptopnya erat-erat seperti pelampung di tengah badai.

Pintu ruang rapat terbuka kasar. Pak Gunawan, Ketua Dewan Komisaris, masuk diikuti oleh dua orang pengacara bers Jas mahal dan tiga anggota dewan lainnya yang wajahnya tampak masam. Mereka baru saja tiba, rupanya langsung dari rumah masing-masing setelah mendengar kabar bahwa Arya sudah berada di kantor sejak sebelum Subuh.

"Jadi benar kau di sini, Arya," suara Pak Gunawan berat dan penuh selidik. Ia melempar tas kerjanya ke atas kursi dengan kasar. "Aku kira kau akan lari ke masjid atau bersembunyi di balik rok Kyai-mu semalaman. Ternyata kau nekat datang ke sarang singa."

Arya tidak beranjak dari kursinya. Ia menatap Pak Gunawan dengan tatapan tenang, jauh dari emosi yang diharapkan lawannya. "Assalamualaikum, Pak Gunawan. Ini bukan sarang singa, Pak. Ini adalah rumah yang dibangun oleh ayah saya dan ribuan karyawan dengan keringat serta doa. Dan saya tidak bersembunyi. Saya justru menunggu Bapak untuk meluruskan kesalahpahaman ini sebelum matahari terbit sepenuhnya."

"Waalaikumsalam," jawab Pak Gunawan sinis, meski sedikit terbata karena respons tenang Arya. "Kesalahpahaman? Jangan bercanda. Nota kesepakatan dengan Bank Sentosa sudah ditandatangani basah semalam. Secara hukum, itu mengikat. Kau tidak punya hak untuk membatalkannya sepihak. Jika kau mencoba menghalangi, kami akan menuntutmu atas pelanggaran fidusia dan merusak nama baik perusahaan

Salah satu pengacara di samping Pak Gunawan segera menyela, membuka map tebal di tangannya. "Benar, Tuan Wiguna. Berdasarkan pasal 12 dalam anggaran dasar perusahaan, keputusan strategis di atas nilai tertentu dapat diambil oleh Dewan Komisaris jika Direksi dianggap lamban atau merugikan kepentingan saham. Kami memiliki bukti bahwa penolakan Anda terhadap skema bunga bank akan menyebabkan kita kehilangan momentum pasar dan berpotensi rugi triliunan. Oleh karena itu, tindakan kami adalah sah secara hukum positif."

Arya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya. Ia perlahan berdiri, berjalan menuju jendela besar di belakangnya, membiarkan cahaya pagi pertama menerpa punggungnya.

"Sah secara hukum positif, mungkin," ucap Arya pelan, suaranya menggema di ruangan hening itu. "Tapi bagaimana dengan hukum Allah, Pak? Bagaimana dengan akal sehat yang mengatakan bahwa membangun istana di atas fondasi riba sama dengan mengundang bencana? Bapak bicara soal rugi triliunan, tapi apakah Bapak pernah menghitung rugi di akhirat? Apakah ada neraca di sana yang bisa menukar dosa riba dengan saham perusahaan?"

Pak Gunawan mendengus kesal. "Jangan bawa-bawa agama ke dalam bisnis, Arya! Kita bicara realitas! Karyawan butuh gaji, investor butuh dividen, dan perusahaan butuh pertumbuhan. Idealismemu yang kaku itu akan membunuh kita semua!"

"Idealisme saya bukan kekakuan, Pak. Itu adalah rem keselamatan," balas Arya tajam, berbalik menghadap mereka. Matanya menyala. "Dan soal realitas, mari kita bicara realitas yang sebenarnya. Bapak bilang keputusan Bapak sah? Mari kita uji sah tidaknya di depan pemegang saham minoritas, di depan media, dan di depan publik luas pagi ini juga."

Arya bertepuk tangan sekali. Tiba-tiba, pintu samping ruang rapat terbuka lagi. Bukan security biasa yang masuk, melainkan sekelompok orang yang membuat mata Pak Gunawan membelalak. Ada perwakilan serikat pekerja, beberapa tokoh masyarakat yang dikenal vokal soal ekonomi syariah, dan yang paling mengejutkan, seorang wartawan senior dari koran bisnis terbesar di Indonesia bersama kameramen.

"Apa maksud ini?" geram Pak Gunawan, wajahnya memucat. "Kau membawa orang luar ke dalam rapat internal? Ini pelanggaran privasi!"

"Tidak ada yang tertutup bagi kebenaran, Pak," jawab Arya mantap. "Saya mengundang mereka karena saya yakin apa yang kita putuskan hari ini akan mempengaruhi nasib ribuan keluarga karyawan dan citra Islam di mata bisnis Indonesia. Saya ingin transparansi. Jika Bapak yakin keputusan Bapak benar dan menguntungkan, silakan jelaskan di depan mereka mengapa mengambil utang berbunga adalah langkah bijak di tengah krisis global yang sedang terjadi."

Wartawan senior itu maju selangkah, menyalakan rekaman. "Selamat pagi, Pak Gunawan. Bisa dijelaskan mengapa Wiguna Cipta Nusantara, yang selama ini menjadi标杆 (panutan) properti syariah, tiba-tiba beralih ke skema konvensional malam buta tadi? Apakah ada tekanan tertentu? Atau ada kepentingan pribadi di balik tanda tangan tersebut?"

Pertanyaan itu menghantam seperti palu godam. Pak Gunawan tergagap, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia melirik ke arah pengacaranya, mencari perlindungan, tapi pengacara itu pun tampak ragu-ragu menghadapi sorotan kamera dan kehadiran tokoh masyarakat yang disegani.

"Ini... ini fitnah!" bentak Pak Gunawan, mencoba menguasai keadaan. "Kami hanya melakukan diversifikasi strategi! Arya yang terlalu emosional dan tidak kompeten, sehingga kami harus mengambil alih!"

"Emosional?" Arya tertawa kecil, tawa yang getir. "Saya menolak menandatangani dokumen yang jelas-jelas haram, itu disebut emosional? Lalu apa sebutan bagi Bapak yang rela menggadaikan prinsip demi angka di atas kertas? Bapak lupa, Pak. Perusahaan ini didirikan oleh ayah saya dengan wasiat tegas: 'Satu rupiah yang haram, akan meruntuhkan seribu rupiah yang halal.' Jika Bapak memaksakan kehendak ini, maka secara moral, Bapak telah mengkhianati amanah pendiri."

Arya melangkah mendekati meja, meletakkan sebuah dokumen di atasnya. "Ini adalah surat pernyataan keberatan resmi dari saya sebagai CEO, disertai fatwa tertulis dari Dewan Pengawas Syariah independen yang menyatakan bahwa kerjasama dengan Bank Sentosa dalam skema ini adalah haram lighairihi karena adanya unsur eksploitasi dan ketidakjelasan akad. Dengan adanya dokumen ini, secara internal perusahaan, keputusan Bapak batal demi hukum sesuai AD/ART kita yang menjunjung tinggi syariat

Pak Gunawan gemetar. Ia menyadari bahwa Arya sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Serangan mendadak yang ia rencanakan semalam ternyata sudah diantisipasi oleh anak muda di hadapannya ini.

"Kau... kau pikir dengan ini kau bisa menghentikan kami?" desis Pak Gunawan, suaranya mulai kehilangan wibawa. "Kami masih memegang mayoritas suara di RUPS

"Mungkin," aku Arya. "Tapi Bapak lupa satu hal. Reputasi adalah aset tak berwujud yang paling mahal. Jika berita ini tersebar pagi ini bahwa Dewan Komisaris Wiguna Cipta Nusantara memaksa penggunaan riba dan mengancam CEO yang mempertahankan syariah, berapa harga saham kita yang akan jatuh siang nanti? Apakah investor syariah akan tetap mau menanamkan modal? Apakah nasabah akan percaya pada perumahan yang dibangun dengan uang haram?"

Ruangan hening seketika. Semua orang di sana, termasuk anggota dewan yang tadi mendukung Pak Gunawan, mulai berpikir ulang. Wajah-wajah mereka berubah cemas. Mereka sadar, langkah Pak Gunawan bisa menjadi bom waktu yang meledakkan perusahaan dari dalam.

Seorang anggota dewan berusia sepuh, Pak Hartono, akhirnya berbicara. Suaranya berat. "Gunawan... mungkin Arya benar. Kita terlalu terburu-buru. Tekanan target tahun ini memang besar, tapi kalau sampai nama baik perusahaan hancur karena isu riba, kita tidak akan bisa bangkit lagi. Ingat kasus bank syariah tahun lalu yang kolaps karena skandal serupa?"

Pak Gunawan menatap Pak Hartono tidak percaya. "Kau juga membelanya, Ton? Kita sudah selangkah lagi mendapatkan dana segar!"

"Dana segar yang beracun, Gunawan," potong Pak Hartono tegas. "Saya menarik dukungan saya untuk nota kesepakatan itu. Saya setuju dengan Arya. Kita harus tinjau ulang."

Satu per satu, anggota dewan lainnya mulai bergumam, menyatakan keraguan mereka. Benteng pertahanan Pak Gunawan mulai retak. Ia merasa terpojok, dikelilingi oleh logika, agama, dan tekanan publik yang diciptakan Arya dengan cerdik.

Arya melihat perubahan atmosfer itu. Ia tahu ini saatnya untuk memberikan jalan keluar, agar tidak terjadi perpecahan yang terlalu dalam.

"Pak Gunawan," panggil Arya lembut, nada suaranya kembali rendah dan menghormati. "Saya tidak ingin menjatuhkan Bapak. Saya hanya ingin menyelamatkan perusahaan kita. Mari kita batalkan nota kesepakatan itu secara baik-baik. Saya siap memimpin tim negosiasi ulang dengan Bank Sentosa untuk mencari skema Musyarakah Mutanaqisah yang adil bagi kedua belah pihak. Itu akan memakan waktu lebih lama, ya, tapi hasilnya akan berkah dan berkelanjutan. Apakah Bapak bersedia mempertimbangkan jalan tengah ini demi masa depan kita bersama?"

Pak Gunawan terdiam lama. Dadanya naik turun menahan amarah dan kekecewaan. Ia menatap Arya, lalu menatap wajah-wajah lain di ruangan itu yang kini menantangnya. Akhirnya, bahunya merosot. Kekalahannya sudah di depan mata.

"Baik," gumam Pak Gunawan parau. "Batalkan saja. Tapi ingat, Arya... jika skema alternatifmu itu gagal dan kita rugi, aku akan pastikan kau bertanggung jawab penuh. Aku tidak akan tinggal diam melihat perusahaan ini hancur karena idealismemu."

"Saya terima tanggung jawab itu, Pak," jawab Arya tegas. "Lebih baik saya yang menanggung risiko di dunia, daripada kita semua menanggung dosa di akhirat."

Pak Gunawan tanpa kata lagi berbalik dan keluar dari ruangan, diikuti oleh pengacaranya yang tampak frustrasi. Suasana di ruang rapat perlahan mencair. Para tokoh masyarakat dan wartawan memberikan tepuk tangan kecil sebagai bentuk apresiasi.

"Terima kasih, Mas Arya," ucap Pak Hartono sambil menjabat tangan Arya. "Kamu telah menyelamatkan kita dari jurang yang dalam tadi pagi."

"Bukan saya, Pak," koreksi Arya sambil tersenyum tulus. "Ini pertolongan Allah. Kita hanya berusaha konsisten pada jalur yang benar."

Setelah tamu-tamu undangan berpamitan dan ruang rapat kembali sepi, Arya jatuh terduduk di kursinya. Kakinya lemas, adrenalin yang memuncak tadi perlahan surut, meninggalkan kelelahan yang luar biasa. Hendra mendekat, wajahnya lega.

"Alhamdulillah, Mas. Kita berhasil," bisik Hendra. "Tapi tantangan ke depan masih berat. Pak Gunawan tidak akan mudah menyerah. Dia pasti akan mencari celah lain

Arya mengangguk. "Saya tahu, Hen. Perang belum selesai. Ini baru babak pertama. Tapi setidaknya, pagi ini kita sudah memenangkan pertempuran penting untuk jiwa perusahaan kita."

Arya memandang ke luar jendela. Matahari kini sudah terbit sepenuhnya, menyinari kota Jakarta yang sibuk. Ribuan kendaraan mulai memadati jalan raya, manusia berlomba-lomba mengejar rezeki. Di antara mereka, Arya Wiguna sadar, perjuangannya berbeda. Ia tidak hanya mengejar profit, tapi juga mencari keberkahan di setiap langkah bisnisnya.

"Pak Ujang," panggil Arya melalui interkom.

"Ya, Mas?"

"Siapkan mobil. Saya ingin keliling proyek Green Valley pagi ini. Saya perlu melihat langsung kondisi lapangan dan menyapa para pekerja sebelum mereka mulai bekerja. Doakan mereka, agar pekerjaan mereka hari ini menjadi ibadah."

"Siap, Mas."

Arya berdiri, merapikan kemejanya, dan mengambil Al-Qur'an sakunya. Langkahnya ringan meski beban pikiran masih ada. Ia tahu, sepanjang hari ini hingga hari-hari berikutnya, ujian akan terus datang. Tapi seperti fajar yang selalu menang melawan gelapnya malam, ia yakin kebenaran akan selalu menemukan jalannya jika diperjuangkan dengan sabar dan cerdas.

Di luar sana, kehidupan terus berjalan. Dan di dalam hati Arya Wiguna, tekad semakin membara untuk membuktikan bahwa bisnis Islami bukan sekadar slogan, melainkan realitas hidup yang bisa dijalankan dengan sukses, bermartabat, dan penuh keberkahan di bumi Indonesia.

[BERSAMBUNG]

1
Uking
semangat thor😍
Jesa Cristian: iya makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!