Kebahagiaan yang pernah utuh runtuh seketika oleh duri pengkhianatan. Rosella terpaksa menelan pil pahit saat suami dan sahabatnya mengkhianati kepercayaan. Derita sepenuhnya belum usai, takdir kembali mencabik hati dengan kepergian adiknya yang mengenaskan demi sebuah rahasia.
Di saat air mata belum kering, Hengki justru melepas ikatan cinta tanpa sisa rasa, meninggalkannya sendirian di tengah reruntuhan duka.
Namun, Tuhan selalu menyisakan pelangi di balik awan gelap. Di tengah reruntuhan harapan, hadir seberkas cahaya. Hariz, sosok yang tak disangka, menjadi penopang di kala rapuh. Di antara sisa air mata dan luka yang belum kering, tumbuh benih cinta yang baru. Rosella belajar bahwa hati yang patah tak berarti mati. Ia berani melangkah, memetik harapan baru dan menanam bahagia di tanah yang pernah basah oleh tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad di Atas Cinta yang Baru
"Tuhan sering kali menuliskan takdir dengan cara yang tak terduga. Di saat kita merasa dunia telah runtuh, di saat semua pintu tertutup rapat, sering kali Ia mengirimkan pertolongan dari arah yang paling tak disangka-sangka. Seperti bunga yang tumbuh di celah-celah batu keras, cinta dan harapan pun bisa hadir di tempat yang paling tak mungkin, di antara dua dunia yang seharusnya saling bermusuhan."
...****************...
Ruangan di lantai tertinggi gedung itu sunyi, hanya terdengar suara detik jarum jam yang berdetak pelan dan napas mereka berdua yang tertahan. Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca. Membelah ruangan menjadi dua bagian, terang dan gelap, persis seperti situasi yang sedang mereka hadapi.
Rosella duduk di sofa kulit berwarna gelap. Tangannya saling bertaut erat di pangkuan, mencoba menenangkan jantung yang berdegup kencang. Di hadapannya duduk Hariz Abraham, pria yang secara garis keturunan adalah adik dari orang yang paling ia benci, namun saat ini justru menjadi satu-satunya orang yang bersedia mendengarkan suaranya.
Hariz menuangkan secangkir teh hangat ke dalam cangkir keramik, lalu menyodorkannya ke hadapan Rosella. Gerakannya lembut, penuh perhatian, sangat kontras dengan aura dingin yang ia pancarkan saat pertama kali bertemu di lobi.
"Minum dulu, Ell. Biar tenang," ucap Hariz lembut. Ia duduk bersandar, menatap wanita di hadapannya dengan seksama. "Sekarang, ceritakan semuanya. Apa yang kamu lihat malam itu? Apa yang kamu rasa menjanggal? Jangan ada yang ditutup-tutupi."
Rosella menatap cairan kecokelatan di dalam cangkir itu. Uap hangat mengepul, sedikit banyaknya bisa menghangatkan suasana hatinya yang beku. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian, lalu mulai bercerita.
Dari awal mula ia mengetahui perselingkuhan Hengki dan Luna, perubahan sikap suaminya yang semakin dingin, kedatangan Arkan yang tiba-tiba, hingga percakapan terputus adiknya tentang sebuah "rahasia besar". Rosella menceritakan semuanya dengan detail, termasuk bagaimana ia menemukan tubuh Arkan tergeletak tak berdaya di lantai dengan genangan darah, serta bagaimana wajah Hengki saat itu, wajah yang sempat terlihat pucat, tapi tenang tanpa rasa takut, dan penuh kepura-puraan.
Air mata jatuh lagi membasahi pipi, namun kali ini Rosella tidak menyekanya. Ia biarkan mengalir, sebagai bukti bahwa rasa sakit itu masih nyata, masih menganga lebar.
Hariz mendengarkan dalam diam. Pria itu tidak menyela, tidak menginterupsi. Wajahnya datar, sulit dibaca, namun tangan kanannya yang berada di atas sandaran sofa perlahan mengepal kuat, menandakan bahwa ada emosi yang sedang ditahan-tahan di dalam dadanya.
"Jadi... menurut versi kamu, Arkan mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan bisnis gelap?" tanya Hariz memastikan, suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
"Iya, Riz," jawab Rosella tegas. " berkas yang Arkan berikan sudah jelas , dia menemukan aliran dana yang mencurigakan saat riset skripsinya. Angkanya sangat besar dan jalurnya tidak jelas. Aku yakin... aku yakin itu berkaitan dengan Hengki. Mungkin Arkan mau mengancam atau mau melaporkan, lalu..." Rosella tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Hariz menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berdiri dan berjalan mendekati jendela besar, memandang hamparan kota di bawah sana yang mulai dipenuhi lampu-lampu.
"Aku tidak mau menuduh saudaraku sendiri tanpa bukti," suara Hariz terdengar lirih namun tegas. "Tapi aku juga tidak bisa menutup mata. Sejak dulu, aku memang merasa ada banyak hal yang aneh dengan cara Mas Hengki mengelola beberapa cabang perusahaan. Ayah terlalu percaya padanya, tapi aku tahu... dia orang yang ambisius dan tidak suka dihalang-halangi."
Hariz menoleh kembali ke arah Rosella. Tatapan matanya kini berubah. Ada kilauan tekad yang sama kuatnya dengan yang dimiliki Rosella.
"Kamu benar Ell. Kematian Arkan tidak wajar. Dan jika benar ada unsur kesengajaan di sana... maka itu adalah dosa besar yang tidak bisa dimaafkan," kata Hariz tegas. "Mulai hari ini, aku akan membantumu. Kita akan cari buktinya bersama-sama."
Rosella ternganga. Ia tidak menyangka akan mendapat respon sepositif ini. "Tapi... Hariz, itu kakak kandungmu. Apa kamu tidak takut nanti nama baik keluarga Abraham hancur? Apa kamu tidak takut dikatakan membela orang luar?"
Hariz tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa hangat dan menenangkan. Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di samping sofa tempat Rosella duduk.
"Keluarga itu dibangun atas dasar kepercayaan dan kejujuran, Ell. Bukan atas dasar darah belaka. Jika saudaraku sendiri melakukan kesalahan, apalagi sampai mencabut nyawa orang lain demi menutupi aibnya... maka dia tidak pantas disebut keluarga. Dia penjahat."
Kata-kata Hariz bagaikan obat penawar yang menenangkan luka di hati Rosella. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa didengar. Ia merasa ada di pihak yang benar.
"Terima kasih, Riz... Terima kasih banyak," ucap Rosella terbata-bata, air matanya kembali tumpah namun kali ini adalah air mata haru.
"Sama-sama. Sekarang, Kamu tidak perlu takut lagi. Selama saya aku, tidak ada yang berani menyakitimu" janji Hariz dengan nada yang begitu yakin, seolah sebuah sumpah serapah yang tak bisa dilanggar.
Sejak hari itu, pertemuan mereka menjadi semakin sering. Awalnya hanya untuk bertukar informasi, mendiskusikan strategi penyelidikan, dan memeriksa dokumen-dokumen yang berhasil Hariz dapatkan dengan susah payah dari arsip perusahaan.
Namun, lama-kelamaan, ada sesuatu yang lain mulai tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang tak terduga.
Setiap kali Rosella merasa lelah dan putus asa, Hariz selalu ada dengan kata-kata penyemangat. Setiap kali Rosella ketakutan membayangkan bahaya yang mengintai, Hariz selalu hadir memberikan rasa aman yang luar biasa.
Hariz berbeda jauh dengan Hengki. Jika Hengki egois dan dominan, Hariz lemah lembut namun tegas. Jika Hengki suka memerintah dan mengabaikan perasaan, Hariz selalu mendengarkan dan menghargai setiap pendapat.
Suatu sore, setelah seharian sibuk memeriksa data di apartemen Rosella, kelelahan menyergap mereka berdua.
"Sudah sore, Ell. Istirahatlah dulu. Besok kita lanjutkan lagi," kata Hariz sambil merapikan berkas-berkas di meja.
Rosella menatap punggung lebar pria itu. Hatinya berdebar aneh. Ada rasa hangat yang menjalar di dada, rasa yang sudah lama mati, rasa yang ia pikir tak akan pernah bisa tumbuh lagi setelah dikhianati oleh Hengki.
"Hariz," panggil Rosella pelan.
Hariz menoleh. "Ya, Ell?"
"Kenapa kamu baik banget sama aku? Padahal kan... aku mantan istri kakakmu. Dan aku membawa banyak masalah buatmu," tanya Rosella hati-hati, matanya menatap dalam ke manik mata hitam milik pria itu.
Hariz terdiam sejenak. Ia berjalan mendekat, lalu duduk kembali di kursi yang tidak jauh dari Rosella. Ruangan itu menjadi hening, hanya detak jantung mereka yang terdengar saling bersahutan.
"Mungkin..." Hariz menarik napas, seolah sedang berjuang dengan perasaannya sendiri. "Mungkin karena sejak pertemuan kita waktu itu, aku melihat wanita yang sangat kuat, yang berjuang demi kebenaran. Dan mungkin juga... karena melihatmu sedang sedih, membuat hatiku ikut terasa sakit."
Wajah Rosella seketika memerah. Jantungnya berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia sedang dalam bahaya.
"Hariz.."
"Ella.." potong Hariz lembut, namun tegas. "Aku tahu ini mungkin salah.Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Di saat kita berjuang bersama, di saat kita saling menguatkan... aku merasa menemukan sebuah rumah untuk kembali. Aku merasa nyaman."
Rosella menunduk, dadanya bergemuruh hebat. Ia bingung. Ia takut. Apakah pantas ia mencintai adik dari mantan suaminya? Apakah ini dosa? Tapi mengapa perasaan itu semakin besar? Mengapa bersama Hariz ia merasa hidup kembali?
"Aku juga... aku juga merasa begitu, Riz," jawab Rosella hampir tak terdengar. "Bersamamu, aku merasa aman. Aku merasa tidak sendirian lagi."
Mendengar jawaban itu, seberkas senyum hangat terukir di wajah tampan Hariz. Ia mengulurkan tangannya, perlahan menyentuh pipi mulus Rosella yang masih basah oleh sisa air mata. Sentuhan itu hangat, lembut, dan penuh kasih sayang.
"Kalau begitu, mari kita jalani ini bersama-sama, Ell. Bukan hanya sebagai teman mencari kebenaran, tapi sebagai dua orang yang saling mencintai. Biarkan masa lalu menjadi pelajaran, dan kita akan menulis masa depan kita sendiri."
Rosella mengangguk pelan, membiarkan dirinya tenggelam dalam tatapan teduh itu. Di tengah badai kehidupan yang sedang menerpa, di antara duri dan kepahitan yang ia lalui, Tuhan ternyata menyelipkan anugerah terindah.
Cinta baru mulai bersemi. Lembut, tulus, dan menjadi pelita di tengah kegelapan yang selama ini mengurungnya. Namun mereka berdua sadar, perjalanan ini masih panjang. Hengki dan Luna masih ada di luar sana, dan kebenaran yang mereka cari pasti akan melukai banyak pihak.
Tapi untuk saat ini, biarkan mereka menikmati perasaan nyaman dan damai di antara dua hati berbeda yang kini telah bersatu menjadi satu.