Varendra Malik Atmadja, seorang arsitek muda yang tampan, ramah, dan sangat telaten, baru saja pindah ke Blok C-17. Sebagai penganut paham "tetangga adalah saudara", Malik bertekad untuk menjalin hubungan baik dengan seluruh penghuni kompleks.
Namun, rencananya membentur tembok tinggi setinggi pagar Blok C-18.
Di sanalah tinggal Vanya Ayudia Paramitha, seorang Game Developer yang lebih suka berinteraksi dengan baris kode daripada manusia. Baginya, ketenangan adalah segalanya, dan tetangga baru yang terlalu ramah seperti Malik adalah gangguan sinyal bagi kedamaian hidupnya.
Awalnya, Malik hanya berniat memberikan camilan sebagai tanda perkenalan. Tapi, setiap sapaan Malik dibalas dengan debuman pintu, dan setiap perhatiannya dianggap sebagai gangguan oleh Ayu.
Lalu, bagaimana jika sebuah paket yang salah alamat dan aroma masakan dari dapur Malik perlahan mulai meruntuhkan pertahanan Ayu? Bisakah Malik merancang fondasi cinta di hati gadis yang bahkan enggan membuka pintu rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dalgichigo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Warga Padang
Suasana tenang di rumah Malik mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk aroma bumbu rendang dan suara dialek Minang yang kental. Keluarga Malik dari Padang akhirnya mendarat di Griya Visual!
Rombongan ini dipimpin oleh Amak (Ibu) Malik yang tangguh, Abak (Ayah) yang kalem tapi tegas, dan adik perempuan Malik yang lincah bernama Talita. Kedatangan mereka bukan tanpa alasan, mereka rindu sekaligus ingin melakukan "inspeksi mendadak" pada putra sulung kebanggaan keluarga yang saking sibuknya jadi arsitek sampai jarang pulang ke Ranah Minang.
Pagi-pagi sekali, dapur Malik sudah dikuasai penuh oleh Amak. Tidak ada lagi sisa-sisa aroma kopi instan ala bujang yang ada hanyalah wangi santan yang diaduk pelan dan ulekan cabai merah.
"Malik! Dima ang latakkan parutan karambia? (Di mana kamu letakkan parutan kelapa?)" teru Amak dari dapur. "Badan ang (kamu) tambah tipis saja Amak caliak (lihat) . Pasti jarang makan nasi, cuma makan gambar bangunan saja kerjamu di sini!"
Malik yang baru bangun tidur hanya bisa nyengir sambil menggaruk kepala. "Amak... Malik makan terus kok. Iko talita baa kok baok baju banyak bana? Ka pindah Rumah (Ini Talita kenapa bajunya banyak sekali bawaannya? Mau pindah rumah?)" tanya Malik melihat koper adiknya yang menggunung di ruang tamu.
"Abang! Talita itu mau sekalian konten di Jakarta! Lagian Abang sombong banget, ditelepon susah, ditanya kapan pulang jawabnya 'nanti kalau proyek beres'. Proyek Abang mah nggak beres-beres!" sahut Talita sambil asyik selfie di balkon rumah Malik yang estetik.
Saat makan siang, Abak mulai mengeluarkan jurus andalannya bertanya dengan nada tenang tapi menusuk sampai ke tulang.
"Lik, rumah alah rancak (sudah bagus). Oto alah ado (Mobil sudah ada). Umua alah cukuik (Umur sudah cukup)," ucap Abak sambil menyuap nasi. "Apo indak ado urang siko nan manganai hati? (Apa tidak ada orang sini yang nyangkut di hati?) amak ang alah taragak nak mamakai baju baralek (Amakmu ini sudah mau pakai seragam pesta), tapi indak tau bilo ang ka baralek (tapi tidak tahu kapan pestanya.)"
Malik tersedak kerupuk jengkol. "Abak... Malik masih fokus karajo (kerja). Lagian di sini orangnya unik-unik, ndak ado yang pas (nggak ada yang pas.)"
"Halah! Bohong itu Amak!" sela Talita dengan mata berbinar nakal. "Tadi talita caliak dari tingkok ateh, abang cilok pandangan ka rumah sabalah yang cat putiah tu (Tadi Talita liat dari jendela atas, Abang curi-curi pandang ke rumah sebelah yang catnya putih itu). Rumah sia tu bang? (Rumah siapa itu Bang?)
Wajah Malik langsung berubah sewarna sambal balado. "Itu... tetangga. Namanya Ayu."
Bukan Amak namanya kalau tidak bertindak cepat. Sore harinya, dengan alasan "berbagi rezeki masakan Padang", Amak menarik Malik keluar rumah sambil menenteng rantang berisi rendang dan ayam pop yang masih hangat.
"Capeklah (Ayo), kenalkan Amak sama tetanggamu itu. Katanya harus baik sama tetangga, kan?" paksa Amak.
Malik pasrah. Ia mengetuk pagar rumah Ayu dengan jantung yang berdegup lebih kencang dari biasanya. Tok tok tok.
Ayu keluar dengan kaos kebesaran dan wajah bantal karena baru bangun dari tidur sorenya. Ia membeku melihat Malik tidak sendirian, melainkan didampingi seorang wanita paruh baya yang memakai kerudung rapi dan tersenyum sangat lebar.
"Eh... Mas Malik?" gumam Ayu bingung.
"Mbak Ayu, kenalkan ini Amak saya. Baru datang dari Padang," ucap Malik kikuk.
"Halo, Nak Ayu. Ini Amak bawakan sedikit masakan dari rumah. Malik bilang Nak Ayu ini tetangga paling baik," ucap Amak sambil menyodorkan rantang dengan gerakan yang tak bisa ditolak.
Ayu menerima rantang itu dengan tangan gemetar. "Ma-makasih, Bu... eh, Amak. Jadi merepotkan."
"Nggak repot! Nak Ayu cantik sekali, ya? Sejuk Amak liatnya, kayak hawa di Bukittinggi," puji Amak terang-terangan yang membuat Ayu makin menunduk malu.
Kula awalnya cuma berniat keliling blok sambil tebar pesona (siapa tahu Zahra lagi nyiram bunga), tapi saat melewati rumah Ayu, ia melihat pemandangan yang sangat tidak biasa. Ada seorang ibu-ibu berkerudung rapi dan seorang gadis cantik sebaya dirinya yang jelas bukan warga komplek sedang tertawa bersama Malik di depan pagar Ayu.
Sontak, Kula memperlambat laju motornya sampai mesinnya hampir mati, lalu tangannya dengan lincah membuka ponsel.
[Grup WA Warga Guweh]
Kula: INFO A1! Ada pergerakan massa di depan rumah Mbak Ayu ! Bang Malik bawa rombongan besar! Ada Ibu-ibu sama cewek cakep! Siapa itu woy?! Apa Mbak Ayu lagi dilamar?! 😱🏍️
Vino: Apa kau bilang Kul?! Dilamar?! Tak boleh aku ketinggalan momen sejarah ini! Aku meluncur sekarang! 🦁📸
Tak sampai dua menit, suara langkah kaki berisik terdengar dari arah gang. Vino datang dengan kamera DSLR yang menggantung di leher, nafasnya terengah-engah seolah baru saja lari maraton. Di belakangnya, Kula menyusul sambil menuntun Aerox-nya biar tetap terlihat keren.
"Bang Malik! Bah! Tak bilang-bilang kau ya kalau ada tamu agung!" seru Vino dengan suara menggelegar, membuat Amak Malik yang sedang asyik memuji Ayu langsung menoleh.
"Eh, Vino... Kula... Kenalin, ini Amak saya sama adik saya, Talita," ucap Malik sambil memijat pelipisnya. Ia sudah tahu kalau keadaan akan menjadi kacau jika dua orang ini sudah muncul.
Talita yang memang dasarnya ramah langsung menyapa dengan gaya khas anak muda. "Halo Kakak-kakak! Aku Talita, adiknya Bang Malik yang paling imut. Ini Kakak temennya Bang Malik juga?"
Kula langsung menegakkan punggungnya, berusaha menutupi fakta bahwa dia sebenarnya "anak mami" juga. "Iya, Dek Talita. Saya Kula, asisten... eh, maksudnya tetangga paling sigap di sini. Kalau butuh apa-apa, sebut aja nama Kula tiga kali, nanti saya datang bawa Aerox."
Amak Malik menatap Vino dan Kula dengan pandangan menilai. "Wah banyak kawan ang lik (Wah, temannya Malik ramai ya?) Nak Vino, Nak Kula, sudah makan belum? Tadi Amak masak banyak di rumah Malik. Ayo mampir, daripada kalian lari-lari di jalan begini."
Vino matanya langsung berbinar mendengar kata "masak banyak". "Waduh Amak! Tak usah ditanya kalau soal makan, lambung saya ini selalu siap menerima bantuan sosial!, Tambuah Ciek"
"Vino! Malu-maluin aja kamu!" bisik Kula ketus.
Ayu yang masih memegang rantang rendang hanya bisa berdiri mematung di dekat pagar. Ia merasa dunianya yang biasanya sepi tiba-tiba berubah menjadi panggung sandiwara. Melihat Ayu yang tampak bingung, Talita langsung mendekat dan merangkul lengan Ayu dengan akrab.
"Kak Ayu, Mending Kakak masuk dulu, nanti rendangnya keburu dingin!" ucap Talita sambil mengedipkan mata.
Sementara di lokasi kejadian sedang sibuk kenalan, grup WhatsApp makin memanas karena laporan langsung dari Kula.
Kula: Aman gaes! Ternyata bukan lamaran, tapi KUNJUNGAN NEGARA! Amak Bang Malik dateng! Dan adiknya... cakep bener, namanya Talita. Dit, lu mending pensiun jadi jamet, saingan lu berat, ada gue dan Aerox gue!
Adit: APA?! Adiknya Si Malik?! Gue meluncur! Gue mau tunjukin koreo 'Selamat Datang 🕺✨
Sarah: WKWKWK! Si Adit gercep bener kalau soal cewek baru! kak Ara, Gimana nih Si Jamet menggatal
Ara: Males banget. Adeknya malik kayaknya lebih pinter dari Adit, dia nggak bakal mempan sama gombalan pasar malamnya. 🙄
Pak RT: Selamat datang buat Amak Malik! Papih tadi baru mau ganti baju batik buat nyambut, eh malah udah diserbu Kula duluan. Besok pagi Bapak resmi mampir ya!
Sore itu, teras rumah Malik dan pagar rumah Ayu menjadi pusat gravitasi Griya Visual. Amak Malik tampak senang karena merasa anaknya punya banyak teman, sementara Malik hanya bisa berdoa dalam hati agar Amak tidak tiba-tiba bertanya pada Kula tentang "kapan Malik terakhir kali bawa cewek ke rumah".